Pemandangan Paling Gelapnya
'Yakin nih, bos? Dia anaknya Adhiraj, loh.'
'Iya. Tapi harusnya dia udah mati waktu itu. Kok bisa tuh bocah masih hidup?'
'Tapi, Pak, waktu itu, pas Bapak dapet nomor dari mata-mata kita, nomornya sama. Maksudnya, waktu kita nelpon dia.'
'Hmm, kita harus hati-hati mulai hari itu. Tapi, untungnya Desmukh bego. Anjing rakus, nggak punya otak. Jadi, kematiannya menguntungkan gue,' katanya licik.
'Tapi cewek itu... Kayaknya gue pernah liat dia di mana gitu. Coba tunjukin lagi fotonya.'
Orang itu nunjukin fotonya. Itu foto pasangan, nggak lagi barengan, tapi mereka suami istri.
Dia ngeliatin fotonya bener-bener.
*Dia kenalan gue, ya?*
*Kenalan gue.*
*Tapi dia baru 22 tahun.*
*Nggak, dia bukan "dia".*
'Udah, lupain semua ini. Kasih tau gue soal kesepakatan yang baru.'
'Siap, Bos. Kita dapet, tapi perusahaan bilang...'
'Bilang apa?'
'Itu... itu, Bos, sebenernya mereka bilang mereka nemuin investor baru, jadi...'
'Jadi...' dia ngertakin giginya.
'Jadi mereka... mereka batalin kesepakatannya...'
'Maksudnya apaan? Siapa INVESTOR BARU nya?'
'Pak, sebenernya namanya mirip-mirip.'
'Maksudnya?'
'Sebenernya dua-duanya sama. Maksudnya, cowok yang Bapak cari, yang ngambil cewek-cewek kita waktu itu, yang bunuh Dixit demi cewek-cewek itu, yang mana Desmukh tanda tangan kesepakatan, dan orang yang jadi investor baru... Abhay Singh Raizada.'
Begitu dia selesai ngomong, dia langsung di tanah dan orang itu terus nonjok perutnya. Orang itu nyekek lehernya dan neken ke lantai. Yang lain pada nelen ludah ketakutan. Soalnya bos mereka kejam, kejam banget.
'Maksudnya apaan sih??? Haa. Orang itu ngambil semua keuntungan gue dari India dan sekarang dia mau ganggu bisnis legal gue. Nggak bisa kerja simpel aja. Bocah kecil Dixit itu sampah. Dia ninggalin dia pas dia ngerasa mau mati. Dia kesel banget karena ada yang nyerang bisnisnya, baik legal maupun ilegal. Dia mikir nyulik istrinya bakal nyelesain masalah. Tapi sia-sia. Terus Desmukh tanda tangan kesepakatan sama Singh Raizada dan ngasih tau namanya. Padahal dia nggak peduli karena dia udah ngebunuh mereka dengan tangannya sendiri. Tapi setelah kematian Desmukh, dia nyuruh penyelidiknya buat nyari lagi tentang dia (Iya, lagi, soalnya waktu Abhay nyelamatin cewek-cewek dari dijual sama anak buahnya, orang ini nyuruh mata-matanya buat nyari tentang dia. Waktu itu dia nggak peduli, mikir dia cuma pedagang kecil. Jadi mereka ngancem dia. Ya, dia ngancem dia yang akhirnya bikin Abhay dan Mrinal telepon-teleponan.) nyari dan sekarang hasilnya adalah tiga orang ini sama, yang kelemahan terbesarnya adalah istrinya. Dan istrinya mengingatkannya pada seseorang. Seseorang yang deket sama hatinya yang gelap.
'Siapin jet gue. Sekarang!' bentaknya.
Abhay Singh Raizada, gue dateng. Semoga lo bukan anaknya. Soalnya kali ini gue bakal ngebunuh lo dengan sayang, lo nggak bakal nyangka.
