Pergi Bersama Teman-teman
'Choti ma, lihat aku, apa aku kelihatan oke?'
'Kamu kelihatan cantik. Hmm, gimana kalau kamu tanya Abhay?'
'Sebenarnya aku belum pernah keluar sama temen-temenku jadi aku agak bingung. Maksudku, nggak berlebihan kan? Apalagi kamu yang nyuruh aku pake baju kayak gini.'
'Nggak, Mira. Kamu cantik luar dalam. Sekarang telepon suami kamu sana. Aku kan udah tua, jadi mungkin pilihanku nggak pas buat jaman sekarang.'
'Nggak, Choti ma, pilihanmu keren banget. Oke, aku telepon dia deh, minta pendapatnya.'
'Nggak usah diem aja, biar aku foto kamu terus kirim ke dia ya?'
'Oke, Choti ma.' Devika foto Mrinal dan ngirim ke Abhay.
**********************
Abhay lagi ngobrol sama Vishal pas ada pesan masuk di hapenya. Dia senyum pas liat pesannya dari istrinya.
Vishal ngerti cuma dari liat wajahnya.
'Pasti dari Mira nih.'
'Iya, chote papa.' Dia buka pesannya dan satu kata keluar dari mulutnya.
'Gorgeous'
Emang bener dia keliatan gorgeous. Abhay natap foto cewek cantik di layar hpnya. Vishal pura-pura batuk buat nyadarin dia.
'Aku tau Abhi, anakku Mira cantik banget.'
'Aku tau, ISTRIKU cantik banget.'
'Menurutku kamu harus ajak dia jalan-jalan hari ini.'
'Dan menurutku kamu mau aku dibunuh sama istriku, Rima, dan Isha juga. Mereka udah semangat banget mau keluar bareng.'
Vishal ketawa denger komentarnya.
*****************************
Mrinal, Isha, dan Rima ada di dalem kafe. Dekorasi dalemnya keren abis. Mereka foto-foto. Rima udah ngirim beberapa fotonya ke Robin dan beberapa foto Mrinal ke Abhay.
'Bhaiya (kakak) Bhabi (kakak ipar) cantik banget,' Rima ngirim foto dengan captionnya. Itu foto candid yang sempurna.
'Aku tau. Makasih udah fotoin.'
'Sama-sama. Oke, bye.'
'Bye, Rima. Nikmatin waktunya ya.'
Mereka seneng-seneng seharian. Nonton film, terus makan siang, es krim juga ada. Akhirnya mereka pergi ke pantai Mumbai. Mrinal paling suka pantai.
Isha dan Rima nggak ngerasa beda sama dia. Nggak ada yang bisa bilang dia istri pengusaha yang masuk 10 besar pengusaha dunia. Dia nggak suka pamer. Yah, suaminya juga nggak, mertuanya juga nggak.
*****************************
'Mr. Singh Raizada, menurutku kamu harus tidur sekarang. Udah malem banget.'
'Kamu juga. Ayo.' Mereka jalan ke kamar masing-masing.
'Tapi aku nggak ngantuk nih. Gimana kalau hot chocolate?' kata Abhay.
'Kedengarannya enak banget. Oke,' Mrinal ngangguk setuju.
Abhay lagi bikin hot chocolate, Mrinal lagi duduk di meja dapur.
'Jadi kamu bisa masak?'
'Iya, aku bisa masak. Dulu aku sering masak sendiri pas di asrama.'
'Aku nggak tau, tapi itu keren.' dia cemberut.
'Gimana hari kamu? Maksudnya, kamu seneng banget hari ini kan?'
'Iya. Mereka beneran orang baik. Isha dan Rima temen deketku yang pertama.' Dia bilang jujur ke dia. Abhay seneng banget istrinya beneran nikmatin kehidupan kampusnya.
'Gimana persiapan buat semester?'
'Baik kok. Ngomong-ngomong, umm, boleh aku tanya sesuatu?'
'Iya, boleh banget.' Abhay ngasih secangkir hot chocolate.
'Robin orangnya baik kan? Maksudku, Rima dan Robin saling cinta. Jadi aku.. aku cuma, sebenernya aku nggak mau Rima sakit hati. Aku mau bilang, dia bakal bahagia sama Robin kan?'
