Menyelamatkan Klementine
Sudut Pandang Fin
"Lo lihat dia?" gue tanya Creed yang baru keluar dari gubuknya Klementine.
"Nggak." jawab dia.
"Dalem gubuknya kacau balau, gue yakin Vixie dateng dari sini." kata Von. "Maksudnya Vixie sama Klementine sekarang." bisik Van. Gue celingukan.
"Tetangga Klementine juga nggak ada." kata Leana.
"Terus mereka di mana?"
"WABAH SUDAH SELESAI!" kita semua kaget ngeliat seorang Wanita teriak sambil megang pedang. Gue mengerutkan dahi.
"Eh, lo ngomong apa?" tanya Van. Wanita itu berhenti dan ngeliatin kita semua.
"Ngapain kalian di rumah wabah? Apa kalian juga ketularan dia? Seseorang tangkap dia dulu. Dia ada di alun-alun sekarang dan akan dibakar." Mata gue membelalak denger omongan Wanita itu. Gue mau nonjok wanita itu pas Creed nahan gue.
"Kalo mau, tinggal ke Alun-Alun dan tonton pembakaran wabah itu. Orang kayak dia adalah penganiayaan besar di masyarakat." Gue kesel banget. Pengen gue jambak mulutnya wanita laknat itu di depan kita!
"Gitu ya? Oke deh makasih infonya." kata Van dan ngeliatin gue.
"Kita perlu teleport." kata Van ke gue. Gue lepasin cengkeraman Creed di gue trus ngeliatin wanita yang masih gak pergi dari depan kita.
"Fin tenang~~~~." Creed gak bisa lanjutin omongannya pas gue berhadapan sama wanita itu dan nonjok mukanya. Dia duduk di tanah dan langsung nangis.
"Fin apa? Itu kan cewek!" Leona kesel ngomong ke gue.
"Lo gak punya hak buat nyebut Klementine wabah. Lo cuma wabah di tanah jadi gue bisa kubur lo di dalem lubang bareng keluarga lo." Kayak iblis gue bilang ke wanita sekarang dia nangis.
"Fin ayo.." kata Von dan narik tangan gue.
"Ayo teleport ke alun-alun." kata Van. Mereka gandengan tangan. Gue ninggalin tatapan tajam ke wanita itu sebelum teleport ke alun-alun. Dalam sekejap kita udah di depan alun-alun dan dari tempat kita berdiri kita bisa langsung ngeliat banyaknya orang yang nonton pembakaran Klementine.
"Densa. Lo bisa liat di mana Klementine?" tanya Van.
Gue lepasin Leana dan pake kekuatan angin buat bikin gue terbang. Perlahan kaki gue naik ke tanah. Gue terus ngangkat dari tanah pas tiba-tiba gue berhenti karena langsung ngeliat Klementine pingsan. Diiket di pohon gede dan dikelilingin pohon yang sekarang lagi diisi bensin. Di sampingnya kita berbalik Vixie dengan seringai di bibirnya pas ngeliatin Klementine. Orang-orang pada megang tomat dan telur.
Seketika kemarahan gue naik ke kepala gue ngeliat apa yang gue liat. Klementine. Sialan!
"Fin lo liat?" tanya Leona ngeliatin gue.
"Di samping lo lewat Leana. Von dan Van di tengah lo lewat dan Creed, tinggal terbang aja." kata gue trus balik ngeliatin Klementine yang sekarang lagi disiram Bensin.sialan.
Sudut Pandang Klementine
(A/N: PUTAR GHOST OF YOU BY 5 SECONDS OF SUMMER)
Gue kebangun pas seseorang nyiram gue pake air. Tapi gue rasa itu bukan air. Pas gue pingsan gue celingukan dan ngeliat Vixie kita dibalik depan gue sambil megang sebuah wadah Bensin.
"Bangun dan bersinar bocah kecil." kata Vixie sambil tersenyum. Gue haus. Badan gue sakit semua.
"Air..." kata gue pelan. Vixie cuma ketawa.
"Gue cuma punya bensin, mau minum?"
"Tolong...."
"Aww, lo kasihan sama gue. Lihat betapa lemahnya lo." Sambil tertawa Vixie bilang dan ketawa. Fin.... Lo di mana? Gue butuh lo... Gue butuh lo sekarang.
"Apa lo semangat Klementine? Lo akan terbakar dalam beberapa menit." Vixie tertawa dan menyentuh pipi gue dengan erat.
"Kematian lo adalah kesenangan gue." Katanya seperti iblis trus ngebuang pipi gue.
"Kalian semua, apapun yang mau kalian lempar ke dia, lakukan." kata Vixie menjauh dari gue. Dalam sekejap gue ngerasa ada benda tertentu pas di badan gue.
"Wabah!" "Bunuh!" "Monster!"
Air mata gue ngalir ngeliat apa yang mereka katakan. Yang bisa gue lakuin cuma nangis. Seluruh tubuh gue mati rasa karena batu yang mereka lempar ke gue.
"Benar sekali tolong..." kata gue nangis tapi gak ada satupun dari mereka yang dengerin gue.
"Mereka gak bisa ngertiin lo. Gak ada yang bisa ngertiin lo kecuali gue. Di dunia ini.. Di dunia yang penuh kecurigaan palsu dan makhluk yang menghakimi gue adalah satu-satunya yang bisa ngertiin lo."
"Lo aman di samping gue... Putri gue."
"Gue bisa jadi ksatria vampire lo yang bersinar di dunia yang penuh racun dan makhluk sialan ini." Gue gak bisa gak inget apa yang Fin bilang ke gue. Fin lo di mana? Apa lo tau apa yang terjadi sama gue? Gue butuh lo sekarang Fin. Dia benar... Mereka gak bisa ngertiin seseorang kayak gue. Gak ada orang lain yang bisa ngertiin gue.
Penipuan nasib. Yang gue mau cuma hidup tenang dan bisa selesai sekolah tapi kenapa hal ini terjadi? Kenapa mereka gak nerima gue apa adanya? Apa emang kayak gitu dengan nenek moyang gue sehingga mereka melakukan apa yang mereka lakukan ke orang lain dari jenis gue?
"Sekarang... Sudah waktunya lo mati Klementine." Gue pingsan gue berbalik ke Vixie yang memegang korek. Dia membuka koreknya dan berbalik tersenyum ngeliatin gue.
"Bye bye Scarlet." Pas dia bilang gitu, dia ngejatuhin korek yang dia pegang ke pohon, menyebabkan pohon itu terbakar. Gue cuma bisa ngeliat ke depan gue di mana api semakin besar dan besar.
"Gue cinta banget sama lo Klementine." Gue cuma tersenyum dengan apa yang gue inget. Tatapan gue tetap pada api yang semakin mendekat ke gue. Tiba-tiba itu mati dan sekelilingnya jadi gelap.
"Dasar bajingan." Gue ngeliat ke pembicara dan seluruh tubuh gue dipenuhi dengan harapan pas gue ngeliat siapa itu.
"Fin..." kata gue ke pria yang berbalik di depan gue dan memunggungi gue. Gue menelan dan menangis saat Fin perlahan menghadap gue. Dari sini gue ngeliat air matanya menetes. Hanya dengan usapan tangannya semua kayu di depan gue ke samping. dia dengan cepat mendekati gue dan mencium bibir gue. Ciuman manis menghidupkan kembali kepribadian gue.
"Maaf.... Maaf putri gue maaf."