Perdebatan Keluarga
Sudut Pandang Klementine
Aku duduk diem di samping Fin sambil makan. Gak ada satupun saudara kandungnya yang ngomong setelah kejadian tadi. Vixie juga udah berenti nangis dan sekarang makan diem-diem. Tuan Vaughn, di sisi lain, ngeliatin Fin yang makan dengan tenang sambil cemberut dan megangin salah satu tangan aku.
"Coba kasih tau aku, Fin, gitu ya cara kamu benci aku?" Aku ngelihat ke atas, ke apa yang Tuan Vaughn bilang. Fin gak bisa ngomong. Dia cuma terus makan. Dia ngeliatin aku dan natap piringku.
"Udah selesai?" Dia nanya aku. Aku ngangguk. Jujur aja, aku gak nafsu makan. Aku kehilangan nafsu makan setelah Fin dan saudara kandungnya jawab. Rasanya kayak aku ada di film langsung di mana di depan aku, aku jadi saksi gimana Fin jadi monster. Gimana hati Fin jadi batu.
"Fin, Papa nanya kamu." Leana ngomong dengan suara yang nyebelin. Fin masih gak gerak. Aku denger suara tawa lemah Vixie jadi aku ngeliatin dia.
"Klementine, coba kasih tau kita, apa yang kamu suka dari Fin?" Vixie nanya. Saudara kandung Fin ngeliatin aku dan Fin. Aku ngerasain genggaman Fin di tangan aku erat.
"Apa kamu suka jadi cowok nakalnya dia? Atau mungkin kamu cuma pengen terkenal." Tambahnya. Fin ngelihat ke atas ke Vixie. Fin hampir berdiri waktu aku berentiin dia dan ngasih isyarat buat dia tenang. Aku ngeliatin Vixie.
"Aku gak ngehakimin Fin, tapi ... Kayaknya dia anak yang nakal banget ya karena dia bisa jawab bapaknya? Sekarang ini, kebiasaan kayak gitu udah dibuang." Dia nambahin.
"Fin gak nakal." Aku ngomong jadi dia diem.
"Dia baik, peduli, dan penyayang. Iya, dia bisa jawab papanya, mungkin karena mereka berdua punya masalah. Aku kenal Fin. Dia gak bakal buang sikapnya kecuali orang di depannya yang dibuang dan gak ada gunanya ngomong sama dia." Aku ngomong dan senyum. Vixie senyum keras dan minum anggur.
"Kenapa kita bahas kelakuan Fin? Kalo dia nakal ya nakal. Gak ada yang bisa ngerubah dia kecuali Klementine ada di depannya." Leona yang bosen ngomong dan ngelihat ke atas ke Vixie. "Kamu bahkan ngalahin penyelidik kalo kamu nanya. Apa itu bagian dari kerjaan kamu sebagai simpanan?" Leona nanya Vixie jadi Von dan Van ketawa. Vixie senyum.
"Fin bukan satu-satunya yang buang sikap." Kata Vixie.
"Bener banget, kita Vaughn. Nama keluarga kita Vaughn. Kamu bisa berharap orang tua kita buang sikap karena ke mana lagi anak bakal nurun selain dari orang tuanya, kan?" Leona senyum dan bersandar di kursinya.
"Aku heran kenapa kelihatannya ... Kamu gak suka Fin dan Klementine." Van mengeluh.
"Jangan bilang ... Kalo kamu cinta pada pandangan pertama sama yang paling muda dari kita?" Van nanya jadi Leona ketawa.
"Bener banget Van. Kamu tau apa yang cewek jalang bilang?" Leona ngomong dan ngeliatin Vixie. "Umur gak masalah." Katanya jadi Vixie ketawa.
"Aku gak tau apa yang kamu omongin." Vixie ngomong sambil ketawa. "Aku khawatir sama Klementine. Soalnya lihat deh, Klementine kelihatan kayak malaikat. Sayang banget dia jadi malaikat kalo dia cuma berakhir sama iblis."
"Jadi kamu lagi berusaha bilang Fin itu iblis?" Van nanya.
"Mungkin? Hahaha."
"Gak usah khawatir, tanduk kamu lebih panjang dari aku." Keluhan Fin berentiin tawa Vixie.
"Kamu malu-maluin." Kata Tuan Vaughn. "Setahun sekali aku berkunjung buat kamu, kamu bakal memperlakukan tamuku lebih kayak gitu lagi." Kata Tuan Vaughn.
"Kamu lebih malu-maluin." Fin ngomong dingin. "Sekali kamu berkunjung setahun sekali, kamu masih aja sama simpanan jalang kamu." Fin ngomong jadi tatapan Tuan Vaughn makin dalem ke Fin.
"Aku gak tau kamu dapet sikap kayak gitu dari mana Fin." Kata Tuan Vaughn.
"Kamu mau tau?" Fin nanya. "Aku dapet sikap aku dari papa aku." Fin ngomong dan ketawa.
"Kamu bapak anjing jadi aku mungkin bakal jadi anjing juga." Fin ngomong dan senyum.
"Fin Flynn!" Creed ngomong dengan nada mengancam.
"Apa itu yang kamu omongin Klementine yang baik?" Vixie nanya aku dan ketawa. Aku gak bisa ngomong, aku gak mau debat sama makhluk dengan pikiran tertutup. Mereka gak ngerti Fin. Satu-satunya yang Fin gak mau adalah ceweknya papanya dan itu Vixie. Tuan Vaughn ngelihat aku dan berdiri.
"Maafin aku Klementine, aku gak bisa nerima kamu buat anakku." Hati aku hancur sama apa yang Tuan Vaughn bilang. Apa aku bikin salah? Apa yang terjadi dan kelihatannya semua baik-baik aja akhir-akhir ini?
"Jangan atur aku." Kata Fin dengan tajam sambil megangin tangan aku. Tuan Vaughn terus natap aku.
"Aku mikir Fin cuma bakal jadi buruk buat kamu. Dia orang yang keras kepala banget dan anak yang kasar. Aku gak mau orang kayak kamu jatuh ke tangan anakku yang kasar. Kamu gak pantes buat dia. Kamu gak pantes buat kamu yang terluka." Tuan Vaughn ngomong. Fin langsung berdiri dan ngeliatin papanya dengan tajam.
"TARIK LAGI PERKATAAN ITU!" Fin teriak ke papanya. Papanya cuma ngasih tatapan dingin ke dia sebelum ngomong.
"Makan malam udah selesai, sekarang kamu boleh pergi." Dia ngomong dingin ke Fin terus berbalik badan.