Bab 9- Pengakuan
Kamu ngapain di sini?” kata **Faith** sambil nyengir.
“U-uh, nggak ada apa-apa, kenapa?” katanya.
“Yakin?” katanya sambil nyolek saya.
“Eh, kok aku?” kata saya.
“Dia ngikutin kamu.” katanya.
“Nggak, aku nggak!” katanya, sementara saya bilang, “Nggak, dia nggak.” kata saya.
“Aduh, santai aja, kalian berdua.” katanya. Saya lihat ke bawah dan senyum. Kenapa ya saya jadi gini?
“Aku harus pergi.” katanya dan langsung pergi.
“Dia suka sama kamu!” **Faith** teriak kegirangan.
“Ssst. Kamu bawel banget.” kata saya, dan dia nundukin kepalanya ke orang-orang yang ngeliatin kita buat minta maaf. Dia narik saya dari sana dan sopir ngantar kita ke tempatnya **Faith**.
“Jadi, gimana ceritanya kalian berdua?” katanya dan saya senyum. Dia mendorong saya karena kegirangan. Jadi saya jatuh ke lantai. Saya natap dia dengan tatapan mematikan.
“Aku benci kamu,” kata saya dan dia ketawa. Tapi saya baru mau berdiri pas seseorang ngomong.
“Kamu bawa temen ke sini? Ini rumahmu? Aku mau bilang ke Ayah.” kata **Seia Trixie** dan nyengir ke saya.
“Kamu nggak peduli.” **Faith** bales.
“Eh, jangan ngomong gitu sama adekmu.” Ayah **Faith** bilang dan kita berdua kaget.
“Ayah?” kata **Faith**.
“Kamu kangen aku?” katanya dan **Faith** nyamperin Ayahnya terus meluk dia, tapi nggak se-excited anak-anak lain yang pengen ketemu orang tuanya.
“Kamu nggak papa kalau **Isabella Sophia Morsel** nginep kan?” katanya dan Ayahnya ngangguk. **Trixie** keliatannya kesel terus pergi.
“Kita pergi dulu, Ayah.” kata **Faith** dan Ayahnya senyum.
“Turun buat makan malam.” katanya dan kita pergi. Saya cuma senyum ke dia dan ngikutin **Faith**.
“Kamu belum siap juga?” kata saya.
“Kayaknya nggak. Dia sibuk banget sampe lupa ngurus anaknya sendiri. Coba kalau Ibu ada.” katanya.
“**Faith**, Ayahmu kerja buat kamu dan **Trixie**. Dia juga ngasih kamu kehidupan yang terbaik.” kata saya.
“Iya sih. Aku penasaran, orang tuamu juga sibuk dan nggak punya banyak waktu buat kamu.” katanya.
“Eh, itu jahat,” kata saya dan mata saya mulai berkaca-kaca.
“Sst, maaf.” katanya dan meluk saya. Dia ngusap air mata saya.
“Kamu kayak kakak kandungku, aish, aku benci kamu,” kata saya dan dia cemberut.
“Kok cemberut sih?” kata saya.
“Hmm, kamu nggak cerita apa yang terjadi tadi.” katanya. Saya menghela napas.
“Ayo, cerita ke mamamu.” katanya dan ketawa.
“Baka,” kata saya.
“Aku tahu kata itu.” jawabnya.
“Apa artinya?” kata saya buat ngecek beneran apa nggak.
“Itu idiot dalam Bahasa Inggris, kan?” katanya.
“Oke, aku mau cerita tapi diem ya, jangan teriak.” kata saya.
“Janji dulu.” kata saya.
“Aku janji.” katanya sambil ngarahin kelingkingnya ke saya.
“Jadi, aku lagi jalan di lorong ke kelas kita, tapi dia narik aku. Kenapa sih kamu harus ninggalin aku?” kata saya.
“Oh, maaf, aku lupa sama kamu.” katanya dan cekikikan.
“Terus, apa yang terjadi?” tambahnya.
“Setelah dia narik aku, dia meluk aku. Dan kita berdua kaget pas gurunya lihat kita pelukan. Aku ngerasa malu banget.” kata saya dan yang selanjutnya aku tahu, aku udah di lantai. **Faith** dorong saya dari kasurnya.
“Itu buat apa?” tanya saya dan pelan-pelan berdiri karena pantat saya sakit.
“Maaf, aku cuma semangat.” katanya.
“Aish, itu sakit. Jadi, ini terjadi selanjutnya, kita dikejar sama **Nona Park Kim Hyun** dan dia nemuin tempat gelap di mana kita bisa ngumpet, dan wahh, itu keren.” kata saya dan loncat ke kasurnya.
