Bab 18- Dia juga menyukaiku.
SUDUT PANDANG ISABELLA
"Eh, hei, boleh ngomong sama lo?" kata Lucas pas kita udah nyampe rumah.
"U-uh," jawab Saya, tiba-tiba hape Saya bunyi.
"Tunggu bentar," kata Saya, terus dia senyum.
"Halo?" kata Saya waktu ngangkat telepon.
"Kayaknya kita gak bisa ke tempat lo. Ada urusan mendesak, jadi harus balik. Ketemu besok aja, ya." Katanya, terus langsung matiin teleponnya.
"Jadi, ada apa nih?" tanya Saya ke Lucas.
"Gue..." katanya, keliatan gugup.
"Lanjut," kata Saya.
"Kita makan malam, yuk." katanya, terus pergi.
"Apaan sih itu?" gumam Saya ke diri sendiri, terus jalan ke kamar.
"Kendrick," panggil Saya waktu nyadar dia ada di sana.
"Iya?" jawab dia.
"Uh, gak ada apa-apa," kata Saya. Lucas ngebiarin dia di sini, dan Saya gak tau apa yang mereka obrolin tadi. Tapi Lucas keliatan kesel.
"Kendrick, mau ikut gak?" tanya Saya, tapi Lucas malah nyaut.
"Gue mau ngomong sama lo, berdua aja." katanya sambil masang muka datar.
"Oke, jadi kita pergi sekarang?" tanya Saya, terus dia ngeliatin Saya.
"Lo pake itu?" katanya, terus Saya liatin baju Saya. Saya pake rok pendek sama lengan panjang.
"Kependekan banget," katanya.
"Bro gak milih buat dia, dia punya hidup sendiri," potong Kendrick.
"Diem! Lo mau dia dilecehin? Aish!" katanya dengan marah, jadi Saya ngikutin dia dan ngurung dia di kamar. Saya ganti baju. Saya pake celana panjang sama crop top hoodie. Lucas bener, Saya juga gak mau diisengin sama cowok di pinggir jalan atau di mana aja.
"Balik lagi, maaf ya!" kata Saya, terus dia cuma ngangguk. Saya keluar pintu, dan Lucas udah nungguin Saya di sana. Dia keluar dari mobil buat bukain pintu mobil buat Saya.
"Baik banget sih," kata Saya, terus dia senyum.
"Mau makan di mana?" katanya.
"Lo tau lah," kata Saya, terus dia ketawa.
"Gede gitu, tapi suka makanan itu," katanya.
"Emangnya kenapa? Itu makanan buat semua orang, kali," kata Saya sambil nyilangin tangan. Beraninya dia. Dia cekikikan terus bilang,
"Lo keren banget hari ini."
"Jadi, kemarin gue jelek gitu?" kata Saya.
"Enggak, bukan itu maksud gue," katanya.
"Oke deh, gue tau, tinggal nyetir aja," kata Saya, terus dia ngangguk. Waktu lagi di jalan, Saya liatin pemandangan dari jendela mobil, gimana matahari terbenam.
"Cantik banget," kata Saya sambil kagum sama matahari terbenam.
"Iya, bener," kata Lucas juga, terus Saya liatin dia, dia lagi natap Saya.
"Ada yang salah di muka gue?" kata Saya, terus dia senyum.
"Iya, ada kecantikan," katanya. Saya ngerasa ada kupu-kupu di perut yang bikin Saya salah tingkah dan gugup.
"Uh, ayo jalan, kayaknya kita udah nyampe," kata Saya, terus dia ngangguk. Dia keluar mobil duluan, terus nuntun Saya. Pas kita nyampe ke tempat makan favorit Saya, Saya berterima kasih sama Lucas karena udah bawa Saya ke sini.
"Jadi, kenapa tiba-tiba lo ngajak gue dinner, ya? Kayaknya lo nge-ghost gue sehari, terus lo ngajak gue keluar, kenapa? Ada yang bikin lo khawatir?" kata Saya, tiba-tiba dia mendekat mau nyium.
"Eh, lo nyuri dua ciuman dari bibir gue," kata Saya, terus dia ketawa.
"Bacot banget sih lo," katanya, terus pergi buat pesen makanan.
"Aish, kenapa sih dia?" kata Saya, terus ngerasa ada listrik dan kupu-kupu di perut. Saya nungguin dia, terus ada anak kecil nyamperin Saya.
"Kakak gue mau kenalan, Mbak," kata anak kecil itu, terus nunjuk ke kakaknya. Kakaknya ngasih kode sama Saya dan ngedip.
"Maaf, dek, tapi cewek ini udah punya gue," kata Lucas sambil megangin makanan yang dia pesen.
"Ah, sayang banget, maaf ya, Mbak," kata anak kecil itu, terus lari ke kakaknya dengan bibir manyun dan muka kecewa. Kakaknya ngeliatin kita, terus nunduk ke Lucas.
"Kenapa lo gitu?" tanya Saya, tapi dia gak peduli dan malah makan makanannya. Jadi Saya juga makan.
"Udah selesai?" katanya, terus Saya ngangguk.
"Jadi, sekarang kita mau ke mana?" kata Saya, terus dia bukain pintu buat Saya, kita berdua ada di parkiran bawah tanah.
"Ini kencan yang ramah lingkungan, ya?" kata Saya ke dia waktu dia nyetir.
"Bisa dibilang gitu, lo liat aja nanti," katanya, terus Saya cuma ngangkat bahu dan nyender di kursi.
"Lucas?" Saya manggil dia.
"Bangunin gue kalo udah nyampe, ya," kata Saya, terus dia jawab, "Hmm." Saya merem dan ketiduran.
