Permulaan Permainan
Sudut Pandang Klementine
Sekarang kita lagi berdiri di depan air terjun. Tempatnya bagus banget, masih ada serangga-serangga terbang gitu.
"Kita di sisi barat." Aku ngeliatin Fin yang lagi megangin tanah sambil merem. Dia buka mata terus ngeliatin aku, jadi aku ngehindarin tatapan dia.
"Emang lo nggak punya kekuatan apa-apa, ya?" Aku noleh ke Fin yang lagi ngeliatin aku. Aku ngeliatin mereka yang bareng kita yang udah pada ngeliatin kita berdua.
"Woi Fin, jangan mulai rusuh, deh." Leana ngegerutu.
"Gue cuma nanya dia nggak punya kekuatan apa nggak, biar gue bisa tau siapa yang diuntungin." Aku nggak enak denger omongan Fin.
"Kita ke sisi timur aja." Aku ngeliatin orang yang megangin tangan aku, ternyata Creed.
"Ngapain kita ke sisi timur kalau garis finish-nya di sisi utara?" tanya Fin.
"Ada Gorbloy di sisi utara yang jagain depan garis finish, bakal lebih gampang kalau kita lewat belakang." kata Creed.
"Lebih gampang kalau kita lawan Gorbloy, soalnya mereka lebih lemah dari murid-murid yang bisa kita lawan di sisi timur." kata Fin.
"Tsk, kenapa sih lo masih mau berantem? Liat nih." kata Von, makanya kita ngeliatin mereka berempat. Leona sama Leana lagi ngeliatin kertas, jadi kita nyamperin.
"Peta labirin." kata aku. "Kita di sini." kata Van sambil nunjuk ke ujung labirin.
"Fin salah ngomong kalau kita ada di sisi barat, kekuatannya jadi ngaco soalnya kita sekarang ada di tempat Kryptonite. Kekuatan kita jadi ngaco." kata Leona terus duduk di batu deket kita.
"Berarti, kita ada di ujung labirin dan musuh kita udah pada nyebar." kata Fin.
"Bener. Ya udah, cus." kata Leana sambil nunjuk peta, aku ngeliatin, ternyata jalan itu mau ke hutan penyihir.
Aku cuma ngeliatin peta, kita ada di antara hutan Penyihir dan hutan Gelap.
"Uhm... Boleh nanya nggak?" Aku berbisik. Mereka ngeliatin aku.
"Seberapa kuat sih kemampuan sihir kalian?" Aku nanya ke si kembar, jadinya semua diem.
"Lo meragukan kemampuan sihir kita gitu?" Aku kayaknya udah nyinggung Leana. Aku nelen ludah.
"Nggak gitu, soalnya aku baru nyadar kalau kita ada di antara Hutan Penyihir dan Hutan Gelap. Dari yang aku baca di buku, kalau kita ke hutan penyihir, semua penyihir yang lewat dengan kemampuan super kuat bakal jadi lemah. Penyihir yang kemampuannya lemah bakal jadi kuat kalau lewat di hutan Gelap." kataku, jadinya mereka pada ngernyitkan dahi.
"Dia bener." kata Fin.
"Berarti kalau kita lewat hutan penyihir, gue sama Leona bakal jadi lemah gitu?" Leana nanya ke aku.
"Uhm... Iya, bahaya juga kalau kita lewat hutan Penyihir terus ketemu vampir penyihir lain." kataku. Leona ngelerai mereka terus ngeliatin aku terus senyum.
"Ya ampun, Klementine, lo pinter banget." kata Leona sambil ngasih jempol.
"Jadi kita mau lewat hutan gelap nih?" tanya Creed.
"Nggak ada pilihan." Kata Van.
"Tapi kan gelap?" tanya Von.
"Gelap banget, kan?" Van nanya balik ke Von.
"Tapi kita butuh cahaya." Di saat yang sama, kita ngeliatin Fin yang lagi main api di tangannya.
"Oke kita punya cahaya, cus." Kata si kembar terus mulai jalan ke hutan gelap. Kita fokus ke Fin yang seluruh badannya berubah jadi api. Bagus deh, jadi kita semua bisa ngeliat. Kita baru jalan, si kembar cowok di depan kita berhenti.
"Kenapa nih?" Leana nanya. Von sama Van nyium-nyium udara terus noleh ke kita.
"Ada Vampir Serigala di sekitar. Sembunyi, Clemente." kata Van terus berubah jadi serigala.
Apinya mati di seluruh tubuh Fin. Aku kaget karena ada yang meluk pinggang aku. Aku ngeliatin dan ngeliat tangan Fin.
"Lo di sini aja, di samping gue. Jangan kemana-mana, jangan jauhan. Pegang tangan gue kalau lo takut. Gue bakal lindungin lo." Tiba-tiba jantung aku berdebar lebih cepet gara-gara omongan Fin. Dia noleh ke aku, jadinya mata kita ketemu.
Aku nelen ludah karena perasaan yang campur aduk. Kita denger suara, jadinya kita ngeliat sekeliling kita di depan kita.
"Mereka lagi berantem sama Von dan Van." kata Creed pelan terus berubah jadi kelelawar.
"Jangan ikutan, mereka bisa kok." kata Leona. Aku ngerasa genggaman Fin ke aku makin kenceng, jadinya aku noleh ke dia. Kenapa sih jantung aku deg-degan?
Beberapa menit kemudian mereka bertiga balik lagi ke sini. Aku perhatiin Von ada goresan di pipi kirinya.
"Sakit, Bro?" Van nanya dia. "Nggak Van, nggak." jawab Von sarkas terus ngeliatin dia.
"Ayo jalan." Fin ngelepasin aku dan masang api di seluruh tubuhnya lagi. Fin jalan duluan. Si kembar cuma ngeliatin aku terus jalan.
"Ayo." kata Creed terus megang tangan aku terus jalan juga.