Miliarder Tipikal
Semalaman penuh, Abhay nggak bisa tidur.
Dia nggak pernah nyangka bakal bohong ke orang tuanya. Ribuan emosi berdesakan dalam dirinya. Sakit.
Marah Pengkhianatan Benci Jijik Dan Cinta
Sakit karena ngelihat Mrinal nangis kejer. Dia marah sama dirinya sendiri karena maksa Mrinal nikah. Dia mengkhianati kedua orang tuanya dengan bohong dan melupakan nilai-nilai mereka. Dia benci sama dirinya sendiri karena begitu murahan, seorang pembohong. Dia jijik sama dirinya sendiri karena kasar ke Mrinal. Dan di atas segalanya, dia cinta sama kedua orang tuanya dan Mrinal.
Tapi apa yang harus dia lakuin? Dia udah nikahin Mrinal secara paksa. Dan dia juga udah mengkhianati kedua orang tuanya dengan bohong dan memaksa seseorang kayak gini.
Tapi telepon itu bikin dia sesak napas. Dia nggak bisa mikir jernih saat itu. Rasa insecure-nya muncul. Tapi sekarang dia harus nemuin kejahatan yang nggak dikenal itu.
Setelah telepon itu, dia kaget gimana bisa seseorang tahu tentang dia. Nggak ada yang tahu tentang dia, perasaannya, kekagumannya yang dirahasiakan, dan semua hal lainnya.
Gimana mungkin? Dia nggak ngasih tahu siapa pun, bahkan paman supirnya pun nggak, pas dia sering pergi cuma buat ngintip dia. Terus gimana??????
Saat itu, dia ngerasa kayak yang dia rasain 20 tahun lalu, pas dia hampir kehilangan orang tuanya. Tapi dia kehilangan mereka, tapi sekarang dia nggak bisa kehilangan Mrinal.
Dan sekarang dia bakal nemuin pengkhianat yang ngebunuh orang tuanya. Dia udah mulai, tapi orang itu emang licik banget.
Sekarang dia juga harus nemuin orang yang ada di balik Mrinal-nya.
Tapi sebelum semua itu, dia harus minta maaf ke kedua orang tuanya dan Mrinal. Tapi gimana dia bakal dekatin Mrinal?
Kerusakan udah terjadi. Dengan semua itu, dia ngabisin malamnya di kamar sebelah kamar Mrinal.
********************************************
Mrinal bangun karena ada yang manggil. Cewek yang sama manggil dia buat bangun. Dia bangun dan cewek itu nyapa dia 'Selamat Pagi Nyonya'.
Mrinal 'Selamat pagi, umm, boleh tahu umurmu kalau nggak keberatan? Dan namamu?' dia ngerasa kayak dia lebih tua dari cewek itu dan dia nggak mau dipanggil 'nyonya' sama orang yang lebih tua darinya.
Cewek itu kaget 'Iya, 20 tahun, dan nama saya Rima.'
Mrinal 'Oke deh, Rima, bisakah kamu panggil aku Kak? Aku nggak suka banget sama panggilan 'nyonya' itu.'
Cewek itu bilang sambil senyum 'Tentu, Kak. Kamu mirip banget sama Abhi Kakak. Dia nggak suka dipanggil 'Tuan' sama orang lain. Dia lebih suka Abhay buat yang lebih tua dan Kakak buat yang lebih muda, nggak peduli dia seorang pelayan.'
Denger nama Abhay, darahnya mendidih. Tapi dia lebih khawatir sama keluarganya. Dia pengen banget ketemu keluarganya, meluk mereka, pengen nangis di bahu mereka.
Rima 'Kak, kamu mandi dulu dan mandi. Aku ke sini buat manggil kamu sarapan. Dan tolong panggil aku kalau kamu butuh sesuatu.'
Mrinal 'Aku nggak punya apa-apa buat ganti baju dan aku nggak mau sarapan.' Rima mau minta, tapi Mrinal motong omongannya 'Tolong, Rima.'
Rima pergi dengan kecewa dan ngasih tahu Abhay yang udah ada di meja sarapan.
Abhay pergi ke kamarnya dan ngetuk. Mrinal jawab 'Rima, tolong, aku nggak mau.' Denger itu, Abhay masuk. Ngeliat dia, Mrinal ngepalin tangannya 'Mau apa? Mau ngelakuin yang nggak kamu lakuin tadi malam?' dia teriak.
Abhay balik marah, wajahnya merah padam 'Dengerin, kalau kamu mau ketemu keluarga kamu, ya sarapan. Dan pake baju apa pun yang kamu mau. Lemari itu cuma buat kamu.' dengan nada dinginnya dan pergi. Dia pengen kedengeran lembut, tapi nggak bisa karena tuduhan dia.
Mrinal nggak tahu harus ngomong apa, tapi matanya berbinar mikirin bakal ketemu keluarganya. Dia buru-buru ke lemari dan kaget.
