Von dan Van
Sudah selesai dengan damai dan tenang. Aku bersyukur banget karena Fin kayaknya nggak macem-macem sama aku.
Mungkin gara-gara kemarin aku ngelempar dia pake kue cokelat, kali aja dia jadi takut gangguin aku. Bagus deh. Makasih Kue Cokelat, ini kayak turun dari surga.
"Psst Clemente!"
"Van bukan Clemente namanya, ughmm.. kayaknya Tinay." Aku mengerutkan dahi.
"Tinay!" Karena penasaran siapa yang manggil Tinay, aku noleh dan ngeliat anak kembar Vaughn. Mereka ngeliatin aku, tapi nggak ke arahku.
"Tuh, namanya Tinay." Aku liat ke depan tapi nggak ada makhluk lain. Aku manyun dan lanjut jalan.
"Tunggu Tinay!" Kaget, mereka ngeblok jalan aku. Aku mengerutkan dahi.
"Kenapa sih nggak dengerin kita?" tanya Von. Aku manyun terus noleh ke belakang. Nggak ada siapa-siapa. Balik lagi ke depan.
"Maaf?"
"Tsk kita ngomong sama kamu Tinay." Aku manyun.
"Aku bukan Tinay, aku Klementine." kataku.
"Oh iya bro lo salah nama bwahaha." kata Van.
"Maaf ya, aku tau nama kamu Klementine. Susah diinget soalnya." Kata Von. Aku mau jalan, eh mereka malah ngeblok lagi.
"Kalian kenapa sih?" tanyaku.
"Emm.. Mau ngomong apa nih Von." Kata Van.
"Ogah banget kenapa harus gue?" Tanya Von.
"Kan lo yang butuh dia kan?" Tanya Van.
"Nggak, kita berdua butuh sesuatu." Kata Von.
"Aku harus pergi, maaf." kataku sambil lanjut jalan.
"Tunggu tunggu Clemente--"
"Klementine." pas aku nabrak.
"Iya deh terserah, Klementine, jangan ke kantin." Kata Von. Aku mengerutkan dahi.
"Karena Fin lagi nungguin kamu dan bakal nyiram kamu pake banyak kue cokelat!" Kata Van, makin berkerut dahiku.
"Percaya deh, tadi aku denger Fin sama Creed ngobrol. Aku bilang ke mereka, saudara kembar terus mereka nyuruh kita buat ngasih tau kamu, buat ngingetin." Kata Von jadi aku mikir.
"Kalian mikir... Fin ada di pihak kalian karena dia saudara kalian?" Tanyaku.
'Nggak!' Kedua orang itu bilang barengan.
"Iya sih dia saudara kita tapi dia nggak sepihak." kata Van.
"Dan kita juga nggak gila buat sepihak sama dia." Tambah Von.
Gimana kalau salah satu jebakan Fin itu kembar? Gimana kalo emang nggak ada kue cokelat yang mau ngehajar aku di kantin nanti? Gimana kalau mereka cuma mau bikin aku kelaperan? Iya deh. Pinter banget sih Klementine.
"Makasih." kataku dan lanjut jalan ke arah kantin.
"Eh Tunggu mau ngapain sih?!" Tanya Von tapi aku nggak peduliin.
"Clemente jangan ke kantin kan udah kita peringatin!" Kata Van.
Aku nggak peduliin mereka berdua dan terus jalan ke arah kantin sampe aku udah di depan pintu kantin.. Aku ngintip dulu ke dalem dan ngeliat semuanya aman.
Nggak ada kue cokelat yang menghalang atau apa pun.
Kan? Salah satu jebakan Fin itu kembar.
Aku baru aja mau masuk ke kantin, eh seseorang narik pinggangku dan kita cepet-cepet ganti posisi. Mataku terbelalak ngeliat gimana kue cokelat dan sirup cokelat nyiram dia.
Beneran kan, dari saudara kembar. Tapi siapa yang narik aku?
Orang itu pelan-pelan ngehadap ke aku. Hampir semua orang yang ngeliat, pada kaget.
Mata aku terbelalak waktu ngeliat warna mata ijo lautnya.
Creed!