Bab 3 Pelatihan
“Aduh, senior. Gue cuma orang pinggiran di markas resimen. Kita semua yang pindahan dari Tentara Kekaisaran, ibarat duri dalam daging buat pasukan lokal.” Dia salaman sama Alphonse, terus meluk akrab.
“Iya nih. Gue baru balik dari si Mayor di Resimen Lynx.” Sambil ngomong gitu, Alphonse ngeluarin rokok dan nyodorin.
“Baru aja ada laporan pertempuran dari garis depan. Si Mayor, komandan Resimen Lynx, kena tembak sniper pasukan pemberontak, mati.” Yang ngambil rokoknya, nyalain, terus ngehisap.
“Cepet banget? Terus sekarang siapa yang komando?”
Alphonse nyuruh Yang duduk, terus ngeluarin alat peraga peta pertempuran dan nyalain.
“Wakil komandan yang ambil alih. Dia nyuruh pasukan buat jalanin rencana awal. Sekarang mereka ada di posisi ini.” Yang nunjuk ke peta.
“Mereka ngehapus mobilitas Resimen Battle Bear, tapi nggak pake cara yang sama buat ngehapus mobilitas Resimen Lynx.
Kedua pasukan ini jauh banget. Kalo pasukan pemberontak mau habisin Resimen Lynx, Resimen Battle Bear nggak bakal sempat nyelametin mereka.
Tapi kenapa gerakan pasukan pemberontak nggak kedeteksi di kapal luar angkasa?”
Alphonse mikir keras, abu rokoknya jatuh ke tanah.
Yang tau kebiasaan mikir seniornya. Dia nggak ngomong apa-apa, cuma nyodorin asbak lebih deket ke dia.
Seniornya ini terkenal di akademi militer. Dia ngalahin senior-senior di kelas tiga pas simulasi pertempuran final tahun pertama.
Dua tahun berikutnya, dia nunjukin bakat militernya yang luar biasa dan terus bikin rekor di pertempuran kelas strategi.
Bahkan seorang Jenderal tua ikut turun tangan buat bertempur. Katanya, mereka berdua imbang di meja pasir. Akhirnya, dia sengaja bikin celah dan ngalah buat ngejaga muka sang jenderal.
“Sialan! Aipida dalam bahaya nih. Kita punya berapa banyak yang jagain di sini?”
Alphonse bilang, ngegedein peta, terus mulai nandain dan ngitung jarak. Rilda ada di selatan Aipida, dan starport ada di utara Aipida. Dia tiba-tiba ngerti.
“Cuma satu resimen.” Yang matiin puntung rokok di asbak.
“Pasukan pemberontak ngehapus mobilitas Resimen Battle Bear buat ngehalangin mereka ngebantu Resimen Lynx.
Mereka biarin mobilitas Resimen Lynx karena mereka butuh kendaraan angkut pasukan Kekaisaran buat nyebar pasukan. Sekarang, Resimen Lynx pasti udah masuk jebakan.”
Alphonse bilang dan ngelempar alat peraga peta pertempuran ke meja, nunjuk ke Yang: “Rilda ada di selatan jauh, dan Aipida ada di utara.
Awalnya, dua resimen itu harusnya maju barengan di sisi timur dan barat. Sekarang Resimen Battle Bear di timur udah kehilangan mobilitasnya, dan Resimen Lynx di barat udah maju sendiri. Kalo Resimen Lynx kena jebakan, Resimen Battle Bear nggak bakal bisa nyelametin.”
“Terus kenapa nggak pasang jebakan di dua sisi?” Yang berdiri.
“Karena nggak cukup pasukan. Gue kira, pasukan pemberontak punya sekitar lima ribu orang.” Alphonse ngucek-ngucek pelipisnya.
“Banyak banget dari yang diperkirakan markas besar.” Kata Yang.
“Rencana pertempuran lengkapnya harusnya gini. Setelah mereka habisin Resimen Lynx dengan kekuatan yang lebih besar dari Resimen Lynx, mereka bakal pake kendaraan angkut pasukan Kekaisaran yang berhasil direbut buat manuvra sebagian pasukan ke belakang Resimen Battle Bear, terus kerja sama sama pasukan yang tersisa buat nyerang dari depan dan belakang. Dengan cara ini, Resimen Battle Bear juga bakal kena.”
