Bab 2
Dia memaksakan senyum. "Selamat malam." Lalu dia menghilang.
Aku tertawa, "Sialan banget!"
Padahal aku udah bohong besar tentang semua itu, dia bahkan gak bisa kasih simpati sedikitpun.
"Emang lo ngapain cowok malang itu?" Brandon bersuara dari belakangku.
Tanpa menoleh aku menjawab. "Gak ada apa-apa."
"Cerita nenek-nenek, kan?"
Aku tertawa. "Yup, selalu berhasil."
"Makasih udah kasih tau duluan biar gak kena." Sebuah suara aneh berkata. Aku langsung berbalik, biar bisa lihat orangnya.
"Ini temenku..." sebelum Brandon selesai, aku nyamber.
"Seth Parker."
"Karishma Jones."
"Tunggu... kalian saling kenal, gimana ceritanya?"
"SMA." Kami berdua jawab. Tetep aja, gak putus kontak mata.
Seth Parker, gimana sih cewek bisa lupa sama Seth Parker? Apalagi kalo cewek itu pernah ciuman sama dia pas hari terakhir SMA.
Aku masih inget hari itu kayak baru kemarin. Aku pergi ke pesta di rumah Andrew Harvey, Harvey itu cowok paling populer di Westville High dan dia juga sepupunya Seth yang lebih tua dan gak terlalu pinter. Di pesta sekitar jam 10 malem semua orang mulai main 'Spin the bottle' dan karena pengen ikut seru-seruan, aku mutusin buat gabung. Pas giliranku muter botol, tebak siapa yang kena?
Seth Freaking Parker. Aku gak terlalu seneng sih dapet Seth soalnya pengennya Ethan Dove. Tapi aku tetep ikutin aturan main dan aku kebanyakan minum. Aturan mainnya, kita harus ngabisin lima belas menit di lemari sama pasangan. Pas keluar dari lemari harus ada tanda kalo pasangan itu udah 'ngapa-ngapain'. Karena Seth punya kamar sendiri di rumah itu, kita masuk ke sana dan percaya deh, itu salah satu pengalaman paling berkesan di masa remaja. Pengalaman sama Seth itu yang bikin aku pede buat 'kehilangan' keperjawananku. Abis malem itu, aku ketemu dia pas wisuda dan gak pernah lagi.
"Hei," Tepukan di punggungku yang bikin aku putus kontak mata sama Seth.
Iris langsung meluk pacarnya, "Pengennya kamu ada pas pidato tadi."
"Maaf ya sayang. Tapi setidaknya aku dateng dan aku bawa Parky boy kesini sama aku." Dia nunjuk ke Seth. "Tau gak bagian paling serunya? Seth sama Kari satu SMA? Keren banget kan?"
Aku liat Iris ngeliatin aku sama Seth sambil senyum. "Iya. Keren banget. Aku udah berusaha ngejodohin Kari sama salah satu cowok ini, tapi dia keras kepala banget."
"Yup, aku tau. Aku baru aja liat dia lagi beraksi." Brandon ngangguk setuju sama pacarnya.
"Yah, aksi itu gak bakal bohongin aku, dan jelas gak bakal mempan ke aku," Seth nyaut. Aku noleh ke dia. Dia gak banyak berubah, masih potong rambut yang sama dan struktur wajah yang sama. Satu-satunya yang beda cara dia berpakaian. Heelsku bikin aku lebih tinggi dari tinggi badanku yang biasanya 160 cm, tapi dia tetep lebih tinggi.
Iris nyengir. "Aku suka dia. Dia gak gampang nyerah."
"Enggak, aku gak gampang." Seth pake tuksedo sama kayak cowok-cowok lain di ruangan, tapi dasi kupu-kupunya hitam dan gak terlalu berwarna kayak yang lain.
"Halo, aku di sini." Aku nge-wave tangan di udara. Mereka ngobrol seolah-olah aku gak ada.
"Kami bisa lihat jelas banget. Dengan dress merah yang mencolok itu dan lipstik yang sama, bahkan kelelawar bisa lihat kamu dengan jelas." Seth yang ngomong. Aku muter mata karena kata-katanya, kebanyakan malah.
Iris noleh ke pacarnya dengan persetujuan.
"Dia galak, kayaknya mereka bakal cocok deh."
Aku gak peduli sama komentarnya. "Kamu gak seramah ini pas SMA, apa yang berubah?" tanyaku.
Seth nyengir. "Aku udah seramah ini pas SMA, cuma kamu aja yang gak kenal aku dengan baik."
"Jelas banget aku gak kenal." aku bergumam.
"Tapi bibirmu kenal aku dengan baik." Kata-katanya bikin pipiku panas. Aku cepet-cepet ngalihin pandangan ke ujung ruangan. Mukaku udah kebakar.
"Tunggu! Apaan nih!" kata Brandon.
Aku jadi pucat dan memaksakan senyum. "Iris, selamat lagi buat proyek ini. Aku tau kamu bakal sukses." Aku turun dari kursi. Aku ngeliatin dua cowok di depanku. "Selamat malam, Bapak-bapak." Aku berbalik dan jalan ke pintu keluar terdekat.
Berani-beraninya dia ungkit sesuatu yang terjadi delapan tahun lalu?
Gak nyangka dia inget malem itu.
Malam di mana aku mulai kenal kimia.
Malam di mana aku jadi pemberontak!
Aku senyum ke Tuan Gills pas dia ngasih selamat ke aku.
"Karishma, aku tau kamu bisa ngalahin ini. Aku seneng banget kita jadiin kamu partner, kamu bakal bawa banyak uang di perusahaan ini." Gideon ngangkat gelasnya.
"Yey buat itu." Aku bersulang dan tertawa. "Aku gak bakal ngecewain kamu, Paman Gideon." Gideon Gills kayak ayah kedua buat aku, dia sahabat terbaik ayahku. Pas aku kecil dia cerita ke aku sama saudara laki-lakiku, Kyle, tentang kasus-kasusnya dan dia sering cerita tentang uang yang dia hasilkan dari kasus-kasusnya dan betapa serunya pekerjaannya dan itu bikin aku tertarik. Aku gak mau jadi dokter bedah kayak ayahku atau dokter kayak ibuku. Aku pengen jadi pengacara, banyak uang dan liburan panjang. Itu yang bikin aku tertarik sama karir ini awalnya, tapi pas kuliah aku sadar kalo hukum lebih tentang nolong orang daripada uang dan aku jatuh cinta sama itu.
"Aku tau kamu gak bakal." dia setuju. "Ngomong-ngomong, kenapa gak ambil sisa hari ini libur aja?"
"Gak bisa. Aku ada kasus Jeff Selasa dan aku harus mulai ngerjainnya." Aku beralasan.