Matanya gelap. Tapi kali ini Abhi bukan lagi anak kecil umur 10 tahun yang nggak berdaya.
**************************
Mrinal nggak percaya suaminya bisa se-rendah itu. Cowok yang dia cintai, iya, dia cinta banget. Dia bikin dia jatuh cinta. Tapi semua itu cuma drama. Kenangan itu buram di pikirannya. Ada dua hal di pikirannya.
Pertama, suaminya ngebunuh orang dengan kejam, itu juga pengusaha biasa.
Dan yang kedua, yang paling parah, dia jual cewek buat tubuh mereka.
Dunia dia hancur. Dia nggak bisa tinggal sama orang yang nggak punya hati. Dia benci dia, nggak, dia jijik sama dia.
Waktu dia ngerti kalau dia dan Isha diculik, satu-satunya orang yang dia pikirin adalah Abhay. Dia diam-diam berdoa biar dia dateng dan nyelamatin mereka. Saat itu, dia adalah satu-satunya harapannya. Dia tau apa pun yang terjadi, Abhi-nya bakal dateng dan nyelamatin dia, tapi denger hal-hal mengerikan itu dan liat videonya, dia kehilangan semuanya.
*Flashback dimulai*
Mrinal ngerasa dikhianati waktu dia tau kalau Isha itu mata-matanya di kampus.
'Nggak cuma itu, sayang, suami kamu nggak seperti yang kamu pikirin.'
'Berhenti!' teriak Isha.
'Berhenti pake kata-kata kayak gitu. Aku tau suamiku itu... itu... ma..fia.'
'Hah? Mafia yang jual cewek. Kamu tau itu,' Mrinal kaget. Dia nggak percaya.
'A..paa... !!?? Nggak... Nggak pernah. Abhiii, Abhiii-kuu nggak... ooo dia.. dia nggak bisa..'
Suaranya pecah. Dia nggak mau itu beneran.
'Dengerin, kamu sampah, berhenti bikin cerita. Percaya deh, Mrinal, Pak Abhay nggak kayak gitu.'
'Oh ya. Oke deh,' Dia muter video yang isinya dia ngebunuh Deshmukh alias Mohit Aggarwal. Videonya nggak ada suaranya, cuma video. Dia nggak bisa liat kekejamannya.
'Nggak!!!!!!!!!! Dia... dia nggak bisa...'
Dia nutup matanya.
'Mira, dengerin, sayang...'
'Tunggu, tunggu, kita masih punya yang lain.'
'Berhenti, Dixit, atau nggak!' Isha ngancem dia. Tapi sekarang dia nggak peduli.
'Dengerin rekaman suara ini.'
Lewat telepon
Dixit: 'Balikin cewek-cewek itu. Mereka punya gue.'
Abhay: 'Gimana kalau gue nggak mau?'
Dixit: 'Dengerin, jangan ikut campur urusan gue. Mungkin lo pengusaha sukses. Tapi gue berbahaya banget, lo nggak kenal gue.'
Abhay: 'Serius?! Penasaran gue. Lakuin aja apa yang lo mau.'
Dixit: 'Dengerin, balikin mereka atau...'
Abhay: 'Atau apa? Pengecut!'
Dixit: 'Mereka itu punya gue. Balikin.'
Abhay: 'Daripada ngemis, jadi laki-laki, kerja keras. Dan soal cewek-cewek itu, mereka punya lo sekarang, mereka punya gue. Jadi, berhenti merengek kayak anak kecil. Gue yang bakal nentuin nasib mereka.'
Abhay kesel sama ancaman kosongnya yang bodoh. Tapi dia nggak pernah tau percakapan ini bakal bikin dia kehilangan seseorang yang berharga.
'Nggak... Dia nggak bisa... Gimana... bisa... dia...?!' Dia tersedak. Betapa sakitnya bagi seseorang untuk tau orang yang dia cintai begitu kejam, betapa susahnya bagi seorang istri untuk tau suaminya jual cewek.
