Bab 3- Pengampunan
"Sophia hei!" Kata Faith sambil nepuk pundak Saya. "Kenapa nangisnya kayak dunia mau kiamat gitu sih?" tambahnya.
"Gue baru tau kalo gue diadopsi," kata Saya sambil meluk dia. Dia bales meluk gue dan berusaha nenangin gue.
"Mau pulang gak?" kata dia, dan gue nolak. Gue rasa gue belum siap buat ketemu mereka. Gak tau kenapa, tapi gue kayaknya lebay banget, tapi gue beneran sakit hati. Kenapa mereka nyimpen rahasia ini? "Masuk aja, jangan khawatir, Trixie. Gue yang urus dia," kata dia, dan gue ngangguk. Dia gandeng tangan gue dan jalan.
"Oh, lo kenapa sih, Faith? Masa lo biarin orang lain masuk rumah kita kayak cewek yang tadi beberapa menit lalu?" kata Trixie, dan gue liat Faith marah ke Trixie. "Gue cuma nolongin cewek itu, dan ini Sophia, lo udah kenal dia dari lama, berhenti deh bego," kata dia sambil narik gue ke atas. Kami ada di kamarnya. Kamar kami sama karena kami berencana ngecatnya biru muda dan tampilannya mirip banget.
"Kamar lo gak ada yang berubah ya?" kata gue sambil duduk di kasurnya.
"Enggak deh. Kan lo bilang kita cuma bisa ganti gaya kamar kalo kita udah gak sahabat lagi," kata dia, dan gue ketawa ngakak.
"Jadi Faith, siapa sih cewek yang diomongin Trixie tadi?" tanya gue.
"Oh, dia pingsan di depan rumah kita. Jadi gue bawa masuk. Tapi Trixie bikin masalah dan gue tinggalin cewek itu di ruang tamu, tapi pas gue balik cuma ada surat," kata dia. "Tapi tunggu deh, gue inget mukanya, mirip lo tapi mukanya lebih dewasa dari lo," kata dia sambil duduk di samping gue.
"Tapi, siapa aja yang nolongin lo? Soalnya tadi lo bilang lo pingsan kayak cewek itu, bener kan?" tanya dia.
"Ah yang itu, dia seumuran kita. Tapi gue gak sadar kalo gue lupa nanya namanya," kata gue.
"Dia ganteng gak?" tanya dia, dan gue ngangguk, terus dia histeris.
"Kenapa sih lo lepasin kesempatan emas itu, ya ampun," kata dia, dan gue kasih tanda peace pake tangan gue.
Gue juga gak tau, tapi dia bilang kita bakal ketemu lagi. Gak tau sih dia bercanda atau gak, tapi ya teman gue ini emang gila.
"Boleh gak gue nginep sini? Cuma semalem aja," kata gue.
"Kenapa cuma semalem?" tanyanya sedih sambil cemberut.
"Gue mau nyari apartemen atau kosan karena gue belum bener-bener siap ketemu orang tua gue," kata gue.
"Gak mau di sini aja?" kata dia.
"Mau sih, tapi kan kita tau kakak lo," kata gue, dan dia cemberut lagi.
"Aish, si penyihir itu, pengen gue bikin kacau," katanya.
"Santai aja, dia kan kakak lo," kata gue sambil nenangin dia.
"Lo lebih kayak kakak buat gue deh," kata dia sambil meluk gue. "Aish, gimana jadinya gue tanpa lo," kata gue sambil bales meluk dia.
"Jadi, bisa bantu gue nyari apartemen buat ditinggalin gak?" kata gue.
"Iya, gue kenal orang yang punya apartemen," kata dia.
"Jalan yuk?" kata gue.
"Aish, ini udah jam 7.30 malem. Ah, udah deh tidur aja," kata dia, terus dia narik gue buat tiduran di kasurnya. Kasurnya empuk dan ukuran queen size. "Nonton satu episode aja gimana?" tanya gue karena gue sama sekali gak ngantuk. "Oke deh," kata dia, terus dia ngambil laptopnya.
Kami nonton satu episode drama, tapi karena kami tukang begadang, kami udah sampe setengah episode dari drama korea itu.
"Oh sial. Kita harus tidur nih, udah jam 1.00 pagi. Dan kita ada kelas jam 7.00," kata gue, dan dia kaget pas tau kita udah nonton berjam-jam.
"What the fudge. Iya, ya ampun," katanya, terus dia mulai merem, dan gue ngikutin dia.
"Argh, gue gak bisa tidur," kata Faith, dan gue juga gak bisa tidur. "Kita harus gimana nih?" kata gue.
"Nonton cara biar bisa tidur aja yuk," saran Faith.
"Emang ada videonya?" kata gue bingung.
