Bab 14
Sambil nyengir, dia narik kaosnya ke atas kepala terus nurunin celananya, tinggal celana dalam marina dan celana boxer. Gue liat ke bawah, ngeliat celana dalemnya, dan dia udah bangun.
Senyum-senyum gue minta. "Tolong lepas marina itu, cuma itu cara kita bisa seimbang." Ngikutin permintaan gue, dia lepasin marina putih itu dari badannya, jadi gak pake baju. Gue mundur biar bisa liat pemandangan di depan gue lebih jelas.
"Ya Tuhan, banyak banget yang lo punya." Dia nyengir. Gue meraih dan menaruh tangan gue di badan seksinya yang udah dibentuk dengan baik. Seth si kampret Parker punya eight-pack dan otot-ototnya bikin pengen mati. Gue biarin tangan gue naik turun di dadanya, terus gue berhentiin tangan gue di jantungnya yang berdebar. "Lo banyak olahraga di gym ya?"
"Cukup," dia meraih dan narik gue lebih deket. "Gue yakin gak bakal sampai sejauh ini cuma buat lo bahas kebiasaan gym gue."
Sambil senyum ke dia, gue angkat tangan gue dari dadanya dan naruh di wajahnya. "Lo bener." Gue deketin bibir gue.
Ciumannya gak kayak yang pertama, jauh lebih intens. Lebih tajam, lebih dalam, dan jauh lebih manis. Waktu kita ciuman dalam, tangannya naik turun di sisi tubuh gue, terus dia pindahin tangan kirinya ke bokong gue dan diremes, dan entah kenapa, gue suka banget rasanya.
Gue harus akui, selama delapan tahun ini, kemampuan Seth meningkat. Dia gak buruk malam itu, tapi ini beda banget. Caranya cium gue bikin gue basah kuyup dan dia bahkan belum mulai apa-apa.
Dia membungkuk sedikit, kedua tangan di bokong gue. Dia angkat gue dan gue langsung buka kaki. Sekarang kita berdiri dengan kaki gue melingkari pinggangnya, gak sekalipun dia berhenti cium gue. Dia mulai mundur perlahan. Dia lepas bibirnya dari gue dan natap mata gue dalam-dalam. Mata abu-abunya sekarang jadi hijau tua. Dia pelan-pelan muter badan kita, pas dia udah selesai, dia mulai jalan ke kamarnya.
Begitu kita di kamar, dia nurunin gue lagi ke kaki. "Buka bra lo. Gue mau liat lo lakuin." Sambil senyum ke dia, gue raih tangannya dan narik dia ke arah kasur. Gue dorong dia, jadi sekarang dia duduk di tepi kasur sambil ngeliatin gue.
Gue menjauh sedikit dari kasur, biar dia bisa liat gue mungkin. Gue pake tangan kanan gue buat pelan-pelan narik tali kiri bahu gue, terus tangan kiri buat ngelakuin hal yang sama. Waktu kedua tali udah turun, gue pelan-pelan puter bra-nya dan buka pengaitnya. Setelah itu gue keluarin tangan gue dari sana, ngelemparnya ke lantai. Satu-satunya yang gue pake cuma celana dalam hitam gue.
Gue letakin jari telunjuk gue di atas antara payudara gue. Gue pelan-pelan gerakin tangan gue ke bawah, pas gue udah di lekukan payudara gue, gue puter jari gue ke payudara kanan gue terus megangnya.
Gue pindah dari satu payudara ke payudara lainnya waktu dia duduk ngeliatin gue. Gue jalan ke dia di kasur dan berdiri di depan dia.
Tangannya dengan cepat ngegenggam pinggang gue dan narik gue lebih deket ke dia. Kepalanya bersandar di dada gue. Dia muter kepalanya, ngambil payudara kiri gue di mulutnya. Gue desah dan ngangkat tangan gue ke bahunya dan dia nyedot payudara gue.
Dia ngegendong gue ke kasur di sampingnya terus ada di atas gue. Dia mulai ninggalin ciuman di leher gue terus payudara gue. Dia mastiin gak ada yang kelewat. Dia mulai cium pusar gue yang bikin gue cekikikan bareng desahan. Gak lama kemudian badannya udah lepas dari kasur, kepalanya ada di antara paha gue. Dia cium area paling sensitif gue terus mulai cium tiap sisi paha gue sampe dia mulai turun ke kaki gue.
Penantian ini bikin gue gila. Tubuh gue berasa sesuatu cuma gara-gara ciuman sederhana yang dia tinggalin di seluruh tubuh gue, dan ciumannya sama sekali gak sederhana. Dalam semua hubungan yang pernah gue jalanin, pasangan gue selalu langsung ke tujuan. Mereka gak peduli buat godain gue atau ngebuat gue seneng sebelum kita ngelakuinnya. Seth bikin gue gila dan kita bahkan belum pacaran.
"Seth, tolong. Gue gak sabar." Sebanyak gue nikmatin semua foreplay ini, gue gak sabar buat ke intinya. Gue butuh dia di dalam gue, sekarang.
"Sabar, Kari. Sabar." Suaranya serak.
Gue geleng-geleng. Gue udah gak berhubungan seks selama setahun, gue pikir gue pantas dapetin ini apalagi kalau cowoknya kayak Seth.
"Parker, kita punya semalam buat sabar tapi sekarang gue gak sabar lagi," gue bilang kata-kata itu di sela-sela napas.
Dia ketawa terus balik lagi ke gue. "Benerin diri lo di kasur, kita gak mau ngelakuin setengah di lantai dan setengah di kasur kan?"
Geleng-geleng, gue dorong diri gue lebih jauh di kasur sampe gue nyampe tengah. Seth berdiri di sisi kasur dan dengan cepat lepas celana dalamnya. Bikin dia benar-benar telanjang di pandangan gue.
Ya Tuhan!
Bahkan punya dia keliatan kayak udah olahraga. Punya dia yang coklat tebel keliatan terlalu gede buat jadi nyata.
"Wow, lo beneran punya banyak banget buat lo, Parky boy." Dan maksud gue banyak banget.
Dia geleng-geleng dan datang ke kasur, di atas gue.
Dia ambil salah satu payudara gue di mulutnya sambil pake tangannya buat mainin yang satunya. Dia lepas kepalanya dari payudara gue dan naruh di bibir gue. Karena kita berdua benar-benar telanjang, gue bisa rasain ereksinya yang keras neken perut gue dan itu bikin gue lebih bergairah dari sebelumnya.