Tiga
Empat hari. Hah. Gue ngelihat ke depan dan nemuin dua pasang mata berkaca-kaca natap gue balik.
Mami lari ke arah kita dengan tangan kebuka. Dia kelihatan kayak nggak tidur nyenyak selama berhari-hari. Rambut pirang sebahu yang keritingnya berantakan. "Sayang, kamu nggak apa-apa?" Suaranya nggak jelas karena wajahnya nyumput di leher gue. Tangannya meluk gue, kasih kenyamanan khas ibu, sambil melingkar erat di badan gue. "Kita khawatir banget, kita nggak bisa nemuin kamu di mana-mana." Isak tangis Mami yang pecah bikin air mata gue juga ikutan.
"Gue nggak apa-apa, Mi. Nggak ada yang sakit." Gue berusaha buat nggak meringis waktu tenggorokan gue kayak ketelen pecahan kaca, sambil nenangin Mami. Gue nggak mau dia makin khawatir.
"Leila, sayang, kita bawa Kat masuk dulu, ya?" Papi senyum ke gue, garis di samping bibirnya yang nunjukkin dia sering ketawa jadi pengingat kalau gue disayang dan mereka nggak bakal biarin hal buruk terjadi sama gue. "Ayo." Dengan tangan melingkar di bahu Mami, dia menggiring Mami yang masih sesenggukan ke arah rumah dan Leib ngikutin mereka tanpa ngomong sepatah kata pun.
Dipikir-pikir, abang gue nggak ngomong sepatah kata pun sejak dia ngebangunin gue.
Pas kita udah di dalem rumah, dia ngeletakkin gue di salah satu sofa yang bunganya banyak dan duduk di sofa panjang yang ada di seberangnya. Leib cuma natap gue intens.
Setelah pelan-pelan naruh segelas air di meja kecil di antara kita, ortu gue kayak nggak nyadar sama tatapan laser Leib pas mereka duduk di sampingnya. Gue bakal ketawa ngelihat pemandangan di depan gue, mereka bertiga aja udah hampir nggak muat di sofa. Papi kan badannya gede dan tingginya mungkin sekitar seratus delapan puluh dua sampe seratus sembilan puluh dua. Karena dia mekanik, otot di badannya nggak nyusut seiring bertambahnya usia.
Kesempit di antara mereka adalah Mami gue yang belum berhenti nangis.
Mami kita itu semangat banget, tingginya cuma seratus lima puluh dua, dia selalu bawa suasana ceria kapanpun dia masuk ruangan, tapi sekarang energinya kayak udah habis.
"Kamu ke mana, sayang? Kamu bahkan nggak ngehubungin kita buat ngasih tau kalau kamu aman dan baik-baik aja. Kamu pergi keluar kota sama temen-temenmu yang lain?" Suara Mami yang serak kedengeran keras di telinga gue. Mata hijaunya memohon gue buat ngomong yang sebenarnya.
Dan kenapa gue nggak mau? Kalau gue masih inget apa yang terjadi sama gue, sih.
Gue ngelihat ke mata coklat Papi yang tenang waktu gue nyoba ngorek-ngorek otak gue buat nyari kejadian setelah gue lari pagi sama abang gue. Nggak ada.
Pandangan gue beralih ke mata Mami yang berkaca-kaca. Nggak ada yang ngomong, seolah-olah mereka bakal ngeganggu ingatan yang lagi gue coba pancing kalau mereka ngomong sedikit aja. Nggak ada, kayak kain putih yang nutupin di dalem pikiran gue.
Mata gue terakhir mendarat di Leib, tatapan zamrudnya ngomongin pertanyaan yang nggak terucap, dan kayaknya dia tau sesuatu.
"Gue nggak inget apa-apa selain Leib ngebangunin gue dan ngebopong gue," gue bilang ke mereka, rasa sakit di tenggorokan gue cuma bayangan. Kepala gue mulai pusing karena maksa otak gue buat inget.
"Udah, lupain aja dulu," Papi ngelihat Mami dan Leib. "Istirahat dulu, Kat, terus kita ke rumah sakit besok buat periksa kamu." Matanya balik lagi ke gue.
Gue ngangguk.
Papi berdiri, ngebawa Mami bareng dia. "Kalian berdua tidur gih." Itu kata terakhir yang dia omongin sebelum mereka naik ke atas.
