32- Aktor Buruk
~ Eileen ~
'Saat itulah kami berdua tahu kalau akting itu mustahil buat aku. Aku emang aktor yang jelek.'
Sebastian nyoba ngajarin aku cara akting yang bener di depan para tamu, dan jangan gemeteran pas dia nyentuh atau nunjukkin kalau aku lagi stres. Takut ada yang curiga karena kita.
Dia tegas banget dan serius abis soal itu. Aku hampir nggak belajar apa-apa dan sekarang harus pergi ke acaranya.
Kenapa sih dia ngajak aku?
Aku lagi di salon, siap-siap buat acara. Dia milih tema hijau buat kita. Aku pake gaun pesta hijau gelap, tanpa lengan, dengan renda satin, cocok banget sama aku tapi aku nggak bisa fokus sama penampilan aku saat ini.
Aku takut kalau aku bikin kesalahan dan bikin Sebastian marah, terus apa yang harus aku lakuin?
Setelah siap-siap, aku pulang. Cuacanya buruk. Kayaknya mau hujan, tapi aku abaikan dan balik.
Aku lihat Sebastian gantengnya minta ampun dengan setelan tiga potong yang sama. Ada bros di saku depan, rambutnya ditata sempurna. Dengan penampilan yang aku sukai, dengan wajah saat aku mulai mengagumi kecantikannya.
Tangannya di saku, kakinya mengetuk-ngetuk, nungguin aku. Matanya pelan-pelan ketemu sama mataku pas aku datang. Rasanya aneh pake warna yang sama, aku nggak bisa ngerasa kita kayak pasangan lagi.
Mengangkat satu alisnya dengan sempurna, dia berjalan mendekat, mengamati aku dari atas ke bawah, bikin jantungku berdebar kencang saat dia datang mendekat pelan-pelan, ngecek aku.
'A-Ada yang salah?' aku nanya ragu-ragu, ngalihin pandangan, nggak inget kapan terakhir kali aku dandan kayak gini buat dia.
Dia nawarin tangannya, aku ambil dengan ragu-ragu pas dia nyium punggung telapak tanganku, 'Kamu keliatan kayak bidadari, Eileen. Aku tahu hijau cocok buat kamu.' Dia nyengir, nggak ngalihin pandangannya yang bikin detak jantungku makin kencang.
'T-Terima kasih.. K-Kamu juga ganteng.' Aku gagap ngomong, ngelirik dia sebentar, nggak yakin harus gimana.
Cengirannya makin lebar, narik aku mendekat, satu tangan melingkari punggungku sementara tangannya yang lain bergerak di bawah daguku, bikin aku natap balik bola matanya.
'Kamu tahu, aku seneng banget tahu kalau aku berhasil mencuri kamu dari dunia ini.' Dia berbisik, menekan ibu jarinya di daguku, membelah bibirku pelan-pelan.
'Bahwa kamu ada di sampingku dan nggak ada seorang pun di dunia ini yang bisa memiliki kamu.' Dia berbisik, menyandarkan wajahnya lebih dekat ke bibirku. Napasku berhenti, aku menggigil saat napas mint-nya menyentuhku.
Bibirnya hampir menyentuh bibirku tapi berhenti di akhir, nyengir dan menjauh, ngelakuin ini buat ngelihat reaksi aku biar bisa memuaskan rasa takutnya setiap hari.
'Andai aku bisa nikmatin ini juga.' Aku bergumam, memalingkan pandanganku tapi dia tiba-tiba narik aku mendekat untuk jatuh di dadanya.
'Kamu sadar kalau lidahmu udah lupa batasnya, kan?' Dia berbisik menggoda, terhibur buat mengukir rasa takut yang perlahan aku hilangkan.
'Aku minta maaf.' Aku minta maaf cepet-cepet, nggak mau ngelakuin apa pun saat ini yang bisa bikin dia nggak senang.
'Hmm.' Dia bergumam saat kami pergi ke pesta.
Dan… seperti yang diduga. Aku sama sekali nggak bisa akting. Aku payah, aku gemeteran, aku gagap, ekspresi aku nggak karuan. Lihat aja apa yang aku lakuin setelah dia peringatin aku keras-keras untuk nggak gitu.
'Gimana kabarnya, Nyonya Stellios?' Tuan rumah, Jake tersenyum, nawarin aku segelas anggur.
'B-Baik.' aku bergumam, ngambil gelasnya, nundukin pandangan, ngambilnya pelan-pelan.
'Cuacanya buruk hari ini. Hujan deras banget. Rumah kalian juga jauh dari sini, kalian boleh nginep kalau mau.' Dia ngasih tahu kami, sedikit tertawa tapi pikiran aku ada di tempat lain.
