Air Terjun Messafara
Sudut Pandang Klementine
"Kita sampai." Gue ngeliat ke depan dan ngeliat air terjun, Air Terjun Messafara.
"Oh, minum air dulu deh sebelum jalan-jalan." Kata Creed sambil ngeliatin gue. "Lo gak apa-apa, kan?" Dia nanya. Gue senyum dan ngangguk.
"Dia gak papa kok." Gue noleh dan ngeliat Fin, dia langsung ngerangkul gue dan narik gue lebih deket ke badannya. Jantung gue, kenapa dia kayak gitu sih? Nyebelin banget, soalnya tiap kulit kita bersentuhan, jantung gue hilang! Klementine, itu cuma bikin lo jatuh, jadi jangan jatuh kalau gak mau sakit dan ditinggal di udara, oke?
"Eh, Fin, lo harus ngaku deh sama kita." Kita noleh ke Leana. "Lo suka Klementine gak sih?" Dia nanya yang bikin gue kaget. Gue denger suara ketawa pelan Fin jadi gue ngeliat ke atas dan dia langsung ngeliatin gue.
"Gak keliatan ya?" Dia nanya yang bikin gue nelen ludah.
"Jadi lo mau sesuatu untuk--"
"Koreksi, gue gak suka dia." Kata Fin. Oh gitu ya Klementine? Dia emang udah-- "Karena gue cinta dia." Hampir aja gue ngomong sesuatu yang buruk pas Fin ngomong gitu.
"Jijik." Reaksi Von dan Van.
"Ada yang cemburu nih." Kita noleh ke Leona yang lagi ngeliatin Creed, gue noleh ke Creed tanpa ekspresi.
"Ah, gue minum aja deh." Kata gue trus Fin ngelepas tangannya dari rangkulan gue dan jalan lebih deket ke Leana dan Leona.
"Tau gak sih, gue rasa Fin serius deh sama yang dia bilang." Kata Leana pas gue bisa nyamperin mereka.
"Hmm gue juga. Ini pertama kalinya gue ngeliat saudara laki-laki gue kayak gitu." Kata Leona dan minum air dari air terjun.
"Lo Klementine, lo suka Fin gak sih?" Tanya Leana. Gue noleh ke Fin yang lagi ngomong sama Creed sementara Von dan Van ada di samping mereka.
"Gak tau." Jawab gue trus duduk dan mulai basahin tangan gue. Tapi bahkan sebelum tangan gue kecelup, rasanya kayak gue kena siram air panas di tangan gue.
"Airnya panas." Kata gue yang bikin Leana dan Leona berhenti. Gue bisa ngeliat mereka nyelupin tangan mereka ke air.
"Gak juga deh." Kata Leana. Gue nyoba celupin tangan gue lagi tapi beneran panas banget.
"Serius? Panas loh di bagian sini." Kata gue. Leona nyamperin gue dan nyelupin tangannya.
"Enggak ah." Kata dia jadi gue ngernyitkan dahi. Gue langsung celupin tangan gue ke air dan hampir meringis kayak rasanya tangan gue mau putus.
"Ahhhhh!" Teriak gue. Air mata gue langsung ngumpul karena rasa sakit yang gue rasain.
"Sial, apa yang terjadi?" Fin langsung nanya pas dia nyamperin gue.
"Tangan kiri lo merah, Clemente." Kata Van jadi gue bisa ngeliat tangan gue yang lagi dicelupin ke air.
"Apa yang terjadi?" Tanya Creed.
"Dia bilang air dari air terjun panas." Kata Leana jadi Fin mengerutkan dahi. Dia langsung ngapus air mata yang keluar dari mata gue sambil megang tangan kiri gue. Dia nutup mata dan ngomong bahasa aneh. Gak lama kemudian, gue gak ngerasain sakit lagi di tangan gue yang disebabkan oleh air hilang. Kemerahan di tangan gue juga hilang jadi gue udah tenang. Fin buka mata trus meluk gue.
"Lo bikin gue kaget. Lo gak papa kan sekarang?" Dia nanya. Gue cuma ngangguk.
"Airnya gak panas kok." Kata Creed sambil nyelupin tangannya ke air.
"Bener, kulit Klementine hampir kekelupas tadi." Kata Leana.
"Mungkin dia alergi?" Tanya Von pas Van langsung nge-tonjok dia.
"Mungkin dia gak kuat sama air." Kata Van.
"Luh, kalau dia gak kuat sama air, kenapa Fin gak nyiram dia pake Anggur aja?" Tanya Von.
"Ya udah jelas Anggur." Keluh Van.
"Bahkan kalau masih air, isinya cuma alkohol." Von menghela napas.
"Diam!" Teriak Leona dan ngeliatin gue. "Lo Gredator ya?" Leona nanya. Gue mengerutkan dahi pas denger pertanyaan dia.
"Gredator? Apaan tuh?" Tanya gue.
"Itu adalah--"
"Diam Leona, Klementine itu manusia murni dan dia gak bisa kayak gitu." Pas Fin motong omongan Leona. "Mungkin kryptonite dia itu air tawar dari air terjun itu." Kata Fin dan noleh ke gue.
"Tapi cuma Gredator yang takut sama air tawar dari Air Terjun Messafara." Kata Leana.
"Jadi lo mikir dia monster?" Tanya Fin sambil ngeliatin Leana. Fin megang tangan gue. "Dia manusia murni. Gak ada tanda-tanda jadi monster." Kata Fin dan nge-glare ke Leana.
"Cuma kebetulan kulitnya ngelupas. Jangan coba-coba mikir Klementine itu monster." Kata Fin.
"Gue gak bilang dia monster, emang lo denger gitu?" Keluh Leana.
"Seolah-olah lo nyindir dia monster." Kata Fin.
"Fin cukup." Bisik gue. "Gak." Dia bilang dan ngeliat gue.
"Putri gue gak boleh ditindas." Dia bilang dan ngalihin pandangan dia lagi ke saudari.
"Oke, dia bukan monster dan semua gak mungkin dia Gredator, dia cuma perempuan biasa dari daerah orang." Kata Leana dan ngeliat gue.
"Lo gak bisa berhentiin waktu, kan?" Dia nanya yang bikin gue deg-degan.