Bab 11- Perjalanan yang menyenangkan berubah menjadi bencana
POV LUCAS
Saya hampir sampai di parkiran tempat Saya memarkir mobil Saya, terus tiba-tiba ponsel Saya bunyi.
"Halo?" Saya angkat teleponnya.
"Lucas," kata seorang cewek, dan Saya tahu itu adalah Faith.
"Iya, kenapa?" Saya jawab.
"Kamu lihat Sophia gak?" Dia nanya.
"Ahh, Isabella? Gak lihat tuh?" Kenapa tiba-tiba dia nanya Saya?
"Emang kamu gak sama dia?" Dia jawab. Kayaknya Isabella gak cerita ke Faith apa yang terjadi.
"Nanti Saya cari dia," kata Saya, terus matiin teleponnya. Saya balik lagi ke gerbang utama sekolah.
"Isabella, kamu di situ?" Saya bilang, padahal jelas-jelas gak ada orang, jadi Saya bisa teriak sesuka hati.
"Isabella?" Saya teriak pas lihat seseorang. Saya lihat lebih dekat dan jalan ke arah mereka. Dan ternyata dia sama Josh?
Saya mau pergi, gak tau kenapa, terus Isabella ngomong.
"JAUHIN AKU."
Dia teriak.
"Aku gak bakal nyakitin kamu, Putriku sayang, cuma, Aku pengen banget sama kamu, tapi cowok Lucas itu masih sama kamu. Gak papa deh, kamu milikku kok, kapan aja." Kata Josh, dan Saya panik terus nyerang dia.
Saya tendang dia di punggungnya, dan dia langsung jatuh ke tanah.
"Dasar brengsek!" Dia bilang marah, terus berusaha bangun, tapi Saya tendang lagi dan injak punggungnya biar dia gak bisa berdiri.
"Sekali lagi Saya lihat kamu coba-coba deketin cewek Saya, Aku janji bakal bunuh kamu," kata Saya.
"Sana lari, terus tutup mulut berengsek kamu," Saya biarin dia pergi, padahal lagi marah banget.
"Sophia?" Saya panggil dia buat bangunin dia.
"Isabella, hei?" Saya bilang sambil tepuk pipinya pelan biar dia bangun.
"Lucas." Dia bilang, suaranya lembut dan gak keras, matanya juga merem.
"Isabella? Kamu gak papa?" Saya bilang, tapi kayaknya dia pingsan sekarang. Saya gendong dia, terus bawa ke mobil.
POV PIHAK KETIGA
"Yang Mulia." Kata Pelayan Saya.
"Bawa Aku Isabella itu besok," Saya perintah mereka, terus ketawa. Kamu gak bisa apa-apa, Lucas, dan sebentar lagi kamu bakal balik ke sini dan kuasai kerajaan ini.
POV ISABELLA
"Syukurlah, kamu gak papa." Saya denger suara Faith.
"Kenapa Saya di sini? Josh mana?" Saya nanya.
"Gak papa kok, istirahat aja sekarang soalnya besok kita ada perjalanan, kamu butuh energi." Katanya.
"Siapa yang bawa Saya ke sini?" Saya nanya dia, terus dia cuma ngangkat bahunya.
"Saya tau kamu tau," kata Saya, berusaha bikin dia ngaku.
"Istirahat aja, nanti Aku yang bayar semua di sini. Aku balik lagi kok, kamu bisa pulang setelah Aku balik," katanya terus pergi ninggalin Saya. Siapa yang bawa Saya ke sini, terus kepikiran di otak Saya.
"Hei, boleh masuk?" Seseorang bilang.
"Iya, boleh," kata Saya, terus liat Trixie di pintu jalan ke arah Saya.
"Oh hai, kamu di sini," Saya ajak ngobrol Trixie pas dia dateng ke kasur Saya.
"Iya, kamu gimana?" Katanya.
"Gak papa, agak pusing dikit, kamu?" Kata Saya.
"Saya baik-baik aja, Saya nunggu kamu keluar, terus kita bisa pulang. Kamu bisa ke rumah kita." Katanya.
"Kamu udah boleh pulang sekarang?" Saya nanya, terus dia senyum dan ngangguk.
"Yaudah, ayo!" Saya nanya.
"Tunggu Faith dulu aja." Katanya terus duduk di samping Saya.
