Permainan Iblis
POV Fin
"Main yuk." Gue bahkan udah berusaha ngejar Vixie pas dia lagi gendong Klementine, tapi mereka tiba-tiba ngilang. Sialan!
"Sialan!" Gue ngumpat sambil ngerampas pedang dari orang, terus ngadepin Leana.
"Kita pisah semua! Cari Vixie dan pastikan dia mati!" Gue teriak sambil terbang, terus ngeliatin sekeliling tempat itu, tapi gue nggak nemuin Vixie. Ada sesuatu yang bener-bener nggak beres sama Klementine. Gue bakalan mastiin buat ngubur jasad Vixie di lubang. Gue mulai nyari-nyari di setiap sudut cuma buat nemuin Vixie, tapi gue nggak nemuin jejaknya sama sekali. Sial!
POV Leona
"Kalian semua! Kalau nggak mau kena masalah gara-gara urusan vampir, pulang aja, tutup semua jendela dan pintu kalian! Begitu gue liat ada pengelana lain di luar, gue pastiin gue bakalan nyedot darah kalian!" Gue teriak buat ngebuat orang-orang kena masalah, dan mereka langsung pada kabur ke rumah masing-masing.
"Kalian semua!" Gue ngeliat Von yang ngomong. Dia ada di depan murid-murid SMA Vampir.
"Ingat permainan kita waktu Vampir Nasional? Kelompokin diri kalian, semua yang setengah Vampir dan setengah Serigala ikut gue, yang setengah Vampir dan setengah monster ikut Van, yang setengah penyihir ikut Leana, yang setengah elemen ikut gue sama Leona, dan kalian vampir murni tau Lit dan Creed kalian ikut. Bergerak!" Von teriak. Para setengah vampir dan setengah elemen datang di belakang gue. Gue ngeliat Leana yang lagi ngomong sama orang-orang yang mau ikut dia.
"Bakalan lebih gampang nyarinya kalau kita pisah, kayak kata Fin. Bunuh Vixie dan lindungi Klementine, ngerti?!" Creed teriak.
"Siap!" Mereka semua langsung jawab.
"Hitungan ketiga, 1, 2, 3!"
"Cus!" Gue teriak dan mimpin pencarian di sisi barat.
POV Klementine
"Mau apa sih? Lo nggak bakal seneng kalau bunuh gue!" Gue teriak ke Vixie. Dia malah ketawa dan ngarahin pedang ke leher gue.
"Kalau lo mati, gue jadi makhluk paling bahagia di dunia." Dia ngomong kayak orang gila.
"Kenapa lo pengen gue mati?" Gue nanya. Dia ngeliatin gue dan nurunin pedangnya, dia nuntun gue ke alun-alun yang udah nggak kepake. Sekarang, seluruh badan gue diiket ke kincir ria tua.
"Kenapa ya?" Dia nanya lagi dan pura-pura mikir.
"Oh iya, karena lo emang harus mati." Dia ngomong gitu terus nampar gue keras banget.
"Gara-gara nenek moyang lo, kita Zonde udah kelelahan, gara-gara Gredator kayak lo, gue satu-satunya Zonde yang tersisa di dunia!" Dia teriak sambil ketawa.
"Gue inget waktu kecil, nyokap ngajarin gue buat berantem buat lindungin diri dari Gredator kayak lo. Dan sekarang, gue lagi lindungin diri." Dia ngomong.
"Apa pun yang nenek moyang gue lakuin ke lo, gue nggak tau--"
"Lo yang harus bayar." Dia motong omongan gue dan senyum.
"Lo nggak tau gimana susahnya nyari Gredator kayak lo, gue bahkan jadi antek Vaughn cuma buat nemuin lo." Dia ngomong dan nampar gue lagi.
"Kakek gue bilang... Jangan pernah nyakitin tetangga karena itu nggak baik." Gue ngomong.
"Terus? Mari kita beda dari yang gede-gede, sayang, tapi tau nggak apa yang sama dari kita?" Dia nanya dan senyum.
"Kita sama-sama monster." Setelah dia ngomong gitu, dia ngeluarin pisau kecil dan nyayat pipi gue.
"Ahhhhh!" Cuma dengan teriak gue tau apa yang bisa gue lakuin kali ini. Dia nyengir sambil ngeliatin darah gue ngalir.
"Kayaknya lo luka, sakit?" Dia nanya dan ketawa.
"Tambah lagi yuk." Setelah dia ngomong gitu, dia mulai nyayat tangan gue sampai ke siku.
"Udah cukup, please." Gue nangis, tapi dia kayaknya tuli, nggak ada yang denger. Dia ketawa ngakak denger gue teriak kesakitan.
"Klementine!" Gue ngangkat kepala buat nyebut nama gue dan ngeliat Creed sama beberapa murid SMA Vampir. Mereka ngepung kita dan ngarahin panah, pedang, dan alat-alat lainnya ke Vixie.
"Pergi sana!" Creed teriak ke Vixie. Vixie cuma senyum dan ngangkat kedua tangannya kayak nyerah. Dia juga ngelempar pisau yang dia pegang. Lit nyamperin gue dan ngebuka ikatan gue, dia langsung meluk gue pas gue lepasin diri.
"Lo luka." Lit ngomong. Gue cuma senyum kecut dan ngeliatin ke arah Creed dan Vixie.
"Gue tunjukin sesuatu." Vixie ngomong dan nutupin muka Creed pake pasir, terus ngilang kayak gelembung. Gue ngebalik badan dan ngeliat Vixie megang tangan gue, terus dia nusuk Lit, dan dalam sekejap kita pergi ke tempat lain lagi.