“Jadi, apa rencanamu.” katanya dan saya bingung. Saya bangun dan natap dia.
“Rencana apa?” kata saya.
“Iya.” katanya dan nganggukin kepalanya kayak anjing.
“Aku perlu rencana?” tanya saya.
“Tentu aja, cewek. Pergi ngakuin perasaanmu, mungkin dia juga suka sama kamu.” katanya.
“Nggak deh, aku nggak bakal ngelakuin itu,” kata saya dan tiduran lagi.
“Iya, kamu bakal ngelakuin. Kamu tahu, mungkin **Hillary** bakal dapetin dia duluan. Aku denger dia mau ngakuin perasaannya ke **Lucas** besok. Jadi, kalau kamu nggak mau, ya udah biarin aja **Hillary**.” katanya dan baru mau ke pintu pas saya berhentiin dia.
“Bantuin aku?” kata saya dan dia nyengir. Padahal nggak cocok sama dia.
“Aish, aku tahu kamu, cewek. Nggak ada cowok yang bisa nolak kamu.” katanya.
“Aish,” kata saya dan menghela napas.
“Terserah kamu deh, ayo turun. Kayaknya makan malam udah siap.” Katanya dan saya tahu kenapa dia bilang gitu. Ayahnya manggil kita.
“Oke,” kata saya, dia gandeng tangan saya.
“Minggir, ah.” kata **Trixie** dari belakang dan dia nyenggol saya tanpa sebab.
“Eh, dasar bocah kecil.” kata **Faith** dan ngasih tatapan mematikan
“Dan kamu mau ngapain?” katanya.
“Ini.” Saya kaget banget pas **Faith** dorong **Trixie**, tapi **Trixie** entah gimana jatuh dan kehilangan keseimbangan. Dia jatuh langsung ke tangga yang bikin dia luka dan nangis kesakitan.
“Ya ampun, aku nggak sengaja.” katanya dan mau nangis. Dia lari ke **Trixie** yang nggak sadar dan saya ngikutin dia, dia minta saya buat nelpon Ayahnya. Jadi saya lari buat nyari dia.
“Pak, **Trixie** jatuh dari tangga,” kata saya dan dia lari ke tempat **Trixie** dan **Faith** berada.
“Apa yang terjadi?” Ayah **Faith** bilang. Saya lihat **Faith** gugup ngejawab dan dia bahkan nggak bisa ngomong.
“Oke, oke, kita obrolin nanti. Ayo kita bawa adekmu ke rumah sakit.” katanya dan gendong **Trixie**.
“Eh, dia nggak papa kok. Kamu nggak sengaja.” kata saya ke dia dan dia terus nangis sementara kita nunggu Ayah **Faith** yang lagi ngobrol sama **Trixie** dan dokter.
“Aku nggak bisa berhenti nangis. Dia adekku.” katanya. Saya nepuk bahunya dan saya pegang kepalanya buat bersandar ke saya.
“Semuanya bakal baik-baik aja,” kata saya dan beberapa menit kemudian Ayahnya keluar.
“**Trixie** baik-baik aja?” katanya.
“Iya, dia bahkan bilang ke aku kalau-” Ayah **Faith** bilang tapi **Faith** menyela dia.
“Aku yang ngelakuin.” **Faith** bilang.
“Hah? Tapi dia bilang itu salah dia.” Ayah **Faith** bilang dan dia bingung. **Faith** buru-buru masuk ke ruangan.
**Faith** Pov
“Sis, kamu baik-baik aja? Kamu marah sama aku?” kata saya.
“Maaf.” jawabnya yang bikin aku kaget.
“Kenapa aku harus minta maaf sama kamu?” kata saya.
“Aku jahat banget sama kamu sejak kamu temenan sama **Isabella Sophia Morsel**. Yang sebenarnya, aku iri sama kamu dan **Isabella Sophia Morsel** yang sering jalan bareng kayak dia kakakmu sendiri.” katanya sambil air mata mulai keluar dan jatuh ke pipinya. Jadi aku meluk dia erat-erat sebisa mungkin buat nunjukkin kalau aku sayang dia.
“Aku minta maaf banget, aku nggak tahu kamu iri sama **Isabella Sophia Morsel**. Kamu tahu, kalian berdua harusnya sering main bareng. **Isabella Sophia Morsel** baik dan ramah.” kata saya.
“Aku nggak suka hmpk,” katanya dan cekikikan.
“Bocah kecil,” kata saya ke dia dan dia senyum.
