59
Los Angeles, Sebastian
Di meja kerjaku di kantor Los Angeles, gue baru aja dapat kabar baik dari Mia kalau tes darahnya lancar. Lega banget, dan gue ngerasa tenang pas selesai telepon.
Tapi, ketenangan gue langsung buyar waktu asisten gue masuk ruang rapat buat ngasih tau kalau Ayah lagi nungguin gue di kantor. Dengan rapat lain yang udah dijadwal mulai kurang dari lima belas menit lagi, gue harap obrolan ini gak bakal lama. Gue jalan ke kantor, di mana Ayah udah duduk sabar, dan gue nyapa dia sambil ngangguk.
"Ayah," gue nyahut, terus duduk di belakang meja dan ngasih isyarat biar dia mulai. Gue gak yakin mau dibawa ke mana obrolan ini.
"Ayah tau kamu sekarang udah nikah sama Mia Anderson," Ayah mulai, nadanya terukur dan tenang. Gue ngangguk, penasaran dia mau ngomong apa.
Dia lanjut, ngomongin hal-hal praktis dari situasi kita. "Kantor kamu di sini di LA, dan Mia tinggal di New York. Apa kalian udah diskusi soal tempat tinggal mengingat bayi kalian bakal lahir sebentar lagi?"
Gue ngangguk lagi, ekspresi gue mikir. "Udah, Yah, kita udah ngobrolin. Untuk sekarang, kita mutusin buat tinggal di New York."
Ayah merhatiin gue, merhatiin jawaban gue. "Denger-denger kamu beli rumah mewah di New York," dia nyebutin, sambil ngangkat alis. "Ada masalah?"
Gue agak kaget Ayah tertarik sama detail-detail ini, tapi gue jawab jujur, "Nggak, nggak ada masalah. Gue pikir itu bakal jadi tempat yang nyaman dan aman buat Mia selama dia hamil."
Ayah ngangguk, ekspresinya kontemplatif. "Ayah mikir, Sebastian, mungkin kita bisa bikin beberapa perubahan di sini buat mengakomodasi kebutuhan kamu. Kita bisa aja pindahin kantor utama kamu ke New York."
Gue ngangkat alis, tertarik sama saran itu. "Bisa gitu?" gue nanya, mikirin gimana dampaknya ke operasi bisnis kita.
Ayah ngejawab pertanyaan gue dengan anggukan yang mantap. "Bisa, dan itu sesuatu yang harus kita coba. Keluarga kamu penting, dan kita mau dukung kamu semampu kita."
Gue hargai banget perasaan di balik kata-kata Ayah. Walaupun hubungan kita agak tegang dulu, kayaknya dia mau beradaptasi dan mengakomodasi perubahan yang bakal dibawa sama pernikahan gue dan sebentar lagi jadi Ayah. Ini langkah maju yang positif, dan gue semangat dia mau mikirin buat pindahin kantor utama gue ke New York, di mana Mia dan gue mutusin buat ngebangun keluarga.
"Makasih, Yah," gue bilang tulus. "Gue hargai banget dukungan kamu, dan gue pikir ini bisa jadi solusi yang bagus. Kita harus diskusi lebih lanjut dan nilai logistiknya, tapi bagus tau ada opsi ini."
Ayah ngangguk setuju. "Tentu, kita harus pastiin transisi yang lancar, tapi Ayah percaya ini langkah yang tepat. Keluarga kamu yang utama, dan Ayah di sini buat bantu bikin itu jadi kenyataan."
Pas Ayah selesai ngobrol, gue ngerasa bersyukur lagi atas dukungan dia. Tenang banget tau kalau gue punya dia di pihak gue, apalagi ngingat dinamika yang rumit di keluarga kita. Gue liatin dia keluar dari kantor gue dan ngalihin perhatian ke secangkir kopi yang masih ngebul dan sandwich yang udah setengah kemakan nungguin gue.
Ayah gue, gak diraguin lagi, salah satu anggota keluarga kita yang waras dan sehat, barengan sama Patrick. Sementara anggota keluarga lain sering keliatan sibuk sama drama dan agenda mereka sendiri, Ayah selalu nawarin perspektif yang lebih santai.
Gue harap usaha kolaborasi kita buat mungkin pindahin kantor utama gue ke New York jadi tanda hubungan yang lebih suportif dan saling pengertian di antara kita.
Setelah nikmatin sebentar buat ngisi ulang energi dengan kopi dan gigitan cepat, gue balik lagi ke laptop. Rapat lain udah mulai di ruang konferensi, dan gue tau gue harus fokus sama urusan yang ada. Tapi, telepon gue bunyi pas rapat, dan gue liat Patrick yang nelpon. Di tengah diskusi, gue matiin telepon, niatnya mau nelpon balik nanti. Gak ada cara buat nebak rapat ini bakal selesai kapan, dan gue gak bisa terima gangguan lagi.
Beberapa menit kemudian, asisten gue masuk ruang konferensi, ekspresinya penting. Dia ngasih isyarat biar gue keluar, dan gue minta izin dari rapat, ngerasa agak frustasi sama serangkaian gangguan ini.
"Ada apa?" gue nanya, kesabaran gue udah tipis karena gangguan yang terus-terusan. Gue mau rapat ini lancar dan efisien.
"Patrick nelpon," dia ngasih tau gue dengan perasaan mendesak. "Dia maksa banget dan minta ngomong sama kamu."
Gue ngehela napas, tau banget kalau Patrick gak bakal minta gitu kalau bukan hal penting. Gue ikutin asisten gue balik ke kantor, di mana gue ambil telepon dari dia, siap ngomong sama saudara gue.
"Ya, brother," gue nyapa dia dengan campuran penasaran dan khawatir, ngeharapin ada hal penting yang bikin dia nelpon.
"Gue mau lo ke New York, dan bawa Mia sama lo ke kantor gue," suara Patrick muncul di telepon, tegas dan mantap. "Penting."