39
New York, Sebastian
Mansion baruku di New York melebihi ekspektasi terliarku. Itu adalah tempat tinggal yang megah dan mewah yang memancarkan keanggunan dan pesona di setiap kesempatan. Properti yang luas itu menawarkan arsitektur yang indah, kamar-kamar yang luas, dan halaman belakang yang terasa seperti oasis pribadi.
Saat aku berdiri di depan cermin, merapikan dasiku dan menyisir rambutku, pikiranku melayang ke Mia. Hari ini adalah hari penting baginya karena dia ada jadwal USG kedua. Sayangnya, aku tidak bisa hadir karena ada rapat kerja yang sudah dijadwalkan berminggu-minggu sebelumnya. Tapi, aku sudah janji bakal mendarat di New York malamnya dan ngajak dia makan malam spesial buat ngerayain.
Beberapa hari lalu, Mia cerita ke aku tentang telpon dari Ayah yang nyakitin banget. Sakit di suaranya kelihatan banget waktu dia cerita masa kecilnya yang susah dan fakta kalau Ayahnya gak sayang dia. Itu kayak wahyu yang bikin aku kaget banget, dan aku gak bisa bayangin gimana bisa ada orang yang tega sama anaknya sendiri.
Dengan satu kali lagi ngerapihin dasi, aku keluar kamar tidur, siap buat ke apartemen Mia. Hari ini, aku mutusin buat nyetir sendiri, biar bisa nikmatin pemandangan Kota New York.
Pas aku keluar, udara malam yang dingin nyambut aku, dan aku jalan ke arah mobil yang udah nunggu di jalan masuk. Perjalanan ke apartemen Mia menyenangkan, dan aku gak bisa berhenti ngagumin energi kota yang sibuk.
Waktu aku sampe di gedung apartemennya, aku parkir mobil dan jalan ke pintunya. Aku ngetuk, dan Bella, temen deket Mia yang juga tempat curhat, nyambut aku.
"Selamat malam, Tuan Thornton," Bella nyambut aku sambil senyum ramah sebelum manggil Mia, "Nyonya Thornton, calon bapaknya ada di sini!"
Aku nahan ketawa pas denger pengumuman Bella yang lucu. Dia punya cara buat nambahin bumbu humor di setiap situasi, dan aku hargain banget kehadirannya di hidup Mia. Dukungan dan persahabatan Bella berarti banget buat Mia, dan juga buat aku.
Beberapa saat kemudian, pintu kebuka, dan Mia muncul dengan senyum yang berseri-seri. Ngeliat dia bikin aku ngerasa seneng dan gak sabar. "Sebastian," dia nyambut aku sambil senyum sayang, matanya berbinar-binar bahagia.
Aku gak bisa gak bales senyumnya, ngeliat dia selalu bikin hatiku hangat. "Mia," jawabku, suaraku penuh kasih sayang, "gimana appointment-nya?"
Senyum Mia makin lebar waktu dia maju mendekat, ngebiarin aku meluk dia erat. "Keren banget," serunya, suaranya penuh semangat. "Kita bisa ngeliat bayi kita lagi, dan semuanya keliatan sempurna."
Aku ngerasa bahagia dan lega banget pas denger kata-katanya. Tau kalau bayi kita sehat dan berkembang itu sumber kenyamanan dan kebahagiaan yang luar biasa. "Aku seneng banget denger itu," bisikku, nyium kening Mia lembut.
Bella, yang selalu peka sama emosi kita, nimbrung dengan humornya. "Wah, kalian berdua emang pasangan yang sempurna banget, ya?" godanya, matanya berkedip nakal.
Mia cekikikan, ngejauh dari pelukan kita tapi tetep gandengan tangan. "Iya," jawabnya, tatapannya penuh kasih sayang waktu dia ngeliat aku.
Waktu kita jalan balik ke mobil, Mia cerita detail tentang appointment USG, ngebagiin setiap momen senang dan semangatnya. Denger dia ngomong dengan antusiasme tentang keluarga kita yang makin besar bikin aku ngerasa puas yang gak bisa dijelasin.
Waktu kita nyetir ke restoran buat makan malam perayaan, lampu malam Kota New York berkilauan di sekitar kita. Aku gak bisa gak mikirin gimana hidup kita berubah, gimana Mia dan anak kita yang belum lahir udah bawa rasa cinta dan tujuan yang luar biasa ke dunia aku.
Malam itu udah makin elegan waktu Mia dan aku sampe di Restaurant Daniel, salah satu tempat makan paling bagus di Kota New York. Aku nyerahin kunci ke tukang parkir, dan waktu kita keluar dari mobil, aku genggam tangan Mia, siap buat ngelewatin malam yang tak terlupakan bersama.
Udah pesen jauh-jauh hari, aku dengan percaya diri nyamperin meja resepsionis. Maitre d' langsung kenal namaku, bukti dari reputasi yang udah mendahului aku. Dengan anggukan sopan, dia nuntun kita ke meja kita, yang posisinya strategis di bawah lampu gantung yang bikin silau, memancarkan cahaya hangat dan romantis.
Mia, pake gaun warna champagne yang anggun nunjukin punggungnya yang terbuka dan ada belahan tinggi yang berani, keliatan cantik banget. Rambutnya ditata elegan dengan sanggul rapi, manambah kecantikannya yang alami. Semua mata di ruangan kayaknya ngeliatin dia, tapi malam ini, dia punya aku buat dikagumi.
Waktu kita duduk, pelayan dateng bawa sebotol champagne dingin, tangannya yang udah terlatih menuang cairan yang berbusa itu ke gelas kristal kita. Gelembung keemasan menari ke atas, dan aku gak bisa gak senyum sama janji malam spesial.
Tapi, kejutan belum selesai. Dengan sedikit deg-degan, aku masukin tangan ke saku dan ngambil kotak beludru kecil. Itu adalah momen yang udah aku tunggu-tunggu, momen buat benerin kelalaian sebelumnya.
Mata Mia melebar penasaran waktu kotak itu diletakkan di meja di depannya. "Apa ini?" tanyanya, tatapannya berpindah antara aku dan kotak itu.
"Buka," desakku, suaraku penuh kehangatan dan semangat.
Mia dengan hati-hati ngangkat tutup kotak, dan waktu matanya ngeliat isinya, napasnya tercekat. "Ya Tuhan," desahnya, suaranya ada rasa kagumnya, "ini sama kayak yang aku liat di Tiffany's. Cantik banget."
Di dalem kotak ada cincin tunangan berlian yang memukau, kilauannya cuma bisa ditandingi sama kilauan di mata Mia. Cincin itu adalah karya seni yang luar biasa, bukti keinginanku buat menebus kesederhanaan cincin kawin kita, yang waktu itu gak direncanain dan buru-buru.
Aku gak bisa gak senyum waktu aku ngeliat Mia ngagumin cincin itu, jarinya dengan lembut nyentuh permata yang berkilauan. "Aku liat kamu ngeliatin itu hari itu di Los Angeles," aku ngaku, suaraku lembut dan penuh kasih sayang. "Aku mau mastiin kamu punya cincin impianmu."
Mata Mia ketemu mata aku, berbinar-binar dengan rasa syukur dan cinta. "Sebastian, ini sempurna," bisiknya, suaranya penuh emosi.
Aku meraih tangan Mia, dan dengan lembut nyelipin cincin itu ke jarinya. Saat cincin itu menyentuh tangannya, seolah-olah hidup, mencerminkan cinta dan janji yang ada di antara kita.