Bab 12- Hari dalam perjalanan.
"Jangan," Lucas berkata dan menghentikan pria itu.
"Aku akan membunuhnya untukmu." Dia berkata.
"Biar kamu bisa balik ke rumah dan nggak terganggu sama manusia." Dia bilang dan narik aku lebih keras.
"Nggak," Lucas bilang dan dia mulai berantem sama ayahnya.
"Kamu bakal nyesel." Ayahnya berkata dan pergi.
"Sophia." Faith manggil aku.
"Hei," aku bilang.
"Kamu mikirin apa sih? Kayaknya pikiran kamu terbang deh." Dia bilang.
"Kamu inget apa aja tadi?" aku tanya dia.
"Hah? Kita baru aja ke supermarket terus ketinggalan bus juga Kiera sama Xian dan kita nyampe sini." Dia bilang.
"Cuma aku yang inget apa yang barusan terjadi?" Aku berbisik pada diri sendiri.
"Hah?" Dia bilang.
"Oh, nggak ada apa-apa, ayo samperin mereka," aku bilang sambil nunjuk temen-temen sekelas kita sama guru kita.
" Oke. Ayo." Aku bilang dan jalan ke segerombolan orang yang ngumpul di tengah-tengah tempat itu. Tempatnya kayak tempat kemah dengan hutan yang nggak jauh dari situ, kamu juga bisa lihat bukit-bukit di sini.
"Hei, Lucas," aku manggil dia pas aku lihat dia lagi bantuin salah satu temen sekelas kita.
"Oh, bentar ya." Dia bilang dan nyelesain apa yang dia lakuin.
"Kenapa?" Dia nanya pas dia jalan ke arah aku.
"Oh, soalnya aku inget kita diserang sama siapa ya?" aku bilang.
"Aku harus pergi," dia bilang dan dia kelihatan gugup pas dia pergi. Ada apa sih sama mereka? Apa cuma aku yang bisa inget?
"Oke, kayaknya semua udah ada di sini. Jadi, mari kita mulai. Siang ini setelah kita makan siang, kita akan tur ke museum dan setelah itu, kalian akan punya kesempatan buat jalan-jalan dan foto-foto dengan pemandangannya. Itu waktu luang kalian. Karena kita semua tahu kalian udah hebat bisa lulus di sekolah ini sebagai siswa SMP. Jadi, kita kasih kesempatan buat kalian istirahat dan santai walaupun cuma sehari." Dia bilang dan kelas kita bilang terima kasih sama dia.
"Jadi, mari kita lanjut, malamnya kita akan bikin api unggun di tengah-tengah dan kita akan berbagi pikiran kita sama semua orang." Dia bilang dan sisanya bereaksi paling heboh.
"Aku rasa semua capek dari perjalanan, jadi kalian bisa langsung ke kamar yang udah ditentuin. " Dia bilang dan semua orang pergi ke kamar mereka, Nyonya Park Kim Hyun udah ngasih tahu kita kamar mana yang kita dapet dan kamarnya bagus banget di atas sana.
Faith sama aku dapet kamar dan Kiera juga. Pas kita nyampe sini cuma ada dua kamar dan kita harus berbagi. Jadi, Lucas dapet kamar sama Xian.
"Hei, Isabella?" Kiera bilang pas aku hampir masuk pintu.
"Iya?" aku bilang dan masuk kamar dan lihat Faith lagi ngelambai ke aku.
"Oh, aku cuma mau bilang terima kasih udah mau nebeng di mobil Lucas." Dia bilang.
"Aku selalu pengen jadi temen kamu tapi aku malu buat ngomong sama kamu karena kamu cantik dan terkenal banget." Dia bilang dan dipotong sama Faith.
"Jadi aku jelek gitu?" Faith bilang.
"Nggak, aku nggak bilang gitu." Dia bilang dan aku ngakak ngakak. Dia lumayan seru juga.
"Ayo, kita taruh barang-barang kita terus kita bisa ngumpul dan nikmatin pemandangannya," aku bilang dan dia senyum.
"Kadang kamu keren, tapi kamu baik dan manis." Dia bilang dan senyum.
"Aku mau cemburu, mereka sayang banget sama kamu," Faith bilang.
"Dan aku sayang kamu," aku bilang.
"Tentu aja, aku nggak bakal nanya karena aku tahu dan aku tahu kamu sahabat terbaik aku dari SD." Dia bilang.
"Aku kangen kamu." Faith bilang dan meluk Kiera.
"Apa?" aku bilang kaget.
"Oh, dia sahabat terbaik aku dari sekolah aku dan dia pindahan dari sekolah lain, aku nggak tahu dia juga ada di sini tapi kita jadi orang asing pas aku ketemu kamu." Faith bilang.
"Jadi aku penyebabnya? Aku jadi nangis nih." Aku bilang.
"Tsk, kekanak-kanakan." Dia bilang dan aku ngelempar dia bola yang aku lihat di lantai.
