Bab 23- Saling Mengenal
SUDUT PANDANG FAITH
"Kamu gak apa-apa?" Saya duduk di sampingnya sementara Lucas dan Isabella lagi main sama anak-anak.
"Saya?" Dia nunjuk dirinya sendiri dan ketawa.
"Kamu suka saya, kan?" tambahnya. Saya nelen ludah dan nyembunyiin senyum.
"Gimana kalau kita jadian." Dia ngomong gitu dan hati kecil saya bilang iya, sementara jantung saya deg-degan dan bilang dug dug dug dug berkali-kali.
"Gimana kalau.." Dia mendekat ke saya dan saya narik badan berusaha ngejauh, tapi kayaknya saya suka juga sih. Saya merem dan nunggu ciuman yang saya bayangin.
"Canda doang. Saya respek sama kamu, kali. Saya gak bakal cium kamu kalau kamu belum resmi jadi milik saya." Dia nyengir.
"Kamu manusia?" Seorang anak kecil nyamperin saya. Rambutnya keriting yang saya suka.
"E-eh iya," saya jawab sopan ke dia.
"Kakak cowok, dia pacar kamu?" Anak itu nanya, nunjuk ke Kendrick.
"K-kakak?" saya kaget.
"Iya, dia adik kecil saya, Athena." Dia ngenalin dan anak itu nyapa saya.
"Kamu cantik." Anak kecil itu ngomong langsung ke saya. Saya kaget dan bersyukur dipuji.
"Kamu sama Kakak cocok banget." Tambahnya, tapi seseorang narik dia pergi.
"Maaf ya kelakuannya, dia anak keras kepala tapi gemesin." Seorang wanita bilang. Dia mirip Kendrick tapi versi ceweknya, dan cowok yang narik anak itu kayaknya Athena dan saya pikir itu keren.
"Gak usah minta maaf Nyonya, gak apa-apa kok. Saya malah suka dia." Saya senyum dan dia bales dengan senyum lebar juga ke saya.
"Kamu baik dan cantik. Saya suka kamu buat anak saya."
"Mama jangan gitu," Kendrick bilang malu-malu.
"Aduh, anak Mama malu-malu nih di depan nona cantik ini. Gak usah khawatir, Mama suka dia." Dia nepuk bahu Kendrick dan ngedipin mata ke saya terus ninggalin kita.
"Keluarga kamu mau saya, berarti kamu juga suka saya, dong." Saya berusaha sok keren ngomong gitu. Tapi dia cuma ketawa.
"Argh, saya benci kamu." Saya manyunin bibir.
"Jangan manyun, kayak bebek." Dia ketawa lagi dan saya ninggalin dia karena kesel. Tapi saya gak bisa benci dia, saya suka dia tapi lupakan. Saya nyari Isabella dan Lucas tapi gak keliatan.
"Kalian liat mereka gak? Saya ninggalin mereka tadi di sini." Saya gumam dan saya liat Kendrick di belakang saya.
"Udah lupakan aja, saya tunjukin sesuatu ke kamu." Dia gandeng tangan saya dan kita lewatin para serigala yang kita liat.
"Kamu mau bawa saya kemana? Kita kejauhan dari mereka." Saya nanya tapi dia nyuruh saya diem dan nutup mulut saya. Saya gigit tangannya keras-keras, dan dia teriak kenceng banget sampe suaranya menggema. Tiba-tiba, dia narik saya jadi kita jatuh ke tanah dan batu jatuh di tempat kita tadi sebelum dia narik saya. Saya bangun duluan dari tanah sementara dia masih duduk di sana. Saya ngerasa ada yang aneh di siku saya.
"Kamu berdarah." Saya kaget denger itu.
"D-darah?" Saya sesegukan sambil nutup mata.
"Ada di siku kamu. Lecet gara-gara jatuh tadi." Jawabnya. Saya cek dan tangan saya gemeteran juga.
"Kaca ini bikin kamu sakit." Dia nunjukin pecahan kaca yang ada darahnya dan saya takut banget, sampe pingsan dan hal terakhir yang saya liat adalah wajah khawatir Kendrick.
