Malaikat di Rumah Iblis
Malamnya, Mrinal nangis sambil meluk Ibu. Mereka bakal berangkat ke Mumbai malam ini karena Mrinal ada ujian mulai minggu depan. Mrinal kaget waktu Abhay kasih tau alasannya, tapi terus dia bilang ke diri sendiri kalau mereka cuma akting. Semua anggota keluarga nangis. Mereka nyuruh dia jaga diri dan keluarga barunya. Nenek bilang, 'Bahagia ya, Mira. Kami selalu ada buat kamu.' Mrinal ngangguk dan senyum. Adi sama Barsha bikin mereka janji buat dateng ke rumah mereka sebulan sekali. Abhay jawab, 'Telpon aja, nanti aku bawa Moni kalian ke sini, terus kita semua bisa ke rumahnya.' Mereka ngangguk senang.
Pada akhirnya, Ibu Mrinal ngasih Abhay kalung emas dan bilang, 'Abhay, kami tau pernikahan kalian udah selesai. Tapi masih banyak ritual yang harus dilakukan. Tolong terima ini sebagai berkat. Aku tau ini gak sebanding sama status kamu.'
Dia ambil kotak itu dan bilang, 'Aku bakal suka apa aja yang Ibu kasih ke aku. Dan status gak ada hubungannya sama berkat.'
Dia senyum ke arahnya, begitu juga yang lain.
Arun [Dadubhai]: 'Mampir ya ke rumah kami. Itu juga rumah kamu. Bawa orang tua kamu juga ya.'
Abhay: 'Iya, aku bakal dateng sesuai janji sama Adi dan Barsha. Aku juga bakal dateng buat makanan Bengali yang enak. Aku suka banget. Semua cewek di rumah ini punya kekuatan di tangan mereka. Kamu gak perlu bilang 'tolong' ke aku, Dadubhai. Dan orang tua aku pasti bakal dateng segera.'
Mereka mau pergi, terus Abhay bilang di telinga Mrinal, 'Kayaknya kita lupa minta restu mereka deh.'
Mrinal langsung ngerti dan mereka balik lagi ke kakek-neneknya. Mereka minta restu dari orang tua dengan nyentuh kaki mereka berdua. Mereka semua memberkati mereka.
Didun: 'Kalian berdua saling jaga ya, dan Mira sayang, jaga keluarga barumu, oke?' Dia bilang, 'Iya' sambil senyum.
Ayah dan paman mencium keningnya dan bilang ke Abhay, 'Kamu udah nikah. Tapi kami ngasih anak perempuan kami sekarang, jadi tolong jaga dia ya. Dia polos banget, tapi bukan berarti lemah.' Tiga dari mereka bilang hal yang sama.
Sona ma: 'Wah, Abhay, pilihan pasangan hidup kamu terbaik. Bahagia ya kalian berdua. Aku tau aku ngulang, tapi tolong jaga dia ya.'
Abhay: 'Iya, aku bakal jaga.'
Mamoni: 'Dia adalah detak jantung di rumah ini, jadi jaga dia ya.'
Abhay jawab, 'Dia juga detak jantungku. Aku gak bakal biarin dia netesin air mata sedikit pun. Dan aku bakal tepatin janji aku.'
Semua senyum ke arahnya. Dan tanpa sadar Mrinal blushing. Dia juga bingung.
Pada akhirnya, ibunya bilang, 'Aku harap orang tua kamu bakal nerima dia. Soalnya kamu tau semuanya. Maksudnya..'
Abhay jawab sebelum dia selesai, 'Mereka bakal nerima dia sebagai anak perempuan mereka sendiri.'
Dia ngangguk sambil senyum. Kalau itu bener, berarti dia senang banget. Soalnya anak perempuannya selalu jadi pusat perhatian mereka. Dia suka kasih sayang, cinta, dan perhatian. Mereka orang yang sangat sederhana, gak kaya sedikit pun. Tapi cinta mereka adalah kekayaan asli mereka. Dia meluk saudara laki-laki dan saudara perempuan iparnya. Abhay meluk Mihir dan dia juga membalas pelukan itu. Mihir bilang, 'Jaga dia ya. Dia adalah orang yang paling berharga di rumah ini.' Abhay jawab, 'Aku akan selalu. Makasih udah begitu protektif ke dia.' Waktu sampai ke Mridul, Abhay meluk dia dan bilang di telinganya, 'Kasih aku kesempatan. Dia adalah cintaku. Dan aku bersyukur dia punya dua saudara laki-laki kayak kalian.'
