Bab 5- Pindah
"Makasih, Lucas," Saya bilang ke dia.
"Sampai jumpa di sekolah?" Dia bilang dan Faith sama Saya ngangguk.
"Aish, dia ganteng banget dan gentleman." Faith bilang. "Andai semua cowok kayak dia." Dia bilang dan Saya setuju sama apa yang dia bilang. Lucas nyalain mesin mobilnya dan kita bilang selamat tinggal waktu dia pergi.
Kita jalan ke rumah Faith dan kita lihat Trixie. Dia cuma natap Saya sinis banget. Gak tau kenapa adiknya Faith benci banget sama Saya.
Kita cuma lewatin dia dan kita sampai di kamar Faith.
"Adik lo benci banget sama gue." Saya bilang.
"Aish, bocah kecil itu, andai gue bisa ngelempar dia ke Mars." Dia bilang dan kita berdua ketawa.
"Kabar baik Sophiaaa, kita gak ada kelas besok. Jadi lo bisa pindah besok pagi." Faith bilang sambil baca sesuatu di hapenya.
"Oke, tidur sekarang aja gimana?" Saya bilang dan lompat ke kasurnya. "Iya deh," Dia bilang dan rebahan di kasur.
Lucas Pov
"Dia lumayan imut," Saya bilang ke diri sendiri.
Balik ke pov-nya Isabella.
"Selamat pagi, sarapan di bawah aja yuk?" Faith bilang waktu dia sadar Saya udah buka mata.
"Umh, Saya mikir kita sarapan di rumah gue aja, gue juga mau ambil motor gue," Saya bilang dan dia setuju.
"Gue mau pake kamar mandi buat mandi bentar terus langsung berangkat. Umh, gak apa-apa kan gue pake baju lo?" Saya bilang.
"Oke gue setuju, gue pake kamar mandi di bawah." Dia bilang dan keluar dari kamarnya. Saya masuk ke kamar mandi dan mulai mandi.
Waktu udah selesai mandi, Saya lihat Faith ganti baju. "Lo cepet banget," Saya bilang.
"Lo kan tau gue, btw, baju ini bakal pas banget di lo." Dia bilang dan ngasih gue crop top hitam dan celana panjang putih.
"Makasih udah minjemin barang lo," Saya bilang dan dia cuma ngedipin mata ke gue buat bilang gak masalah.
"Ibu, Ayah? Pada di rumah gak?" Saya bilang waktu kita sampai di rumah gue.
"Iya, kita di sini. Kita bisa bantu lo pindahan." Ibu bilang.
"Ibu, ada sarapan yang bisa kita makan gak? Kita laper banget." Saya bilang.
"Aish, lo selalu laper." Faith bilang dan Saya pengen nendang pantatnya, cuma bercanda kok. Ibu, Faith, dan Saya pergi ke dapur buat sarapan. Waktu udah selesai, Faith bilang makasih ke Ibu dan kita cuci piring. Saya bilang ke Ibu kalau gue mau ke kamar gue di atas buat beresin barang-barang.
"Aish, kamar kita masih sama. Tapi, kayaknya nanti gak akan sama lagi deh." Dia bilang sedih.
"Hei, gak apa-apa, cuma kamar kok, bukan persahabatan kita," Saya bilang dan dia senyum. Saya beresin barang-barang yang gue butuhin dan Faith juga bantu gue.
"Ibu, Ayah, kita udah siap berangkat," Saya teriak.
"Oke, turun ke bawah, Ayah siapin mobilnya." Ayah bilang. Saya bawa barang-barang gue dan Faith bantu gue lagi.
"Makasih Faith udah bantu gue," Saya bilang.
"Lo harus traktir gue nih?" Dia bilang.
"Iya deh, HAHAHA," Saya bilang.
"Ayo, cewek-cewek," Ayah bilang dan bantu kita buat bawa barang-barang gue dan masukin tas-tas gue ke mobil.
