Mata Jahat
Dua bulan kemudian
Abhay sibuk di kantornya. Mrinal pulang dari kampus dan langsung segerin diri. Begitu selesai belajar, dia turun. Dia pergi ke dapur dan mulai bikin sandesh bebas gula buat Abhay. Dia ngerasa Abhay lagi sibuk banget sama kerjaannya. Bahkan sampai larut malam, dia ngeliat Abhay bangun dari kasur dan pergi ke ruang kerjanya setelah nyium keningnya. Dia mikir itu cuma karena tekanan kerja dan berusaha buat nyemangatin Abhay. Dia tahu betapa sibuknya hidup Abhay. Tapi, Abhay gak pernah nunjukkin wajah capeknya ke mereka. Vishal selalu ada di sampingnya, tapi Abhay gak mau Vishal kerja lagi. Vishal udah ngelakuin banyak hal sampai sekarang. Sekarang Devika dan Vishal harus santai. Makanya Abhay minta mereka buat ngurus semua panti asuhan mereka karena mereka suka anak-anak.
Devika cekikikan waktu ngobrol sama Brinda (nenek Mrinal). Mereka punya hubungan yang deket banget. Dia matiin telepon pas obrolan mereka selesai.
Mrinal selesai bikin manisan. Dia baru mau nyiapin makan malam, Devika masuk ke dapur.
'Ya ampun!! Mira, kamu bikin sandesh.' Aroma manisnya memenuhi seluruh dapur.
'Iya, Choti ma. Aku bikin.' Jawabnya senang.
'Mira, sana belajar. Ujian akhirmu udah deket. Dan setelah itu, anak manisku ini mau kuliah di luar negeri.'
'Choti ma, biarin aku selesaiin S2 dulu. Semester terakhir pasti lebih susah. Aku gak tahu gimana caranya aku bisa dapet kesempatan di sana.' Dia cemberut imut.
'Gak ada yang bisa ngehentiin anakku. Aku tahu itu. Dan kamu pasti dapet kesempatan di sana.'
Setelah itu, dia pergi belajar karena tatapan Devika aja udah cukup. Dia cinta banget sama belajarnya. Abhay yang nyediain ruang belajar buat dia.
Abhay pulang setelah seharian yang melelahkan. Urusan bisnis dan dunia bawah. Makan malam selesai seperti biasa. Abhay ngerasa tenang setelah pulang ke rumah.
Setelah makan malam, makanan penutup disajikan. Kedua pria itu nyengir kayak orang tolol. Mrinal ngerasa mereka berdua kayak anak kecil. Mrinal duduk di dekat Abhay yang terus-terusan curi pandang ke arahnya. Malam itu hening. Atap kosong kecuali mereka berempat.
Mrinal duduk di samping Devika ngobrol sama Vishal, 'Chote papa, choti ma, gimana kalau kita piknik bulan ini?'
'Kita pergi, sayang, setelah ujianmu.' Jawab Vishal sambil nepuk kepalanya. Dia senyum lebar ke arahnya.
**************************
Semuanya tampak lebih rumit. Pembunuhan ibu Mrinal masih jadi misteri bagi orang-orang Baranasi. Gak ada satu pun orang yang bisa ngenalin wajahnya. Rumahnya ada, tapi gak ada, bener-bener gak ada yang tahu soal itu. Udah bertahun-tahun dari kejadian naas itu, tapi seolah-olah mereka gak pernah ada di Baranasi.
Abhay tahu PI-nya gak bodoh. Dia bakal nyari orang itu sampai ke neraka kalau Abhay nyuruh. Di sisi lain, Abhay udah deket sama pembunuh orang tuanya. File lama nunjukkin kalau Utkarsh Raichand pergi ke Amsterdam cuma 5 tahun setelah orang tuanya meninggal, tapi namanya beda sekarang. Tapi, apa pun yang terjadi, dia bakal narik orang itu keluar dari persembunyian.
Tapi, seseorang pergi ke Banaras dan juga ke rumah Mrinal. Dia diam-diam masuk ke dalam rumah tua itu. Tapi, kenapa? Anak buah Abhay lagi kerja keras buat nyari tahu, terutama Vinay.
Hari ini Abhay mutusin buat nanya Mrinal soal orang yang penting buat diidentifikasi. Robin udah nyari Utkarsh Raichand, tapi siapa nama aslinya. Bahkan Vinay juga bantuin dia. Balas dendamnya baru bakal terpenuhi setelah kematiannya.
Abhay keluar dari pikirannya waktu Mrinal datang ke kasur.
'Sayang, aku mau ngobrol sama kamu.'
'Oke, cerita aja.' Dia ditarik ke pangkuannya. Dia bersandar di dada Abhay.
'Ini soal serius. Soal kematian ibumu.'
Dia nengok ke arah Abhay, 'Apa, Abhi?'
