Rasa Sakitnya dan Air Matanya
Sebulan udah berlalu. Abhay dan Mrinal sekarang lumayan deket. Mrinal cerita semuanya ke dia, dan begitu juga Abhay. Yah, GAK SEMUANYA sih. Gak ada yang tahu sekejam apa dia bisa. Beberapa hari lalu mereka piknik, seneng-seneng deh.
Malam tadi, Devika datang ke kamar Mrinal buat ngasih tahu tentang besok, 'Hari paling menyakitkan dalam hidup mereka'. Dia cerita tentang puja yang bakal terjadi besok.
Devika: 'Mira beta, mau gak kamu ikut puja ini sama Abhi?'
'Iya, aku mau.' Jawabnya sepenuh hati.
**************************
Besoknya
Ada foto gede orang tuanya di depan aula. Ada karangan bunga gede dari bunga putih di foto mereka. Fotonya pas ulang tahun pernikahan mereka yang ke-10. Pendeta lagi siap-siap buat puja bareng Devika dan Mrinal. Yang lain bantuin mereka. Pas Devika nyuruh manggil Abhay, dia pergi buat manggil dia.
Abhay turun bareng Mrinal. Mereka semua pake baju putih. Suasana hening yang gak biasa di seluruh Singh Raizada Mansion. Mrinal ngerasain ini pertama kalinya. Bahkan Chote papa-nya yang paling ceria juga diem di sana.
Nggak lama, pendeta mulai ritualnya. Mrinal bisa lihat mata Abhay merah. Tapi kali ini gak ada marah, gak ada emosi, cuma sakit. Kayak anak umur 5 tahun yang nangis semalaman. Tiap tahun di hari ini, dia bakal keluar kamar cuma beberapa jam aja. Dia genggam tangan Devika erat banget. Mafia yang kejam ini gemeteran inget kematian orang tuanya yang kejam.
Nggak... Nggak, Mommy, Daddy, tolong... Jangan tinggalin aku... Tolong... NGGAK NGGAK NGGAK NGGAK NGGAK
Dia genggam lengan Devika erat kayak dulu waktu dia meluk kaki ibunya pas kecil. Devika nyuruh dia duduk di tempat puja. Mrinal duduk di sebelahnya. Begitu Mrinal ngerasa dia gemeteran, dia pegang tangannya. Abhay jadi tenang. Nggak lama, mereka juga ikut puja dan ritualnya.
Setelah puja selesai, pendeta pergi. Abhay pergi ke kamarnya tanpa bilang apa-apa. Devika dan Vishal pergi ke panti asuhan setelah ngasih tahu Mrinal, karena Mrinal mutusin buat nemenin dia.
******************
Di dalam mobil
Devika: 'Vishal, kenapa takdir kita sekejam itu hari itu? Kalo hari itu kita gak biarin mereka pergi, mereka bakal bareng kita.'
Suaranya pecah inget hari waktu mereka kehilangan segalanya. Rumah mereka, orang tua mereka, segalanya. Vishal ngusap punggungnya dengan lembut dan meluk dia, 'Aku nyesel banget seumur hidupku. Mereka adalah hal terbaik yang terjadi sama kita. Tapi kita gak bisa jagain mereka bareng kita. Tapi jangan khawatir, Abhay bakal segera nemuin nenek tua itu, sisanya pasti aman.'
'Aku harap Abhay baik-baik aja. Aku pengen dia bahagia sama Mrinal.'
'Aku juga pengen. Dan bukan cuma dia, tapi dia juga kan?'
'Iya, mereka berdua.'
Pasangan ini selalu ada di saat Abhay susah senang. Selain dua orang ini, dia gak pernah cerita apa-apa tentang hidupnya ke siapa pun. Mereka cuma pengen anak mereka dapat cinta, kedamaian, dan ketenangan. Walaupun dia mafia, tapi dia gak pernah nyakitin orang yang gak bersalah. Dia pantas dapetin cinta. Tapi, hubungan mereka belum kayak suami istri sampai sekarang.
**************************
Mrinal masuk ke kamar Abhay karena pintunya kebuka. Abhay berharap dia bakal datang. Dia masuk bawa segelas jus. Pas dia masuk, dia nemuin Abhay duduk di lantai sama beberapa barang. Itu adalah kenangan masa kecilnya. Ada kartu yang dia bikin buat ulang tahun mereka setelah mereka meninggal. Soalnya dia kehilangan semua kenangan itu karena rumah mereka kebakar. Setelah mereka meninggal, pas ulang tahun mereka, dia biasa bikin kartu dan ngucapin selamat ulang tahun ke mereka. Mrinal gak bisa nahan air matanya. Dari pagi dia ngelihat Singh Raizada Mansion yang beda. Gak sama kayak waktu dia masuk sebagai ratu rumah itu. Dia bahkan lihat para pekerja netesin air mata di pagi hari. Hampir semuanya adalah orang yang bisa dipercaya sama Ayah Abhay.
Mrinal diem-diem duduk di sampingnya dan ngelihat kartu-kartu itu. Kartunya bagus dan sederhana. Dia ambil salah satunya dan ngelihat kartu itu. Di akhir setiap kartu ada tulisan, 'Aku kangen Mommy, Daddy.'
Dia gak bisa nahan dirinya dan meluk Abhay. Abhay gak butuh waktu lama buat bales meluk dia, Mereka diem di pelukan masing-masing beberapa saat. Setelah beberapa saat, Mrinal ngelepas pelukannya dan megang wajahnya dengan kedua tangannya dan bilang, 'Jangan nangis, Mr. Singh Raizada. Mereka gak bakal seneng ngelihat kamu nangis.'
'Mereka... mereka bunuh Mommy, Daddy. Aku... aku gak bisa... gak bisa nyelametin... nyelametin mereka. Aku gak bisa.'
'Sst Mr. Singh Raizada. Kamu masih kecil. Itu bukan kendali kamu. Aku tahu gimana sakitnya kehilangan orang tua.' Dia ngusap punggungnya dengan lembut.
Emang dia tahu.
Abhay ngerasa tenang setelah beberapa saat. Mereka masih di posisi yang sama. Terus dia ngelepas pelukan dan ngasih dia jus. Setelah itu dia bawa makan siang mereka dan nyuapin dia. Gak nyangka, mereka berdua gak ngerasa canggung. Malah dia suka nyuapin dia sementara dia makan dengan senang. Pas dia selesai nyuapin dia, dia ambil sendok, ambil makanan, dan taruh di depan mulutnya. Dia gak protes tapi makan. Setelah selesai makan, mereka mulai lagi ngelihat semua barang-barang itu. Tiba-tiba Mrinal nanya, 'Umm... mau gak kita bikin kartu ucapan selamat ulang tahun pernikahan buat mereka? Mungkin mereka gak bareng kita secara fisik, tapi mereka selalu bareng kita kan? Jadi, yuk bikin buat hari ini.'
Abhay ngangguk dan mereka bikin kartu buatan tangan buat mereka. Setelah bikin, mereka taruh di depan foto yang ada di dalam kamarnya.
'Selamat Ulang Tahun Mommy, Daddy.'
'Selamat Ulang Tahun buat kalian Mommy, Daddy.' Mrinal cuma tahu kalau orang tua Abhay dibunuh pas ulang tahun pernikahan mereka, gak ada yang lain.
**************************************
**************************************