Bab 51
"Kenapa gue lihat semuanya jadi dua?"
"Itu karena lo mabuk."
Dia tertawa, "Oh, iya. Gue lupa."
Gue tertawa, kasihan banget. Gue dorong pintu kamar tamu gue terus narik dia masuk. Dia jalan ke tempat tidur dan duduk. Gue jalan ke arahnya dan membungkuk untuk ngelepas sepatunya.
"Lo teman yang baik." Katanya.
Gue tersenyum, "Lo juga."
"Lo sahabat terbaik gue."
Gue tersenyum, "Lo juga sahabat terbaik gue. Sekarang waktunya tidur siang. **Brandon** bakal jemput lo besok pagi."
"Gue cinta **Brandon**,"
Hati gue berdebar, terus gue bilang, "Dia juga cinta sama lo."
Dia tersenyum, "Gue tahu." Dia menguap terus lihat ke gue, "Selamat malam sahabat terbaik."
"Selamat malam sahabat terbaik." Gue narik selimut buat nutupin badannya dan ngerapiin dia. Pas dia merem gue senyum, berarti dia mau tidur. Gue jalan balik ke pintu terus berhenti pas dia panggil nama gue.
"Ya, **Iris**?"
"Tolong temui **Seth**. Dia kangen sama lo."
Gue diam terus nutup pintu di belakang gue.
Gue juga kangen dia.
"Hai, **Claire**. Gue mau keluar sebentar." Gue ngasih senyum tipis pas jalan lewat mejanya. **Claire** kelihatan lebih bahagia akhir-akhir ini, gue tanya kenapa tapi dia nggak mau cerita. Gue terlalu sibuk mikirin situasi **Seth** sampai nggak sadar kebahagiaan orang-orang di sekitar gue.
Mungkin pertemuan ini bakal bikin gue bahagia.
Lagian, mantan gue baru aja nelpon bilang dia butuh bantuan gue.
**Richard** kenapa lagi sih?
Sambil nunggu lift, gue mulai mikirin sejuta alasan kenapa **Richard** mau bantuan gue dan betapa senangnya gue nanti pas bilang nggak mau. Apa yang dia lakuin malam di restoran itu parah banget dan itu nunjukin segalanya yang gue butuh tahu tentang cowok yang gue tidurin, cowok yang gue pacarin selama setahun.
Kalo dia bisa selingkuh di restoran pas gue ada di sana itu nunjukin banyak hal tentang kepribadiannya. Nggak ada bandingannya sama dia dan **Seth**. **Seth** tahu apa yang dia mau, dan dia kejar itu. Dia nggak setia, malah dia bilang ke gue betapa dia ngehargain hubungan dia. **Richard** sama sekali nggak ngehargain gue. Gue cuma cewek pengacara sukses yang bisa lo tunjukin ke teman-teman dan orang tua lo, nggak lebih. Tetep aja cewek buat diselingkuhin. **Seth** nggak takut jalan sama gue di tempat umum, itu kelemahan gue. Gue pengen ngurung diri terus tapi siapa yang bisa nyalahin gue, lo udah lihat mukanya? **Seth** punya kepribadian yang hebat, ramah dan dermawan, dia suka binatang. **Richard** benci **Rojo** dan dia pura-pura suka orang di depan mereka tapi di belakang, dia bakal ngomong yang jelek-jelek. Gue baru sadar semua ini pas dia selingkuh.
Seharusnya gue udah lihat tandanya. Ada banyak banget. Mungkin gue cuma suka ide punya pacar dibanding jomblo.
Mungkin gue sedikit cemburu sama **Iris** dan gue nggak mau kelihatan kayak pecundang. Gue nggak mau jadi satu-satunya yang jomblo.
Atau mungkin cuma tekanan teman.
Karena **Iris** hampir kayak ngelempar fakta kalau gue jomblo di muka gue dan gue butuh cowok.
Dan akhirnya gue punya satu. Satu yang hebat, lucu, menawan dan segalanya, tapi satu-satunya yang gue mau adalah ngeutamain kerjaan gue.
Keren banget gue.
Gue nyimbang tas gue di bahu pas jalan ke meja **Richard**. Dia senyum pas lihat gue dan nyuruh gue duduk.
"Gimana, **Kari**?"
Gue muter mata, "Stop basa-basi, gue tahu lo mau sesuatu jadi cepetan ngomong."
Dia tersenyum, "Lo kenal gue banget."
"Tapi, gue nggak bisa tahu lo selingkuh."
"**Kari**, **Kari**. Jangan kayak gitu." Dia ngegas.
"**Karishma** buat lo, atau lebih baik **Nyonya Jones**." Gue nggak mau main-main sama dia, nggak hari ini.
"Baiklah, baiklah." Dia berhenti dan narik napas dalam-dalam. "Seseorang mau menjebak gue." Dia lihat gue tepat di mata. Tingkah soknya hilang, diganti dengan tatapan serius tapi takut.
"Lanjut."
"Gue ditangkap dua hari lalu karena penggelapan." Dia ngangkat tangannya, "Sebelum lo ngomong apa-apa. Gue nggak ngelakuin itu. Gue nggak pernah nyuri uang dari klien gue sebelumnya, malah gue nggak pernah nyuri. Lo harus bantu gue." **Richard** bisa banget digolongin sebagai bajingan besar, tapi dia benar. Dia bukan pencuri dan bukan karena dia terlalu kaya atau karena dia nggak dibesarin kayak gitu, itu karena dia nggak punya nyali buat ngelakuin hal kayak gitu. **Richard** bahkan dengan tampang soknya adalah seorang pengecut, takut sama apa pun yang terlalu serius, kayak nyuri atau hubungan.
"Dan lo mau gue bantu, kenapa?" Gue nanya. **Richard** tahu gue benci dia. Kenapa dia datang ke gue?
"Ya karena tiga alasan, pertama, firma tempat gue kerja nggak mau pengacara mereka mewakili gue, malah gue kena skors, kedua, gue tahu lo jago dalam hal-hal kayak gini, lo punya tim yang mau bantu lo menangin kasus dan ketiga gue percaya sama lo. Gue tahu apa yang gue lakuin ke lo salah dan gue tahu lo mungkin masih belum maafin gue tapi gue minta maaf dan gue harap lo bisa lupain dan nerima gue sebagai klien lo." **Richard** nggak pernah mau ngemis ke siapa pun buat apa pun. Dia bertindak seolah dia tahu segalanya, dan ini perubahan. **Richard** ini **Richard** yang rentan dan dia takut masuk penjara.
Gue mikirin kata-katanya beberapa saat terus nanya, "Berapa banyak yang lo bayar buat jaminan?"
"Tiga ratus tujuh puluh tiga ribu dolar." Dia jawab tapi mukanya penuh pertanyaan 'kenapa sih dia nanya gue kayak gini?'