'Nggak, kami baik-baik aja. Hujan cuma akan bikin ini makin indah.' kata Sebastian menggantikan aku karena saat ini, bibirku terkunci.
'Kamu emang beruntung punya dia sebagai pasanganmu, kan? Aku yakin dia pasti udah menundukkan semua kekayaan di hadapanmu.' Dia ngejek, nyengir ke Sebastian yang dengan mahir memalsukan tawa.
Aku udah lihat di balik tawa palsu, janji-janji, dan fasad itu. Aku tahu pria di balik semua ini.
'Tentu saja, Eileen adalah duniaku.' Dia tertawa, melingkarkan tangannya di bahuku yang bikin aku menyentak tubuhku.
'Kamu baik-baik aja?' Jake nanya, bingung.
'Iya, dia kedinginan setiap kali aku nyentuh dia.' Dia nyengir main-main, ngendaliin situasi sambil natap aku tajam.
'Beneran?' Dia nanya karena aku nggak bisa tersenyum. Aku nggak bisa pura-pura bahagia dan tatapan tajam Sebastian bikin semuanya makin susah buat aku.
'Hmm.' Aku cuma bergumam setelah ngumpulin semua keberanianku.
Kami cepet-cepet bikin alasan. Aku mau pergi ke pojok buat ngehindarin sosialisasi lebih lanjut tapi untuk memperburuk keadaan, Sebastian genggam pergelangan tanganku dengan erat.
Senyumnya bersinar tapi aku bisa ngerasain kulitku merinding ketakutan, aku bisa ngerasain kemarahannya terpancar dan menjalar ke inti diriku buat nanamkan teror.
Kami pergi ke koridor kosong saat dia mendorongku ke dinding, nggak ngelepasin pergelangan tanganku, ninggalin bekas merah di sana, ngegenggam rahangku dengan tangan yang lain, bikin aku ketakutan.
'Gue udah peringatin lo, Eileen. Nggak bisakah lo sekadar ngangkat bibir sialan itu sekali aja?' Dia mendesis, menekan aku lebih keras ke dinding, berdiri di atasku.
'S-Sebastian, aku-aku bilang, aku-aku nggak bisa akting…' aku merintih, gemetar saat dia menatap langsung ke jiwaku untuk menghentikan ini sebelum dia ngelakuin sesuatu.
Dia berdiri menjulang di atasku, ngehalangin jalanku buat nggak bisa ngelihat apa pun selain dia. Kehadirannya menghancurkanku, melengkungkan jari-jari kakiku, aku merasa lemah saat dia menatapku.
Ngos-ngosan, aku bisa ngerasain sesak napas di dekatnya sementara dia mendekati bola mata yang keras itu, mencuri fungsinya dengan tatapannya yang intens.
'Aku.. nggak.. bisa.. Pura-pura…' Aku hampir nggak bisa berbisik, ngegerakin kepalaku ke belakang buat menjauh dari tatapannya yang serius dan mengumpulkan napasku lagi tapi dia menggenggam leherku posesif, menggerakkan rambutku untuk memegangnya.
Aku meringis kesakitan saat dia maksa aku buat mempertahankan tautan menakutkan yang dia buat, nggak suka sama tingkah lakuku.
'Kamu harus dan kamu akan.' Dia berbisik balik dalam dengkuran, mempererat cengkeramannya yang ngeluarin pekikan.
'Sebastian, tolong.' Aku memohon padanya, menutup mataku. Nggak berdaya di hadapan kekuasaannya, aku nggak bisa ngelakuin apa pun selain memintanya ninggalin aku.
Berdoa buat harapan terakhir, aku denger suara, 'Sebastian? Apa yang kamu lakuin di sana?'
Puji Tuhan, Sebastian menjauh, berbalik buat ngelihat tamu di sana. Dia mabuk, hampir nggak sadar. Nyoba buat ngelihat dengan bener.
Aku cepet-cepet berbalik, bersandar ke dinding buat ngumpulin kesadaranku.
'Nggak ada apa-apa.' Dia mencibir, megang tanganku, membuang muka, marah karena dia ngeputusin hubungan yang kita bagi yang cuma bikin aku takut.
'Kita pergi.' Dia ngomong tegas, nggak peduli buat denger balasannya atau ngelihat orang lain. Jantungku berdebar kencang, nggak tahu harus ngomong apa. Tetap di sini cuma akan bikin semuanya makin buruk.
Tanpa melawan, kami ninggalin pesta di bawah hujan deras.