Kemarahannya
Mrinal ada di rumahnya di Kolkata. Walaupun dia pikir dia akan bahagia atau setidaknya dia akan merasa damai, dia hanya merasa kesepian.
*Enggak, enggak, aku enggak boleh kangen dia. Dia monster, dia kejam banget, enggak.*
**Mau bohongin siapa sih, Mira? Kamu kangen dia. Kamu kangen suami kamu.**
*Tapi dia... dia pembunuh. Aku enggak boleh mikirin atau ngerasain apa pun tentang dia. Kenapa aku ngerasa gini ke dia?*
**Soalnya kamu cinta dia, cewek bodoh.**
*Enggak, aku enggak cinta dia, aku enggak bisa cinta dia. Dia sama kayak dia. Monster, kejam.*
**Gimana kalau dia enggak begitu?**
*Aku lihat sendiri dengan mata kepala sendiri.*
**Gimana kalau itu cuma disajikan kayak gitu? Mungkin ada misteri di baliknya? Beberapa alasan.**
*Alasan apa yang harus ada buat perdagangan anak cewek?*
**Mungkin itu bohong. Bahkan dia (Dixit) bukan orang suci. Kamu harusnya kasih dia kesempatan buat ngomong.**
*Harus... harusnya aku gitu?*
'Mira... Miraa! Kamu ngelamun aja sih?' Arti dateng buat ngecek dia malam-malam. Dia nemuin kakak iparnya sibuk sama pikirannya. Dia enggak mau ganggu, tapi dia enggak bisa biarin dia tidur tanpa makan malam.
'O Mama! Maaf, aku lagi ngelamun.'
'Enggak apa-apa, Mira, ayo makan. '
'Aku... aku enggak laper.' Dia emang enggak laper.
'Enggak bisa gitu, kamu enggak boleh skip makan malam. Mira, makan dulu, nanti kamu bisa cerita ke aku apa yang lagi kamu pikirin.'
'O.k. baiklah.' Dia makan makanannya pelan-pelan. Punggungnya masih sakit. Begitu selesai, Arti ngasih salep buat lukanya dan ngasih obat.
'Sekarang cerita ke aku, Mira, kamu sedih?'
'Aku enggak tahu, tapi ada pertarungan batin antara pikiran dan hati aku. Hati aku enggak mau percaya.'
'Mira babu, pertama kamu harus cepet sembuh. Percaya deh sama aku, bahkan keluarga suami kamu khawatir banget hari itu. Dan Abhay, dia kayak kehilangan mataharinya. Jadi jangan stres sekarang dan aku yakin dia bakal dateng buat buktiin dirinya enggak bersalah. Kamu cuma perlu kasih dia kesempatan.'
'Tapi Mama, aku bilang aku mau cerai sama dia.'
'Sayang, dengerin ibumu. Sekarang istirahat dulu, dia belum siap buat cerai sama kamu. Jadi kita liat aja. Tapi kalau dia enggak bersalah, apa pun yang terjadi, kamu bakal tetep sama kita. Enggak ada yang bisa misahin kamu dari ibumu.'
'Mama emang yang terbaik. Aku cinta Mama.'
'Aku juga cinta kamu, babu.'
*****************************
Abhay masuk ke dalam ruang bawah tanah. Bau darah langsung nyentuh hidungnya bikin dia senyum. Begitu dia masuk ke dalam penjara bawah tanah, dia langsung menuju ke orang yang teriak kesakitan. Kenapa enggak, mereka udah ngehajar dia sejak dia dirawat dengan baik. Mereka nyiksa dia, tapi bukan buat mati, tapi buat ngerasain sakit.
Abhay disambut sama anak buahnya. Dia enggak kaget ngeliat keadaannya. Tapi dia enggak puas. Dia pengen ngulitin dia hidup-hidup yang berani nyakitin istrinya, yang ngisi telinga istrinya dengan kebohongan dan bikin dia pergi dari dia. Dia bener-bener pengen motong jari-jari itu dan ngasih makan peliharaannya. Tapi dia cinta sama peliharaannya, jadi dia enggak bisa ngasih dia ke mereka. Mereka bakal benci.
Abhay deketin dia dan pegang kerahnya 'Kamu seharusnya enggak ngelakuin ini, bahkan di mimpi buruk kamu.'
