Mimpi Menjadi Nyata
'Jadi, kalian semua udah siap, ya?' kata Barsha dengan semangat, lebih mirip nanya.
'Iya, sayangku,' kata Mridul dan semua orang mandangin dia yang udah ngerencanain kejutan ulang tahun yang bahaya buat adiknya. Ya, semua ini emang udah direncanain, makanya mereka pada kelakuan kayak gitu.
Mrinal kesel sih, tapi dia nggak bisa nyakitin mereka. Dia tau banget gimana cinta yang mereka punya buat dia. Jadi, dia coba buat minta pengertian, ngejelasin baik-baik, tapi mereka tetep aja mau bikin kejutan.
Bristi sama Adi ngasih tau mereka pas liat dia pulang dari les gambar.
Dia nyampe di depan rumahnya, masuk, dan di dalemnya gelap gulita. Dia nanya, 'Kalian pada di mana?' Dia maju lagi, nanya lagi, tapi nggak ada jawaban. Sekarang dia mulai khawatir. Dia nyampe di tengah ruang tamu dan tiba-tiba dari mana tau, seluruh keluarganya bilang,
'SELAMAT ULANG TAHUN' barengan, terus lampu nyala semua dan bunga-bunga mulai berjatuhan ke dia.
Dia kaget dan teriak, 'ahhhhhhh' terus dia sadar kalo mereka ngasih kejutan. Sekarang dia nggak marah lagi sama mereka. Sebenernya dia nggak marah sih, cuma agak sedih aja. Tapi nggak sekarang, dia suka banget kejutan dan dia dapet satu.
Seluruh ruang tamu dihias balon-balon, sesuai kesukaannya.
'Sayang, potong kuenya,' kata Mihir. 'Iya Moni, potong kuenya,' kata Barsha dan Adi langsung. 'Mira, pertama-tama bikin harapan dulu, tiup lilinnya, terus potong kuenya,' kata mamanya.
Dia bener-bener kaget banget dan senengnya nggak ketulungan. Dia tiup lilinnya dan bikin harapan ulang tahun yang baru. Ya, selama 8 tahun terakhir dia selalu minta satu permintaan, tapi sekarang, hari ini dia ubah.
"Selamat Ulang Tahun Mira" "Selamat Ulang Tahun Moni"
Air mata netes di matanya, dia tau mimpinya itu nggak bakal kesampaian, tapi mimpi buat terus sama keluarganya bakal selalu kesampaian.
Dan dia seneng. Dia kasih mereka kue, terus dia cium kaki mereka dan minta berkah.
Mereka kasih banyak banget berkah buat dia dan Mridul tiba-tiba berdeham, terus narik perhatian semua orang, 'Dadubhai, apa nggak mau ngasih cucu kesayanganmu hadiah spesial karena dia udah lulus tahun ini?' dia nanya sambil nyengir.
Dadubhai jawab, 'Iya.'
Mrinal, 'Nggak perlu hadiah spesial, Dadubhai.'
Dadubhai bilang, 'Lihat dulu hadiahmu, baru deh mutusin.' Terus dia ngasih amplop ke dia. Semua orang nahan ketawa dan semangat.
Mrinal buka amplopnya dan mulutnya kebuka membentuk 'O' dan waktu seolah berhenti buat dia. Kakak iparnya goyang-goyangin dia, 'Hei! Mira!'
'Iya, iya' terus dia sadar, terus dia teriak, 'Ya ampun!!!!!! Dadubhai itu... itu berarti aku... aku dapet kesempatan dan aku mau ke Mumbai.'
Senengnya nggak ketulungan, terus dia nanya, 'Tapi kok bisa? Kemarin kalian nggak mau ngizinin, kok sekarang bisa?'
Mihir bilang, 'Adikku yang manis, semua ini buat ngejutin kamu hari ini dan suratnya dateng dua hari lalu, bukan hari ini. Jadi, kita pikir mau ngejutin kamu dikit.'
Dadubhai, 'Mira-ku, kamu udah berusaha ngeyakinin kita dari hari kamu ngajuin dan hari ini hari terakhir buat ngeyakinin kita. Pas kita dapet suratnya yang bilang kamu dapet kesempatan dua hari lalu, kita pesen tiketnya dan maaf ya sayang udah nyembunyiin ini dari kamu.'
Mrinal, 'Jadi, itu sebabnya kalian pada kelakuan kayak gitu, oke deh, aku sempet kesel tapi nggak sekarang, tapi siapa yang ngerencanain semua ini?' Perasaan keenamnya bilang semua ini cuma bisa dilakuin sama satu orang, yaitu Mihir.
Adi, 'Kakai!' Dan itu aja.
Mrinal, 'Kamu!!!!! Aku sayang kamu chotodadabhai!' dan dia meluk dia. Semua orang mikir dia bakal bikin botak Mihir dengan narik-narik rambutnya. Mridul juga udah siap-siap.
Bristi, 'Tuh kan, papa baik-baik aja.'
Semua orang ketawa. Mereka lepas pelukannya. Terus ibunya bilang dengan manis, 'Maaf ya Mira.' Mrinal nggak bisa nahan air matanya, air mata bahagia.
Sona ma, 'Jangan nangis sayang. Kita semua ada buat kamu.'
Mamoni, 'Jadi Mira kecil kita mau ke Mumbai akhirnya. Kamu suka kejutan kita?' Mridul, 'Kenapa nggak? Lagian ini kan rencana aku.'
