78.2- Menolak Menangis
Suaraku pecah, minta maaf karena gagal melindungi Ruben. Memejamkan mata lebih dalam, aku nggak biarin satu tetes air mata pun jatuh dari pipiku.
Aku selalu benci air matanya. Terutama alasan di balik air matanya.
‘Mungkin itu sebabnya aku juga benci diri sendiri karena akulah selalu penyebab air matanya.'
Dan pas ngeliat mereka, aku bersumpah bakal bikin orang itu bayar mahal karena udah mencuri dia dari kita. Aku pelan-pelan menjauh, ngebantuin dia duduk, dan ngusap air matanya.
"Tolong minum air, Nyonya Stellios," kata Eileen, sedih ngeliat momen yang menyedihkan itu.
Sambil nangis sesenggukan, matanya tertuju ke lenganku yang mulai berdarah lagi.
"Ya Tuhan, kamu juga terluka. Berdarah. Siapa sih? Siapa yang mau nyakitin keluargaku?"
Panik, dia memegang pipiku pas aku membungkuk di tanah, natap matanya yang khawatir, tangan gemetar mau megang lenganku yang berdarah.
Nundukin kepalanya, dia nyenderin di bahuku, melukku dengan putus asa dan terus nangis, "Bayiku…"
Memejamkan mata, penderitaanku berubah jadi kemarahan. Rasanya nyesek banget denger tangisan itu. Aku pengen mereka berhenti.
"Sebastian… lihat deh. Apa yang terjadi sama dia? Kenapa mereka ngambil anakku?!" Sambil nangis, dia narik bajuku, air mata belepotan di wajahnya.
Itu menyakitkan, aku tumbuh besar bareng air mata itu, yang aku pengen cuma mereka berhenti.
Megang tangannya, aku cium dan taruh di dahiku.
Narik napas dalam-dalam, aku ngomong dengan serius. Aku bersedia ngasih akibat terburuk buat orang yang nyoba ngehancurin rumahku.
"Jangan khawatir, Mama. Siapapun itu, aku bakal mastiin dia ngerasain akibat terburuknya."
***
Berdiri di samping Eileen, kita berdua natap makam Ruben dengan hati hancur. Tanganku dingin, tenggorokanku kering tapi aku maksa buat nunjukkin ekspresi yang tenang.
Eileen mulai khawatir sama aku saat ini karena aku belum nangis atau ngebebasin isi hatiku. Tapi aku nggak bakal lakuin itu, aku bakal biarin sakitnya sampai aku nemuin pembunuhnya.
"Renungkan, Eileen. Pelajari pemandangan ini baik-baik."
Aku buang napas, melipat tangan di dada, nggak ngejauhin mata dari makam dengan hati yang hancur.
"Ini kenyataan pahit dunia bawah. Kamu nggak pernah tahu siapa yang bakal kamu kehilangan di saat berikutnya."
Maksa mataku buat kebuka, aku noleh ke Eileen yang berdiri di sampingku selama ini. Mama sakit, dia di rumah dan di kuburan ini, aku berdiri sama beberapa orang lainnya.
"Kalo kamu takut dan mau mundur, aku nggak bakal ngelarang kamu hari ini," bisikku dengan pedih.
Sambil menghela napas, dia nyenderin kepalanya di lenganku, ngejalin jari-jari kita.
"Hidup itu sama aja, kamu nggak pernah tahu kapan kamu bakal mati, Sebastian. Aku nggak mungkin ninggalin kamu apalagi di saat yang menyedihkan ini. Aku di sini, sama kamu. Kamu nggak sendiri."
Nyium tanganku, dia ngeyakinin aku saat aku paling butuh itu.
"Aku nggak bisa ngomong atau ngejelasin betapa hancurnya hatiku sekarang. Aku ngerasa jiwaku terbakar," kataku dengan suara dingin.
"Kenapa nggak nangis aja? Itu bakal ngebantu kamu," sarannya dengan lembut.