'Oh, Mira BAYIKU. Aku seneng kamu dan Rima deket banget. Kamu punya adik perempuan dan dia punya kakak perempuan. Dan soal Robin, dia nggak bakal nyakitin dia, dan kalau dia nyakitin, dia tau aku banget. Tapi kalau itu urusan pribadi mereka, mereka bakal selesaiin masalahnya masing-masing.'
Kata-katanya emang bener. Mrinal ngerti kata-katanya.
'Kamu bener, Mr. Singh Raizada,' dia bilang sambil senyum.
'Oke, sekarang bilang ke aku, Mrs. Singh Raizada, kamu suka hot chocolatenya? Hmm?'
'Hmm, nggak, aku suka banget. Makasih udah bikinin.'
'Aww, sama-sama sayang.' Dia cubit hidungnya pelan. Mereka ngobrol beberapa saat, terus mutusin buat tidur. Abhay seperti biasa cium keningnya. Mrinal sekarang udah biasa sama semua gestur manis ini, bahkan dia suka.
****************************
Di Turin, Italia
'Maksud kamu Randeep udah mati?' Mohit Aggarwal teriak ke orang di telepon.
'Tuan, sebenarnya, sebenarnya...'
'Sebenarnya apa?' dia bentak.
'Sebenarnya kami nggak dapet informasi tentang dia. Jadi kami pikir dia udah mati.'
'Lebih baik kalau dia mati. Kalo nggak, dia bakal jadi masalah buat kita. Dan ya, Kami denger ada pengusaha baru yang mau kerja sama sama kita?'
'Oh iya, tuan. Dia terkenal banget. Namanya Mr. Singh Raizada. Tapi dia cuma mau tanda tangan kontrak kalau dia suka. Dan susah banget buat bikin dia terkesan.'
'Singh Raizada, aku pernah denger nama ini. Aku tau, tapi dari mana?'
'Apa dia orang yang kita kenal?'
'Tapi..'
'Tuan? Halo, tuan? Anda di sana?'
'Oh iya, iya, aku di sana. Lakuin satu hal, siap-siap buat kesepakatan baru.' Dia keluar dari pikirannya dan bilang.
Aku nggak yakin ada hubungannya sama kita. Mari kita siap buat tanda tangan kesepakatan. Dia bakal jadi kartu truf baru kita.
Dia nggak tau kalau SI IBLIS kembali. Tapi kali ini, semua udah siap.
************************************
Setelah kuliah, Mrinal telepon Abhay.
'Halo, umm, apa kamu mau jemput aku dari kampus?'
'Iya, iya, aku lagi di jalan. Ngomong-ngomong, aku bisa jemput kamu di GENDONGAN juga. Kamu tau kan BAYIKU.'
Mrinal sedikit salah tingkah, nggak mau Isha liat.
Nggak lama kemudian Abhay dateng dan mereka pergi lagi buat makan es krim. Dia suka banget makan es krim. Isha masih di sana sampai Abhay dateng jemput meskipun Mrinal nyuruh dia pulang ke asrama karena Abhay bakal segera dateng. Tapi dia tetep bareng Mrinal, dan Arun cuma agak jauh dari mereka.
Nggak lama kemudian mereka sampe di kedai es krim baru itu. Mrinal suka banget sama kedai es krim yang nyaman, kecil, dan sepi itu, makanya dia udah tiga kali ke sini. Abhay pertama kalinya liat dia segitu gilanya sama sesuatu.
Sebelum pelayan bisa kasih menu, dia pesen es krim favorit mereka berdua. Mrinal cuma pesen dua es krim buat mereka karena dia nggak mau kadar gula darah Abhay naik. Abhay suka banget liat wajah berantakannya pas makan es krim. Dia nahan diri buat nggak cium dia tanpa henti sambil liat dia makan es krim dengan cara yang paling imut dan menggemaskan. Mrinal melotot ke dia pas dia pesen satu wadah buat semua rasa es krim.
'Denger, cuma satu wadah buat Choti ma dan Chote papa. Nggak lebih. Aku tau maksudmu.'
'Tapi aku juga mau makan kan?' Dia kasih senyum termanisnya.
'Hmmm, oke deh, aku bikinin makanan manis baru buat kamu. Tapi nggak ada es krim lagi, ya?'
'Oke deh.'
Nggak lama kemudian mereka keluar dari kedai es krim. Di jalan pulang ke rumah, mereka ngobrol. Abhay selalu pengen gini, tapi sekarang Mrinal juga nikmatin.