Alphonse ngetuk-ngetuk meja dan bilang.
“Mereka dapet senjata dan amunisi sebanyak itu dari mana?” kata Yang, terus komunikator di pergelangan tangannya bunyi.
“Mayor Yang, laporan pertempuran dari Resimen Lynx udah masuk dari depan.”
“Lanjut.” Yang matiin rokok yang baru dinyalain dan bilang.
“Resimen Lynx kena jebakan sama pasukan pemberontak dalam jumlah besar, tujuh puluh kilometer dari Rilda. Korban banyak, dan sisa pasukan semua nyerah.”
Yang matiin komunikator dan diem-dieman ngeliatin dia.
“Nggak cukup senjata nih?” Alphonse bilang dan nyodorin peta pertempuran.
“Liat, mereka bakal berhenti setelah habisin Resimen Battle Bear yang nggak bergerak?” Alphonse nunjuk titik merah yang ditandain berulang kali di peta.
“Kalo garis ini hilang, bisa fatal. Mending gue balik ke markas resimen dan laporin.” Yang ngelap keringat di dahinya.
“Gue rasa mereka nggak bakal dengerin. Yang paling penting sekarang, mundur ke kapal. Dengan para bangsawan ini, Aipida pasti kalah.”
Alphonse selesai ngomong dan bengong ngeliatin keluar jendela, ke arah awan gelap yang bergulung-gulung.
Dan di sini Edward naik motor terbangnya lewat area pertempuran yang baru selesai, terus berhenti di depan deretan tenda. Dia turun dari motor, tepuk-tepuk pasir di badannya, dan jalan ke arah tenda yang paling gede.
Masuk ke tenda, Edward berdiri tegak dan hormat.
“Jenderal Barr! Operasi Khusus A19, Edward Eric, lapor siap tugas!”
“Aduh, santai aja. Nggak ada orang lain di sini.” Jenderal Barr ngibasin tangannya.
“Dad, tadi aku liat orang yang mirip banget sama aku, punya dua bintang di bahunya.” Edward bilang terus lari ke lemari buat nyari makanan.
Jenderal Barr, yang lagi nandain peta, berhenti megang pensilnya dan bilang pelan, “Orang ini mungkin kembaran kamu.”
Edward berhenti nyobek daging kering.
Dia bilang, “Kembaran? Aku punya saudara? Kenapa nggak bilang dari dulu? Hampir aja tadi aku tembak saudaraku.”
Pertanyaan bertubi-tubi ini bikin Barr kaget.
Dia bilang, “Kamu nggak pernah nanya! Aku udah bilang dari dulu kamu anak angkat. Kamu udah dua puluh tahun, dan kamu belum nanya siapa orang tua kandungmu. Kamu kira ayah angkat yang harus ngungkit hal kayak gitu duluan?”
Terus dia ngebenerin diri dan jalan ke kotak peralatan militer buat nyari sesuatu.
Edward diem seribu bahasa. Bener juga, ayah angkatnya nggak pernah nyembunyiin latar belakangnya dari dia.
Dulu, ayah angkatnya maksa dia, yang waktu itu baru sepuluh tahun, buat baca buku sejarah strategi yang susah.
Kalo ada waktu luang, dia dipaksa buat latihan taktik di meja pasir. Dia bahkan nyuruh instruktur khusus buat ngasih pelatihan taktik satu lawan satu buat dia. Dia nggak pernah diabaikan dalam pengasuhannya, cuma gara-gara dia anak angkat.
“Nih, ini dokumen kelahiran dari rumah sakit tempat kamu ditemukan. Mereka mundur terlalu cepet. Kamu mungkin ketinggalan, bukan dibuang.”
Jenderal Barr bilang dan nyerahin dokumen dalam kantong yang disegel.
Edward ngerasa malu sama ketergesa-gesaannya tadi. Ayah angkatnya selalu bawa dokumen ini, nunggu hari ini.
“Kak Edward! Peluru informasi yang baru dikonfigurasi berfungsi dengan baik?” Elina ngangkat tirai tenda dan masuk.
