54- Bukan Kisah Kemarin
~ Eileen ~
'Percaya atau tidak, tapi kamu nggak peka, Asad. Kamu masih bikin kesel gue sekarang dengan sikap santai lo itu.'
Setelah Sebastian pergi, gue mikir buat balik, tapi gue nunggu dia nelpon. Gue pengen lihat gimana reaksi dia setelah tahu gue belum pergi, tapi dia nggak angkat telpon gue.
Kecewa karena dia nggak peduli, muka gue cemberut pas mau pergi dari rumah.
Nyadar muka gue lagi marah, Asad nanya karena dia emang suka banget ikut campur, 'Kenapa?'
'Sebastian nggak angkat telpon gue. Malah, hapenya udah mati.' Gue menghela napas, ini bikin gue kesel. Dia bilang dia bakal nunggu telpon gue, tapi apa susah banget buat dia angkat telpon gue juga?
'Gue ragu dia punya waktu, mereka semua udah ngumpul di satu tempat, dia pasti lagi asik sama bahaya.' Dia mengangkat bahu santai, nggak terlalu merhatiin.
Mata gue menyipit, gue melipat tangan, 'Ngapain lo di sana? Emang lo nggak tertarik buat ke sana juga?'
'Maut udah ngejar Saudara gue yang lebih muda. Nggak mau nambah emosi dia dengan ikut ke sana dan ngomong sesuatu yang nggak seharusnya.' Nada datar dia keluar, mengangkat alis dengan nada geli.
'Maksudnya?' Gue nanya, bingung. Saudara-nya Zaviyaar Sheikh, siapa yang bisa nyakitin dia?
'Adik gue, Fahad, nikah sama ceweknya Sufiyan Eitzaz. Oh boy, dia murka. Nggak lama lagi, Janazahnya.' Dia terkekeh, menggelengkan kepala.
Bukan cuma gue, tapi hidup Saudara-nya juga jadi sumber kesenangan buat dia, bikin gue makin kesel.
'Janazah?'
'Sholat Jenazah.' Dia menyeringai, bersandar santai seolah nggak peduli, bikin gue kesel sekarang.
'Lo kayaknya nggak terpengaruh.' Gue mencibir, melipat tangan, menyipitkan mata karena marah sama dia.
'Gue udah peringatin dia, dia nggak dengerin – salah dia.' Dia menjawab dengan tenang, bangkit dari kursinya dengan tangan di saku, tapi kemudian seringai menggoda muncul di bibirnya.
'Apa ini bikin kebencian lo ke gue makin gede?' Dia nanya dengan nada mengejek.
'Gue… nggak benci lo.' Gue bergumam, memalingkan kepala buat nggak dengerin omongannya. Malah, gue marah sama diri gue sendiri karena udah berhenti dan nanggepin dia.
'Lo iya, kelihatan di mata lo. Ah, kenapa lo dan suami lo benci banget sama gue?' Dia tertawa kecil, geli karena nggak disukai, tapi tetep aja gitu-gitu aja.
'Lo cuma bikin gue kesel karena nganggep semuanya itu cuma lelucon, drama.' Gue bilang dengan datar, berusaha nggak nunjukkin kemarahan.
Denger jawaban gue, dia terkekeh, maju selangkah, seringai jahat muncul di bibirnya saat dia ngomong kebenaran yang nggak bisa dibantah.
'Bukankah semua hidup kita buat seseorang? Buat sebagian orang, hidup gue juga bakal sama kayak hidup lo. Hidup semua orang itu drama buat orang lain.' Dia berbisik, mendekat ke muka gue, tapi gue secara naluriah mundur selangkah, mengalihkan pandangan dari bentuk ototnya.
'Hidup gue bukan hiburan lo.' Gue bergumam, menjauh dari dia saat kesenangannya memudar, menegakkan punggungnya.
'Gue nggak pernah bilang gitu, Eileen.' Denger nama gue dari dia kedengeran aneh, tapi dia serius banget yang bikin jantung gue berdebar buat mikir apa gue bikin dia emosi.
'Gue pengacara lo saat ini, gue amatin kejadiannya, semua hal yang terjadi dalam hidup lo. Walaupun lo yang bakal ambil keputusan akhir pada akhirnya.' Dia jelasin alasan sebenernya dia tertarik sama hidup gue yang bener-bener gue lupa. Gue jujur nggak mikir dari sudut pandang itu.
'Gue udah bilang, gue nggak mau ninggalin Sebastian.' Gue menekankan, melipat tangan dan memutar mata, masih nggak mau dia ikut campur.
'Gue nggak percaya keputusan yang diambil cuma dalam satu hari. Satu hari lo bilang mau pergi, terus besoknya nggak. Emosi manusia itu'kesandung',' Dia mencibir, ngejek gue karena perubahan keputusan gue.
Mencibir, gue memutar mata saat dia lanjut.
'Lo bilang gitu hari ini, siapa yang tahu kalau pernyataan ini juga berubah nanti? Seberapa banyak lo bisa percaya – Enggak, malah berapa kali lo berhasil ngehentiin Sebastian biar nggak marah-marah?' Nanya gitu, dia ngebuat gue ke pojok dalam keheningan.
Jantung gue mulai berdebar, mikirin waktu di mana gue berhasil ngehentiin Sebastian dan nggak ada satupun. Gue nggak pernah bisa ngehentiin dia, gue nggak pernah ngebantu dia atau nyoba.
