Bab 8- Naksir
"Wahhhhhhhhhh, apa yang baru aja terjadi?" kata Seia Trixie pas lagi makan.
"Berisik, diem. Nanti dia bangun." kataku sambil nutup mulutnya.
Di sekolah, dia terus-terusan ingetin aku soal yang terjadi semalem, dan aku malu banget. Kayaknya aku salah cerita ke dia.
**POV Tyler**
Apa sih yang terjadi semalem? Apa aku cium dia? Apa bibir kita nempel? Aku panik pas bangun tidur. Aku denger Seia Trixie bareng dia pagi ini. Dan kayaknya aku gak salah, Isabella baru aja cerita ke Seia Trixie, makanya suara Seia Trixie berisik banget di apartemen, teriak-teriak kayak liat hantu.
Beberapa menit kemudian aku denger motor Isabella nyala. Aku kira mereka mau pergi ninggalin aku. Sampe aku inget adegan semalem.
*(Kilasan Balik)*
"Aku mau masuk sini," kataku, dan waktu aku mau pergi, dia narik aku. Aku gak tau kenapa. Dan akhirnya aku tau, aku ada di atas dia. Aku liat wajahnya lebih deket ke aku. Dia cantik banget, sampe aku gak bisa natap dia bener-bener, cuma ngeliatin bibirnya yang merah muda. Rasanya pengen banget nyium. Aku nelen ludah, tanda aku gugup. Dan detik berikutnya, intens banget. Aku deketin wajahku ke wajahnya, pelan-pelan, makin deket, makin deket, dan... *blam* bibirku dan bibirnya nyentuh. Aku ngerasain ada listrik yang nyetrum di tubuhku. Ini pertama kalinya aku cium cewek, dan ngerasain apa yang aku rasain di tubuhku. Aku malu banget pas bibirku lepas dari bibirnya, jadi aku lari dari kamarnya, dan waktu aku mau keluar, aku malah jatoh.
"Eh, kamu gak apa-apa?" katanya. Aku malu banget sama diri sendiri, jadi aku lari ke kamar dan ngunci pintu. *What the hell* aku ngapain?
*(Kilasan Balik selesai)*
**Kembali ke POV Isabella Sophia Morsel**
"Liat, dia dateng," kata Seia Trixie sambil nunjuk Lucas dari jauh.
Ya ampun, apa aku udah siap? Dan dia ada di sana, duduk di sampingku.
"Hai," kataku malu-malu, dan aku ngerasa agak canggung di antara kita, dan aku tau kenapa. Dia gak bales, kayaknya tegang gitu. Aku noleh ke Seia Trixie dan nunggu guru dateng.
"Eh, kayaknya aku suka sama dia," kataku ke Seia Trixie, dan dia langsung heboh, tapi aku ngerasa agak tegang sama dia.
"Kamu gak apa-apa?" tanyaku ke dia, dan dia ngangguk.
"Iya, kenapa enggak, aku seneng banget buat kamu!" katanya.
"Eh, kita belum resmi ya. Mungkin cuma kebetulan," kataku.
"Ciuman kebetulan? Ya ampun, dia suka sama kamu," katanya, dan aku muter mata ke dia. Gak bakal mungkin kayak gitu. Aku jalan ke kantin dan beli makanan.
Waktu aku lagi jalan, aku liat Lucas di suatu tempat di kantin, tapi aku gak liat dia lagi setelah aku nabrak cewek.
"Maaf banget, neng, jangan maki-maki ya," katanya, dan suaranya lembut banget.
"Gak usah minta maaf, aku juga gak liat-liat jalan," kataku ke dia.
"Kamu baik banget, neng. Semoga semua orang bisa kayak kamu. Cantik, baik, dan aku tau kamu punya banyak banget bakat. Aku juga tau kamu populer banget di sini," katanya. Aku malu banget buat ngomong waktu dia bilang selamat tinggal.
Aku coba cari Lucas lagi, tapi malah ketemu Seia Trixie.
"Nih," katanya.
"Eh, aku liat Lucas merhatiin kamu," katanya.
"Ah, mungkin dia cuma merhatiin sesuatu di arahku," kataku, dan dia geliin aku.
"Berenti. Eh hahaha, berenti," kataku, dan dia berenti. Tapi aku gak yakin dia berenti.
"Ayo dong berenti HAHAHAHAHA," kataku, dan aku liat orang-orang lain merhatiin kita.
"Pertama-tama kasih tau aku, kenapa kamu mikir dia gak suka sama kamu," katanya.
"Karena dia suka sama kamu," kataku, terus lari, aku tau dia bakal bunuh aku. HAHAHAHAHA. Tapi aku jatoh, *aish* aku emang lagi apes banget. Aku nungguin buat jatoh, tapi aku gak jatoh. Awalnya aku kira itu Lucas buat kedua kalinya, tapi bukan. Itu Josh, seingatku dia coba ngomong sama aku, dan dia senyum kayak orang gila, terus ngebiarin aku pergi.
"Sekali lagi kamu macem-macem sama aku, aku tendang kamu," kataku. Aku jalan ke Seia Trixie. Aku gak liat dia, tapi aku liat Lucas. Dan aku cuma ngikutin dia diem-diem, tapi aku gak sadar kalau dia udah pergi, dan aku cuma jalan ke kelas. Waktu seseorang dari pojokan narik aku dan nyuruh aku diem. Itu Lucas.