'Aku tahu kamu mau pembunuh ibumu dihukum. Makanya aku butuh bantuanmu.'
'Aku mau, Abhi. Aku selalu mau. Tapi, aku gak tahu namanya, gak tahu juga wajahnya.'
'Bisakah kamu coba ingat ciri-cirinya? Aku tahu ini susah, sayang. Tapi, coba buat Ragini Ma.' Dia ngegenggam tangannya pelan. Dia gak mau bikin Mrinal inget semua kenangan menyakitkan itu. Tapi, nyari pembunuhnya sangat dibutuhkan.
'Coba aku pikirkan, Abhi.' Dia berusaha mengingat kenangan itu.
'Abhi, aku pernah cerita soal cincin, kan? Kamu tahu ada satu hal yang baru aku inget.'
'Apa itu, sayang?'
*********************************
Banaras
Seseorang masuk ke rumah yang hampir berhantu itu diam-diam. Dia ngelakuin ini udah dua hari terakhir. Tanpa dia ketahui, anak buah Abhay lagi ngawasin rumah itu. Mereka nginep di rumah-rumah sekitar sebagai tamu.
Dia pergi ke aula, terutama ke tempat di mana sesuatu terjadi. Matanya menggelap. Tapi, dia ngerasain sakit di hatinya. Kalau uang dan kekuasaan gak bikin dia buta, dia gak bakal kehilangan orang yang dia cintai.
Memang, dia cinta sama orang itu, tapi gak lebih dari uang. Hatinya yang kejam terbiasa dengan senyumnya yang bikin hati hangat.
'Arsh!! kamu lucu banget. Aku cinta kamu, beruang lucuku.'
Suaranya masih terngiang di pikirannya. Tawanya, cekikikannya yang selalu dia inginkan. Tapi, cintanya pada uang bikin dia kehilangan dia. Karena dia polos dan gak akan pernah bisa mencintai orang kejam seperti dia.
Dia mencintai dia tanpa tahu kebenaran kotornya. Dia adalah rubah licik, dan dia memang begitu. Sementara itu, dia adalah bidadari. Dia memberikan hatinya yang murni padanya, bukan hanya untuk menghancurkannya, tapi juga untuk membunuh dirinya sendiri.
Dia berbaring di lantai, ngerasa seolah-olah dia ada di sampingnya. Hanya kegelapan yang bisa dilihat, tapi dia tahu persis tempat di mana dia berada hari itu, menarik napas terakhirnya.
'A..aa raa… dh..y..yy..aa….' Ini adalah kata-kata yang terucap dari mulutnya yang hancur. Dan saat dia menarik napas terakhirnya dengan sentuhan bibirnya yang menjijikkan.
'Kupu-kupu, aku gak mau bunuh kamu, gak pernah. Gak dalam mimpi aku, tapi kamu sendiri yang milih. Kenapa kamu gak dukung aku? Kenapa, Kupu-kupu? Aku mau bikin kamu ratu. Ratu ku.'
Dia benar-benar maniak. Tapi, itu gak masalah kalau orangnya udah gak hidup lagi.
'Kamu tahu aku gak pernah nyangka aku bakal balik ke India. Ini adalah tempat yang aku impikan untuk membangun kerajaan bersamamu. Tapi, kamu harus menghancurkan semuanya.' Dia begitu munafik sampai dia gak bisa nerima kalau dia membunuhnya setelah benar-benar menghancurkannya.
'Kamu tahu aku gak pernah nemuin siapa pun seperti kamu. Aku tahu aku gak bisa. Tapi, ada seseorang yang mirip dengan kamu.'
Dia inget wajahnya.
*Kilasan Balik*
Dia melihat dari dekat foto gadis itu. Mata polosnya yang besar mengingatkannya pada sesuatu. Bukan, seseorang. Seseorang yang dia kenal dengan baik. Tapi, siapa? Dia gak bisa inget. Dia berusaha memikirkan gadis itu. Karena dia adalah kelemahan satu-satunya musuhnya.
*Bola mata hitam itu aku kenal. Apa aku kenal dia?*
*Bukankah dia mirip kupu-kupu ku?*
*Iya, dia memang.*
*Kilasan Balik*
'Kamu tahu, anak kecil ini lagi bikin masalah sama aku. Dia harus diajarin. Jangan khawatir, Kupu-kupu, Arsh mu ini bakal ngasih pelajaran ke dia. Dan *seseorang* itu adalah milik anak kecil itu.'
Dengan itu, dia ngobrol sama Kupu-kupunya sepanjang malam. Gak ada yang tahu soal itu.
****************************
'Pak, menurut informasi yang kami kumpulin dari semua bandara, termasuk data dari jet pribadi, banyak orang datang dari California. Tapi, ada satu jet pribadi yang datang dari Los Angeles. Tapi, orang yang datang masih belum diketahui.'