Mihir, 'Orang yang bilang, 'Tolong Dadabhai, selamatkan aku dari dia kalau dia marah'' dia ngejek.
Mridul, 'Kenapa nggak Dadabhai? Adik kecil kita bisa jadi Maa Chandi kapan aja? Dan lagi pula aku nggak mau istriku yang cantik sedih gara-gara aku botak?' dia bilang polos.
Dia dapet tatapan tajam dari istrinya dan dia nggak peduli.
Mrinal, 'Kalian semua ikut-ikutan, ya. Hmmm, bahkan kalian berdua, cintaku.' dia cemberut. Adi, 'Maaf Moni.' dia pasang muka paling imutnya.
Bristi, 'Tapi ini kan buat bikin kamu seneng.' dengan suara paling manisnya. Mrinal nggak pernah marah sama mereka, itu nggak mungkin. Tapi dia agak kesel karena mereka nolak dia terus dan mereka lakuin semua ini. Terus dadubhai-nya bilang, 'Kamu tau kenapa kamu spesial banget? Kalau ada cewek lain di posisi kamu, mereka pasti udah berantem. Tapi enggak, kamu minta pengertian kita terus dan kemarin pas kamu bilang Cinta itu nggak ngekang, tapi ngasih kamu sayap. Aku sadar kamu ngerasa cuma cinta kita yang nggak ngizinin kamu pergi. Terus gimana bisa kita nggak ngizinin, kan kamu bilang Cinta itu nggak ngekang, tapi ngasih kamu sayap.'
Mrinal meluk Adi dan Bristi erat-erat dan bilang, 'Kalian orang-orang terbaik. Dan aku bakal kangen sama kalian.'
Boroboudibhai nepuk-nepuk kepalanya dan bilang, 'Santai aja Mira. Kita selalu ada buat kamu.'
Chotoboudibhai juga ngedukung, 'Iya, sekarang makan dulu yuk. Semuanya makanan kesukaanmu hari ini. Terus kita beresin tasmu.'
Ayah dan paman-pamannya meluk dia dan bilang, 'Kita selalu ada buat kamu sayang.' 'Ini hadiah ulang tahun terbaik yang pernah ada' suara bahagia Mrinal berdecit kayak burung.
Mrinal sempet sedih di pagi hari, jadi dia pergi ke les gambar karena itu tempat favoritnya. Dan mereka dapet waktu buat ngasih kejutan.
Mereka makan malam dengan hati yang bahagia. Dan setelah itu dia beresin tasnya.
Dia ambil beberapa kenangan spesial sama semua orang, foto keluarga, boneka teddy bear-nya, dan diary-nya. Dia kan jantung mereka, alasan mereka buat senyum.
Dia tidur hari ini bareng pesta ceweknya. Dia nggak pernah jauh dari pandangan mereka, tapi sekarang dia mau tinggal di asrama. Walaupun dia putri di rumah mereka, tapi dia bisa ngelakuin semuanya sendiri. Jadi, nggak ada masalah soal ini. Tapi masalahnya, tinggal tanpa mereka itu susah banget, tapi mimpinya juga ada. Jadi, akhirnya dia siap buat pergi dan mereka juga siap.
Mereka nggak kaya, jadi dia mau tinggal di asrama kampusnya. Dia bangun dari tempat tidur pas ngerasa semua orang tidur pulas dan mandangin kamarnya. Dia udah tinggal di sini bertahun-tahun.
Dia juga bakal kangen tempat tidurnya, meja belajarnya, rumahnya, pergi ke kampus naik trem, dll. Terus dia turun ke bawah, ngerasa sepi, tapi seseorang bilang, 'Mira.'
Mrinal kaget sama suaranya, 'Didun tumi?' (Didun kamu di sini?)
Nenek (Didun) senyum dan bilang, 'Kamu kira aku tidur. Sebenernya iya sih, tapi bangun mau minum air. Terus liat kamu nggak ada, jadi aku ke sini, soalnya aku tau dan liat kamu di sini. Dengerin sayang, lakuin aja apa kata hatimu dan sekali lagi, kita minta maaf buat itu.'
Terus dia bilang, 'Ngomong-ngomong, karena kamu mau ke Mumbai, cari cowok ganteng buat kamu ya. Aku bilang cowok, bukan anak kecil.' dan terus dia ngedip.
Mata Mrinal melebar denger dia ngomong, 'Didun!!'
Nenek, 'Okkk. Sekarang sini tidur. Kamu harus nyampe tujuanmu.' Mereka naik ke atas dan tidur bareng yang lain.
Susah banget buat mereka buat ngeliat dia pergi di bandara. Mereka nggak bisa ikut karena mereka semua punya kerjaan, kantor, sekolah, dll.
Dia juga nggak mau ganggu mereka. Nggak lama kemudian dia bilang selamat tinggal sama mereka dengan air mata dan senyum. Penerbangan berangkat dari Kolkata ke Mumbai.
DIA NGGAK TAU KALAU DIA BAKAL KETEMU SAMA IBLIS ITU SENDIRI TANPA SADAR.
************************************************************************
************************************************************************
Buat kebingungan lebih lanjut :
Barsha - Panggilan buat Bristi Chatterjee Adi - Panggilan buat Aditya Chatterjee
Aku bakal sering pake panggilan mereka. Didun - Nenek
Dadubhai - Kakek
**************************************************************************
**************************************************************************