"Makasih udah ngasih Saya kesempatan." Katanya.
"Semua orang punya," kata Saya, terus dia meluk Saya dan senyum.
"Hei kamu, jangan curi sahabat terbaik Aku ya!" Faith masuk ke kamar dengan marah.
"Dia punya Aku," kata Trixie, terus narik Saya lebih deket ke dia.
"Kucing dan anjing." Kata Saya, terus mereka mulai natap Saya kayak orang gila.
"Kenapa? Jangan bunuh Aku ya." Kata Saya, terus mereka makin deket dan deket ke Saya.
"Selamat malam, sahabat terbaik." Kata Trixie, terus ngasih Saya ciuman jauh.
"Makasih buat hari ini." Kata Saya, terus dia masuk ke mobil mereka. Mereka nganter Saya dulu sebelum mereka pulang.
"Hati-hati ya, Kamu punya cerita buat diceritain besok." Katanya.
"Besok kita ada perjalanan," kata Saya.
"Iya Saya tau, nanti Aku bawa camilan." Katanya, terus Saya ngedip ke dia dan jalan pergi dari dia.
"Selamat tinggal, selamat malam," kata Saya sambil lambaikan tangan ke dia.
"Mimpi indah." Dia jawab, terus masuk mobil. Saya liatin mereka pergi, terus Saya ngerasa seneng. Mereka berdua baik-baik aja, dan Trixie lumayan seru buat diajak ngobrol. Saya jalan ke arah apartemen, terus jantung Saya hampir copot.
"Katak, sapi," kata Saya pas liat Lucas berdiri di samping pintu.
"Saya seganteng itu sampe dibilang hewan?" Katanya.
"Ada Jollibee di meja, kamu bisa makan terus istirahat." Katanya terus ninggalin Saya bengong. Pikiran Saya langsung kacau. Dia gak suka Saya, tapi peduli sama Saya.
Saya makan makanan yang dia suruh makan, Saya gak bisa nolak Jollibee. Itu makanan favorit Saya.
"Hei, kamu udah bangun?" Kata Saya terus ngetuk pintu dia.
"Iya, kenapa?" Katanya, terus Saya denger langkah kakinya di lantai.
"Umh, Saya cuma mau bilang makasih buat makanannya, terus tolong jangan dipikirin dan lupain aja apa yang Saya bilang tadi," kata Saya, terus balik badan buat sembunyiin rasa malu Saya.
"Sama-sama." Katanya, terus akhirnya Saya bisa masuk kamar. Sebelum tidur, Saya siapin barang-barang yang Saya butuhin besok. Saya cuma bawa 2 pasang baju dan satu pasang piyama buat dipake semalam, terus masukin ke tas Saya.
"Selamat malam, besok Saya kasih tau deh. Sampai jumpa." Saya nge-chat Faith, kayaknya dia udah tidur deh.
Jadi Saya merem juga terus istirahat.
"Isabella, lari," kata Lucas.
"Mereka mau kamu." Dia nambahin. Saya gak tau mau kemana, terus cuma lari.
"Mereka mau apa sih dari Aku? Siapa mereka?" Kata Saya terus lari terus, Lucas di punggung Saya. Saya noleh ke belakang mau liat Lucas, tapi seseorang narik Saya, terus Saya jatuh.
"Aku bakal bunuh kamu." Katanya, terus berubah jadi serigala, terus Saya liat matanya berubah merah dan pelan-pelan makin deket ke Saya.
"Nggak!" Saya balik ke dunia nyata, terus jantung Saya berdebar kenceng banget.
"Cuma mimpi doang, phew, mungkin gara-gara Saya nonton film serigala bareng Lucas. Aish, gak mungkin kan terjadi di dunia nyata." Kata Saya, terus berusaha tidur, tapi gak bisa, jadi Saya buka pintu dan keluar buat liat ada makanan gak di kulkas. Lagian Saya laper.
"Ya Tuhan," kata Saya, terus hampir loncat pas Lucas muncul lagi.
"Kamu jago banget bikin Saya kaget ya," kata Saya.
"Seneng?" Dia nanya.
"Hmm?" Saya nanya balik.
"Kenapa kamu masih bangun?" Katanya.
"Oh, cuma mimpi tentang serigala, terus gak bisa tidur, jadi Saya di sini mau ambil camilan. Kamu punya gak? Saya laper." Kata Saya.