Saya pelan-pelan buka mata dan liat Kendrick, Isabella, Lucas, dan keluarga Kendrick.
"Kamu udah bangun. Syukur." Saya duduk pelan di kasur yang tadi saya tiduran.
"Isabella bilang kamu takut darah, itu yang bikin kamu gak sadar." Dia jelasin. Saya liat siku saya dan gak ada luka yang saya punya.
"Sama-sama," Kendrick jawab meskipun saya gak ngomong apa-apa.
"Keluarganya bisa nyembuhin luka siapa aja." Isabella maju ke saya dan duduk di samping saya.
"Makasih." Saya berterima kasih ke keluarga dia dan Kendrick juga. Setelah penjelasan kita selesai mereka pergi tapi Isabella, Kendrick, dan Lucas tetep di sini sama saya.
"Kalian darimana aja sih?" saya nanya Isabella.
"Apalagi mereka lagi asik pacaran," Kendrick bilang.
"Kalian udah resmi jadian?" saya nanya Isabella sambil nyender ke dia.
"U-uh iya. Gak keliatan ya?" Jawabnya dengan pipi memerah.
"Aish, kamu gak cerita, dasar bocah," saya nyengir.
"Emang kenapa dia harus cerita ke kamu?" Kendrick nanya ke saya.
"Halo, saya kan ibunya," saya goda Isabella dan cuma bercanda kok. Kita semua ketawa karena omong kosong kita.
"Udah malem, kita harus pergi," Isabella nyaranin dan kita semua setuju. Kita pamitan sama orang tua dia dan mereka ngebolehin.
"Boleh gak saya nginep di sini? Pasti Ayah gak bakal ngeh deh." Saya ngomong gitu sambil masuk ke apartemen mereka.
"Wahhhh boleh banget," Isabella teriak kegirangan. Dia narik saya ke kamarnya dan kita have fun.
"Eh, nonton yuk sambil makan," Lucas teriak.
"Iya, saya pesen pizza ya." Isabella bilang.
"Saya yang bayar," saya bilang dan kita semua ngeliatin Kendrick.
"U-uh saya mau nyalain tv deh." Dia ngomong lucu.
"Nih, kamu nyalain tv ini pake remot ini kalau udah dicolok ya," saya ngajarin dia.
"Makasih" Dia senyum dan saya bales senyum juga. Saya duduk di sampingnya dan Isabella nyamperin saya setelah dia telepon dan mesen pizza. Lucas ngambil beberapa cemilan dan duduk di samping Isabella. Mereka milih film yang mereka mau dan mereka milih film yang judulnya Titanic.
"Nih Isabella." Lucas ngasih cemilan ke dia.
"Saya boleh gak?" Saya manyun.
"Bebek gak boleh makan cemilan." Saya pukul dia sekeras mungkin biar dia ngerasain keselnya saya. Lucas ngebolehin saya makan cemilan dan Kendrick juga mau, tapi saya gak bolehin. Mereka semua ketawa ke saya karena kelakuan saya kayak anak kecil.
"Gimana kalau suatu hari, Kendrick jatuh cinta sama kamu Faith. Kamu bakal ngebolehin gak?" Lucas nanya dan saya mau jawab iya, tapi dia malah kayak mau muntah.
"Ewwww." Dia bilang jijik saya mau tonjok mukanya. Dia nyakitin hati saya, udah ancur jadi potongan-potongan.
"Kamu lebih tebel dari kaca deh." Saya ngomel dan dia bales dengan nyengir.
Lama-lama, saya sadar kalau Isabella udah tidur dan Lucas juga sadar.
Dia ngambil selimut yang dia liat di dekatnya dan nutupin Isabella, sementara Isabella gak tau apa-apa.
"Wow, sweet," saya bilang dan dia cuma nyengir. Terus tiba-tiba saya ngerasa ada kepala nyender di bahu saya. Kendrick juga ketiduran dan dia gak bisa nahan kepalanya dan nyender ke saya. Saya ngerasa kupu-kupu di perut saya dan jantung saya deg-degan banget sampe saya gak berani gerak dan ngebangunin dia. Dan Itu magical.