Dia ngerasa kasian banget, dia nggak bisa ngejelasin. Dia benci dirinya sendiri karena udah jatuh cinta sama dia.
'Mira, jangan percaya dia. Dia bohong. Pasti ada alasannya. Dia nggak ngebunuh orang yang nggak bersalah...'
'Udah, berhentilah drama lo. Coba kita telepon dia dari hape itu.'
*Flashback selesai*
Pintu kamarnya dibuka dan ibunya dateng. Dia meluk dia pelan, nggak mau nyakitin dia. Tapi hati putrinya lebih sakit, lebih terluka. Dia bales meluk ibunya. Seluruh keluarganya ada di sana, kecuali anak-anak dan kakak iparnya. Anak-anak ada di rumah mewah sama ibu mereka. Tapi yang lain nggak masuk sesuai instruksi dokter.
Dia nggak banyak ngomong. Dia nyium kening Mira dan keluar setelah beberapa menit. Mrinal lagi di bawah pengaruh obat-obatan jadi dia nggak bisa banyak bereaksi. Tetap aja dia bilang pelan, 'Aku nggak papa, Mama. Jangan khawatir.'
****************************
Mira lagi tidur nyenyak karena obat. Abhay lagi duduk di sampingnya. Dia biarin ibunya liat dia dulu, tau betapa sakitnya dia. Dia genggam tangan dia dan nyium tangannya.
'Aku minta maaf, Mira. Karena aku, kamu menderita. Aku minta maaf,' Air mata keluar.
'Bayiku. Bayi kecilku, Mira...' Dia mau nyentuh keningnya, tapi dia buka mata.
'Jangan berani-berani nyentuh aku, monster. Aku benci kamu,' teriaknya keras. Dia nggak tahan ada dia di sana.
'Mira, sayang, kamu ngomong apa sih?' Dia bangun dan mau meluk dia. Tapi sebelum itu, dia bangun sambil mendesis, 'Ahhh!!!'
Abhay panik liat dia kayak gitu, 'Mira, santai, jangan gerak, kamu bakal nyakitin diri sendiri. Biar aku panggil...'
'Pergi.'
'Mira, santai,' Dia ngegombal lagi. Dia nggak ngerti kenapa dia bereaksi kayak gitu.
'PERGI. PERGI AJA DARI PANDANGAN AKU, KAMU YANG NGGAK PUNYA HATI, MONSTER.' Abhay kaget. Cewek yang lembut ngomong, teriak kayak gini. Tapi dia tetep mikir buat biarin aja dan nelpon dokter.
*********************************
'Aku mau ke Kolkata,' Mrinal ngomong begitu mereka sampe di rumah mewah mereka. Abhay udah siapin semuanya buat dia di dalem rumah mewah mereka. Setelah kejadian itu, Abhay nggak deketin dia. Hal ini bikin semua orang agak khawatir. Tapi, kesehatan Mrinal paling penting buat mereka.
'Iya, kamu bakal ke Kolkata setelah kamu sehat dan bugar,' kata Devika kepadanya.
'Iya, Mira, kamu bakal pergi, tapi sekarang istirahat aja.'
'Nggak, aku mau ke Kolkata sekarang.'
'Tapi kenapa, Mira?'
'Aku mau,' dia nangis.
Mridul nggak tahan lagi, 'Abhay, tolong bawa dia ke kamar kamu. Dia butuh istirahat.'
Abhay ngangguk dan mau gendong dia. Dia mundur, 'Nggak, nggak, jangan sentuh aku. Mama, Mama, aku mau pulang.' Semua orang kaget denger kata-katanya.
Mamoni bilang, 'Kamu ngomong apa, Mira? Biarin dia bawa kamu ke kamar, sayang,' dia ngegombal.
'Nggak, Mamoni, aku... aku nggak mau ikut dia. Aku mohon, kalian semua, tolong bawa aku pulang.'