"Hei, kita udah nyampe," Lucas nepuk bahu Saya.
"Gue tidur berapa lama?" kata Saya, terus dia cekikikan dan bilang,
"2 jam." Tunggu, selama itu.
"Kita di mana?" kata Saya, terus nunjuk keluar.
"Woahh." Saya ngeliat pohon-pohon, dan Saya bisa bilang kalo tempat itu didesain kayak rumah pohon. Saya buka pintu mobil dan lari ke arah pohon-pohon itu. Ini ajaib. Lampu-lampu ada di sekitar pohon. Di atas pohon ada selimut, cocok buat dua orang, dan anginnya pas banget.
"Seneng banget bisa di sini," kata Saya, kagum sama pemandangannya.
"Lo suka?" katanya, terus Saya ngangguk.
"Ayo ke atas," kata Saya, terus dia senyum. Dia ngebiarin Saya naik tangga duluan, terus dia di belakang Saya.
"Woahhh," kata Saya waktu salah nginjek tangga dan hampir jatuh, tapi Lucas nangkap Saya, kita saling tatap beberapa saat, dan Saya bisa liat mata dia. Jantung Saya berdebar kencang banget sampe dia bisa denger nama dia.
"U-uh, makasih."
"Gak usah khawatir, hati-hati," katanya, terus Saya coba naik lagi.
"Enak banget di sini, kenapa lo bawa gue ke sini?" kata Saya.
"Itu karena uh..." katanya, terus nundukin mukanya.
"Apa?" kata Saya, terus ngeyakinin dia buat cerita.
"Oh ya, sekarang jam berapa sih?" kata Saya, terus Saya pegang tangan dia dan liatin jam tangannya, Saya liat udah lewat jam 8 malem.
"Tangan lo dingin, lo baik-baik aja?" kata Saya.
"Iya, gue baik-baik aja," katanya.
"Jadi?" kata Saya, nungguin dia jawab. Waktu itu Saya dapet ciuman yang keras dari dia.
"Buat apa itu?" kata Saya, coba nutupin muka yang lagi blushing.
"Gue suka sama lo," katanya, terus Saya kaget.
"Lo barusan ngomong apa?" kata Saya, coba minta dia ngulang apa yang baru aja dia omongin.
"Oke, gue nolak lo karena gue takut. Gue takut sama keselamatan lo. Gue takut kalo lo tau identitas gue yang sebenarnya. Tapi gue baru tau kalo lo itu putri dari dinasti serigala. Jadi, maukah lo maafin gue?" jelasnya.
"Jadi, apa identitas lo yang sebenarnya?" kata Saya.
"Gue sama kayak lo. Udah hidup di dunia manusia, gak kayak lo, gue tau gue itu serigala," katanya, terus Saya liat matanya, ada air mata di matanya.
"Kenapa?" kata Saya, waktu air matanya terus berjatuhan, hujan mulai turun deras di atas kita. Kita ngumpet di pojokan, di mana gak ada hujan. Waktu kita kejebak di atas pohon, dia bergerak dan ngelepas jaketnya. Dia pake celana panjang sama kaos, dan jaket. Dia minjemin jaketnya ke Saya, tapi Saya gak ngambil, jadi dia yang masangin ke bahu Saya.
"Nanti lo sakit," katanya, terus ngusap air matanya.
"Lo bisa kok," kata Saya, terus dia ngangguk.
"Makasih," katanya.
"Umh, soal pengakuan lo," kata Saya dengan gugup, Saya bisa ngerasain kalo kita terlalu cepet.
"Gue tau lo ngerasa ini terlalu dini?" katanya.
"Lo bisa baca pikiran gue?" kata Saya, terus dia bilang iya. Dia cerita ke Saya kalo dia bisa baca pikiran dan juga bisa hapus ingatan.
"Gue gak pernah cerita kekuatan gue ke siapa pun, jadi, apa gue bisa percaya sama lo?" katanya.
"Bisa," kata Saya. Kita nungguin hujan berhenti, tapi gak berhenti. Saya kedinginan dan menggigil.
"Hei, lo baik-baik aja?" dia nanya.
"Uh, dingin banget," kata Saya.
"Ayo masuk mobil biar lo anget," katanya, terus Saya natap dia kayak khawatir.
"Uh, tapi hujannya deras banget," kata Saya, kita bisa sakit kalo kita lari-larian di hujan.
"Uh, gak apa-apa, kita tinggal nunggu hujan berhenti," kata Saya, terus dia ngangguk. Saya ambil dan nyalain hape Saya dan masang headset yang ada di tas Saya. Saya puter musik, terus noleh ke Lucas.
"Jadi, hei, mau denger musik gak?" kata Saya, terus dia nundukin telinganya ke Saya buat Saya pasangin. Saya senyum, coba nutupin senyum Saya.
"Umh, Lucas, maaf banget kalo gue nolak lo sekarang, tapi gue pikirin dulu ya," kata Saya, terus dia ngeliatin Saya dengan muka serius.
"Gak apa-apa, gue bakal nunggu lo," katanya, terus ngasih kode ke Saya. Saya nyender ke pohon dan nungguin hujan berhenti. Jantung Saya masih berdebar kencang. Saya merem dan mulai nyanyi waktu lagu favorit Saya diputer.
"No, wait don't go away there's more I want to say"
"I won't last the day." Lucas mulai nyanyi bareng Saya.
"Lo suka lagu ini?" tanya Saya, terus dia ngangguk. Dia cerita ke Saya kalo lagu ini yang pertama kali dia denger. Kita nyanyi bareng dan nungguin hujan berhenti.
"Kendrick?" Saya nabrak Kendrick sama Lucas, dia lagi megang payung dan mukanya khawatir.