Creed Vaughn
Sudut Pandang Klementine
Gue hancur banget lihat sirop cokelat menetes dari wajahnya sampai ke lehernya.
"Apaan sih?!" Kita lihat si tukang teriak dan dari tempat duduk mereka gue lihat Leana bangun dan nyamperin ke sini, tempat kita berdiri, Leona ngikutin. Von dan Van juga datang. Semua mata tertuju ke kita.
"Lo kenapa, Saudara?" tanya Leana.
"Udah dibilangin jangan ke sini." Von menggerutu sambil ngeliatin gue. Gue nelen ludah.
"Lo gak apa-apa?" Gue ngangkat muka pas denger suara Creed. Gue nelen ludah karena dia ngeliatin gue, gue ngangguk.
"Fin!" teriak Leana. Dari tempat duduk mereka di atas, Fin muncul dan ngeliatin Leana terus ke kita.
"Oh? Ada yang kena lagi. Salah sasaran." kata Fin terus langsung ngebelakangin kita.
"Fin! Lo beneran kekanak-kanakan banget sih?!" teriak Leana.
"Aduh, kita harus nutup kuping nih." Gue ngeliatin Van yang udah nutup kuping pake kedua tangannya. Gue balik lagi ngeliatin Creed yang lagi ngelap dirinya. Gue ambil sapu tangan gue dan nyamperin dia.
"Biar gue bantu." kata gue, jadi dia ngeliatin gue, gue cuma senyum terus bantuin dia ngelap mukanya.
"Bukan salah gue kalau Creed kena, lagian dia tahu rencana kita." Gue denger Fin ngomong.
"Kenapa sih lo pengen nyakitin Klementine?!" tanya Leona dengan marah.
"Karena dia yang pertama! Dia harus tahu apa yang dia hadapi." Gue denger Fin ngomong. Gue ngeliatin mata hijau laut Creed, jadi gue nelen ludah.
"Mata lo keren." kata gue, jadi dia senyum.
"Jangan diliatin, nanti sesak napas." Katanya terus nutup mata gue. Gue singkirin tangannya terus senyum.
"Makasih ya." kata gue. Nunjuk ke apa yang dia lakuin buat ngelindungin gue dari sirop cokelat.
"Sama-sama." Jawabnya. Gue ngeliatin Fin yang masih berantem sama Leona dan Leana. Beberapa saat kemudian kita ngerasain gempa, jadi gue pegangan di dinding, tapi ternyata bukan dinding yang gue pegang, melainkan dada Creed, mata gue membelalak, jadi gue lepas pegangannya, tapi gue jadi gak seimbang karena kekuatan gempa yang berlebihan. Gue hampir aja jatuh kalau gue gak ngerasa ada yang narik pinggang gue. Gue buka mata dan ngeliat warna hijau laut di matanya.
"Jangan gerak, nanti pusing." Katanya, jadi gue nelen ludah. Kita deket banget.
"Udah cukup Fin!" teriak Leona, jadi kita ngeliat ke arah mereka bertiga dan mata gue membelalak pas ngeliat Fin melayang di udara dan dibungkus tanaman. Waktu gempanya berhenti, Creed bantu gue berdiri tegak.
"Lo gak apa-apa?" tanyanya.
"Iya, makasih lagi ya." kata gue sambil geleng-geleng.
"Sama-sama lagi." kata Creed sambil senyum.
"Lo tuh sukanya gempa bumi banget sih? Gimana kalau sekolah vampir ini runtuh dan mereka semua kabur?!" kata Leona kesal dan nyuruh tanamannya buat ngebiarin Fin pergi. Fin jatuh dari atas, jadi mata gue membelalak pas ngeliat Fin jatuh. Dia bakal jatuh ke area pisau. Hampir semua penonton membelalakkan mata mereka. Bahkan mata Leana dan Leona juga membelalak.
Sementara gue terlalu deket buat denger semua orang teriak. Tiba-tiba gue berharap gak ada hal buruk yang terjadi sama Creed, gue cuma merem beberapa menit sampai gue gak denger suara apa-apa lagi. Seluruh area jadi super hening. Seolah-olah ada malaikat lewat tanpa kita sadari.
Jadi gue pelan-pelan buka mata dan kaget sama penglihatan gue.
Mereka semua berhenti, berhenti dan gak bergerak. Gue liat sekeliling, ada apa ini?