'Apaan sih ini? *Tipikal miliarder*. Kalau lemari penthouse-nya segini mah, gimana rumahnya? Ya ampun, kenapa nggak? Dia kan miliarder, kaya, dan seorang MAFIA' Pikirnya dalam hati
Lemari itu berisi berbagai jenis pakaian dengan ukuran yang berbeda, bahkan sepatu, tas, dan aksesoris lainnya. Dan lagi pula, lemarinya gede banget, dia heran kenapa dia nggak nyadar tadi malam.
Dia ngambil kain sari merah sederhana dan memakainya. Ya ampun, itu hal paling sederhana yang dia temuin.
Dia cepet-cepet mandi dan keluar. Dia mikir gimana dia bakal turun. Tapi untungnya, Rima datang lagi dan ngajak dia sarapan. Dia gugup banget, tapi ngikutin Rima. Ruang makannya juga gede, yang bikin dia mikir 'Ya ampun, Tipikal Miliarder dengan bisnis mafia.' Ngeliat Mrinal kayak gini, napasnya tersentak. Dia ngerasa kayak dia bisa ngabisin seluruh hidupnya cuma buat ngeliat dia. Dia juga kaget ngeliat dia pake Mangal sutra dan vermilion yang bikin dia makin cantik. Dia natap dia beberapa saat, terus ngalihin pandangannya sebelum ketahuan.
Sarapan berlangsung hening karena Abhay pergi buat telpon penting. Ya ampun, dia ngelakuinnya dengan sengaja, setidaknya dia bakal makan sesuatu. Rima nyajiin makanannya dan bilang 'Kamu kelihatan cantik banget.'
Dia bilang 'Makasih' sambil senyum kecil. Dia makan makanannya dalam diam karena itu baik buat dia.
Setelah makan, dia mau balik, dia denger Abhay 'Siap-siap. Kita bakal ke Kolkata dulu. Dan aku harap kamu inget obrolan kita.'
Dia bilang dengan nada mengejek 'Makasih YANG MULIA.' dan pergi. Abhay ketawa kecil denger kata-katanya.
**********************************************
Mereka udah siap berangkat, terus Rima dateng ke kamarnya buat nanya apa dia butuh sesuatu. Dia bilang 'Nggak, aku nggak butuh apa-apa. Makasih.'
Mereka turun dan pergi ke arah mobil tempat Abhay nungguin dia. Rima pamit, begitu juga dia. Abhay bukain pintu buat dia. Dia masuk dan duduk. Dia ngerasa aneh, tapi dia tetep duduk dan Abhay nutup pintu. Dia ke sisinya dan duduk, terus bilang 'Om, ayo pergi.' Mobil yang lain juga ngikutin mereka. Dia nggak peduli sama sekali sama BMW-nya, bahkan sama tingkah lakunya yang kayak pria terhormat.
Mereka keluar dari penthouse 10 menit yang lalu. Nggak ada yang ngomong sepatah kata pun sampai sekarang. Mrinal keasyikan mikir. Apa yang bakal dia bilang ke keluarganya? Dan Abhay konsentrasi sama dia. Tiba-tiba dia ngeliat Rima nunggu bus di jalan. Dia nanya 'Om, berhentiin mobilnya.' Pas mobilnya berhenti, dia bilang 'Om, liat, Rima pasti nunggu bus. Pergi dan panggil dia.'
Setelah pamit sama Rima, Rima ngambil jalan pintas ke halte bus. Tapi dia telat seperti biasa.
Sopir pergi buat manggil, dia nanya 'Apa kamu keberatan kalau aku manggil Rima buat ikut kita karena dia telat ke kampus?'
Dia kaget setelah ngeliat sisi dia yang ini. Dia peduli sama kampusnya pegawainya. Dia bilang 'Nggak. Kenapa harus?' Dia nggak sejahat itu. Rima juga manggil dia Kak.
Nggak lama kemudian, Rima dateng. Abhay bilang 'Rima, masuk, kita anterin kamu ke kampus.'
Rima ragu karena Mrinal juga ada di sana. Itu juga udah pernah terjadi. Abhay udah sering nganterin Rima ke kampusnya, tapi sekarang Mrinal juga ada di sini. Mrinal ngerasain itu dan bilang 'Rima, masuk. Kamu bakal telat kalau nggak.' sambil senyum sopan. Rima 'Oke, Kak' dia bilang sambil senyum lebar.
Abhay ngeliatin mereka pas dia denger Kak dari Rima. Dia senyum ke ikatan mereka.
Rima duduk di dalam mobil. Nggak lama kemudian, mereka nyampe ke kampusnya. Dia bilang 'Bye Abhay Kakak, bye Kak, bye Om.' Mereka juga jawab dan dia masuk.
Mrinal juga kaget ngeliat gimana dia bilang BYE ke dia dan senyum. Bahkan kampusnya bikin dia kaget. Itu kampus swasta dan juga mahal. Dia ngerasa kalau Abhay mungkin yang bayarin biaya pendidikannya.
Nggak lama kemudian, mereka nyampe ke jet pribadinya. Perjalanannya hening. Mrinal ngeliatin keluar jendela dan Abhay ngeliatin dia. Sekarang Mrinal mikir lagi, tipikal miliarder dengan memutar bola mata. Tapi dia mikir keras banget sampai Abhay denger.
**********************************************************
**********************************************************