Dia noleh dan ngeliat itu adiknya, Elina.
Beda banget sama dia yang suka baca, cewek ini udah tomboi sejak kecil dan suka ngebongkar barang.
Ngedenger dia nggak bisa ngontrol dia, ayah angkatnya cuma nyerahin dia ke orang-orang di departemen penelitian buat diurus. Lama-lama, cewek kecil ini beneran bikin beberapa hal yang punya nilai tempur praktis.
“Berfungsinya agak terlalu bagus. Hal yang bener-bener gede muncul kali ini.” Edward ngelipet dokumen jadi dua dan buru-buru masukin ke saku.
“Elina, keluar dulu sebentar. Aku mau kasih tugas tempur ke Operasi Khusus A19.” Jenderal Barr ngelarang putrinya sok manja.
“Hmph!” Elina noleh dengan marah dan keluar dari tenda.
“Edward, kali ini kamu pergi ke posisi ini.” Jenderal Barr nunjuk titik merah yang ditandain berulang kali di peta.
Terus dia lanjut, “Potong jalur suplai antara Aipida dan starport. Ingat, cuma keluar, nggak ada masuk. Setelah hancurin kendaraan angkut, tandain di peta taktis dan kasih tau departemen logistik buat bersihin medan pertempuran.
Juga, kamu harus pertahanin posisi kamu di area ini sampai pasukan utama kita habisin Resimen Battle Bear Kekaisaran, terus berbaris ke utara buat ketemu sama kamu. Mungkin tiga hari.”
Edward nyumpel daging kering ke mulutnya dan bilang, “Gimana kalo kapal luar angkasa ngirim marinir buat nge-reinforce Aipida?”
“Gue nggak berharap hal itu terjadi. Kekaisaran nggak bakal dukung gubernur Dossas Star lagi.” Jenderal Barr bilang dan megangin tangan Edward yang masih nyumpel daging kering ke mulutnya.
“Gue tau kamu nggak suka politik, tapi kamu harus belajar, meskipun kamu nggak suka. Kamu bakal gantiin posisi gue di masa depan.”
“Biar Elina aja yang lakuin. Aku nggak mau.” Edward bilang dan nyoba lepasin diri dari tangan sang jenderal, tapi dia ngerasain kekuatan yang kuat di tangan sang jenderal. Dia ngeliat ke atas ke jenderal dan ketemu mata yang tegas dan sedih dari orang lain.
“Aku bakal lakuin yang terbaik. Jangan liatin aku kayak gitu. Aku nggak biasa.” Dia lanjut.
“Bocah, serius dikit. Apa yang salah sama Elina?” sang jenderal ngelepasin Edward.
“Gue rasa nggak ada yang salah sama Elina. Cuma gue ngerasa masih muda…” Dia bilang nggak tulus. Siapa yang nggak suka sama Elina yang masih muda dan cantik?
Tapi perang di Dossas Star kayaknya nggak bakal berakhir dalam waktu dekat. Bahkan kalo rencana ini berhasil dan Dossas jadi merdeka, armada Kekaisaran di wilayah bintang sekitarnya pasti bakal bikin masalah lagi. Dia nggak mau bareng Elina pas perang.
Sang jenderal ngibasin tangannya buat motong pembicaraan dia dan bilang, “Udah, udah, udah. Cepetan lakuin misi.”
Edward lari keluar dari tenda seolah kabur. Dia belum jalan dua langkah, Elina udah narik tangannya.
“Kak Edward, kamu mau ke mana buat misi ini?” Elina nanya.
Suara yang terlalu manis itu bikin Edward ngerasa kayak kepalanya mau meledak. Dia bilang, “Oh, ini rahasia tempur.”
“Ajak aku. Aku juga udah ikut latihan tempur!” Elina nempel ke dia lebih erat kayak ular.
Tiba-tiba, dia berdiri tegak dan hormat, teriak, “Jenderal Barr, selamat pagi!”
Manfaatin momen pas tangannya kendor, Edward narik tangannya dan noleh buat lari. Di belakangnya, ada serangkaian umpatan dari Elina.