Abhay mengangkat alisnya. 'Dan kenapa?'
'Pak, pihak berwenang bilang dia seseorang dengan profil tinggi dan keamanannya sangat penting. Makanya, saya gak mau dengerin omongan bodoh mereka. Kami selalu dapet informasi, gak peduli seberapa tinggi profil orang itu.'
'Kayaknya aku harus lakuin sendiri.'
'Oke, Pak. Selamat siang.' Dengan itu, PI itu pergi.
Abhay duduk di kursinya dengan satu kaki disilangkan di atas kaki lainnya, persis seperti raja. Dia lagi mikir keras.
Kata-kata terakhir Mrinal terlintas di pikirannya. Hal yang dia katakan bikin dia kaget. Itu benar-benar gak terduga dari seorang pembunuh. Tapi, itu terjadi. Dan Mrinal yakin soal itu. Semuanya berantakan dalam dua kasus. Tapi, dia bakal bikin semuanya sempurna.
Dia sendiri yang bakal pergi dan dapet informasi. Karena gak ada yang bisa nolak Abhay Singh Raizada.
Dia harus kerja lebih cepat atau dia bisa kehilangan kedua pembunuh itu. Dan dia gak bakal biarin salah satunya, apa pun yang terjadi.
Dan seseorang yang diam-diam masuk ke rumah Mrinal lagi bikin semuanya makin berantakan. SI IBLIS siap membakar mereka hidup-hidup.
Begitu selesai kerja di kantor, dia pulang. Dia disambut sama ibunya yang cekikikan waktu ngobrol sama Brinda. Dia gak pernah dapet kasih sayang keibuan dari siapa pun kecuali Maithili. Tapi, dia tetap ibu terbaik yang Abhay punya. Dan kemudian dia ketemu istrinya yang lagi belajar keras buat mimpinya. Tanpa buang-buang waktu sedikit pun, dia mulai nyium Mrinal, bikin Mrinal bales cium dia. Itu ciuman yang manis dan lembut. Terus dia segerin diri dan makan malam bareng keluarga. Dan kayak gitu malam berlalu di Rumah Manis Keluarga mereka.
********************************
Di sebuah Penthouse dekat Banaras
'Siapa yang ngehentiin transaksi gua?' Teriak seorang pria.
'BOS, kami lagi usaha…'
'Denger, anjing peliharaan, tetap jadi peliharaan yang nurut, atau gua bisa potong lo di sini.' Dia meludah ke wajahnya.
Pria itu berhenti di situ, menundukkan kepalanya.
Pria itu marah besar. Anak kecil lagi-lagi menghalangi jalannya. Dia yakin 100 persen kalau itu bukan dia. Gak mungkin.
Lalu, siapa?
Dengan nama keluarga yang sama dan gaya kerja yang sama.
'Lo udah kelewatan, bocah. Gua harus nangkap Kupu-kupu lo.' Dia tersenyum kejam.
Karena gak ada satu pun yang bisa ngehentiin dia dan bisnis kotornya.
Jual beli narkoba, perdagangan manusia, penculikan – dia ngelakuin semua bisnis kotor di bumi ini. Dan dia gak malu soal itu.
'Gua udah ngelakuin banyak hal buat mencapai puncak ini. Dan gua tinggal singkirin orang yang menghalangi.'
Dia bener dalam kata-katanya. Dia membunuh semua orang yang menghalangi dia dan uang serta kekuasaannya. Bahkan kalau orang itu anak kecil atau saudara dewa penyelamatnya. Keserakahannya di atas segalanya dan akan selalu begitu. Dia gak ngerasain sakit, tapi suka ngeliat semua itu.
Dia ngeliat ke sisi kanannya, di mana tangan kanannya berdiri dan memanggil anak buah mereka buat berita lebih lanjut. Dia keringetan karena takut sama bosnya. Dia nyengir ngeliat dia. Dia suka kalau orang takut sama dia, dan itu ngasih dia rasa hormat.
'Denger, lakuin semua yang harus dilakukan secepatnya. Gua harus menghadiri banyak program amal. Selain itu, gua punya banyak hal yang harus dikerjain di India, kecuali ngeliat badan lo yang gemetar, bodoh.' Dia membentak pada sosok yang gemetar. Dia tahu betapa menyedihkannya dia dan dia dengan bangga mengakuinya, tapi hanya di depan cermin. Memakai topeng seorang pria terhormat, dia menghadiri acara amal. Itu seperti mencoba menutupi dosanya dengan semua dana amal palsu ini. Kebanyakan anak-anak di panti asuhannya jadi yatim piatu karena dia. Lucu, kan?
Dia Gak Tahu Kalau Seseorang Akan Membuat Dia Menangis Sangat Parah.
**********************************
**********************************