Terima Kasih
Sudut Pandang Klementine
Mata gue kebuka, dan muka Fin langsung jadi yang pertama gue lihat. Apa lagi nih?
"Bagus deh lo udah bangun. Gue kira lo bakal molor di kasur seumur hidup." Dia ngomong gitu sambil duduk di kursi samping ranjang gue. Gue duduk di kasur dan celingak-celinguk.
"Gue di mana?" tanya gue. "Sekolah Vampir." Jawab dia. Philosopher!
"Ngapain lo di sini?" tanya gue.
"Kayaknya sih buat jagain lo." Jawab dia, bikin gue kaget. "Oh, lo mikir lagi kalo gue suka sama lo? Jangan ngimpi deh. Gue jagain lo karena mungkin gue dapet konsesi, gue nggak mau ninggalin lo sama saudara-saudara gue yang tolol karena mereka emang tolol." Kata dia sambil senyum.
"Apa yang terjadi?" tanya gue.
"Lo pingsan karena lo juga tolol." Kata dia. Pengen banget gue gunting lidahnya.
"Mungkin gue bisa pergi sekarang kan? Mungkin lo nggak tolol jadi lo bisa pergi sendiri dari sini." Kata dia sambil berdiri terus balik badan.
"Makasih!" Gue ngejar dia pas dia kaget dan pelan-pelan balik badan ngadep gue. Dia cuma ngeliatin gue, jadi gue senyumin dia. Beberapa saat kemudian, dia tiba-tiba ngilang kayak gelembung, bikin gue ngehela napas. Apa sih Fin ini emang nggak normal? Nggak bilang sama-sama sebelum ngilang. Gue mulai benerin diri dan keluar dari klinik. Gue ada di klinik.
Waktu gue keluar dari klinik, gue mau masuk ke kelas pas kita denger pengumuman.
"Murid-murid Sekolah Vampir... Semua kelas kalian hari ini ditunda. Gue ulang, kelas kalian ditunda." Murid-murid yang gue temuin teriak kegirangan. Kenapa ditunda sih? Gue cuma garuk-garuk kepala dan nyari Lit.
Mana sih cewek itu? Tiba-tiba ngilang dan kemana aja, ngalahin Dora dalam hal jadi penjelajah.
Gue udah nyampe di Atap gedung kita tapi Lit emang nggak ada di sana. Mana tuh dora?
"Capek juga nyari ah." Kata gue ke diri sendiri dan duduk dulu di sisi gedung yang bisa gue lihat dan ngawasin luar Sekolah Vampir. "Seriusan, gue kangen di luar." Kata gue ke diri sendiri.
"Ngapain lo di sini?" Gue kaget sama yang dia bilang dan gue hampir jatuh dari tempat duduk gue pas gue ngeliat Fin duduk di samping gue.
"Ngapain lo di sini?" tanya gue kaget. Dia noleh ke gue.
"Gue duluan yang nanya jadi lo duluan yang jawab." Kata dia. Vampir satu ini emang bener-bener bikin gue emosi.
"Gue lagi nyari Lit tapi nggak ketemu jadi gue istirahat di sini." Jawab gue. "Lo ngapain di sini?" tanya gue balik.
"Ini tempat favorit gue." Jawab dia sambil ngeliatin luar Sekolah Vampir.
"Emang lo nggak tinggal di luar Sekolah Vampir? Dan mataharinya nyinari tempat tinggal lo... Gimana rasanya pas matahari terbit?" Dia nanya dan noleh ke gue. Gue senyum kecut.
"Gue nggak tau." Jawab gue.
"Pagi-pagi gue cuma ngurung diri di kamar, gue nggak suka cahaya dan kalo ngeliat matahari... Gue takut." Kata gue terus ngeliatin dia. Dia cemberut.
"Lo takut sama matahari? Emangnya lo bukan manusia?" Dia nanya.
"Iya gue manusia tapi gue nggak tau kenapa gue takut sama matahari. Gue lebih biasa sama malam daripada siang. Jadi gue cuma bisa keluyuran tiap malam." Kata gue. "Nggak semua orang suka matahari." Tambah gue.
"Tapi setau gue orang-orang nggak takut sama matahari." Kata dia.
"Gue nggak tau. Gue cuma manusia dan takut sama matahari." Kata gue.
"Mungkin lo Vampir?" Gue ngeliatin dia dan ketawa.
"Nggak ah, gue murni manusia." Kata gue.
"Apa lo nggak takut sama kita, para Vampir?" Dia nanya, bikin gue mikir.
"Awalnya iya tapi pas udah biasa jadi nggak lagi." Kata gue.
"Hah?"
"Di luar Sekolah Vampir, gue punya temen Vampir. Dia cowok dan baik. Dia bilang ke gue kalo nggak semua Vampir minum darah manusia." Kata gue.
"Berarti gue tau kalo semua Vampir di sini di Sekolah Vampir nyari darah hewan, karena kalo nyari darah manusia, harusnya lo udah minum darah gue pas gue masuk Sekolah Vampir." Gue ketawa.
"Apa lo nggak takut sama gue?" Dia nanya, bikin gue ketawa.
"Kenapa gue harus takut sama cowok bencong kayak lo?" tanya gue.
"Lo ngomong apa? Siapa yang bencong?" Dia nanya kesel.
"Lo." Jawab gue. Dia ngeliatin gue sinis.
"Lo kalah apa? Hahaha, lo udah biasa kali lo doang yang jadi api di seluruh Sekolah Vampir." Kata gue.
"Gue sama saudara-saudara gue yang takut sama murid-murid di sini. Tapi lo beda." Kata dia, bikin gue ketawa. "Karena gue manusia." Kata gue.
"Hm... Gue belum sempet bilang makasih buat apa yang lo lakuin ke gue sebelumnya." Dia bilang, bikin gue mengerutkan dahi.
"Gue nggak tau gimana caranya lo ngelakuin itu tapi Makasih." Kata dia dan senyum, bikin jantung gue deg-degan. Fin... Si musuh gue yang kasar dan keras kepala, senyum ke gue? Dan parahnya dia bilang makasih, apa ini efek mereka berhenti sebelumnya?