“Oke, panggil dia, aku harus bilang kalau aku minta maaf.” katanya.
“Oke, aku bakal panggil. Tapi tunggu, kamu bohong sama Ayah.” kata saya dan ninggalin kamarnya dan dia cuma ngedipin mata ke aku.
Isabella's Pov
Pas **Faith** masuk ke ruangan beberapa menit yang lalu, aku merem dan nunggu dia.
“Eh, **Trixie** mau ngobrol sama kamu.” **Faith** bilang dan aku tahu itu dia
“Hah? Aku ngelakuin sesuatu yang salah?” kata saya bingung sambil buka mata.
“Nggak, nggak papa kok. Cuma masuk aja buat lihat sendiri. Dia mau ngobrol sama kamu!” katanya.
Aku jalan ke kamar **Trixie** dan ngetok.
“Boleh masuk?” kata saya.
“Iya, boleh.” katanya dan saya pegang gagang pintunya dengan gugup dan masuk ke dalam.
“Kamu mau ngobrolin apa? Ada yang mau kamu kasih tahu aku?” kata saya dengan suara pelan.
“Aku minta maaf, aku minta maaf banget karena jahat sama kamu karena iri. Aku keras banget sama kamu dan aku nggak lihat kalau kamu baik kayak yang **Faith** bilang.” katanya dan saya senyum.
“Aku berterima kasih banget kalian berdua baik-baik aja. Jadi, teman.” kata saya dan suasana hatinya berubah jadi marah.
“Aku nggak mau temenan sama kamu!” katanya dan saya bingung banget sampe mulai menjauh dari dia.
“Karena aku mau jadi sahabat terbaikmu.” katanya dan ngedipin mata ke saya.
“Iya, aku mau jadi sahabat terbaik?” kata saya dan dia ngangguk terus senyum.
“Cepat sembuh ya, sampai jumpa di sekolah,” kata saya dan dia ngelambaiin tangannya buat bilang selamat tinggal.
“**Faith**, aku mau pulang,” kata saya ke dia.
“Ayo pulang.” katanya dan kita balik ke rumah mereka. Ayah **Faith** ada di sana buat nemenin **Trixie**.
“Selamat malam,” katanya dan saya meluk dia dan merem.
“Selamat pag-” kata saya dan kaget pas nggak lihat **Faith** di sisi saya tapi ada catatan di meja.
Ayah nelpon aku dan kamu lagi tidur jadi aku nggak ragu buat bangunin kamu. Jangan telat ke sekolah ya. Aku udah minta juru masak buat ngasih kamu sarapan dan supirku buat nganter kamu ke sekolah. Hati-hati ya. Aku bakal ketemu kamu nanti.
Mencintai sahabat terbaikmu yang cantik.
Aku senyum pas baca catatan yang dia tinggalkan. Manis banget dia.
“Pengasuh, aku berangkat ya,” kata saya pas turun ke bawah.
“Tunggu, sayang, **Faith** bilang buat ngasih ini buat sarapanmu.” katanya.
“Makasih banyak,” kata saya.
“Sama-sama,” katanya dan saya bilang selamat tinggal.
“Makasih,” kata saya ke sopir **Faith** pas dia nganter saya ke sekolah. Dia senyum ke saya dan saya senyum balik. Saya menuju ke lorong dan kelas.
Saya lihat **Lucas** udah di sana jadi saya duduk di sampingnya. Dia jelas lagi nyari **Faith**.
“Adeknya di rumah sakit jadi dia nggak bisa masuk sekolah,” bisik saya.
“Aku nggak ngomong apa-apa sama kamu,” katanya dan saya merasa malu.
“**Lucas**?” kata saya.
“Hmm?” jawabnya.
“Aku mau kasih tahu kamu sesuatu,” kata saya malu-malu dan gugup.
“Apa itu?” katanya.
“Nanti kita ke tempat di mana kamu ajak aku ya,” kata saya dan saya duduk dengan benar karena saya lihat guru kita datang ke arah kita.
“Selamat pagi, kelas.” **Nyonya Jessica Garcia** menyapa.
“Selamat pagi **Nyonya Jessica Garcia**.” Kita semua menyahut balik.
“Oke, duduk.” katanya dan ngajar tentang sains.
“Jadi, kamu mau ngomongin apa,” **Lucas** bilang.
“Umh.” kata saya.
“Hah?” jawabnya dengan alis terangkat.
“Aku-” kata saya dan saya merasa jantung saya berdebar jadi nggak bisa.
“Aku suka kamu, aku suka kamu **Lucas**.” kata saya. Dia natap saya sebentar dan dia bilang.
“A-”