Mridul jawab, 'Oke, aku kasih kamu kesempatan. Tapi pertama, bikin adikku ngasih kamu kesempatan, soalnya dia gak cinta sama kamu.' sambil meluknya balik. Itu bikin mereka semua kaget. Dia meluk samping saudara perempuan iparnya. Mereka berdua bilang hal yang sama, 'Dia adalah bayi pertama kami. Ingat itu.'
Dia jawab sambil senyum, 'Iya, selalu.'
Abhay tau Mridul gak percaya cerita cinta pernikahan mereka, jadi dia bilang, 'Iya.'
Mereka lepas pelukan, terus Mrinal dan Aarav dateng ke Adi dan Barsha. Mereka meluk mereka. Mereka juga membalas pelukan itu.
Barsha bilang sedih, 'Cepat balik ya. Dan bikin Moni aku bahagia. Moni, bikin Pisan bahagia ya.'
Abhay narik pipinya dengan lembut, 'Aku akan selalu. Dan kita bakal ketemu lagi segera.'
Mrinal kaget liat ikatan mereka. Dia jawab, 'Iya, aku akan, cintaku.' Adi, 'Moni, bahagia ya, dan selalu senyum. Pisan, bahagia ya, dan terus senyum. Cepat balik ya.'
Abhay, 'Kita bakal di sini setelah ujian Moni kamu. Kita akan selalu tersenyum.'
Mrinal, 'Cintaku, kalian berdua juga terus senyum, karena aku suka senyum kalian berdua.' Dia ngacak rambutnya.
Dia meluk samping saudara perempuan iparnya. Mereka berdua bilang hal yang sama, 'Dia adalah bayi pertama kami. Ingat itu.' Dia jawab sambil senyum, 'Iya, selalu.' ke mereka berdua. Mereka senyum balik ke dia dan meluk samping dia. Mereka bilang selamat tinggal ke mereka dan memulai perjalanan mereka.
***************************************
Mereka ada di dalam jetnya. Dia gak bisa nahan air matanya. Tapi dia bahagia karena keluarganya bahagia. Mrinal capek dan lelah. Seharian di mall, dia ngasih update ke saudara laki-lakinya, Mridul. Saudara perempuan iparnya juga nge-chat dia tentang anak-anak. Dia juga bales chat mereka. Ibu selalu jaga bayi mereka. Begitu juga mereka.
Abhay suka ikatan antara anggota keluarga Mrinal. Dia liat keluarga besar untuk pertama kalinya. Mereka saling cinta banget sampai mereka bisa berkorban buat satu sama lain. Dia sadar kenapa Mrinal setuju nikah cuma dalam satu jam. Satu kalimat dari mulut Mrinal cukup buat mereka buat ngelakuin sesuatu atau berhenti ngelakuin sesuatu. Dia janji ke diri sendiri buat ngasih semua cinta yang pantas dia terima.
Mrinal mikirin kejadian di food court. Abhay ngerti dan bilang, 'Jangan mikirin itu, santai aja. Tidur gih. Dan ya, ada sari buat kamu di lemari. Tolong pake besok pagi.'
Dia cuma ngangguk dan tidur. Abhay juga tidur di kamar yang berbeda, dia juga capek tapi bahagia.
****************************************
Pagi harinya, Abhay mikirin keluarga Mrinal. Dia rasain intensitas cinta mereka dalam waktu yang singkat ini. Dia senyum mikirin gimana ibunya Mrinal ngerawat hidungnya dengan sangat hati-hati karena mimisan. Dia ngerawat hidung dan bibirnya dengan lembut banget biar dia gak ngerasa sakit. Dia gak percaya Mrinal ngasih makan Adi dan Bristi tapi gak makan sendiri. Dia juga mikirin buat nyatain pernikahan rahasia mereka ke dunia, kalau gak kejadian kayak kemarin bisa terulang lagi. Pada akhirnya, dia siap-siap pake setelan bisnisnya karena dia ada kerjaan. Jetnya sampai di Mumbai, tapi mereka gak keluar karena di luar gelap. Sekarang dia punya jet, dia bisa ngelakuin apa aja.
