Pelarian
Sudut Pandang Klementine
"Maaf... Maaf, putriku, maaf." Air mata gue netes pas Fin nyentuh pipi gue. Gue senyum ke dia buat nunjukkin kalo gue baik-baik aja, padahal badan gue beneran sakit.
"Maaf." Dia bilang lagi. Gue ngerasa ada orang yang motong tali di tangan gue.
"Kita bakal bawa lo pergi dari sini, Clemente." Gue gak salah denger. Ini Van, si vampir manggil gue Clemente.
"Keluarga Vaughn."
"Mereka ngapain?"
"Emang mereka itu saudara Vaughn, ya?"
"Kenapa mereka ngelepasin wabah?" Gue ngeliat orang yang lagi ngomong tiba-tiba ngambang di udara. Baru deh gue sadar kalo Fin yang ngendaliin dia.
"Jangan pernah panggil putri gue wabah." Kata Fin dengan marah.
"Clemente, ikut Fin. Kita urus ini." Kata Van pas tali di tangan gue udah dilepas.
"Fin..." Gue manggil. Tapi perhatian Fin ke orang-orang itu.
"Setan mana yang ada di pihak lo buat nyakitin putri gue?" Pertanyaan Fin serem banget. Van megang lengannya.
"Jauhin Clemente dari sini aja. Kita urus ini." Kata Van ke Fin. Fin ngeliat gue terus senyum. Dia ngejatohin orang yang ngambang di udara terus megang tangan gue.
"Kita pergi dari sini." Kata Fin. Gue ngeliat Van.
"Makasih." Kata gue. Dia senyum ke gue dan ngangguk.
"Tunggu! Kenapa lo ngebiarin wanita itu pergi?!" Seorang wanita teriak. Kita ngeliat ke dia.
"Pergi dari sini, Fin." Kata Van. Genggaman gue ke tangan Fin makin erat.
"Dia mau bunuh kita!" "Dia itu wabah!" "Dia bakal bunuh kita semua!"
"GUE BILANG DIA BUKAN WABAH!" Fin teriak dan ngelempar bola api ke arah orang-orang yang ngomong.
"Clemente, bawa Fin pergi. Lo bawa dia pergi dari sini." kata Van ke gue. Gue ngangguk dan megang tangan Fin terus nyentuh pipi Fin dan ngasihnya ke gue.
"Tenang, Fin.." Kata gue. Mata Fin melebar dan jadi nurut.
"Ayo pergi." Kata gue dan narik dia, tapi pas kita balik badan pedang Vixie udah nunjuk gue.
"Dan mau kemana lo pada?" Vixie nanya. Dia ngeliat Fin.
"Wah, ksatria dan vampir bersinar datang buat nyelametin putrinya. Kisah yang bagus." Kata Vixie sambil ketawa.
"Pergi dari sini, jalang." Kata Fin, jadi Vixie ketawa.
"Dan lo pikir gue bakal ngikutin lo? Lo itu siapa buat gue ikutin?" Vixie nanya sambil ketawa.
"Gue adalah kematian lo, dan gue perintah lo buat minggir dari jalan kita dan turunin pedang yang lo pegang kalo lo gak mau langsung masuk neraka." Kata Fin dengan dingin. Vixie cuma senyum.
"Satu." Kata Fin tapi Vixie tetep gak pergi.
"Dua." Gue ngeliat ke belakang Vixie pas Von terus ngehitung Vixie. Von nusuk leher Vixie pake Spada, bikin Vixie berhenti.
"Turunin itu kalo lo gak mau kena." Kata Von dengan tenang ke Vixie. Vixie ngeliat gue dengan tatapan gak enak terus pelan-pelan nurunin pedangnya. Von ngeliat kita dan ngasih isyarat buat kita pergi. Gue senyum ke Von dan ngangguk.
Kita mulai jalan sekali pas Vixie tiba-tiba ngejauh dan berantem sama Von. Von dan Vixie saling adu pedang. Von ngeliat kita dan ngomong.
"PERGI!" Von teriak dan nge dorong Vixie keras. Dalam sekejap, Fin dan gue udah ada di bagian alun-alun yang bisa keliatan massa.
