Leana dan Leona
Sudut Pandang Klementine
Setelah kue itu kena kemarin di kantin, semua orang di SMA Vampir marah ke aku. Kecuali Lit yang bangga banget sama apa yang aku lakuin.
Sebenernya aku gak mau gitu sama Fin, tapi kelakuannya ke aku juga gak bener. Emang kamu mau duduk dua kali trus nyiram jus sama darah yang dia minum kemarin, hah? Tentu aja, aku nyuci seragamku lagi tadi malem.
Karena kejadian kemarin, banyak banget yang berubah. Kalo dulu orang-orang yang aku lewatin pada senyum ke aku, sekarang mereka malah ngeliatin aku gak enak.
Bahkan ada yang ngehalangin jalan terus nabrak depan-depanan. Gara-gara Fin nih? Ku hajar aja muka mereka pake Fin itu.
Aku keluar dari kamar Lit sama aku lebih awal karena gak mau telat, aku udah hampir sampe di ruang pelajaran kita jadi aku tidur dulu di meja ini. Belum ada Guru juga dan aku satu-satunya di sini.
"Oh? Udah dateng duluan nih." Aku ngelihat ke atas pas denger suara. Mataku membelalak pas ngeliat Leana sama Leona ngeliatin aku.
"Kita ganggu tidurmu ya." kata Leona.
"Kamu nginep di sini semalem?" tanya Leana. Aku geleng.
"Tapi kamu keliatan gak takut? Fin kan yang paling kuat di seluruh sekolah, kamu gak takut." kata Leana dan duduk di sampingku. Leona ngambil kursi dan duduk di seberangku. Aku nelen ludah.
Apa mereka mau marahin aku karena ngelempar kue ke Fin kemarin?
"Kamu tau, kita sayang kamu." Leona dan Leana ngomong barengan. Aku ngeliatin mereka.
"Di seluruh SMA kamu yang pertama kali berantem sama yang paling muda dari kita." kata Leana.
"Kamu tau gak sih semua murid di sini di bawah kendali kita? Tapi dia lebih nempel di dalem, jadi dia yang ditakutin sama seluruh sekolah kecuali kita, saudaranya." tambahnya.
"Kamu satu-satunya di seluruh SMA yang ngelempar dia kue yang baru dipanggang, aku salut." kata Leona dan nyenderin badannya di kursi.
Aku gak ngomong karena aku gak ada yang mau diomongin dan satu lagi, aku salah satu dari mereka.
"Kalo kamu terus lakuin apa yang kamu lakuin Klementine, itu bagus." kata Leana sambil senyum.
"Kamu gak punya lidah sekarang?" tanya Leona jadi aku kaget.
"A-aku punya kok." kataku.
"Kenapa kamu gak ngomong?" tanya Leana.
"Soalnya aku kaget." jawabku sambil ngangguk.
"Oh? Kamu kaget? Hahahahaha" Leana ketawa.
"Kamu tau Klementine, dari apa yang udah kamu lakuin, kamu tuh gak boleh diitung. Kita udah lama banget pengen punya lawan buat yang paling muda kita karena dia punya kebiasaan yang buruk banget." kata Leona.
"Dan sekarang kamu ada di sini, kita seneng kamu yang berani dan amazon yang ditemuin saudara kita." kata Leana.
"Kalian gak mau marahin aku?" tanyaku.
"Kita gak akan marahin kamu kok. Di perkelahian ini kamu ayam kita." kata Leana. Liat deh, mereka malah bikin aku jadi ayam.
"Selama kamu punya pertanyaan soal Fin, tanya aja kita, kita bakal jawab." kata Leona dan berdiri.
"Bener banget. Selama kamu terus lakuin apa yang kamu lakuin ya?" kata Leana ketawa dan berdiri trus ngikutin Leona ke kursinya. Bel berdering dengan benar buat para murid masuk ke ruangannya.
Aku cuma bisa ngeliat ke luar.
Anehnya saudara-saudaranya Fin. Bukannya ngebela saudara termuda mereka, malah nge-support apa yang aku lakuin kemarin.
"Selamat pagi !!!" Kembaran cowoknya Vaughn nyapa mereka dengan ramah pas mereka masuk.
"Kalian berisik banget deh." keluh Leona.
"Selamat pagi Tante Leana dan Tante Leona!" Si kembar ngomong barengan bikin kesal saudara kembarnya
"Selamat pagi juga Klementine." Aku kaget sama apa yang mereka omongin dan ngeliatin keduanya. Mereka ketawa dan duduk di kursi mereka trus ngedipin mata.
Aku ngalihin pandanganku balik ke pintu dan ngeliat Creed sama Fin masuk berdua tanpa ekspresi.