Setelah sampe rumah, Mrinal pergi ke kamarnya dan Abhay ngikutin.
'Jadi, apa yang mau kamu siapin buat aku?'
'Aku udah bilang, itu kejutan. Sekarang, pergi ke kamarmu dan dateng buat makan malam tepat waktu.'
'Oke, tapi apa aku nggak boleh di sini?'
'Iya boleh banget,' Dia bilang tanpa mikir.
Mrinal pergi buat ambil bajunya, tapi berhenti pas denger suaranya.
'Kamu bakal keliatan lebih imut pake piyama imutmu.'
Dia kaget denger itu.
Dia deketin dia dan bilang, 'Aku tau kamu sering pake itu dulu.'
'Dulu aku sering pake kan?'
'Terus mulai pake lagi. Aku mau liat kamu pake piyama imut itu.'
'Tapi kok kamu bisa tau?' Itu pertanyaan buat mereka berdua. Dia nggak pernah pake piyama itu pas mereka di rumah.
'Aku punya caranya, SAYANG. Percaya deh, kamu keliatan cantik banget.'
'Oke, aku pikirin.'
*******************************
Mrinal bikin Sandesh bebas gula (Sandesh adalah makanan penutup, berasal dari wilayah Bengal di bagian timur anak benua India, dibuat dengan susu dan gula. Beberapa resep Sandesh memerlukan penggunaan chhena atau paneer sebagai pengganti susu itu sendiri.) buat dia. Dia taro di piring, terus nyuruh para pekerja buat nyajiinnya kalau dia minta.
Nggak lama kemudian mereka mulai makan malam. Yah, makan malam mereka nggak pernah sepi. Vishal harus bikin lelucon seperti biasa. Mrinal selalu heran dari mana dia dapet begitu banyak lelucon. Pas makan malam selesai, Mrinal nyuruh mereka nunggu dan nyuruh pekerja buat bawain buat mereka.
Pas mereka naruh piringnya di depan dia, Abhay teriak kegirangan 'SANDESH' (adalah makanan penutup, berasal dari wilayah Bengal di bagian timur anak benua India, dibuat dengan susu dan gula.)
'Iya, Abhi, Mira yang bikin buat kamu,' kata Devika
'Oh, Mira, makasih banyak,' Vishal bilang.
'Ini buat aku, bukan buat kamu. Kamu kan udah dapet es krim,' Abhi jawab sambil ngambil piringnya ke arah dia.
'Apa? Nggak. Ini buat kita, buat kita semua. Iya kan, Mira?'
Sebelum Mrinal bisa bilang sesuatu, Abhay bilang, 'Nggak, dia bilang ini buat aku. Jadi ini punya aku. Jangan kayak anak kecil, Chote papa.'
'Tapi aku juga mau. Kita bagi.'
'Mimpi aja, chote papa.'
'Nggak, kamu harus bagi.' 'Nggak, aku nggak mau.'
'Udah, kalian berdua berhenti.' Devika teriak. Mereka berdua naruh jari di bibir mereka kayak anak kecil.
'Kalian anak kecil ya? Nggak kan, ya udah, berhenti deh. Kita semua makan ini bareng-bareng. Mira bikin buat kita semua, itu juga setelah pulang dari kampus. Dan soal bagi, Vishal, dia bikin buat kita juga, tapi bukan yang ini. Tapi yang ini.' Dia sodorin piring lain yang isinya sandesh, tapi nggak bebas gula.
'Aww!! Baik banget sih anakku. Aku bisa punya punya sendiri. Makasih.'
'Aku juga. Dan makasih banyak bangettt.'
'Sekarang makan,' Devika bilang.
'Oke, Ma'am,' Mereka berdua bilang dan mulai makan.
'Mira, kamu juga makan, ya, beta. Mereka berdua gila makanan,' Devika bilang pas dia liat Mrinal ngeliatin para pria dunia bawah itu. Satunya RAJA MAFIA dan satunya lagi tangan kanan ayahnya.
Mereka semua muji Mrinal. Abhay hampir makan semua makanan manis bebas gula.
Malamnya, Mrinal nge-chat Abhay buat dateng ke kamarnya karena dia nggak mau jalan-jalan. Dia beneran capek setelah pulang dari kampus. Dia capek dan....
********************************************************
********************************************************