Abhay gendong dia dan bilang, 'Kamu nggak akan kemana-mana. Kamu bakal tinggal sama aku selamanya.'
Dia berontak di pelukannya yang bikin semua orang khawatir.
Dia mukul dadanya, 'LEPASIN AKU. AKU BILANG LEPASIN AKU, KAMU MONSTER, KAMU PEMBUNUH. LEPASIN AKU.'
Abhay berusaha selembut mungkin, 'Berhenti, Mira. Kamu lemah. Kamu harus istirahat.'
'Aku nggak mau bernapas di udara yang sama sama kamu. Turunin aku. SEKARANG JUGA.'
'Kamu ngomong apa, Mira? Mira, istirahat dulu, nanti kita ngobrol.' Devika berusaha nenangin dia.
'Nggak, nggak, kenapa nggak ada yang mau ngerti kalau aku nggak mau tinggal?' Dia teriak.
[Nggak, nggak, kenapa nggak ada yang mau ngerti kalau aku nggak mau tinggal?]
'Kenapa? Kamu nggak baik-baik aja.'
[Kamu nggak baik-baik aja sekarang.]
'Mama, aku mohon, bawa aku. Tolong. Dia... dia jahat, jahat banget,' Dia tersedak.
'Mira, sayang, kamu salah paham. Aku nggak bisa nyakitin kamu. Kamu pasti marah sama aku. Aku minta maaf banget. Aku telat, tapi aku udah berusaha sebaik mungkin. Sayang, tolong istirahat.'
'Udah, berhentilah dramanya. Kamu jahat banget, kamu... kamu paling buruk,' Dia napas berat. Kakak dan omnya bikin dia duduk. Vishal bawain air buat dia. Ketegangan di antara mereka makin besar, apalagi Abhay dan Vishal takut banget sama masalah itu.
Vishal bantu dia minum air, 'Mira, kalau ada masalah, aku bakal berusaha sebaik mungkin buat bikin semuanya sempurna dan sesuai keinginan kamu. Tapi buat kita, tolong, Mira, istirahat.' Dia ngeliat mata berairnya. Cinta, perhatiannya tulus, tapi lagi-lagi dia nggak mau tinggal sama dia.
Neneknya bilang, 'Mira, istirahat dulu. Nanti kita ngobrol.'
Dia bilang OK dan berusaha bangun. Abhay mau gendong dia, tapi Vishal nghentiin dia dan nanya, 'Mridul dan Mihir, tolong bantu dia.' Abhay nggak suka, tapi biarin aja. Mridul bilang ke Mihir, 'Dadabhai, kamu di sini aja, aku yang bawa dia.' Mihir nepuk punggungnya.
*********************************
Begitu dia turun dengan Devika dan Arti, dia nyamperin Abhay dan narik kerahnya, 'Dia ngomong apa? Apa yang udah kamu lakuin? Kasih tau aku. KASIH TAU AKU.'
Abhay udah mau ngehancurin rahangnya sebelum dia narik kerahnya, tapi berhenti mikirin Mira. Dia udah sakit hati dan sekarang semuanya makin ngehancurin dia.
Omnya Mrinal dateng dan narik dia, 'Kamu ngapain, Mridul? Lepasin dia. Kita bisa ngobrol, kan?'
'Aku nggak mau ngomong sama dia. Aku nggak bakal biarin dia hari ini.' Dia mau ngelepasin pegangan omnya, tapi suara menghentikannya, 'Mridul, kita bakal ngobrol dengan baik, jangan lupa dia suami Mira. Lepasin dia.' Itu kakek mereka, Arun Chatterjee.
Suaranya tegas kayak 'Berani macem-macem sama gue'.
Dia ngelepasin pegangan itu pelan, 'Oke, baiklah, tapi nanti aku bakal bawa dia kemana pun dia mau. Nggak ada yang bakal nghentiin aku.'
******************************************
******************************************