Bab 25- Isabella yang Hilang
"Dia di mana sih?" Faith tanya Saya sambil mondar-mandir di apartemen kami, mikir di mana Isabella bisa berada. Kita bolos kelas dan berusaha mencarinya.
"Telpon dia," komentar Kendrick. Dan Saya tunjukin hape Isabella ke dia.
Saya nemuin hape itu pas kita lagi jalan ke gerbang utama. Mungkin dia jatohin, dan itu masalah terbesar kita. Kita juga cek rumahnya dan Pengasuh bilang dia nggak pulang, bahkan Faith udah cek seluruh rumah dan ruang bawah tanah rahasia mereka, tapi kita nggak nemu dia.
Pas kita sampe sini, kita kira dia mungkin ada di sini, tapi ternyata nggak.
"Harus gue laporin ke Orang tuanya nggak sih?" Faith nangis.
"Jangan, ayo kita ke kerajaan mereka, mungkin dia di sana," Kendrick ngomong.
"Iya, ayo kesana." Saya setuju dan kita semua lari, pergi ke hutan yang mengarah ke kerajaan mereka.
"Buru-buru amat sih, Kendrick?" Sang Ratu mereka tanya.
"Isabella datang ke sini nggak?" Kendrick jawab.
"Oh, nggak ada. Kenapa emang?" Dia jawab.
"U-uh." Kendrick bener-bener ngomong terbata-bata.
"Kalian bilang kalau Isabella hilang?" Ayah Isabella berdiri dari kursi kerajaannya dan nanya ke Kendrick.
"Saya yang bertanggung jawab. Saya nyakitin perasaannya. Dia putusin Saya dan kabur." Saya narik napas.
"Kamu! Apa?" Ayahnya nunjuk Saya sementara Ratu Ayena terus narik dia balik.
"Yang Mulia, ada Wanita yang mau masuk ke kerajaan kita," Penjaga mereka ngasih tau.
"Siapa? Biarin aja," Ratu Ayena nyuruh. Pelayan lain ngebawa Wanita itu. Mukanya nggak kelihatan, Kita cuma bisa liat matanya aja. Dia lumayan tinggi dan punya mata yang indah banget, mata emas. Mata kita ketemu dan Saya bisa bilang ada yang aneh. Dia ngindar kontak mata sama Saya.
"Jadi apa maksudmu? Kami bisa bantu apa?" Ratu Ayena nanya.
"U-uh, apa kalian nyari cewek remaja yang matanya ungu?" Dia jawab. Tunggu, itu Isabella?
"Deskripsiin lebih lanjut," Saya nyaranin.
"Dia pake seragam. Lengan panjang warna biru, kaos dalemnya putih. Dia pake rok di atas lutut. Rambutnya lurus di atas dan di ujungnya keriting. Kulitnya putih dan dia kurus," dia jelasin.
"Kayak gini?" Faith nunjuk seragamnya dan Wanita itu ngangguk.
Faith balik badan ke Orang tua Isabella dan ngangguk ke mereka, dan mereka ngerti apa yang Faith coba sampein.
"Saya bisa bawa kalian ke sana, tapi kita butuh rencana. Sampai jumpa besok." Setelah dia ngomong gitu, dia menghilang. Dia bahkan nggak denger pikiran kita.
Semua Serigala dan orang-orang di kerajaan kagum sama apa yang dia lakuin.
"Bisa Saya ngobrol sama kamu?" Ratu Ayena ngomong.
"Saya?" Saya nunjuk diri sendiri buat mastiin dia ngomong ke Saya dan dia ngangguk.
POV ISABELLA.
"Waktunya bangun, Putri kecil." Sebuah suara bilang. Apa Saya mimpi?
"Saya bilang bangun." Sebuah tangan nampar muka Saya dan itu sakit.
"Kalo Saya bilang bangun, bangun, idiot." Dia nambahin. Saya nggak bisa buka mata.
"Saya di mana?" Saya nanya. Sampe Saya inget apa yang terjadi sebelumnya.
