Bab 2- Siapa namanya?
Saya lari dan terus lari dari mereka. Saya hampir nggak bisa lihat jalan karena mata saya burem. Saya nggak tahu sekarang saya ada di rumah mana, tapi saya mulai susah napas. Saya lari sekuat tenaga, tapi pandangan saya perlahan jadi hitam dan semuanya jadi gelap.
Sudut pandang Faith.
"Kamu dari mana? Udah malem, harusnya kamu udah dari tadi. Si Sophia bareng kamu lagi," kata seseorang dari atas. Saya lihat ke atas dan lihat Seia. Seia Trixie adalah adik perempuan saya. Selisih umur kami dua tahun, tapi dia selalu bersikap kayak dia kakak saya. Dia selalu marah sama saya kalau saya nyebut nama atau cerita tentang Sophia. Dia udah gitu sejak ibu kami meninggal karena kecelakaan dan ayah kami selalu sibuk kerja.
"Iya, saya sama Sophia, emang kenapa? Kamu mau apa?" kata saya dengan marah dan ngegas ke dia sambil jalan ke kamar. Dia bikin saya kesel, argh! Saya buka hape dan geser-geser di Facebook. Saya lihat DM dari dia di akun Instagramnya, bilang makasih dan saya bales Sophia buat nikmatin makan malam bareng keluarganya. Dia nggak bales, jadi saya lanjut geser-geser Facebook aja. Mungkin dia sibuk, Argh, saya cinta banget sama cewek itu.
"Nyonya, makanan udah siap!" Pengasuh kami teriak.
"Saya turun sebentar lagi, Pengasuh," kata saya dan saya ganti seragam. Setelah selesai ganti baju, saya keluar dan lihat Trixie jalan ke arah saya. Saya diemin aja dan jalan ke bawah. Trixie emang selalu gitu. Setiap kali saya sama Sophia, dia teriak-teriak ke saya dan bersikap kayak dia kakak saya. Pernah waktu Sophia dateng ke rumah kami, Trixie ngamuk, dia maksa Sophia pergi dan kami nggak bisa apa-apa karena dia bakal ngadu ke ayah tentang saya dan saya bakal kena hukum.
"Pengasuh, ayo gabung," kata saya waktu di dapur dan lihat dia bawa sampah di tangannya. "Kamu duluan aja, Nyonya, saya belum laper," katanya. "Yakin?" kata saya. "Iya, Nyonya, saya baru makan beberapa jam lalu," katanya dan saya ngangguk. Saya lihat Trixie lagi megang hapenya sambil makan. "Aish, udah berapa kali saya bilang buat taruh itu. " kata saya dan dia cuma natap saya kayak nggak ada apa-apa. Saya taruh alat makan dan berdiri buat ninggalin meja. Saya kesel banget.
"Nyonya, Nyonya, ada orang di gerbang kita. Kayaknya dia nggak sadar," katanya dengan nggak enak. "Ayo kita samperin," kata saya dan Pengasuh nunjukin jalan ke mana cewek itu berada. Saya nggak kenal dia, tapi umurnya kayaknya 20 tahunan ke atas atau '30-an.
"Nyonya? Kamu nggak apa-apa?" tanya saya dan dia ngangguk. "Biar saya bantu, Nyonya, mampir ke rumah kami dan istirahat sebentar," kata saya dan bantu dia berdiri. "Kamu baik banget. Makasih," katanya dan kami jalan ke rumah kami.
"Tunggu sini, saya ambilin air ya, Nyonya," kata saya. Wanita itu cantik banget, saya penasaran kenapa saya mikir dia mirip Sophia, tapi saya cuma halu karena saya ngerasa ada yang nggak beres. Matanya cokelat cantik tapi terang. Rambutnya keriting dan saya suka banget. Bibirnya berbentuk hati. dan hidungnya. Sempurna banget.
"Kamu dari mana, Nyonya?" tanya saya dan kasih dia segelas air. Dia minum dan kayaknya dia nggak denger saya, jadi saya tanya namanya siapa, tapi Trixie motong.
Suara gebrakan di meja dapur bikin saya kaget.
"Tunggu sini ya, Nyonya, saya mau liat apa yang adik saya lakuin?" kata saya dan dia ngangguk.
"Apa-apaan sih Trixie, kamu udah gede, tapi kamu bikin berantakan. Kamu mecahin piring kita," kata saya dan saya lihat piring apa yang dia pecahin jadi beberapa bagian. Itu dari ibu kami. Dulu dia biasa makan di piring kesayangannya, saya cuma mau nangis sekarang, tapi saya nggak mau Trixie liat air mata saya. Dia mau bersihin kekacauan dan pungut pecahan gelas, tapi saya bilang jangan.
"Biar saya aja yang urus, kamu ke kamar aja," kata saya dan dia ngegas dari dapur ke kamarnya. Saya bahkan denger langkah kakinya dari atas.
"Nyonya, kamu nggak apa-apa? Saya tau piring itu berkesan banget buat kamu," katanya. Pengasuh emang yang terbaik, dia selalu nenangin saya dan bikin saya aman. "Saya nggak apa-apa, Pengasuh, saya cuma mau bersihin ini," kata saya. Waktu saya selesai beres-beres, saya balik lagi ke wanita itu, tapi saya nggak liat apa-apa. Saya cuma liat secarik kertas dengan surat di atasnya. Isinya:
Hai, Makasih udah baik. Ketemu lagi, ya? :)
Saya penasaran sama apa yang baru aja terjadi dan cuma natap tembok kayak saya lagi melayang di udara.
Sudut pandang Sophia.
"Mbak, kamu nggak apa-apa?" Suara itu berkata. Saya coba buka mata perlahan dan saya lihat wajah ngeliatin saya dan saya ada di mobil seseorang. Dia ganteng, tapi saya nggak tau dia cowok brengsek atau bukan, jadi saya bereaksi.
"Eh, kamu ngapain?" kata saya dan coba menjauh dari dia. Saya dorong dia dan dia kayak, bro saya nggak bakal nyakitin kamu.
"Saya nemuin kamu di jalan lagi tiduran, nggak sadar," katanya.
"Oh shit, btw, bisa tolongin saya nggak?" kata saya dan dia ngangguk. Saya kasih tau alamat Faith dan dia setuju buat nolong saya.
"Ini dia, hati-hati selalu dan jangan tiduran di tanah, itu bukan kasur," katanya dan ketawa. Saya juga ketawa dan bilang makasih ke dia.
"Sama-sama, sampai jumpa lagi?" katanya.
"Kayaknya gitu deh," Saya ikutin candaannya.
Dia lambaikan tangan dan pergi. Saya pencet bel rumah Faith dan begitu saya liat dia, saya nangis, bukan karena kebenaran yang saya tau beberapa menit lalu.
"Kenapa?" kata Faith.
"Saya lupa nanya namanya," kata saya dan pura-pura nangis.