Bab 19 Rencana Populer
'Asal lo tau aja, Sagittarius Cantilever itu ada di wilayah kekuasaan Kekaisaran Sungai Bintang,' kata **Edward**, sambil naruh buku yang lagi dia pegang.
'Gue tau, tapi waktu itu kita udah nguasai Jembatan Bintang, kita bisa aja langsung ke sana,' kata **Elina** semangat.
'Kita liat aja,' nada **Edward** datar.
'Liat? Lo janji atau gue ikut misi ini,' kata **Elina**, muka kecilnya mulai merah, dia gak nyangka **Edward** bakal sedatar itu.
'Gue kan komandan tertinggi, gue bisa aja larang lo ikut,' kata **Edward** tanpa ngangkat mata.
'Kalo gitu gue cabut dari operasi ini, dan lo cari orang lain buat ngendaliin pendorong orbital!' kata **Elina** gak mau ngalah.
'Eh, eh, eh, oke, gue janji lo boleh ikut!' **Edward** keabisan akal dan akhirnya setuju.
Terus dia bilang, 'Emang kita mau ngapain sih ke sana? Apa bagusnya ngunjungin reruntuhan?'
'Buat nyari inspirasi biar bisa ngutak-ngatik peralatan gue, lah,' kata **Elina**.
'Ah, itu reruntuhan juga udah ada ratusan ribu tahun. Kekaisaran Sungai Bintang juga udah ngirim tim riset khusus buat neliti mereka ratusan kali, dan meskipun ada apa pun... udah lama dipake, apa yang bisa kita dapet sekarang dengan pergi ke sana?' **Edward** coba ngehindarin dia dari kelakuan yang berisiko dan gak guna ini.
'Kekaisaran udah neliti ilmiah lebih dari seratus kali, tapi mereka bahkan belum nemuin di mana pintunya,' **Elina** buka suara.
'Terus apa yang bikin lo mikir kita bakal dapet apa-apa dari sana?' **Edward** muter mata, dia mikir **Elina** lagi ngimpi.
'Karena gue udah mempelajari semua catatan ilmiah dari peneliti Kekaisaran, dan gue pikir ada beberapa metode yang belum dicoba.'
**Elina** lanjut, 'Fisika sekarang gak ada kemajuan selama berabad-abad, apa lo gak mau nyoba sesuatu yang spesial yang mungkin?'
**Edward** gak jawab apa-apa, tiba-tiba dia kepikiran bagus juga sih kalau ada yang bisa dikerjain, stagnasi teknologi selama berabad-abad perlahan-lahan menonaktifkan Kekaisaran Sungai Bintang, sesuatu yang gak pengen dia lihat terjadi di dalam Federasi.
Seminggu kemudian, di jembatan komando Gunslinger, **Laksamana Walter** ngomong ke **Edward**, 'Gue serahin semuanya ke lo! **Edward**.'
Waktu dia naik kapal di starport, dia nyadar kalau Gun Rider itu bukan kapal perang biasa, dia lebih ramping dari kapal bintang normal, dengan lambung yang mengalir, dan senjata utama kelas Nova punya desain tersembunyi, dengan menara semua ditarik ke dalam kapal waktu gak ada pertempuran.
Kapal bintang ini juga pake desain langka dua pulau di depan dan belakang, pulau depan bertanggung jawab buat memandu navigasi dan pertempuran kapal, sementara pulau belakang bertanggung jawab buat memimpin seluruh armada, di mana peralatan komando dan kendali serta sistem intelijen dipusatkan.
Sistem tenaga Rifleman juga unik.
Pake enam reaktor fusi terkontrol Imperial Star Circle 4, didistribusikan secara simetris di bagian belakang kapal, pasokan energi yang melimpah gak cuma bisa nyediain tiga kali lipat tenaga dari kapal skala besar rata-rata, tapi juga memungkinkan sistem senjata energi punya kecepatan tembak yang lebih cepat dan kontinuitas yang lebih lama.