•FLASHBACK•
Saya jalan ke banyak orang sambil air mata di muka Saya. Saya bahkan nggak sadar Saya di luar gerbang sekolah.
Terus tiba-tiba Pria nangkep Saya. Dia tinggi dan punya mata biru. Terus dia nanya ke Saya.
"Bisa kasih tau Saya di mana kedai kopi?" Dia nanya, dan Saya kesel banget dia nanya pas dia bisa liat air mata di muka Saya.
"Tanya orang lain aja deh," Saya teriak dan dia nyuruh Saya diem. Dia naruh tangannya di mulut dan hidung Saya dan Saya kehilangan keseimbangan dan semuanya jadi gelap.
•FLASHBACK END•
"Lo siapa sih?" Saya nanya dengan marah.
"Oh, lo di kerajaan Saya." Pria di belakang Pria yang ngadep Saya jalan ke arah Saya.
"Kamu," Saya inget mukanya, dia adalah Pria yang nyerang kita pas perjalanan kemaren.
"Iya, ini Saya." Dia nyengir.
"Lo mau apa dari Saya?" Saya berani bilang meskipun Saya takut sama apa yang dia bisa lakuin. Saya nggak tau Serigala ini bakal nyerang Saya dan bunuh Saya saat itu juga. Saya nggak tau bisa keluar dari sini sekarang Saya diiket di kayu salib.
Dia jalan lebih deket ke Saya dan megang muka Saya. Dia sentuh muka Saya pelan dan bilang.
"Saya mau....." Dia pura-pura mikir dulu terus nyengir.
"Saya mau lo jauhin anak Saya dan Saya bakal bunuh lo." Dia ngedipin mata ke Saya kayak ngejek Saya. Bunuh Saya? Anaknya?
"Siapa anak lo?" Saya bingung bilang.
"Dia pacar lo?" Dia jawab dan Saya sadar itu Lucas.
"Jadi..." Dia motong Saya dan bilang.
"Saya nggak mau denger satu kata lagi dari mulut lo atau Saya bakal bunuh lo tanpa ragu sekarang juga." Dia bilang itu bikin Saya diem.
Saya mikir cara buat keluar dari sini. Dan tiba-tiba Saya mikir mungkin Saya bisa gesek tali ini ke kayu.
"Ahhh nggak, lo bakal kebakar sendiri kalo lo lakuin itu sayang, lo nggak bakal kabur." Dia jalan pergi dan duduk di tahtanya.
"Tolong, lepasin Saya." Saya nangis.
"Nggak, Saya nggak bakal." Dia nyengir lagi dan itu bikin Saya merinding. Apa Saya bakal mati di sini sendirian.
Kenapa Lucas nggak nyelamatin Saya? Apa dia bakal nyelamatin Saya? Apa dia nyari Saya? Ada banyak pertanyaan di pikiran Saya dan lupa sama apa yang dia lakuin.
Saya cuma tau gimana caranya buka iketan tali bodoh ini di tangan Saya.
Saya coba dan coba buat lepasin benda sialan ini di kepala Saya tapi Saya nggak bisa, dia selalu nangkep Saya dan Saya nggak mau dibunuh sekarang.
Saya liat bintang dan bulan di langit sambil berharap ada yang nyelamatin Saya. Saya liatin mereka lumayan lama dan denger perut Saya bunyi. Sementara mereka nikmatin makanan yang mereka punya, daging.
"Mau?" Seseorang bilang dari kerumunan.
"Nggak, terima kasih," Saya jawab.
"Biarin aja, kalo dia nggak mau makan. Dia bakal mati besok." Dia bilang itu bikin Saya deg-degan.
Saya masih pengen punya kerjaan dan jadi Ibu, punya anak, dan banyak lagi.
Saya cuma merem dan nunggu keajaiban kalo Saya bakal diselametin sama seseorang.
POV LUCAS
"Ada apa, Nyonya?" Saya nanya ke dia pas dia bilang dia mau ngobrol sama Saya.
"Saya tau kamu cinta Isabella." Dia jalan dan jalan di depan Saya.
"Iya, Saya cinta," Saya jawab.