Dia sendiri yang bangunin Mrinal. Tapi berhenti di depan pintu karena kekunci. Dia ngetuk pintu, tapi gak ada jawaban. Dia nunggu di luar selama 10 menit, dan setiap 2 menit dia ngetuk pintu. Sekarang dia udah kehilangan kesabaran dan pikirannya penuh pikiran negatif. Dia mau dobrak pintu, terus Mrinal buka pintu.
Dan lagi-lagi dia kehilangan diri dalam kecantikannya. Suara Mrinal mecahin lamunannya, 'Sebenernya aku lagi siap-siap...' Suara Mrinal memecah lamunannya, 'Sebenarnya aku lagi siap-siap. Tapi aku suruh kamu nunggu.'
Abhay, 'Gak papa, semua kamarnya kedap suara. Aku dateng buat manggil kamu sarapan.'
Dia gak mau teriak pagi-pagi dan itu juga ke Mrinal. Tapi 10 menit ini bikin dia ketakutan setengah mati.
Mrinal ngikutin dia ke meja sarapan.
*************************************
Mrinal bangun pagi-pagi, dia gak sadar mereka udah sampai atau belum. Dia lagi mikir, gimana reaksi orang tuanya? Dan gimana kehidupannya sekarang? Khususnya studinya dan mimpinya. Kalau dia teriak 1000 kali kalau dia cinta sama dia, itu gak akan pernah ubah kenyataan. Dia benci dia, tapi lebih dari itu, dia benci kepura-puraannya yang dia tunjukin ke keluarganya di rumahnya. Dan sekarang dia harus ngelakuinnya di depan orang tuanya sampai dia meninggal. Gimana dia bisa ngelakuinnya?
Akhirnya dia bangun dan siap-siap. Dia kaget liat sari yang sama yang dia suka di mall kemarin. Tapi gak bilang ke Abhay karena dia gak mau nerima apa pun dari dia.
Dia bilang ke diri sendiri, 'Mungkin dia juga tau ilmu hitam.'
Pada akhirnya, dia singkirkan pikirannya dan dia pake sarinya. Dia juga nemuin perhiasan itu, dia langsung pake tanpa mikir lebih lanjut.
Sarapan benar-benar hening. Dia mikir buat nanya dia soal kampusnya, tapi gak nanya apa pun.
Mereka sampai di Singh Raizada mansion setelah beberapa saat. Lagi-lagi ada keheningan sempurna sepanjang perjalanan.
Abhay buka pintu mobil buat Mrinal. Dia keluar. Sekarang dia deg-degan banget. Abhay ngerti dan pegang tangannya. Dia tegang banget sampai dia gak nolak. Satpam liat mereka dan bilang 'selamat pagi.' ke mereka berdua. Seperti biasa, dia jawab 'selamat pagi, Om.' ke mereka semua. Mrinal gugup dan itu bener-bener baru buat dia. Jadi dia gak bisa bales sapaan mereka. Mereka sampai di pintu mansionnya dan dia manggil Choti ma-nya seperti biasa. Mrinal kaget karena dia manggil Choti ma-nya, bukan ibunya sendiri. Tapi dia gak nanya apa pun. Abhay masih megang tangannya.
Choti ma-nya dateng dari dalam, 'Kenapa, Abhi? Kerjaan kamu udah selesai? Kamu gak...'
Kata-katanya berhenti di tengah jalan karena dia liat Mrinal kayak pengantin baru dan Abhay pegang tangannya. Dia kaget, tapi gak begitu kaget. Soalnya pagi-pagi mereka dapet berita pernikahan mereka dari TV karena kejadian di mall. Seorang wartawan koran motret foto mereka, video, dan jawaban ke cewek-cewek itu di Quest mall. Dan sekarang itu jadi judul koran dan channel TV hari ini.
