26.2- Pikiran yang Tidak Diinginkan
Mengangguk, dia menunduk malu-malu, duduk di sisi lain tempat tidur, menarik rambutnya ke belakang telinga, menjaga jarak yang cukup.
'Semuanya baik-baik saja?' Dia bertanya pelan, tidak berani menatapku. Gak ada yang baik-baik aja sejak lo datang.
'Sudah empat bulan kita nikah, Eileen…' Aku mulai bicara, meletakkan ponselku untuk memberinya perhatianku, menatapnya dengan ekspresi mati.
'Terus?' Dia bertanya, gak ngerti kemana arah pembicaraan ini.
'Jadi gue mau lo tes kehamilan.' Jawabku tanpa ekspresi yang membuatnya bereaksi seolah-olah aku mengatakan sesuatu yang sangat salah dengan mata lebar dan jijik.
'Apa? Kenapa lo kaget banget?' Tanyaku, mengangkat sebelah alis ke reaksinya.
'G-gak, ini agak… mendadak…' Dia berdeham, melihat ke bawah lagi, tegang.
Menunjukkan ada sesuatu, tapi gue gak inget dia keluar rumah sama sekali jadi gak mungkin itu sesuatu yang gak gue suka setidaknya.
'Jelas itu bakal terjadi juga. Kita udah nikah dan gue percaya dalam segala hal, gue udah merhatiin kebutuhan seksual lo.' Gue mengangkat bahu, menyipitkan mata curiga padanya.
'Tapi, gue.. gak yakin gue siap, Sebastian.' Dia berbisik, menggoyangkan jari-jarinya di sekitar seprai, takut dengan reaksi gue, tapi itu cuma bikin gue tertawa mengejek.
'Eileen, gak mikir ini udah telat banget? Gue gak inget pernah narik keluar. Seharusnya lo lakuin sesuatu dulu.' Aku menyeringai, takjub dengan kepolosannya, tapi itu membuat gue senang untuk menariknya, menjatuhkannya, dan menguncinya di bawah gue dan menunjukkan padanya gimana reproduksi bekerja.
'Lo udah ditandai secara internal dan eksternal.' Gue menyeringai penuh kemenangan, matanya melebar dengan suram, hampir terkejut oleh sesuatu yang menghapus seringaian gue.
Pasti ada sesuatu dan reaksinya menunjukkan gue gak akan suka.
'Ada sesuatu yang mau lo kasih tau gue?' Tanyaku, mengangkat sebelah alis.
'Gak.' Dia bohong langsung, memalingkan muka, menggigit bagian dalam pipinya.
'Mending lo kasih tau gue sekarang, Eileen, atau lo bakal nyesel. Lo gak mau gue lebih kasar dari yang udah-udah. Percaya deh, gue gak mau.' Gue memperingatkannya, tapi dia tetap diam, gak mengangkat kepalanya.
Gue gak tau kenapa, tapi gue gak suka ngasih dia rasa sakit fisik. Mungkin karena dia rapuh atau kerusakan emosionalnya lebih diinginkan. Gue gak tau. Tapi, gue gak mau dia ngelakuin apapun yang akan memaksa gue buat menghukumnya.
'Ngomong.' Gue mengangkat sebelah alis ke sikapnya tapi menghela nafas, lagi gak mau bikin dia ngomonginnya sekarang.
'Ini.. gak ada apa-apa…' Nada bicaranya yang teredam datang, gak berani meninggikan suaranya ke gue. Gue meliriknya sebentar tapi menghela nafas, gue mengabaikannya dan pergi tidur.
Minggu berikutnya sibuk banget. Orang tua Eileen datang dan gue harus ngurusin situasi karena istri gue gak bisa bertindak kayak pasangan yang bener.
Terus mereka ngundang kita makan malam, yang jelas gue biarin menggantung karena suatu alasan, dan sekarang ketika liburan, gue mikir buat bikin Eileen memohon ke gue supaya diizinin pergi ke acara makan malam itu.
Suara permohonannya bakal memuaskan gue tanpa batas. Berkilauan dengan keringat di bawah gue hanya untuk meminta gue mengizinkannya nafas yang udah gue batasi sekarang.
Ah, alangkah indahnya itu, tapi gak. Rencana gue hancur karena orang tua gue memutuskan buat datang, dan itu gak ngelakuin apa-apa selain menguji kesabaran gue.
'Orang tua gue mau datang. Mereka bakal nginep.' Kataku ke Eileen dengan santai, masuk ke kamar kita, make ponsel gue, menggeram yang bikin dia takut.
'O-oke…' Dia mengakhiri kalimatnya, mengatur sesuatu di barang-barangnya yang gue abaikan sekarang dan terjatuh di tempat tidur, make ponsel gue.
Segera mereka datang dan kita menyapa mereka. Eileen bergegas ke Ibu gue seolah-olah dia adalah penyelamatnya yang paling gak gue suka.
Memutar mata, gue hampir menariknya kembali tapi gue denger Ayah bilang, 'Kamu punya surat wasiat saya?' Dia bertanya dengan serius.
'Iya, apa yang mau kamu lakuin dengan itu?' Tanyaku dengan santai supaya gak lepas pandangan dari Eileen yang berusaha buat gak nengok ke belakang.
'Ruben mau fotonya. Dia mau mengklaim bagiannya.' Jawab Ayah tapi itu bikin gue tertawa kecil dan hampir jijik.
'Oh, jadi sekarang dia mau bagian propertinya setelah membiarkan kamu kerja keras menggantikannya.' Gue mengejek, jelas gak suka ini.
'Kenapa? Apa dia bosen setelah jadi anjing buat saudara-saudara Sheikh sialan itu - terutama Asad, ya?' Ejekku, memutar mata. Benci Asad karena - lupakan. Gak penting lagi.
'Apapun itu, dia punya bagian warisan yang adil dan kamu harus memberikannya kepadanya. Sekarang, bawakan saya surat wasiat saya.' Dia bilang dengan tegas tapi menghela nafas, gue gak peduli dan bergumam.
'Oke.' Gak repot-repot mikirin itu terlalu banyak, gue balik ke kamar gue. Gue cuma ngelemparnya ke lemari dan sekarang nyarinya susah.
Gue nyari di sisi gue tapi gak nemu apa-apa. Pasti ada di punya Eileen jadi gue mulai nyari juga. Nyari kertas yang gak gue minati. Bahkan, gue gak mau Ruben datang sejak awal.
Kenapa dia gak bisa tinggal di Dubai aja sama temen-temennya yang katanya? Dia bukan salah satu dari kita. Semua yang dia punya itu Asad sialan itu.
Dengan cemberut, kemarahan mulai menguasai gue yang dicampur dengan frustrasi ketika gue gak bisa nemuinnya. Gue mulai marah, kehilangan kesabaran.
Dan buat nambahin kemarahan gue, mata gue tertuju pada sesuatu yang lain saat gue nyari. Gue nemuin beberapa pil dan gue bukan dokter buat tau itu buat apa, tapi itu jelas bukan pereda nyeri.
Penasaran, gue nyari di internet buat tau dan cuma dalam sepersekian detik, gue kesal buat mikir kenapa Eileen minum obat tanpa alasan.
Apa dia baik-baik aja?
Tapi, gak, cewek ini selalu harus nyerang di mana gue kehilangan kesabaran dan akhirnya kehilangan akal sehat. Nyari tau, gue nemuin itu pil kontrasepsi dan gue udah cukup dia ngetes gue sekarang.
Lo udah mati, Eileen.