"Tapi Saya tau siapa kamu. Saya tau kamu adalah anak dari kerajaan lain. Kerajaan Louton, kan?" Saya kaget dia tau Saya tinggal di mana.
"Saya juga tau kalo Ayahmu udah punya Isabella sekarang." Dia bilang itu bikin Saya makin kaget. Dia punya pacar Saya.
"Saya nggak ngijinin kamu pacaran sama dia begitu kita nyelamatin dia tapi kalo kamu bisa nyelamatin dia Saya ijinin kalian berdua dan perbaiki kesalahanmu. Kamu ngerti?" Dia nanya.
"Iya." Dia ngasih kode ke Saya buat pergi dan pas di jalan ke gerbang, Saya liat mereka berdua ngomong sedih soal Isabella.
"Jangan kehilangan harapan, Saya bakal nyelametin dia,, Saya janji ke mereka buat bikin mereka ngerasa punya harapan.
Saya rebahan di kasur mikirin Isabella dan Wanita yang muncul di dinasti Serigala.
Dia keliatan familiar bagi Saya. Tapi Saya inget Isabella. Apa dia makan sekarang, dia selalu laper dia butuh makanan.
Harusnya Saya nyelamatin dia sekarang? Apa yang Ayah Saya bakal lakuin ke dia? Apa dia aman? Gimana kalo Ayah Saya bakal pake dia buat bawa Saya balik ke Louton? Gimana kalo dia bakal bunuh dia? Banyak banget gimana kalo di pikiran Saya dan Saya nggak bisa nahan diri buat nggak nangis.
Kita bawa Faith balik ke rumah mereka dan Kendrick ikut Saya. Dia nanya apa dia boleh nginep di sini.
"Ada apa sih?" Dia nanya khawatir.
"Saya denger lo ngobrol sama Sang Ratu. Saya nggak sengaja sih tapi Saya lumayan denger." Dia duduk di sofa di ruang keluarga dan mulai ngomong.
"Lo punya makanan nggak sebelum Saya ngobrol sama lo?" Dia nanya dan Saya nunjuk kulkas. Dia ambil makanannya dan nanya Saya mau nggak.
"Saya nggak punya nafsu makan pas nyawa Isabella lagi bahaya," Saya jawab dan bikin dia ngejatohin makanannya.
"Saya juga." Dia sedih bilang dan balik lagi ke tempat duduknya.
"Dia bakal baik-baik aja nggak sih?" Dia nanya dan Saya ngangkat bahu.
"Jadi, btw gimana caranya lo bisa nyelamatin dia." Dia nambahin.
"Saya punya cara." Saya berusaha buat keliatan keren dan nggak takut tapi itu cuma ngehancurin hati Saya mikir kalo Saya yang pantas ada di sana. Dan tiba-tiba Saya inget rute di jalan.
"Tetep di sini aja," Saya nyuruh.
"Lo mau kemana?" Dia penasaran.
"Aish kalo lo mau ikut ya ikut aja." Dia tiba-tiba lari ke arah Saya dan bilang...
"Saya siap." Saya muter bola mata ke dia dan dia cuma ngedipin mata ke Saya.
"Kita udah sampe belom sih." Dia gumam.
"Berhenti nanya pertanyaan yang sama setiap menitnya." Saya menghela napas.
"Kalo lo nggak ikut Saya terus lo nggak usah ngomong dan nanya kalo kita hampir sampe," Saya nambahin.
"Kalo lo bilang lebih awal kalo kita nggak bakal pake insting Serigala atau berubah wujud jadi Serigala, Saya nggak bakal ikut lo." Dia ngoceh.
"Aish diem aja deh mulutnya." Saya tutup mulutnya tapi dia gigit Saya.
"Fvck Saya nggak bisa napas lo tolol." Dia ngumpat.
"Lo nyasar ya?" Seseorang ngomong yang bikin Saya kaget dan bikin Kendrick loncat dan ngumpat.
"Sialan!" Dia loncat kayak kucing pas dia denger suara dari belakangnya. Saya liat Wanita yang ngomong dan itu adalah.........