"Ayah, boleh gak Saya bawa motor gue?" Saya bilang. Ayah liat Ibu dan gue.
"Boleh, kok Sophia," Ayah bilang dan Saya liat Ibu dan dia cuma senyum ke gue. Ini keajaiban banget dia setuju gue bawa motor.
"Gue ambil motor gue dulu," Saya bilang.
"Boleh ikut motor gak, Ibu?" Ibu bilang dan Saya senyum. Gue bakal kangen banget tinggal sama Ibu.
"Boleh dong, Ibu, selalu boleh," Saya bilang dan dia nungguin gue.
"Naik, Ibu, Faith ikut Ayah aja," Saya bilang dan dia cuma ngangguk.
"Ayo, Ibu?" Saya bilang dan Ibu nepuk bahu gue sebagai tanda setuju. Gue ikutin mobil Ayah dan beberapa jam kemudian kita sampai di tujuan kita.
"Gue yakin Ayah lo beneran deh, lo emang jago." Dia bilang dan jalan ke arah Ayah dan Faith buat bantu bawa barang-barang gue ke mobil. Gue cuma takjub sama Ibu gue. Gue senyum dan sadar dia lagi berubah.
"Oh hei, ada Faith dan Sophia." Bibi Faith bilang dan dia bilang halo juga ke Ibu dan Ayah gue. "Jadi, biar gue tunjukin kamar yang lo sewa." Dia bilang dan nuntun kita jalan. Waktu udah sampai gue taruh barang-barang gue dan nanya ke tante kamar gue di mana.
"Ada di sebelah kanan deket kamar mandi." Dia bilang dan Saya bilang makasih.
"Sophia, sayang?" Ibu manggil gue.
"Iya, Ibu?" Saya jawab.
"Gak apa-apa kan kalau kita tinggalin lo di sini? Ayah sama Ibu ada rapat sekarang. Gak masalah kan buat lo? Kita minta maaf banget." Ibu bilang dan Saya senyum.
"Gak apa-apa, gue ngerti, dan makasih udah bawa kita ke sini. Gue bener-bener hargain itu," Saya bilang dan Ibu senyum dan bilang selamat tinggal ke kita. Faith bantu gue pindahin barang-barang gue. Menit dan jam berlalu dan akhirnya kita selesai dekor kamar gue.
"Pesan Jollibee yuk?" dia bilang dan Saya bilang iya.
"Gue harus cari Bibi dulu, gue juga mau nanya dia." Dia bilang dan Saya ngangguk. Gue duduk di sofa dan nutup mata sambil nungguin dia. Waktu seseorang ngomong.
"Sophia? Ngapain lo di sini?" Suara yang gak asing bilang? Gue buka mata dan lihat Lucas berdiri di depan muka gue. "Apaan sih lo di sini?" Saya bilang dan duduk nyaman.
"Gue yang duluan nanya," dia bilang dan duduk di sofa satunya deket tv.
"Kenapa lo duduk di situ kayak lo yang punya apartemen ini," Saya bilang.
"Jawab gue dulu baru gue jawab pertanyaan lo." Dia bilang.
"Aish, gue baru pindah ke sini. Soalnya tantenya Faith yang punya tempat ini dan dia bilang ini satu-satunya yang kosong. Kalo lo?" Saya bilang.
"Gue tinggal di sini, dan itu kamar gue," Dia bilang dan nunjuk ke sebelah kiri ruangan. Gue kaget sama apa yang gue denger dan rahang gue hampir copot. "Apaan sih? Lo tinggal di sini? Gue kira temen sekamar gue cewek." Saya bilang dan dia cuma ngangkat bahu. Faith, di mana sih lo.
"Hei, Sophiaaa, ini makanannya maaf telat…" Dia bilang.
"What the John?" Dia nambahin sambil teriak waktu dia lihat Lucas.
Gue liat dia bilang tolongin gue dan kita berdua kaget sama apa yang baru aja terjadi.