Udah malem aja? Pikiran gue susah banget buat nyesuain diri karena sebelum gue pingsan, masih pagi banget. Empat hari yang lalu.
Abang gue masih natap dan itu bikin gue nggak nyaman. "Kamu tiba-tiba ngilang, Kat. Satu detik kamu ada di belakang kita, terus detik berikutnya gue liat, kamu udah nggak ada. Apa yang terjadi? Kamu ke mana?"
Suara Leib kayaknya udah nge-trigger beberapa kilas balik.
Gue inget orang-orang nutup mulut gue dan ngebopong gue, gue inget mereka nyetrum gue. Gue ngerasain sesuatu di dalem kepala gue kayak pecah yang bikin telinga gue berdengung waktu gue nyoba lebih keras buat inget.
Keheningan turun ke kita saat gue mempertimbangkan buat ngasih tau Leib atau nggak.
"Ketemu ini kamu genggam." Dia ngeluarin tumpukan uang dari kantong dalem jaketnya yang nggak dikancing dan tanpa suara ngejatuhinnya di meja.
Sekarang gue bingung. Di mana dan gimana gue bisa dapet uang sebanyak ini?
Mata dia kelihatan waspada dan sedih di waktu yang sama. "Gue nyari ke mana-mana, Kat, setiap hari." Suaranya bergetar. "Kamu bisa ceritain apa aja ke gue. Kalau kamu nggak mau Mami dan Papi tau, ya udah, jadi rahasia kita—tolong—ceritain sesuatu. Gue udah mau gila dan pikiran-pikiran di kepala gue terus-terusan bisikin kalau ini salah gue—"
Gue mutusin buat ngasih tau Leib potongan-potongan yang gue pikirin. "Ada orang yang ngejambak gue waktu kita lagi jalan di taman, gue rasa. Yang gue liat cuma kabur-kabur item terus nggak ada apa-apa."
Wajah abang gue jadi gelap.
"Mereka nutup mulut gue biar gue nggak bisa manggil kamu." Suara gue gemeteran karena rasa takut mulai menghampiri gue. Gue meluk diri gue sendiri erat-erat karena serangan kilas balik mulai muncul di pikiran gue dengan cepat, gue nggak ngerti apa-apa.
"Mereka nyetrum gue," gue berbisik dan ngerasain air mata gue keluar, ngeblur pandangan gue ke tumpukan uang di meja.
"Anjir!" Abang gue bukan orang yang suka ngomong kasar di depan gue karena emang gitu cara ortu kita ngebimbing kita, tapi gue kayaknya bisa ngerasain dia saat ini. "Ada yang kerasa aneh nggak, tau kan, bagian cewek kamu?"
Muka gue nggak bisa lebih panas dari gunung berapi. Gue sadar sama tubuh gue dan gue nggak ngerasain apa-apa yang aneh di sana.
"Gue tau badan gue, Leib, nggak ada yang aneh di mana-mana," gue gumam.
Tunggu, dia nggak mikir kalau gue mungkin diperkosa, kan?
Dia ngusap mukanya. "Oke, bagus."
Kecanggungan situasi ini nggak bisa lebih canggung lagi, jadi gue mutusin buat pura-pura ngantuk buat kabur. "Gue ngantuk, gue mau ke kamar." Gue nyoba berdiri cuma buat kejedot lagi di kursi.
Leib, yang kelihatan nggak puas sama apa yang gue ceritain, berdiri dan berdiri di atas gue. "Kalau kamu ngerasain apa aja—sakit, pusing—apa aja, Kat, kasih tau gue. Oke?" Gue hampir nangis waktu ngelihat wajah abang gue yang khawatir.
"Iya." Suara gue bergetar waktu gue janji sama dia.
Dia ngebopong gue lagi, naik ke atas dan ke kamar gue dan ngeletakin gue di kasur.
"Serius, Kat. Teriak panggil nama gue dan gue bakal di sini."
Gue ngangguk dan dia dengan enggan ninggalin kamar gue.
Desahan keluar dari mulut gue. Empat hari. Gue merangkak ke tengah kasur dan cuma ngejatuhin diri gue tengkurep, dan begitu muka gue nyentuh bantal, dunia gue mati.