"Iya dong," katanya, terus dia muter videonya. Beberapa jam kemudian nonton, gue ngerasa mata gue mulai merem.
"Sophia bangun!" Gue kebangun gara-gara suara Faith manggil gue.
"Jam berapa sih?" kata gue sambil buka mata. Gue liat Faith udah dibalut handuk dan baru selesai mandi dan kayaknya lagi buru-buru.
"Yahhhhh jam berapa sih?" kata gue sambil lompat dari kasur. "Cepetan, ini udah jam 6.57 pagi. Gue baru bangun, mandi cuma semenit jadi cepetan dan lo tau kan hukuman dari Pak Dean kita," kata dia, dan gue langsung ke kamar mandi. Setelah selesai, gue lari ke Faith dan minta dia buat ngasih gue handuk. Dan dia bilang iya.
"Faith, gue juga gak punya baju atau seragam buat dipake," kata gue. "Tenang aja, gue punya kok," katanya sambil ngasih gue seragamnya. Untungnya dia punya banyak seragam.
"Ayo berangkat," kata Faith, dan kami lari ke bawah. Kami gak punya banyak waktu buat makan, jadi kami gak sarapan dan langsung supirnya Faith nganterin kami ke sekolah.
Tapi kami gak berhasil. Kami sampe di sekolah jam 7.29 dan terus kami liat sekolah yang sepi yang seharusnya waktu kelas. Tapi Pak Dean liat kami.
"Hei, kalian berdua. Sini bentar," dia teriak, dan kami berdua jalan ke Pak Dean Santos.
Pak Dean Santos itu baik dan ramah, tapi kalo lo telat dan gak masuk kelas, dia bakal hukum lo bahkan kalo lo murid kesayangannya.
"Jadi kenapa kalian telat? Gue yakin kalian tau konsekuensi yang harus kalian terima," kata dia, dan kami berdua ngangguk.
"Ayo ambil sapu dan pel kalian, pergi ke gimnasium. Dan setelah itu pergi ke kantor gue dan tulis 300 kata. Gak boleh makan, makan setelah kalian selesai ngerjain semua tugas," kata dia, dan kami lanjut jalan ke gym.
"Aish, gue minta maaf. Seharusnya gue dengerin lo waktu lo bilang kita bakal tidur," kata gue ke Faith, tapi dia cuma ketawa dan jalan ke arah gue. "Lo banci emang, ini semua salah lo," kata dia, tapi gue tau dia cuma bercanda soalnya dia lagi ketawa sekarang. "Aish, lo penyihir," kata gue, terus lanjut ngepel panggung.
Setelah beberapa jam kemudian, gue denger bel bunyi dan kami udah hampir selesai, cuma bercanda.
"Jalan yuk?" kata gue ke Faith. "Oke, bentar lagi gue udah selesai kok," kata dia sambil nyapu lantai. Dia narik gue buat ke kantor, tapi gak sengaja kami denger ada orang yang lagi ngomong.
"Murid pertukaran yang baru itu ganteng banget. Gue yakin dia buat gue," kata seorang cewek, dan gue tau siapa dia. Itu Hillary, temen sekelas kami.
"Gue denger namanya Lucas, cocok banget," kata anteknya Hillary.
"Kita punya temen sekelas baru?" kata gue ke Faith, dan dia ngangguk.
"Gue yakin dia lebih ganteng dari cowok-cowok lain," kata dia, dan gue cuma angkat bahu. Gue agak ngerasa laper, tapi kami gak bisa makan karena kami masih harus ke Pak Dean Santos.
"Ketuk pintunya," kata gue ke Faith dan dorong dia.
"Aish, lo banci," katanya, dan gue cuma cekikikan ke dia.
Faith ngetuk pintu dan Pak Dean nyuruh masuk.
"Kalian kesana, dan tulis 300 kata. Nanti gue bilang ke guru kalian buat ngebolehin kalian gak masuk kelas sampe kalian selesai nulis," kata Pak Dean.
Kami jalan ke meja, ada pena dan kertas, gue mulai nulis dan gue laper banget sampe perut gue bunyi, gue juga denger perut Faith bunyi, tapi dia fokus nulis jadi gue lanjut nulis.
Setelah beberapa menit berlalu, gue selesai nulis 300 kata yang harus dikumpulin. "Hei Faith, lo udah selesai belum?" tanya gue ke dia.
"Tinggal beberapa kata lagi," kata dia, terus nulis secepat mungkin.
"Oke, udah selesai," katanya.
"Ini Pak," kata kami dan ngasih hasil kerjaan kami ke dia.
"Oke, kalian boleh makan siang, jangan khawatir telat masuk kelas. Selamat bersenang-senang dan jangan telat lagi ya? Makan aja, gak usah buru-buru, gue tau kalian berdua laper," kata dia sambil ketawa. Kami semua ketawa dan kami pamitan sama Pak Dean.