Sebelum Abhi bisa jawab, dia panggil suaminya dan dia langsung turun.
Chote papa-nya dateng dan bilang, 'Yah, aku harap kerjaan penting kamu udah selesai.' dengan nada menyindir. Choti ma-nya bilang, 'Kita bakal bahas ini nanti. Jangan kaget, Abhi, kita udah tau soal kerjaan penting kamu dari channel TV dan koran.'
Abhay, 'Choti ma, tapi kita..' .
Chote papa, 'Iya, kita tau kalian saling cinta. Yah, itu yang kamu bilang ke mertua kamu.'
Setelah tau semua ini, mereka ngehubungin keluarga Mrinal pagi-pagi. Mereka juga udah tau soal itu. Mereka ngobrol sopan dan ngeyakinin mereka soal kebahagiaan putri mereka.
Semuanya kebalik di sini. Mereka yang kagetin Abhay dan Mrinal, padahal mereka yang seharusnya kaget.
Mrinal genggam tangannya. Dia naruh tangannya di bahu Mrinal buat ngeyakinin kalau dia ada di sampingnya. Abhay, 'Chote papa, ini..'
Choti ma, 'Udah lah. Dia ada kelas dan ujian. Jadi biarin aku lakuin Arti buat dia dan menyambutnya. Lagipula, dia adalah Laxmi di rumah ini.'
Dia manggil pelayan yang bawa Arti. Terus dia lakuin Arti buat mereka. Dia kasih tika di dahi Abhay dan ngisi belahan rambut Mrinal dengan sindur merah. Dia mengusap pipinya dengan sayang, menyembunyikan senyumnya. Terus dia naruh kalash yang diisi beras di tengah ambang pintu. Dan dia bilang, 'Mr. Abhay Singh Raizada, bantu istrimu buat Grihapravesh.'
Abhay jawab sambil senyum lebar, 'Siap, Nyonya.'
Terus dia membungkuk dan mengangkat kaki kanan Mrinal dan membimbingnya buat melakukan Grihapravesh sesuai tradisi mereka. Terus Choti ma naruh piring yang penuh warna merah (Aalta). Mrinal naruh kakinya di piring itu dan terus naruh kaki kanannya ke dalam rumah. Dia ngelakuin apa yang disuruh. Dia gak bikin mereka curiga karena keluarganya penting. Setelah itu, Choti ma bawa dia langsung ke Mandir (Kuil).
Abhay gak ngikutin mereka karena dia gak percaya Tuhan.
Setelah keluar dari Mandir, dia bawa dia ke ruang aula dekat foto. Ada karangan bunga putih di foto itu. Terus dia manggil, 'Abhi, ke sini.'
Abhay dateng karena dia juga ada di ruang aula, berusaha ngasih perhatian ke Chote papa-nya, dan dia bilang, 'Mrinal, mereka adalah orang tua Abhay. Mereka ninggalin kita 20 tahun lalu. Minta restu mereka. Dan Abhi, kamu juga.'
Mrinal sekarang ngerti kalau dia kehilangan orang tuanya dan mereka adalah paman dan tantenya. Dia ngerasa sakit banget karena tau Abhay kehilangan orang tuanya di usia muda. Satu tetes air mata keluar dari matanya, yang diperhatiin sama mereka bertiga. Dan semua ngerti alasannya.
Terus dia membungkuk dan minta restu ke Choti ma. Abhay juga minta restunya. Dia meluk Mrinal erat dan bilang, 'Kamu adalah putri kami dan ratu dari kerajaan Singh Raizada ini. Selalu bahagia ya.'
Dia bahagia setelah denger kata-katanya karena mereka nerima dia.
Terus mereka berdua minta restu ke Chote papa-nya. Dia naruh tangannya di kepala Mrinal dan ngasih restu, 'Selalu bahagia ya. Dan mulai sekarang aku juga Chote papa kamu.' dan bilang ke Abhay, 'Kami ada kerjaan penting jadi gak masuk kantor hari ini.'
Abhay cuma ngangguk, tau maksud di baliknya.
************************************************
************************************************