"Aku terlalu takut dan malu buat ngomong sama kamu dan Faith kapanpun kalian lagi ngumpul. Bahkan kalau aku lihat kalian di mall, aku bakal cuekin kalian berdua." Dia bilang.
"Sahabat terbaik?" aku bilang.
"Iya," Mereka bilang.
"Keren banget aku udah punya tiga temen nih," aku bilang semangat.
"Siapa aja mereka?" Faith nanya.
"Kiera, adiknya kamu, Trixie dan Lucas." Aku bilang.
"Jadi aku bukan temen kamu, oke deh bye." Dia bilang dan hampir pergi pas aku bilang.
"Kamu soulmate aku inget," aku bilang dan dia berhenti dan meluk aku yang bikin aku kehilangan keseimbangan dan jatuh ke lantai. Aku denger Kiera ketawa ngakak pas dia lagi ngerapiin pakaiannya dengan bener.
"Kamu ketawain apa sih?" Kita bilang.
"Sini deh," aku bilang.
"Nggak mau," Dia bilang dan kita nyengir ke dia, kita nyerang dia dan semua pakaiannya jatuh ke lantai.
"Tunggu, apa ini?" Faith bilang dan dia ngambil sesuatu, aku kaget pas aku lihat apa itu.
"Kamu hamil?" aku bilang.
"Hei, jangan bereaksi berlebihan, hasilnya belum keluar. Dan lagian kan belum dibuka," Faith bilang.
"Aku nggak tahu. Kayaknya iya deh." Dia bilang dan hampir nangis.
"Jadi, mari kita coba oke. Jangan kebanyakan mikir." Aku bilang.
"Ayo coba. Jangan takut, kita di sini buat kamu," Faith bilang dan aku ngangguk ke dia.
Dia pergi ke kamar mandi dan ngecek testpacknya.
"Gimana hasilnya?" aku tanya dan dia mulai nangis.
"Kenapa?" Faith nanya dan nyamperin dia, dia ngambil testpacknya dari tangan Kiera dan dia kaget dan ngasih ke aku.
"Sini deh, Kiera," aku bilang dan dia ngikutin apa yang aku bilang, dia duduk di samping aku.
"Kita nggak nyangka banget." Dia bilang.
"Xian bapaknya?" aku tanya dan dia ngangguk.
"Kita udah pacaran setahun diam-diam." Dia bilang.
"Mama aku bakal bunuh aku." Dia nambahin.
"Mama kamu tahu?" aku bilang.
"Belum?" Dia jawab.
"Kalau gitu, bilang aja yang sebenarnya," Faith bilang.
"Kamu takut?" aku tanya dia pas aku ngerasa dia gugup.
"Coba ngomong sama dia, kita di sini buat kamu," aku bilang dan Faith ngangguk ke dia.
"Aku coba deh." Dia bilang dan senyum.
"Sana gih," aku bilang. Kiera ngangguk ke kita dan pergi ke pintu. Dia baru mau keluar pintu pas kita denger Lucas dan Xian di pintu kita.
"Ngapain kalian di sini?" Faith dan aku nanya barengan.
"Oh iya, Xian bilang kita harus jenguk kalian bertiga dan ngumpul di sana," Lucas bilang dan nunjuk pemandangan yang bagus.
"Oh," aku bilang.
"Kiera? Ada apa nih?" Xian bilang.
"Umm ayo kita ke sana," aku bilang dan berbisik ke Kiera.
"Bilangin yang sebenarnya setelah kita di tempat itu ya?" aku bilang dan dia ngangguk.
"Lucas, ikutin rencana kita," aku bilang.
"Rencana apa?" Lucas nanya.
"Ikutin aja kita," Faith bilang dan ngikutin Xian dan Kiera, Lucas dan aku juga ngikutin mereka dan pergi ke tempat yang Lucas bilang.
"Oh aku lupa sesuatu, aku mau ambil makanan," aku bilang gugup dan ngeliatin mata Faith dan Lucas.
"Uh, aku boleh ikut nggak?" Lucas bilang dan iya dia melakukannya.
"Iya boleh deh," aku bilang.
"Gimana aku?" Faith bilang dan aku ngangguk. Aku ngedipin mata ke Kiera dan dia ngasih aku wajah gugup tapi senyum.
"Kamu yakin ini bakal berhasil?" Faith bilang.
"Iya, kok, kita cuma harus nunggu Kiera buat ngasih tahu kita apa yang terjadi," aku bilang.
"Kalian berdua ada-ada aja deh," Lucas bilang di belakang kita.
"Kamu bilang apa tadi?" aku bilang dan ngasih dia tatapan mematikan.
"U-uh a-aku b-bilang k-kamu cantik dan menawan setiap hari." Dia bilang terbata-bata dan gugup. Tapi aku ngerasa ada sesuatu di perut aku, rasanya kayak uh nggak usah dipikirin deh.