"Nggak bakal," nyataku, aku balik lagi ke makamnya-
"Nggak sampai aku nemuin si bangsat itu dan ngasih dia penderitaan terburuk."
Nggak lama kemudian Asad dateng, bahkan dia nangis karena kehilangan sahabat terbaiknya. Itu menghancurkan hati buat dia kehilangan orang yang dia tumbuh bareng.
"Kita lagi ngobrol pas ini terjadi. Dia seneng banget," dia mulai ngomong dengan nada hampa tapi sedih.
'Dia mau tetep di sini, ikut kerja dan terus aku denger suara tembakan. Semuanya terjadi cepet banget. Dia nyuruh aku bangun lagi.'
Ngepalin tangannya, dia noleh.
Aku ngeliat dia dan mau nepuk punggungnya tapi aku nggak boleh. Dan ngehentiin aku, Zaviyaar dateng dan ngasih pelukan samping ke adiknya.
'Ini juga bakal berlalu, Asad,' Bisiknya, meluk dia dan aku inget Ruben bilang dia ngerasa iri pas dia ngeliat saudara-saudara itu.
Aku nggak pernah meluk dia.
Penyesalan menusuk dadaku. Yang dibutuhkan Saudaraku cuma cinta dari aku yang nggak pernah aku kasih.
"Sebastian. Inna lillahi wa inna ilayhi raji'un," kata Zaviyaar dengan serius, meluk Saudaranya, ngebantu dia nangis di pelukannya, ngebantu dia.
Nggak peduli seberapa nggak diinginkan dan maniaknya Zaviyaar, dia selalu ada buat saudaranya.
"Nggak nyangka bakal denger itu secepat ini atau dari kamu," aku tertawa kecil hambar.
"Aku juga nggak. Sahabat terdekat Adikku udah meninggal. Gimana aku nggak dateng? Mereka tumbuh besar di depanku," Dia menghela napas, menjauh dari Asad dan ngusap air matanya.
"Ayat apa itu?" tanya Eileen.
"Itu bahasa Arab, Eileen. Frasa itu biasanya dibaca oleh umat Muslim ketika seseorang meninggal," kataku dengan tenang.
"Oh. Dan kamu bilang adik laki-laki terus…" Dia jeda, noleh ke Zaviyaar, sadar dia ketemu orang penting dunia bawah lainnya.
"Iya. Aku Zaviyaar Sheikh. Beruntung bisa nyapa wanita yang mengubah hidupnya," bisiknya, ngeliat aku buat mencairkan suasana sedikit pas aku tertawa kecil hambar.
Eileen secara naluriah mundur dan ngegenggam lenganku, takut ngeliat salah satu penjahat kelas kakap di depannya.
Sambil menghela napas, aku noleh ke dia dan benerin kata-katanya.
"Eileen nggak cuma mengubah hidupku, Zaivyaar. Dia jadi hidupku."
"Nggak pernah nyangka bakal denger itu dari kamu. Pokoknya, Semoga Yang Maha Kuasa ngasih kamu kekuatan buat ngatasin fase menyakitkan ini dalam hidup."
Ngasih aku belasungkawa, dia nepuk bahuku dan pergi, ninggalin aku sama pikiran yang menyedihkan.
Setelah ngebebasin pikiran kita dan dapet keberanian buat maju, aku sama Asad, secara pribadi ngurus masalah ini.
"Jadi Ruben nyuruh kamu nelpon bantuan. Orang ini jago. Dia masuk apartemennya dengan mulus," tanyaku, menggertakkan gigi karena marah.
Tunggu aja, aku bakal nemuin kamu.
Dia ngangguk, "Kalo ada yang bisa ngelakuinnya dengan mulus, pasti orang deket. Seseorang yang dia percaya banget."
"Hmm. Kamu bener."
Asad mikirin itu dalam-dalam dan bilang ke aku dengan serius, "Kayaknya aku tahu siapa itu, Sebastian."