48- Senang
Ngeliat Sebastian yang semangat bikin gue takut, tapi jauh di lubuk hati gue lega, setidaknya dia gak kayak gitu kalau sama gue.
Gue tahu gue punya kuasa atas dia, tapi gue gak nyangka bisa gue pakai buat bikin dia ngelakuin apa yang gue mau – jelas, pas dia lagi *mood* bagus.
Tapi, hati gue menghangat pas di depan semua orang, dia ngejaga harga diri gue dan setuju minta maaf atas kelakuannya tanpa banyak bacot.
Dia pergi, tapi gue senyum tipis dan nyusul dia. Tapi dia pasang muka cemberut yang bikin gue senyum. Gue lirik dia pas kita masuk ruang makan.
"Ngomong-ngomong, lo masih di sini, Sob?" Ruben nanya, masuk bareng Asad juga, masih keheranan gimana caranya gue bisa ngatur dia – gue juga sama.
"Maksudnya?" Sebastian nanya, duduk, masih gak lepasin kerutan di wajah gue, tapi gue pura-pura gak lihat.
"Nathaniel menyerah. Kalau mereka ngeksekusi dia, lo bakal jadi jagoan nomor satu," kata Asad sambil bercanda, nyenderin sikunya di sandaran kursi, nyengir sinis.
Senyum gue memudar, berhenti sejenak pas mereka nyebut Plague Doctor. Sebastian gak nunjukkin banyak reaksi yang bikin gue kadang lupa profesinya, terus gue inget.
Kalau terjadi sesuatu sama dia… Sebastian yang bakal jadi nomor satu.
Penjahat paling besar di dunia bawah…
Pikiran ini aja bikin jantung gue berhenti. Gue penasaran udah berapa banyak kejahatan dan dosa yang udah Sebastian lakuin sampai di level itu.
"Gue ragu, ini bukan pertama kalinya Nathaniel mengakali maut. Gak ada yang bisa ngalahin otaknya. Pasti ada sesuatu yang lebih dalam. Lagipula, gue udah tahu siapa yang bakal dia kasih takhta dan segalanya," jawab Sebastian santai, akhirnya ngelihat ke Asad.
"Takhta? Gue kira gak ada raja. Apa mereka gak kerja sendiri-sendiri?"
"Ya, lo gak bisa nebak apa yang bakal Nathaniel lakuin, tapi gue ragu lo bakal kerja buat dia," Ruben nanya santai, duduk di tempat yang bikin mukanya cemberut.
Rahangnya mengeras, menggeram, "Gue lebih baik mati daripada kerja di bawah dia, seolah-olah dia bisa menggantikan mertuanya. Valencia sempurna, gak ada orang di dunia ini yang bisa gantiin dia. Dia pemimpin yang sempurna."
Gue langsung ngangkat kepala, kaget sama rentetan pujian yang dikasih Sebastian dan gue belum pernah denger Sebastian muji siapa pun. Dia manggil gue cantik juga, tapi gak lebih dari itu, tapi buat dia, gue bisa lihat kekaguman yang dalam di matanya.
Apa dia… idaman dia?
"Hmm, benar. Tapi dia juga mati dengan tragis," gumam Asad, mengangkat bahunya, ikut duduk, dan sekarang gue pengen tahu tentang wanita yang dikagumi Sebastian dengan tulus.
"Apa yang terjadi sama dia?" gue nanya, ngelirik Asad buat tahu lebih banyak. Dia nyengir, balik lagi ke gue.
"Tertarik? Keluarganya dibantai. Semua orang di keluarganya meninggal kecuali anaknya, Nathaniel. Putri dia yang berusia empat tahun ditembak tepat di depan mata Nathaniel yang berusia delapan tahun," katanya santai, langsung bikin gue penasaran. Jantung gue berdebar, menyadari risiko kehidupan berbahaya ini.
"Saat itulah gue sadar kalau gue gak sadar, bukan berarti gue aman. Kematian juga mengintai gue, tapi Sebastian udah ngelindungin gue."
"Adik perempuannya yang lain juga selamat. Dia tinggal jauh dari semua ini sama suaminya, Pangeran yang dulu kerja di bawah Nathaniel," gumam Sebastian, makan sarapannya, gak tertarik.
"Tinggalin dia. Coba kasih tahu gue, lo mau dateng ke eksekusi gak? Zaviyaar dan yang lain juga dateng," panggil Ruben, menarik perhatian Sebastian yang nyengir jahat, seringai kejam yang gue lihat pas dia ngebunuh Rick di depan mata gue.
"Menurut lo dia bakal nolak pertemuan semua Jagoan?" Asad tertawa kecil.
"Menurut lo gimana?" Dia nanya dengan suara serak.
Gue menggigil ketakutan, pas matanya bersinar dengan kegelapan yang pertama kali gue lihat di matanya. Itu nunjukkin dia mungkin udah berubah buat gue, tapi buat dunia, dia masih sama.
Dia semangat.
"Tentu saja, gue bakal dateng," dia menyeringai, menatap balik ke Ruben, mencerminkan semua kegelapan yang diberikan kehidupan ini padanya.
"Udah diduga. Gimana bisa lo melewatkan kesempatan ini?" Ruben tertawa kecil, menggelengkan kepalanya dengan kecewa sementara gue berdeham, makan makanan gue dengan cepat dan kembali ke kamar kita.
Kalau gue jauh dari semua ini, bukan berarti semuanya baik-baik aja. Gue benar-benar gak tahu soal pekerjaannya. Dia ngejauhin gue dari semua ini.