"Ayo." Katanya terus narik Saya ke dapur.
"Nih, makan ini." Katanya terus ngasih Saya yogurt plain dan kiwi. Saya liatin makanannya, terus ngedesah.
"Kenapa? Sehat kok. Bisa dimakan malam-malam." Katanya, terus dorong makanannya di meja makin deket ke Saya. Saya gigit sedikit, enak, terus Saya makan semuanya.
"Oh maaf, Saya makan semuanya," kata Saya.
"Iya, gak papa kok." Katanya, terus ninggalin Saya di dapur.
"Aish, dia ninggalin Saya," Saya berbisik. Saya ambil semua sampah di tempat sampah, terus pergi tidur, Saya gak sadar udah ngantuk dan ketiduran.
"Hei, gak bangun nih?" Seseorang ngetuk pintu.
"Lima menit lagi!" Saya teriak ke dia.
"Bisnya mau berangkat nih kalo gak bangun." Dan itulah yang bikin Saya buru-buru ke kamar mandi, terus mandi kilat.
"Udah selesai, ayo," kata Saya.
"Bodoh, kita gak telat, malah kepagian." Katanya, terus nunjukin jamnya ke Saya.
"Saya bunuh kamu!" Kata Saya, terus dia lari, Saya kejar, terus dia berhenti.
"Berhentiiiiii," Katanya.
"Kita telat beli camilan nih!" Dia nambahin.
"Ayo." Katanya, terus narik Saya ke mobil. Dia buka pintu mobil terus nyuruh Saya masuk.
"Kita mau kemana? Saya gak punya uang cukup buat beli camilan, terus Faith juga bawa camilan."
"Siapa bilang Saya mau beli sendiri. Saya butuh kamu." Seseorang bilang di belakang Saya.
"Kamu di sini?" Saya nanya, terus balik badan ke dia.
"Iya, Saya emang di sini." Katanya.
"Ayo berangkat," kata Lucas, terus Faith teriak dan bertingkah kayak anak kecil.
"Nih, yuk beli ini," kata Saya, terus ngasih mereka keripik dan cokelat batangan.
"Saya gak suka." Kata Faith, terus Saya cemberut.
"Nanti Saya beliin buat kamu deh," kata Lucas, terus Saya bilang makasih.
"Saya nyium bau-bau gak enak nih," kata Faith, terus ninggalin kita berdua, terus dia pergi ke kasir buat bayar belanjaannya.
"Oke, ayo berangkat, biar gak ketinggalan bisnya," kata Lucas, terus Saya dan Faith naik mobil dia.
"Bisnya mana sih?" Kata Saya pas kita udah sampe di sekolah tempat bisnya harusnya ada.
"Oh enggak, mereka ninggalin kita." Kata Faith, terus mulai panik.
"Hei, Saya liat tuh." Kata Lucas, terus mulai nyetir, tapi ada orang dateng dan berusaha berhentiin kita.
"Oh, itu Kiera sama Xian," kata Saya, terus mereka jalan ke arah kita.
"Boleh ikut gak? Kita telat, terus gak ngeh waktu udah segini," kata Kiera, terus Saya liatin Lucas, dan dia ngangguk.
"Oke, naik aja," kata Saya, terus mereka berdua bilang makasih.
"Tapi kita kayaknya ketinggalan bisnya nih, terus gak tau tempatnya," kata Saya, terus kita semua saling liatin.
"Saya tau, soalnya Bu Guru kasih tau," kata Kiera, terus kita ngerasa ada harapan.
"Gak ada siapa-siapa nih," kata Saya pas liat hutan pas kita lagi di jalan.
"Norak," kata Lucas, terus seseorang berentiin mobil, seorang pria umur 30-an ke atas. Dia jalan ke arah mobil terus ngetuk jendela Saya.
Saya mau buka jendela, tapi Lucas berhentiin Saya.
"Jangan buka jendelanya." Katanya, terus keliatan gugup.
"Kenapa? Mungkin dia butuh bantuan," kata Saya.
"Jangan," katanya, terus Saya ngerasa orang itu mulai buka pintu jendela, padahal udah dikunci.
"Dia buka nih," kata Saya, terus semua orang mulai panik.
"Dia buka nih," Saya ulangin, terus pria itu pelan-pelan buka dan narik Saya keluar dari mobil.