16- Sekilas Jurangnya
"Sayang," **Eileen** berbisik, suaranya lembut seperti bulu.
"Ya, Malaikat?" **Sebastian Stellios** bertanya, matanya tertuju padaku.
"Aku sangat mencintaimu." Kataku.
Senyum tersungging di bibir **Sebastian Stellios**, "Aku juga mencintaimu, Malaikat."
Aku memeluknya erat, tenggelam dalam kehangatannya. "Aku tidak bisa hidup tanpamu, cintaku."
**Sebastian Stellios** mengusap rambutku. "Kamu akan baik-baik saja."
"Bagaimana jika sesuatu terjadi padamu?" Aku bertanya, suaraku bergetar.
**Sebastian Stellios** mencium dahiku. "Tidak ada yang akan terjadi padaku."
"Kamu harus berjanji padaku."
"Aku berjanji," **Sebastian Stellios** berjanji, suaranya dalam dan stabil.
"Janji apa?" Aku bertanya, mataku masih mencari kepastian dalam tatapannya.
**Sebastian Stellios** tertawa kecil. "Aku berjanji akan selalu kembali padamu, **Malaikat**."
Senyumku melebar. "Aku akan menunggumu, **Cintaku**."
Kami berciuman, bibir kami menyatu dalam kelembutan dan gairah. Dunia menghilang, dan yang tersisa hanyalah kita.