'A..ku..t..a..u.u.. kok.. to..lo..ng.. bu..n..uh a..ku Ahhhh!!' dia nangis kesakitan saat lehernya dicekik. Dia suka pas dia minta dibunuh.
'Hah? Beneran? Ya udah, main game aja kalau kamu menang, aku bunuh kamu.'
'ya..s ya..s to..lo..ng.' dia senang.
'Hmm oke, pergi dan duduk di dalem kotak.'
'O..k..e.y.'
'Kamu bodoh banget.' Abhay bergumam. Dia berjalan terseok-seok ke arah kotak seolah-olah dia akan keluar dari neraka ini. Tapi kalau menyangkut orang yang dicintai Abhay Singh Raizada, itu akan membawamu ke neraka kalau kamu berani mikir buat nyakitin mereka.
Dia duduk di dalem kotak dengan susah payah. Begitu dia duduk di dalem kotak, kotaknya ditutup dan sebelum dia bisa bereaksi, dia berteriak kesakitan. Rasa sakit terbakar dalam minyak panas.
'Urus dia. Aku bakal dateng malam ini.'
Abhay pergi dengan senyum puas di wajahnya. Ada sesuatu yang butuh perhatiannya lebih.
***************************
'Pak, itu pembunuhan seorang pria yang enggak ada suaranya dan pembunuhan itu sangat brutal dan itu cuma kamu.'
'Aku rasa enggak, Isha. Bapak enggak pernah ninggalin bukti, kan kamu tau?'
'Aku tau, tapi itu jelas banget dan kamu juga ada di sana, Robin bhai.'
'Bisa deskripsiin tempatnya, Isha?'
'Tentu saja, Pak. Itu rumah pertanian yang mewah banget dan jelas bukan di India.'
'Kamu yakin?'
'200%'
Terus ide muncul di otak Abhay. Dia langsung nanya Robin 'Robin, kamu punya foto Mohit Aggarwal itu di HP kamu kan?'
'Iya, Pak'
'Tunjukin ke dia'
Dan Robin nunjukin fotonya.
'Iya iya, dia orang yang sama yang dibakar hidup-hidup.' Suaranya agak serak soalnya pemandangan itu bener-bener menyedihkan. Abhay ngasih dia air minum dan dia minum.
'Kok dia bisa dapet video itu? Dan dia bahkan menyesatkan Mira-ku.' Matanya merah. Karena nangis, kurang tidur, dan marah.
'Cuma dia yang bisa jawab itu.'
'Dan dia bakal jawab.' datang suaranya yang dingin.
'Isha, pergi ke kamarmu dan istirahat.' Abhay bilang ke Mira.
'Pak, kapan kamu mau pergi ke rumah Nyonya?'
'Nanti malam aku bakal pergi ke rumah Bhabimu dan jangan khawatir, dia bakal ngerti situasi kamu.'
'Semoga aja. Semangat Bhai, pergi dan rebut hati bhabi kita.'
***********************
Lagi-lagi iblis itu balik, tapi kali ini cuma buat dapet jawaban dari pertanyaannya dan setelah itu dia bakal bunuh dia.
'Selamat datang, Pak'
'Tapi mana hadiah selamat datangnya?' dia nanya dengan dingin.
'Oh ini, Pak.' dia nunjukin sesuatu, enggak, seseorang. Setelah dipukuli terus menerus selama satu setengah hari, dia hampir mati, tapi minyak panas cuma bikin dia sakit. Tapi mereka tetep enggak biarin dia mati.
'Bu..n..uh a..ku..' to..lo..ng bu..n..uh a..ku' dia ngomong itu kayak mantra, tapi iblis itu cuma bisa ngeliat kesenangan dalam kondisinya.
'Bagus' dia muji mereka saat dia duduk di kursi kayak raja. Terus dia lanjut 'Jadi Dixit, kamu seneng, ya?'
'Se..ke..jam a..pa ka..mu?' dia nanya dengan suara kesakitan.
'Siapa? Aku! Apa aku keliatan kayak orang kejam? Enggak, kamu salah besar.' Dia ngejek dia.
'Tapi apa kamu enggak kejam?' dia ngambil pisau yang udah kebakar dan bikin sayatan di punggungnya bikin dia nangis kesakitan 'Ahhh!!' dan lanjut 'siapa yang jual orang tak berdosa buat organ dan tubuh, siapa yang bunuh orang tak berdosa, haan?'
