61
New York, Sebastian
Kemarahan yang menggebu-gebu di pembuluh darahku, nggak kayak apa pun yang pernah gue rasain. Tangan gue mengepal kuat, terus gue banting bukti sialan itu ke meja di depan gue, wujud fisik dari amarah yang nge-vibe di gue.
"Jangan bilang ini bener, Patrick!" desis gue, gigi bergemeletuk, suara gue nggak percaya. "Ibu kita?!"
Patrick menghela napas berat, kelelahan yang sama kelihatan di ekspresi wajahnya. "Persis kayak gitu, bro, perasaan gue waktu tau."
Penyingkapan itu hampir nggak sanggup gue terima. Gue bisa aja ngarepin tipu daya licik kayak gini dari Gavin, mantan suami licik Mia, tapi kenyataan bahwa Ibu Sebastian, Elena, punya peran dalam ngatur kampanye pelecehan ini bikin gue goyah. Dia udah ngerawat gue, peduli sama gue, dan, yang paling penting, seharusnya ngejaga gue.
Jantung gue berdebar nggak karuan di dada, dan yang gue lihat cuma merah—kabut amarah dan nggak percaya yang ngeblur pikiran gue. Gue ngerasa kayak dunia gue jungkir balik, dan pengkhianatan yang gue rasain lebih dalem dari apa pun yang pernah gue rasain. Mikirin aja Ibu Sebastian mampu ngelakuin kejahatan kayak gitu udah hampir nggak sanggup gue terima.
Mia, selalu jadi penenang, nyoba nenangin saraf gue yang kusut, tangannya pelan-pelan ada di lengan gue. Tapi pikiran gue lagi badai emosi, dan saat itu, gue nggak pengen ditenangin. Yang gue mau cuma jalan keluar buat amarah yang membara di dalam diri gue.
Rungan kayaknya makin menyempit di sekitar kita saat emosi gue kayaknya mau nggak terkendali. Penyingkapan Patrick udah ngebongkar jaring kebohongan yang udah ngejerat kita semua, dan kenyataan situasinya bikin kaget. Hampir nggak sanggup gue terima, dan keterlibatan Ibu Sebastian dalam siksaan yang kita alami itu pil pahit yang harus gue telan.
Gue bangkit dari kursi, amarah gue ngebuat gue bertindak, dan gue mulai mondar-mandir. Tinju gue yang mengepal gemetar karena intensitas emosi gue, dan gue merasa mau nge-breakdown. Sadar bahwa Ibu Sebastian punya peran dalam penderitaan cewek yang gue cintai dan potensi bahaya buat anak yang belum lahir itu adalah pengkhianatan yang ngebuat gue hancur.
"Gue nggak percaya ini," gumam gue lirih, suara gue tegang. "Ibu gue sendiri… Gimana bisa?"
Pikiran gue badai pusaran kebingungan dan amarah, dan gue ngerasa nggak bisa percaya sama siapa pun lagi. Penyingkapan bahwa Ibu Sebastian terlibat dalam siksaan yang kita alami udah ngeguncang gue sampai ke inti. Saat gue bergulat dengan kebenaran yang mengejutkan, gue merasa tersesat dalam kabut nggak percaya.
Kakak gue Patrick nyoba nenangin gue, dan penampilannya yang kelihatan tenang malah ngebuat frustrasi gue makin parah. "Kok lo bisa setenang itu sih?" tanya gue, suara gue nggak percaya.
"Gue udah ngungkapin amarah gue sebelum lo dateng," jelas Patrick, nada bicaranya terukur. "Makanya gue nggak bisa ngasih tau lo lewat telepon. Gue tau lo bakal bereaksi keras, dan kita nggak mau reaksi ini ketahuan sama paparazzi."
Gue nyoba narik napas dalam-dalam, tapi emosi gue kayak badai yang nggak berhenti-berhenti di dalam diri gue. Yang gue lihat cuma merah, dan pikiran gue dipenuhi amarah, pengkhianatan, dan keinginan buat keadilan.
"Tenang, Sebastian," suara Mia yang menenangkan menembus gejolak, dan kehadirannya ngasih penyelamat di badai emosi gue. Dia satu-satunya yang bisa gue pegang, orang yang bisa ngebuat badai di dalam diri gue reda.
"Tangkep mereka," bisik gue, suara gue gemetar karena marah. Gue nggak bisa bayangin ngebiarin Gavin, mantan suami Mia yang pengkhianat, dan Elena, Ibu Sebastian gue sendiri, lolos dari pertanggungjawaban atas rasa sakit dan penderitaan yang mereka timbulkan buat kita.
Patrick mendekat ke gue, matanya tertuju ke mata gue. "Apa, bro?" tanyanya, seolah minta konfirmasi.
"Tangkep mereka!" teriak gue, suara gue menggema karena tekad. Satu-satunya cara buat nutup mimpi buruk ini adalah ngeyakinin bahwa mereka yang bertanggung jawab ngadepin konsekuensi dari tindakan mereka.
Bahkan kalau yang bertanggung jawab itu orang yang ngelahirin gue.