"Maaf ya udah ngacangin kamu tadi. Maksud aku, aku minta maaf. Juga, aku minta maaf udah nyuri ciuman kamu," katanya malu-malu, dan aku kaget sama apa yang dia lakuin selanjutnya. Dia meluk aku. Aku bisa ngerasain dadanya, aku harap dia gak bisa ngerasain detak jantungku yang makin cepet dan cepet pas dia meluk aku erat di dadanya. Aku lagi ngerasain momen ini, waktu seseorang ngomong dari belakangku.
"Iya, kamu juga, Wae? Kamu lagi ngapain di sini?" kata Nona Park. Ya ampun, aku kena masalah.
"Lari, Isabella," kata Lucas dan narik aku. Kita ngelewatin guru karena kita udah kepojok sama dia. Dan kita terus lari, guru kita juga lari buat ngejar kita."
"Sini Isabella," kata Lucas dan dia narik aku. Gelap banget dan gak ada jalan keluar di sisi lain. "Sst," katanya dan naruh tangannya di tanganku. Aku malu banget, jadi aku cuma diem dan natap dia kayak aku lagi mimpi. Waktu dia mastiin kalau Nona Park udah pergi. Waktu dia mastiin semuanya aman, kita jalan ke kelas.
Waktu kita sampe sana, wali kelas kita udah ada di sana dan lagi ngajar dan jelasin sesuatu.
"Oh, kalian berdua, duduk," katanya, dan kita minta maaf, dan dia maafin kita.
"Jadi seperti yang saya bilang, dengerin baik-baik. Kita akan pergi *study tour* selama 2 hari dan kita akan pergi ke seni tapi tempat kemah," kata guru kita, dan kelas kita bilang ooooooh.
"Baiklah, mari kita akhiri hari ini," katanya dan pergi. Temen-temen sekelas kita ngikutin guru keluar dan aku, Lucas, dan Seia Trixie tetep di ruangan.
"Kalian berdua pergi kemana?" tanya Seia Trixie, dan aku gak tau mau bilang apa.
"Ah, kita dikejar Nona Park," kata Lucas, dan aku ngerasa dia gugup.
"Karena apa?" katanya, dan kali ini kita berdua diem.
"Seia Trixie, aku boleh nanya sesuatu gak?" kataku, dan dia ngangguk.
"Boleh gak aku nginep di rumah kamu?" kataku, dan dia langsung heboh.
"Oh, *bye* Lucas, Sahabatku adalah milikku sekarang," katanya dan narik aku, dan kita ninggalin Lucas. Aduh, aku udah ngapain sih?
"Jadi? Apa alasannya?" katanya.
"Aku kasih tau kalau kamu traktir aku kentang goreng, yang gede," kataku, dan dia langsung kayak kilat, dia juga narik aku. Dan kita lari, bahkan dia nabrak orang, gak ada yang bisa berentiin dia.
"Minta supirnya ke mall, tolong," katanya ke supirnya, dan supirnya bawa kita ke sana.
"Tunggu kita di sini ya, kita balik lagi sebentar," katanya dan narik aku masuk ke dalem mall.
"Kentang goreng yang gede, dan *milk tea* ya, tolong," katanya.
"Berapa banyak, neng?" katanya.
"Kamu baru aja manggil aku apa?" kata Seia Trixie dan dia langsung kayak banteng.
"Oh, maaf, neng," dia minta maaf, tapi cewek ini udah kesel banget. Jadi aku bilang ke dia buat kasih kita dua.
"Santai aja, dia mungkin cuma salah ngomong," kataku ke dia dan dia ngangguk tanda setuju.
Kita nunggu pesanan, dan aku liat cowok merhatiin aku atau kita. Dia pake topi, tapi dia tinggi dan ganteng, aku akuin itu. Juga, dia punya mata biru. Aku liat waktu kepalanya nengok ke atas. Aku bisa liat warna matanya. Tapi waktu Seia Trixie manggil aku, aku noleh ke dia, dan dia gak ada di sana. Mungkin aku salah liat juga.
"Ayo ke rumahku? Kamu bilang kamu mau tidur di rumahku," katanya.
"Iya, tentu aja. Kamu bisa minjemin aku seragamnya kan?" kataku, dan dia senyum.
Waktu kita keluar dari mall, seseorang nabrak Seia Trixie gak sengaja, jadi minuman Seia Trixie tumpah ke bajunya dan jatoh ke tanah.
"Aish, gak liat ya? Buta ya? Hari ini emang gak enak banget. Argh," Seia Trixie teriak marah, jadi orang-orang di sekitar kita merhatiin dia.
"Maaf, neng," katanya.
"Coba kamu buka topinya. Pasti kamu gak bakal jadi orang bodoh," katanya.
"Seia Trixie, santai aja, dia bilang dia minta maaf," kataku buat nenangin dia karena makin banyak orang merhatiin dia.
"Seia Trixie, ayo pergi. Banyak banget orang di sekitar," kataku dan coba narik dia keluar.
"Gak, buka topi kamu," katanya dengan nada ngatur.
"Gak bisa," katanya.
"Kalo gitu, aku yang buka," kata Seia Trixie dan dia narik topi cowok itu, nutupin seluruh wajahnya.
"Kamu-" kata Seia Trixie, tapi waktu dia liat wajahnya, kita kaget liat siapa dia.
"Lucas?" Seia Trixie dan aku sama-sama bilang.