'Karena lo kenal dia lebih baik dari kita semua, karena lo pengecualiannya dia – Berapa kali lo udah ngendaliin masalah amarahnya? Sifat kejinya?' Dia nanya, mengingat poin yang gagal gue pikirin, bikin gue nggak bisa ngomong apa-apa.
Gue buka mulut mau debat tapi nggak ada satu pun jawaban yang bener, bikin gue di tengah-tengah dan ngeluarin bunyi 'tsk', gue nunduk, kalah.
'Gue nggak pernah nyoba…' Gue bergumam, menggigit bagian dalam pipi gue.
Gue coba mikir apa yang udah Sebastian lakuin buat gue dan jawabannya langsung muncul – Dia dengerin gue. Suara gue nyampe ke dia.
Tapi pas gue mikir apa yang udah gue lakuin buat dia… nggak ada yang muncul di pikiran gue. Malah, apa yang bisa gue lakuin kalau gue nggak tahu apa yang dia inginkan?
'Lo lebih butuh konselor pernikahan daripada pengacara.' Asad tertawa kecil, ngejek hubungan kita secara terbuka, tapi gue nggak mau debat soal itu.
Gimana caranya gue bisa sampai sejauh ini tanpa ngapa-ngapain?
Gue mau setuju sama Asad dan minta dia buat nyariin konselor juga, tapi nada Ruben keluar dengan santai, make hapenya, 'Malah, dia butuh terapi sebelum apa pun.'
'Emangnya dia nggak pernah nyoba?' Gue nanya, noleh ke Ruben yang berhenti di samping temennya, masukin lagi hapenya.
'Pernah sih, nggak efektif. Hasrat darah lebih penting dari obat-obatan buat dia.' Dia bilang, berusaha nggak mikirinnya, tapi menghela napas, gue benerin omongannya.
'Lebih tepatnya, teriakan.' Gue bergumam tapi itu bikin reaksi Ruben turun, bawa perasaan ngeri aneh ke mukanya, ngehilangin postur tubuhnya yang tenang.
'Kenapa?' Gue nanya, bingung sama jawabannya saat dia nyadar kedalaman kata-kata gue jauh lebih baik dari gue.
Nundukin matanya, Ruben nyentuh bekas luka di matanya, berbisik ragu, 'Dia nyuruh gue teriak, dia yang bikin gue.'
Mata gue membesar karena kaget buat mikir apa yang udah Sebastian lakuin ke Ruben. Kalo dia bisa bikin Saudara-nya sendiri teriak, siapa gue dibandingin dia?
'Bersyukur, Eileen, dia nggak bikin lo teriak.' Ruben berbisik, jijik, meraih fitur-fiturnya. Asad memasang ekspresi yang nggak bisa ditebak saat Ruben jijik sama Sebastian.
'Kapan dia lakuin itu?' Gue nanya, langsung nyesel udah nanya pertanyaan yang jawabannya nggak bisa gue tahan.
'Pas dia ngasih gue hadiah indah ini di muka sialan gue.' Ruben geram, nunjuk jari ke bekas luka yang sakit banget di matanya yang kayak dia disiksa tapi-
'Sebastian yang ngelakuin ini?' Gue tersentak, nggak percaya dia ngelakuin ini ke Ruben.
'Iya, Dear ipar, suami lo ngebuat mata gue copot. Lihat lebih dekat ke muka gue, suami lo ngelakuin ini ke Saudara-nya sendiri.' Dia geram, nunjukin bagian Sebastian yang nggak pernah gue saksiin sebelumnya.
Sekarang gue ngerti kenapa orang tua lo nanya gue apa Sebastian nyiksa gue atau enggak. Dia monster.
'Ngepaksa gue teriak sampai orang tua kita ngehentiin dia dan ngebuang dia ke rumah sakit jiwa selama setahun dan ngirim gue pergi dari monster ini.' Dia memaki, memalingkan kepalanya, marah saat gue ngerti kebencian Ruben ke Sebastian.
'Gue… nggak tahu ada hal kayak gini…' Gue berbisik, sedikit gemetar buat mikir apa yang bisa terjadi sama gue kalau Asad nggak dateng.
Sebastian udah niat bikin gue teriak pas dia nembak Sofia, dia siap buat ngehukum gue…
'Lo lemah banget, Eileen. Baik secara fisik maupun mental dan Kalau ini terus berlanjut… gue bisa aja ngehancurin lo tanpa bisa diperbaiki lagi.'
Semuanya jadi masuk akal sekarang. Itu yang dia maksud pas dia bilang dia bakal ngehancurin gue. Dia takut ngasih gue bekas luka kayak Ruben. Itu sebabnya dia hukum tangannya…
Sebastian takut nyakitin gue…
Air mata netes di sudut mata gue pas hal-hal yang nggak gue tahu sebelumnya muncul di hadapan gue sekarang, ngebuat gue gemetar buat ngehargai.
'Lo nggak tahu apa-apa, Eileen. Itu sebabnya gue dipanggil buat bawa lo pergi. Lo nggak tahu soal iblis yang lo tinggalin.'
Ruben geram tapi saat ini gue nggak ngelihat Sebastian dari sudut pandang iblis.
Gue pengecualiannya dia…