"Kita harus kabur." Kata Fin ke gue.
"Tapi gimana sama saudara lo?" Gue nanya.
"Mereka bisa ngurus itu." Gue mengerutkan kening.
"Kita gak nungguin mereka?" Gue nanya.
"Lo lebih penting dari mereka, Clemente."
"Tapi mereka kan saudara lo." Kata gue. Dia megang kedua tangan gue dan natap mata gue.
"Lo gak aman di sini, Clemente. Kapan aja semua orang bakal kesini buat liat lo mati dan gue sama saudara gue gak setuju, jadi kita punya kesepakatan buat nyelametin lo dan nomerin lo. Mereka bisa ngurus itu. Percaya sama gue." katanya ke gue sama Fin dan nyium punggung kedua tangan gue.
"Tapi--"
"ITU DIA!" Fin dan gue noleh ke teriakan dan ngeliat seorang pria yang mentalnya gak stabil dan di belakangnya ada banyak orang bawa api dan tombak.
"Ayo, Clemente, kita harus kabur." Kata Fin dan kita berdua kabur dari orang-orang yang ngejar kita. Kita cuma lari, kemana kaki kita bawa terserah. Yang penting kita kabur dan menjauh dari orang-orang yang ngejar kita. Kita terdampar di tengah kota tempat ada empat ratus orang.
"Kita di sini." Kata Fin dan langsung lari ke kiri buat ngeliat sepuluh orang bawa tongkat dan pedang. Gue ngeliat sekeliling kita terus gue mastiin kalo mereka udah ngepung kita. Gue nelen ludah dan megang tangan Fin erat-erat. Fin ngeliat gue.
"Gue gak bisa fokus... Gue gak bisa teleportasi." Katanya.
"Heh, lo salah satu saudara Vaughn, kan? Kasih aja wanita itu ke kita biar lo gak kena masalah." kata seorang kakek tua megang gergaji.
"Kalo gak, kita bakal kasihan sama lo." Seorang wanita bawa pisau berkata.
"Jadi kasih wanita itu ke kita." Kemaluannya seorang pria dengan palu. Genggaman Fin ke gue makin erat.
"Gue gak bakal ngasih dia ke kalian." Kata Fin. "Kalian lewatin gue dulu baru bisa dapetin dia." Pas dia ngomong gitu, dia ngelempar bola api ke satu arah. Yang lain langsung siaga dan nyerbu kita tapi sebelum mereka deket Fin udah make kekuatannya ke mereka.
"Jangan coba-coba sama gue. Gue bisa bunuh kalian semua." Kata Fin dan ngeliat yang lain. Gue noleh buat ngeliat sisi jalan tempat gue ngeliat orang-orang baru dateng.
"Fin, ayo pergi." Kata gue dan narik Fin. Kita mulai lari menjauh dari orang-orang yang ngejar gue sementara Fin dan gue saling genggaman tangan. Kalo kita ketemu orang, dia langsung ngehentiin mereka dengan kekuatannya. Kita belok ke gang dan terus lari. Kita baru berhenti lari pas kita liat gak ada jalan keluar. Dinding tinggi udah ada di sana.
"Fin, kita salah jalan." Kata gue dan narik dia balik pas kita ngelewatin sudut lagi dan kali ini mereka tiga kali lipat jumlahnya.
"Kasih dia ke kita." Kata pria di depan bawa kapak. Fin ngeblok dirinya sendiri dan make kekuatannya tapi lo juga langsung menghilang dan dia langsung melemah. Gue langsung nyangga dia.
"Fin... Lo gak apa-apa?" Gue nanya. Pas dia pingsan dia ngeliat gue.
"Sial... Kriptonit gue ada di deket sini." Kata Fin. Gue ngeliat ke depan kita dan ngeliat jalan udah kebelah. Di tengah Vixie jalan dengan luka di wajahnya dan megang batu.
"Salah tempat. Salah langkah, Fin." Vixie senyum dan ngeliat gue.
"Gimana sih, lo kayaknya punya simpati sama kematian Clemente." kata Vixie sambil megang batu yang gue pikir adalah kriptonitnya Fin.