"Aish, Pak Dean kita baik banget, dan gak pernah ngebiarin murid ngelewatin konsekuensi yang seharusnya mereka terima," kata dia, dan gue setuju sama itu.
Kami pergi ke kantin. Kami cuma liat beberapa murid lagi, mungkin karena mereka semua lagi di kelas.
Kami pesen nasi sama lauk, kami juga ambil camilan. Bodo amat deh, kami laper. Kami duduk di bangku, dan gue liat seseorang di bangku lain, tapi dia buang muka. Jadi gue gak bisa liat mukanya. Gue gak peduliin dia dan lanjut makan. "Udah selesai?" kata Faith sambil minum jusnya. "Iya, hampir," kata gue dan selesai makan. Gue minum jus gue juga dan nyaranin Faith buat masuk kelas yang kami punya.
Kami keluar dari kantin dan pergi ke lantai dua, tempat kelas kami berada. Pas lagi jalan ke kelas kami, gue liat cowok yang tadi gue liat di bangku kantin. Gue kasih tau Faith tentang dia dan kami ngeliatin dia mau masuk kelas mana. Dan kami berdua kaget pas liat dia masuk ke kelas kami.
"Jadi itu temen sekelas baru kita. Lo liat gak mukanya?" kata dia, dan gue geleng-geleng kepala.
"Tapi berdasarkan apa yang Hillary bilang yang kami denger tadi, dia ganteng," kata dia, dan kami lanjut jalan ke kelas kami.
Gue kaget pas liat siapa yang duduk di samping gue. Itu dia. Orang yang ngebolehin gue masuk mobilnya dan nolongin gue. Kami beruntung gurunya belum dateng. Gue yakin dia telat lagi.
Gue jalan ke kursi gue dan cuma malu duduk sama dia di sebelah kanan gue dan Faith ada di samping gue. Gue hampir loncat dari kursi pas dia ngomong.
"Hai, ini lo," katanya, dan gue noleh ke dia buat liat siapa yang dia ajak ngomong. "Lo ngomong sama gue?" kata gue, dan dia ngangguk.
"Oh, gue inget lo, makasih ya udah nolongin hari itu. Gue hargai banget. Gue juga lupa nanya nama lo," kata gue dan nutup mulut gue. Apa sih yang baru aja gue omongin? Oh, gak banget deh.
"Lo lumayan imut dan lucu. Berharap bisa lebih kenal sisi lo yang lain," katanya, dan gue bener-bener malu dan gue juga beruntung banget karena guru kami dateng dan dia fokus sama apa yang guru bilang. Gue inget namanya pas Hillary bilang tadi di kantin, gue tebak namanya Lucas.
Tapi gue gak peduliin itu dan dengerin apa yang guru bilang. Berjam-jam berlalu dan waktunya pulang. Semua murid lari keluar kelas bahkan Lucas, gue gak bisa liat dia.
"Faith, ayo pulang?" kata gue.
"Kita mau ke apartemen tante gue?" kata dia, dan gue bilang iya.
Pas kami lagi jalan keluar sekolah, gue liat Ibu dan Ayah nunggu di luar gerbang. Mereka sedih dan kesepian dari tampang mereka. Mata Ibu bengkak dan jelas abis nangis. Gue pengen jalan ke mereka dan meluk mereka, tapi ada bagian dari diri gue yang bilang.
"Oh sial. Mereka ada di sini," kata gue dan ngumpet di belakang Faith.
"Balik yuk," kata gue dan narik dia.
"Lo ngapain sih?" kata dia dan noleh ke gue.
"Gue liat mereka," kata gue dan air mata gue mulai keluar dari mata gue.
"Gak bisa Faith, gue sayang mereka tapi gue gak bisa. Gue mau bilang makasih ke mereka tapi gue gak bisa," kata gue dan nangis kejer.
"Sssst, gak apa-apa. Bilangin aja ke mereka kalo lo udah siap," kata dia.
"Ayo, nanti gue bilang ke mereka kalo lo butuh waktu. Gue yakin tante dan om lo bakal ngertiin lo," kata dia dan ngapus air mata gue. Dia gandeng tangan gue dan gue ngumpet di punggungnya.
"Om, tante," kata Faith ke Ibu dan Ayah.
"Sophia," kata mereka, noleh ke gue.
"Dia butuh waktu, semoga om dan tante ngerti ya," kata Faith dengan berani dan narik gue. Gue liat mata Ibu berkaca-kaca dan gue pengen meluk dia, jadi gue tarik lagi Faith dan meluk Ibu dan Ayah.
"Aku sayang kalian," kata gue.