39.2- Dua Kata Kecil
Gue ditakuti di seluruh negeri karena sifat gue yang kayak binatang dan nggak punya hati – sampai sekarang juga masih. Mereka benci gue, mereka takut sama gue. Berani-beraninya dia ganggu itu? Oh, dia bakal bayar mahal kalau terus kayak gitu.
"Lo ngelakuin hal yang nggak pernah lo lakuin ke mangsa mana pun, cuma karena dia udah bikin pikiran lo mabuk dari awal." Mata gue melebar sesaat pas dia bilang sesuatu yang nggak pernah gue perhatiin sebelumnya.
Gue nggak pernah usaha keras buat dapetin mangsa sebelumnya.
"Dia yang paling lemah, yang paling diinginkan, dan gue siap ngelakuin apa aja buat ngerantai dia sama gue." Kata gue samar-samar, bergumam setuju, sadar kalau itu bukan sekarang, tapi dari awal.
Meskipun itu berarti harus jadi Pangeran Tampan palsu dan ngerjain dia biar mau nikah sama gue. Gue ngelakuin semua yang gue bisa buat dapetin Eileen.
"Tepat sekali, nggak lihat? Lo jatuh cinta sama dia pas lo pertama kali lihat dia. Lo cuma sadar pelan-pelan sekarang."
Dan pikiran gue jadi kacau pas dia bilang gitu. Gue kira dia bakal bilang dia berharga atau apa, tapi dia malah pergi ke arah yang nggak gue mau.
"Jangan bikin kesimpulan bodoh, Bego. Lo pikir kata-kata lo yang aneh itu bakal mempan sama gue?" Gue menggeram, natap dia tajam biar dia berhenti ngomong omong kosongnya sekarang. Cukup pikiran ngaco dan delusi untuk satu hari.
"Maaf, Boss. Lo bilang lo nggak bakal marah." Katanya cepat, ngangkat tangan buat nahan diri, mundur selangkah.
"Kenapa gue nggak boleh marah? Mood gue udah rusak dan lo malah nambahinnya. Nggak ada yang kayak gini. Lo tahu gimana gue memperlakukan dia." Gue menggeram, ngingetin dia apa yang udah gue lakuin ke dia, betapa parahnya gue bikin dia takut sampai dia nggak bisa ngomong kasar ke gue.
Gue udah bikin dia ketakutan. Ngukir rasa takut yang nggak bisa hilang di jiwanya.
Gimana gue bisa cinta sama orang yang udah gue bikin takut?
"Korban pertama yang belum lo pukul secara fisik." Dia bilang lagi dengan gugup, tapi gue membanting tangan gue ke meja, natap dia tajam biar dia berhenti ngomel.
"Diam!" Gue mendesis, nggak mau denger lebih lanjut. Itu cuma bikin gue makin stres.
"Maaf, Boss. Gue cuma bilang." Katanya, masang muka minta maaf tapi kayaknya dia udah bersumpah buat terus mendorong ke pengakuan yang nggak gue mau.
"Jangan bikin gue emosi dengan prediksi nggak jelas lo. Gue nggak pernah ngerasain apa pun buat dia sebelumnya. Denger? Nggak ada." Gue ngomong dengan jelas, nunjuk pake jari dengan jijik, amarah terpahat di wajah gue.
Tapi gue nggak tahu dari mana dia dapet keberaniannya dan nyentuh saraf sensitif gue, "Terus gimana sekarang?"
Gue ngasih tatapan maut ke arahnya dan napasnya tersentak, tahu kalau dia udah ngomong terlalu banyak dan kalau dia ngehargai hidupnya, mending dia pergi.
"Maaf, maaf, gue pergi." Minta maaf, dia lari ketakutan tapi bikin pikiran yang gue cenderung abaikan di pikiran gue, nge-fuel pikiran yang mengganggu.
"Ck." Sambil nyengir, gue ngusap rambut gue, berharap bisa buang penilaian palsu apa pun yang dia kasih ke gue, fokus sama kerjaan gue dan nggak merhatiin kata-kata dia yang nggak berguna.
Nggak kayak gini kok akhirnya.
Setelah meyakinkan pikiran gue kayak gitu, gue pulang. Kamar kosong itu ngasih gue perasaan aneh. Mungkin gue udah biasa sama kehadirannya, sama ketakutannya.
Kayak, pas gue masuk kamar, gue bakal nemuin Eileen lagi mainin hapenya dan dia bakal kaget pas gue masuk. Kaget pas gue maju selangkah. Kelihatan polos banget sampai gue pengen ngabisin dia – Ah, nikmatnya.
Tapi, dia nggak ada di sini sekarang dan gue nggak tahu harus ngapain. Setelah mandi dan makan malam, rasanya hampa. Gue rebahan di kasur, tangan terentang, natap langit-langit.
Merem sebentar, gue pengen nelpon dia pagi, siang, malam, dan sekarang juga, tapi gue ragu dia bakal angkat telpon gue dan ini ngebuat gue berhenti.
Harusnya gue gimana?
Kenapa dia harus mikirin gue? Jauhin gue bakal jadi surga buat dia.
Gue ini siapa?
Mimpinya buruk.
Satu panggilan nggak bakal nyakitin.
Kalau gue nggak nelpon, dia harusnya juga nelpon. Dia biasa nelpon gue hampir setiap malam sebelum nikah. Gue nggak pernah nelpon dia, dia yang nelpon gue, jadi kenapa gue harus nelpon dia –
Dan gue lakuin itu.
Gue nelpon dia. Salahnya apa nelpon istri gue? Dia pergi selama dua hari untuk pertama kalinya setelah nikah. Berdering dan tanpa diduga, dia langsung ngangkat telponnya.
"Halo?"
Balik.
Gue diem pas suaranya keluar… senang? Gue nggak bisa ngomong sepatah kata pun. Dia kedengeran santai banget sekarang. Bukan nada rendah dan ketakutan biasanya, tapi cerah, kayak dulu. Kedengarannya indah.
Ngomong sama gue kayak gitu terus. Kayak lo beneran sama manisnya nada itu –
Tapi, apa gue pantas?
Jelas nggak.
Bibir gue terbuka, gue cuma harus ngomong apa yang gue mau tapi gue nggak bisa. Dua. Kecil. Kata, Sebastian. Bilang aja.
"Halo…" Dia manggil lagi. Merem, gue bisa ngerasain detak jantung gue makin kuat pas gue neken telapak tangan gue di atasnya. Terhanyut dalam suaranya yang merdu.
"Sebastian?" Balik. Balik. Malam ini sepi tanpa kamu.
Kita biasa ngobrol berjam-jam sebelum nikah, kenapa sekarang gue nggak bisa ngomong sepatah kata pun? Kenapa sekarang susah ngomong?
"Halo? Ada orang di sana?" Dia nanya lagi dan gue buka mata gue lagi, gue narik napas dalam-dalam, mempersiapkan diri secara mental untuk ngomong cuma dua kata.
Berhenti, gue buka mulut gue buat akhirnya ngelepas kata-kata di ujung lidah gue. Apa ngelepas suara sesusah itu? Gimana dia ngelepas suaranya?
"Eileen!" Tapi, gue butuh waktu terlalu lama buat ngomong dan seseorang manggil dia.
"Datang!" Berteriak, dia matiin telponnya, tapi gue tetep di kasur dengan suaranya sampai ke gue lagi, ngasih senyuman yang nggak dikenal di bibir gue pas gue merem pelan lagi, tersenyum tanpa sadar.
Karena saat itulah gue sadar, dia bukan cuma keinginan terdalam gue, tapi kebutuhan gue.