"Ayo ambil makanan, aku laper banget nih," aku bilang dan mereka ketawa.
"Kamu selalu laper," Mereka bilang dan ngakak ngakak.
"Terserah deh," aku bilang dan aku jalan di depan mereka.
POV KIERA
"Ada masalah apa sih?" Xian bilang.
"Uhm," aku bilang gugup nggak tahu gimana harus ngekspresiin diri aku atau gimana aku harus ngasih tahu dia.
"Sayang ada yang salah? Kamu sakit atau gimana?" Dia bilang dan ngecek kening aku.
"Nggak, bukan itu, cuma.." aku bilang.
"Cuma?" Dia bilang.
"Aku mau jadi ibu dan kamu bapaknya," aku bilang dan dia hampir mau ngomong tapi aku nggak bisa denger dia bilang dia bakal ninggalin aku.
"Aku tahu ini salah dan kita cuma siswa dan kamu nggak mau jadi bapak dan kamu bakal bilang aku buat ngegugurin bayi ini. Aku nggak bisa Xian, aku ben-" Dia meluk aku dari entah mana.
"Siapa bilang aku bakal ninggalin kamu," Xian bilang dan narik aku dari pelukan, dia natap mata aku tapi aku buang muka.
"Hei lihat aku." Dia bilang dan aku natap dia, dia ganteng tapi aku nggak bisa natap matanya.
"Aku bakal jadi bapak dari anak kita dan aku bakal bertanggung jawab. Kita bakal hadepin orang tua kamu dan juga orang tua aku. Aku sayang kamu dan aku bakal ngelakuin apa aja buat kamu." Dia bilang. Aku meluk dia bahkan orang lain bisa lihat kita.
POV ISABELLA
"Boleh aku pesen satu hotdog dan soda?" Aku bilang ke penjualnya.
"Ikut aku." Dia bilang dan aku bisa tahu siapa dia.
"Nggak, kamu mau apa sih dari aku," aku bilang tapi dia nggak dengerin.
"Lepasin dia," Lucas bilang di belakang aku dan pria itu lari ketakutan pas dia lihat Lucas, aku juga lihat pria yang aku lihat tadi dari jauh lagi ngeliatin aku.
"Siapa pria di sana dan kamu kenal mereka?" aku tanya dia tapi dia natap mata aku dan aku nggak tahu kenapa tapi kepala aku tiba-tiba sakit.
"Sial kepala aku sakit," aku bilang.
"Balik yuk." Dia bilang dan aku ngangguk.
"Lucas," aku bilang.
"Kenapa?" Dia jawab.
"Udah nggak sakit, kepala aku sekarang udah nggak apa-apa dan pria yang aku lihat di sana," aku bilang dan dia ngegenggam tangan aku.
"Cuma khayalan kamu doang." Dia bilang dan ninggalin aku.
"Tapi ini ben-" aku bilang tapi dia ngebentak aku.
"Cuma khayalan kamu, aku ulangin." Dia bilang dan ninggalin aku. Aku lagi ngikutin dia saat itu dan Faith lari ke aku semangat.
"Ayo ke kantin mereka, waktunya makan siang." Dia bilang dan ngegenggam tangan aku.
"Oke oke, udah pada makan siang belum?" Guru kita bilang dan mereka bilang udah.
"Oke baris dan gandengan ya biar nggak ilang," Dia bilang dan kita semua ngangguk. Kita lihat Kiera dan Xian di barisan dan nggak bisa ngomong sama Kiera, jadi aku gandengan sama Faith. Aku lihat Lucas di belakang kita dan nggak tahu siapa yang mau jadi gandengannya.
"Aku bisa jadi gandengan kamu," Hillary bilang dengan genit dan senyum.
"Aku nggak punya gandengan jadi kamu-" Dia bilang tapi aku potong kata dia.
"Aku gandengan kamu inget," aku bilang dan nyamperin Lucas.
"Aku bisa jadi gandengan kamu!" Faith bilang dan senyum lebar seolah-olah dia mau bikin Hillary makin gelisah. Dia bahkan ngedipin mata ke aku.
"Argh." Dia bilang dan gandengan sama Faith walaupun dia nggak suka.
"Makasih." Seseorang bilang di samping aku.
"Buat apa?" aku bilang ke dia.
"Udah nyelamatin aku dari cewek itu." Dia bilang dan aku ketawa dan menarik perhatian semua orang.
"Oh maaf," aku bilang dan kita jalan dan ngikutin semua orang. Aku lihat lapangan luas penuh bunga matahari.
"Boleh nggak kita foto di sini, Nyonya?" Seseorang bilang dan dia setuju.
"Mau foto nggak?" Dia bilang.
"Iya, bisa fotoin nggak?" aku bilang.
"Senyum." Dia bilang pas aku udah di lapangan dan pose di kamera.
"Kamu cantik banget." Dia bilang dan aku nggak bisa lihat tapi aku bisa bilang aku lagi jadi tomat."