**Edward** hormat dan jalan ke konsol dan ngomong, 'Federasi Bebas sekarang lagi ngadepin ujian hidup dan mati.
Kalo kita gak bisa ngambil Andre Star Fort, maka gak bakal ada kedamaian di dalam medan bintang Federasi, dan aliran kapal bintang Kekaisaran yang stabil bakal nyebrang jembatan bintang sampai kita benar-benar kewalahan.
Pertempuran ini! Cuma dengan berhasil, kita bisa lepas sepenuhnya tali di leher kita, gue harap semua komandan di semua tingkatan bakal mengerahkan segalanya! Semua komandan dengarkan perintah, Operasi Meteor, operasi dimulai!'
Dengan perintah **Edward**, **Elina** ngomong, 'Pendorong orbital nyala.'
Waktu dia ngasih perintah, sinyal langsung nyampe ke berbagai unit propulsi Bintang Menil lewat ruang hiperspace, dan pendorong raksasa yang kayak mata itu memancarkan cahaya biru yang terang dan halus, kayak bintang raksasa udah ngebuka enam matanya.
**Edward** liat layar tampilan waktu Bintang Menil lepas dari jalur orbit elipsnya dan melengkung ke arah Benteng Bintang Andre.
'Laporan pertempuran depan, armada utama kita lagi berantem sama armada utama Kekaisaran di deket sektor Essoda.'
'Koreksi orbit Bintang Menil selesai, mulai percepatan, delapan belas menit sampai tumbukan.'
'Semua baik-baik aja sama pengangkut pasukan, sekarang lagi ngejaga jarak dua puluh kilometer dari Bintang Menil.'
'Sesuai rencana, minta sebagian armada nerobos jangkauan senjata benteng buat nyoba ngejerat musuh,' **Edward** buka suara.
'Bagian depan armada yang nerobos dihancurin, musuh ngaktifin meriam benteng mereka dan ngehancurin lebih dari selusin pesawat tempur kita cuma dengan satu serangan!'
'Bintang Menil ditangkep radar Benteng Andre.'
'Oke, ini dia acara utamanya,' kata jenderal sambil ngepalin tangannya.
Hanya untuk liat awan debu besar tiba-tiba naik dari depan Bintang Menil di monitor, ngegambarin garis besar puluhan kilometer lebar sinar laser Meriam Benteng.
'Bintang Menil kena langsung, kerusakan ada di dalam rentang yang diharapkan.'
Bintang Menil nyeret sabuk debu yang pecah waktu dia terus menuju sasaran.
Beberapa Meriam Benteng lagi terus ngehantam dia, dan untuk sesaat Bintang Menil jadi neraka, waktu sinar laser energi tinggi Meriam Benteng yang lebarnya puluhan kilometer melelehkan sebagian permukaannya, diikuti ledakan dahsyat.
Batu dan puing yang meleleh di depan bintang dibuang ke ruang dingin oleh ledakan dahsyat, dan kemudian perlahan-lahan melambat dan mendingin, ninggalin aliran material bintang di langit berbintang.
Meski begitu, dia masih ngejaga percepatannya, kayak banteng brutal, ngebut terus.
'Kapal penjelajah Kekaisaran terlihat, beberapa unit.'
**Edward** kaget dan sibuk nanya, 'Sebesar apa armadanya?'
'Cuma beberapa kapal penjelajah yang tersebar, sekitar tiga.'
**Edward** mikir sebentar dan bilang, 'Perpendek jarak antara semua transportasi dan Bintang Menil jadi sepuluh kilometer, sembunyi di balik aliran materi Bintang Menil yang tersebar jangan sampe kedeteksi, dan nempel lebih deket kalo bisa!'
'Begitu kita ketahuan, lima ribu personel operasi khusus bakal jadi target hidup,' **Elina** buka suara.
'Masuk jangkauan senjata utama kelas bintang baru Fort Andre.'
'Pendorong full speed! Makin cepet makin bagus!' **Edward** ngomong.
'Pengangkut 4 lapor, kita udah dikunci sama sistem senjata musuh dan lagi manuver dalam lingkaran kecil buat ngindarin mereka!'