Apa dia… melindungi kepolosan gue?
Saat gue di kamar, duduk di tempat tidur, menutup wajah dengan tangan, gue denger langkah kaki, denger pintu dibuka dan ditutup.
"Lo lihat, Eileen?" Suara dalam dan serak Sebastian datang, menyeringai kosong ke gue, tapi gue nunduk, gemetaran ketakutan.
Seringainya bikin gue takut. Dia pake kemeja putih, lengan digulung sampai siku, ngebuang ponselnya dan nyamperin gue, dan gue tegang.
"Berita penangkapan Nathaniel menyebar di dunia bawah kayak api. Nathaniel, satu-satunya pemimpin yang belum pernah ditangkap sebelumnya. Dan sekarang ditangkap karena ngebunuh temannya sendiri. Beberapa orang menganggapnya rencana bagus buat tujuan yang keji, sementara bagi sebagian orang itu akhir dari eranya," Dia ngejelasin apa yang terjadi di dunianya buat pertama kalinya. Dia belum pernah cerita apa pun tentang pekerjaan sebelumnya.
Terus kenapa dia cerita ke gue soal Nathaniel sekarang?
"Rajanya udah lengser," Dia mengucapkan, berdiri di depan gue dengan tangan di saku, menatap gue dengan seringai penuh dosa.
"Apa lo mau ngambil alih dan jadi penguasa dunia bawah?" gue nanya polos, ngangkat pandangan gue buat menatapnya.
"Gue orang yang didorong nafsu dan keegoisan. Gak ada yang penting bagi gue selain keinginan gue dan kekerasan yang gue ciptakan, dan biarkan gue kasih tahu lo, Eileen," Meletakkan satu tangannya di sisi tempat tidur, dia mendekat ke wajah gue, memegang dagu gue.
"Raja yang kejam menemui akhir yang kejam," Dengan bisikan menggoda, dia menyelesaikan kalimatnya, bikin gue merinding, terus mundur.
"Jadi lo gak bakal ambil alih? Lo pada akhirnya bakal jadi yang pertama setelah Plague Doctor pergi," gue nanya lagi. Pikiran kalau dia jadi nomor satu dan gue, istrinya… Itu bikin gue merasa aneh, tapi gue gak takut. Cuma aneh.
"Orang itu udah ngerusak seluruh keseimbangan dunia bawah karena satu janji sialan yang dia buat ke mesin pembunuh manusia Zariah," dia menggeram dan gue langsung mengenali nama itu. Zariah adalah istrinya.
"Istrinya?" gue nanya, sekarang sadar kenapa dia ngejelasin ini ke gue.
Buat ngasih tahu gue apa yang dia lakuin sampai pemimpin Mafia nomor satu jatuh dalam kekacauan.
"Mereka segalanya kecuali pasangan suami istri. Secara hukum mereka, tapi secara emosional, fisik, spiritual, mereka terpisah," gumamnya, memutar mata, juga menggeram.
Sebelum gue bisa nanya tentang reaksinya, dia kasih tahu alasannya, "Ini alasan kenapa gue gak suka cinta," Berbisik serak, jarinya menyentuh dagu gue, memaksa mata khawatir gue buat menatapnya.
"Lihat apa yang dia lakuin demi cinta. Menempatkan semua jagoan dunia bawah di bawah wanita yang menyedihkan," dia menggeram, dia gak mau hal yang sama terjadi padanya, tapi gue balik menyeringai kosong.
"Kayak gimana lo ngendaliin Alphonse? Apa yang lo lakuin cuma balik ke lo?" Gue mengejek karena dia juga ngendaliinnya dan sekarang dia gak mau orang lain maksa perintah ke dia lagi.
"Sayang, itu urusan berbahaya, jangan terlibat di dalamnya. Mereka jauh lebih dalam dan lebih gelap dari yang lo bayangkan," dia tertawa kecil, jelas gak suka ejekan gue sedikit pun.
"Jangan ikut campur dengan dunia bawah. Lo fokus sama cerita kita. Gak ada yang lain," dia berbisik di telinga gue menggoda, mencium pipi gue lembut dan mundur.
Kejutan dari berita ini pasti sangat besar dan dia mau ngelakuin apa yang Asad lakuin. Nikmatin dramanya.
"Saksikan kerusakan yang didapatkan orang ini demi seorang wanita. Emosi menyedihkan apa ini," mencibir, gue gemetar lagi karena gue tahu dia bakal membandingkannya dengan kita.
Tapi, seperti katanya, istri Nathaniel adalah mesin pembunuh manusia sialan, gue dibandingkan dengan itu?
"Lo ngerti sekarang kenapa gue gak cinta sama lo?" dia nanya menggoda, menatap tajam mata gue, menghubungkan dua hal yang sama sekali berbeda, tapi-
Balik ke tempat kita mulai- Dia gak mau gue ngebuatnya lemah.
Menutup mata, gue menahan sensasi itu dan mengangguk lemah dengan gumaman, "Iya…" Tapi, gue gak bakal biarin semuanya tetap di hati gue lagi.
"Sekarang gue ngerti…" Kali ini kenakalan muncul di hati gue dan memanfaatkan kelonggaran yang gue punya.
"Hasil cinta mereka yang menyedihkan udah nakutin lo karena…" Gue menyeringai, meraih bajunya buat membawa kita ke level yang sama, menatap balik ke matanya yang indah saat gue nyatain apa yang paling gak mau dia denger.
"Dia ngebuat dia lemah kayak ‘gue’ udah ngebuat ‘lo’ lemah."