Dia bikin sayatan di seluruh tubuhnya di tempat yang berbeda dan berhenti pas dia ngerasa puas.
'Sekarang dengerin, aku mau kamu tau gimana kamu dapet video rumah pertanian di Italia. Jawab sebelum aku mulai ngehajar kamu.'
Dan dia nurut 'A..ku..pe..rgi ke..I..tali bu..at li..bur..an dan li..at ka..mu di..sa..na.' Dia berhenti buat ngambil napas. 'Te..rus a..ku ke..te..mu De..sm..ukh.. dan a..ku..ga..bung di..ren..can..a di..a bu..at men..ghilan..gi..ka..mu.' lagi-lagi dia berhenti dan bilang 'Ai..ir.' Abhay nyuruh mereka buat ngasih dia air. Dia nelennya dalam hitungan detik seolah-olah dia kehausan selama bertahun-tahun.
'Ha..ri it..u aku.. sembun..yi di ba..lik ti..ang dan me..rekam vi..de..o itu.'
'Temen yang setia kamu. Ya udah, siapa peduli, enggak ada. Sekarang kayak anak baik, kasih tau aku detailnya di mana aku bisa dapet video itu.' Dia sendiri punya rekaman percakapan mereka. Dia orang yang pintar banget.
'Apa ka..mu a..kan mem..bun..uh a..ku ka..lau a..ku..ce..ri..ta..in de..ta..il..nya?' dia nanya tau dia enggak bakal biarin dia hidup, tapi kalau dia mati sekarang dia bakal ngerasa lega dari rasa sakit.
'Ya udah iya,' dia bilang bikin dia senyum. Hanya saja dia tau pikiran licik dan kejamnya.
Dia pelan-pelan ngasih tau detailnya saat tubuhnya sakit banget. Begitu selesai dia bilang 'Se..ka..rang to..lo..ng bu..n..uh a..ku.'
'Hmm anak buah mulai kerja dan jangan berhenti sampai aku panggil kamu, tapi jangan biarin dia mati.'
Denger itu dia ngerasa marah dan berteriak dengan suara yang patah 'Ka..mu.. ba..ngs..a..t ka..mu ka..mu bi..lang ka..mu a..kan bu..nuh a..ku ta..pi ta..pi ka..mu pen..ip..u' dia batuk.
'Aku bilang aku bakal bunuh kamu, tapi aku enggak pernah bilang kapan aku bakal bunuh kamu. Jadi nikmatin waktumu.'
Dia keluar dari penjara bawah tanah saat dia mau deket penjara bawah tanah, dia bisa denger suara teriakan yang makin pudar.
************************
Dia makan malam sama keluarganya. Orang tuanya seneng ngeliat dia baik-baik aja. Devika masih khawatir sama Abhi dan Mira walaupun dia udah ngobrol sama Mira pagi tadi. Bahkan Abhay juga nelpon dia.
Dia udah bilang ke mereka kalau dia dapet bukti buat buktiin dia enggak bersalah. Mereka seneng banget tentang itu dan Devika bener-bener bikin catatan gimana cara nyambut Mira di rumah ini lagi. Dia mandi dan pake baju. Dia keluar dari kamar mandi dan duduk di kasur. Itu kamar Mira. Tadi malam dia cuma di sini.
Dia ngambil foto dari laci dan ngeliat fotonya yang dia ambil pas dia lagi ngegambar di rumahnya di Kolkata.
'Sayang, aku bakal bawa kamu balik segera. Dan kali ini kalau kamu masih nolak aku setelah ngeliat bukti suamimu enggak bersalah, aku bakal gendong kamu di pundakku dan bawa kamu balik SAYANG. Dan kali ini kamu bakal ngeliat Abhay Maithali Adhiraj Singh Raizada yang sebenarnya.'
Dia meluk bingkai foto itu erat-erat.
'Segera balik sayang.' Dia bergumam pada dirinya sendiri.
Sebelum ketiduran dia inget kata-kata Choti ma-nya 'Ceritain ke dia yang sebenarnya. Tunjukin ke dia Abhay Maithali Adhiraj Singh Raizada yang sebenarnya.'
***************************************
***************************************