**Edward** bilang, 'Kalian harus deket sama Bintang Menil, sekarang bukan waktunya buat ngomongin manuver aman!'
'Pengangkut 4 lapor kalau mereka gak kena kita, Bintang Menil kepental dari aliran materi yang ngeblokir meriam energi.'
Bintang Menil udah ngelewatin serangan putaran lain, sisi bintang udah sebagian besar terkelupas waktu senjata utama tingkat planet udah ikut serta dalam serangan, bintang yang retak dan berlubang punya lava ngalir bebas di atasnya.
Di ruang angkasa Bintang Menil nyeret aliran material yang panjangnya jutaan kilometer, kayak kesatria yang marah, ngebut terus ke arah sasarannya.
Di kapal penjelajah Tilapia, **Alphonse** lagi minum kopi di kursi komando, dengerin laporan pertempuran yang masuk lewat kom, dan bilang, 'Itu ngejar mereka sampe jangkauan senjata benteng, para komandan Federasi itu entah gila atau bodoh.'
**Jan** bilang, 'Iya, ngehancurin lebih dari sepuluh kapal perang antarbintang dalam satu serangan, indeks daya tembak Meriam Benteng bener-bener mengerikan.'
'Gimana respons secara langsung terhadap laporan anomali orbital dari Bintang Menil, Benteng Bintang Andre?' tanya **Alphonse**.
'Komandan Andre Starfort gak khawatir, ngaku kalaupun mereka kena starfort itu cuma bakal ninggalin lubang kecil,' kata **Jan**, duduk di samping **Alphonse**, kedua tangan disalin bersama, jempol terus diputer-puter saling liat bosen.
'Ugh, terlalu percaya diri sama daya tembak lo bisa jadi masalah! Ayo deketan dan liat,' kata **Edward**, merintah dua kapal penjelajah di deketnya buat deketan.
'Lo mikir orang gede itu bisa nahan tembakan berat Andre?' **Jan** nunjuk planet Menil, yang udah keluar dari orbit di peta bintang.
'Gue gak tau, gue gak tau apa-apa soal daya tembak benteng, yang gue tau kalau bentengnya ilang, hari-hari indah Kekaisaran Sungai Bintang udah selesai,' kata **Edward** lagi ngerjain sesuatu di pengontrol.
'Jangan ngomong omong kosong **Alphonse**, apa lo gak takut sama geng Pengawal?' kata **Jan** sambil tetep liat-liat, liat gak ada tatapan curiga dia nyerah.
'Aduh, kenyataannya adalah, titik poros rencana pertempuran Kekaisaran adalah Andre Star Fort, tanpa titik poros strategis ini, gak ada cara buat ngomongin menjebak Federasi, serangan jangka panjang dan sebagainya,' kata **Alphonse**.
'Apa gunanya? Paling buruk yang bisa terjadi adalah kita kehilangan Andre Star Fort, kita mundur ke bagian lain jembatan bintang dan bangun star fort lain,' kata **Jan**, ngambil kopinya dan minum.
'Lo! Jangan sampe masuk ke kebiasaan buruk nyaman kayak gini, kehilangan Star Fortress bakal nyebabin tiga masalah.'
**Alphonse** ngangkat tiga jari dan bilang, 'Pertama, begitu star fort hilang, armada besar bakal kehilangan pasokan dan kehilangan jalan balik, bisa dibilang udah mati, cuma masalah waktu;
Kedua Andre Star Fortress beda dari Essoda Star Fortress Federasi yang bakal datang, itu produk era pra-kekaisaran dulu, katakanlah Meriam Benteng itu, Kekaisaran udah lama gak bisa bangun;
Ketiga, ngebiarin kekuatan Federasi ngalir ke pedalaman Kekaisaran kita, apa lo gak takut kalau mereka bakal ngacauin setiap planet dengan tentara perlawanan?' **Yang** garuk kepala dan bilang, 'Star Fortress gak bakal hilang, orang gede itu kemungkinan bakal hancur di tengah ledakan, **Alphonse**, lo terlalu gugup.'