Bab 30
Aku ngasih dia tatapan sedih. "Cuma itu yang mau aku tanyain. Aku turut berduka cita." Aku berbalik dan jalan balik ke arah mobilku.
Istrinya Harrison Samuels punya motif buat ngebunuh dia. Dia selingkuh. Aku bisa banget ngefitnah istrinya sebagai istri yang cemburu.
Aku nyalain mesin mobilku, tujuan selanjutnya adalah kantor polisi. Kalau aku bisa lihat senjata pembunuhnya dan bandingin sama pisau dapurnya Tuan Benjamin. Kalau nggak cocok, itu bisa banget ngalihin perhatian dari dia.
Aku senyum bangga sama diri sendiri. Aku udah deket banget buat ngebuktiin kalau Tuan Benjamin nggak ngebunuh Harrison Samuels. Aku udah deket banget buat menangin kasusnya lawan Seth. Aku nggak bisa biarin dia menang. Kalau aku kalah di kasus ini, Seth bakal ngejek aku. Aku nggak bisa biarin itu.
Aku nggak bisa biarin dia menang.
Dia nggak bakal menang.
Aku ngeluarin napas lega. Tangan kananku di dada, napasku mulai tenang. Aku senyum terus ngeliat ke Seth. "Kali ini kamu bener-bener hebat."
Dia senyum, "Makasih." sambil ngeliat ke atas, ke langit-langit.
Aku ketawa, "Nggak, makasih juga."
"Aku tahu kamu bakal nelpon." Dia berbalik dan natap mataku.
Tiga jam sebelumnya
Aku ngejauhin berkas-berkas kasusku dan berdiri, ngucek-ngucek mata. Aku butuh istirahat dari semua kerjaan ini.
Aku pencet tombol power di remotku, channel pertama yang muncul adalah MTV; ada pasangan lagi ciuman. Aku pindah ke BET, ada pasangan lagi ciuman terus aku coba Disney, ada remaja lagi ngasih ciuman di pipi. Aku muter bola mata dan pencet tombol power. Kenapa banyak banget ciuman di TV malam ini? Aku cuma mau nonton film biasa yang nggak ada ciumannya.
Aku ngeluarin keluhan frustasi.
Aku capek banget buat kerja, dan kebosanan ngebuatku mati.
Aku butuh lebih banyak temen. Aku butuh orang-orang kayak Seth dalam hidupku.
Seth!
Aku butuh Seth buat nemenin aku, tapi itu salah. Aku nggak boleh terlalu kesepian sampai-sampai aku nyari musuh. Tapi aku kesepian. Banget, banget kesepian.
Aku meraih ponselku dan nyari namanya di kontaknya. Aku pencet tombol panggil dan nempelin ke telinga. Berdering beberapa kali sebelum akhirnya dia jawab.
"Selamat malam, Nyonya Jones. Ada apa nih, kok sampai nelpon?" Aku muter bola mata sama diri sendiri. Aku nggak nyangka bakal nelpon dia setelah semua yang udah aku janjiin ke diri sendiri, aku ngambil ponsel dan nelpon nomornya Seth.
"Selamat malam, Seth. Apa kabar?" Aku nggak mau langsung to the point, nanti kesannya aku kayak orang putus asa.
"Lebih baik sekarang setelah ngobrol sama kamu." Aku senyum sama kata-katanya meskipun dia mungkin sering ngomong gitu sama cewek lain. "Gimana kabarmu, Nyonya Jones?"
Aku ragu-ragu sebelum jawab, "Aku bosen. Beneran bosen. Aku mikir, kamu mau nggak nemenin aku?" Aku nggak nyangka kata-kataku bakal kayak gitu sebelum beneran keluar dari mulutku.
Dia ngedengerin tawanya, "Aku kira kita musuhan."
Aku menghela nafas dan mendesis, "Oke, nggak apa-apa. Selamat malam." Kesal, aku mau pencet tombol batal, tapi dia ngomong sebelum aku bisa.
"Tunggu bentar, aku suka banget kalau datang dan ngilangin rasa bosanmu. Kasih aku beberapa menit." Aku bisa ngebayangin senyumnya dia sekarang.
"Oke." Aku nggak tahu lagi harus ngomong apa. "Sampai ketemu." Terus sambungannya mati.
Aku mainin ponselku di tangan.
Apa aku udah ngambil keputusan yang bener dengan nelpon Seth malam ini?
Dia jaksa buat klienku, kita di kubu yang berlawanan. Tapi dia juga tahu gimana caranya bersenang-senang dan saat ini, aku butuh sedikit kesenangan.
Jadi, apa aku udah ngelakuin hal yang bener?
Nggak sepenuhnya salah juga sih.
Seth emang temen yang asik.
Satu-satunya yang perlu aku lakuin adalah nggak nyampur urusan bisnis sama kesenangan. Itu gampang, kan?
Aku ngeliat sekeliling buat mastiin tempatnya bersih.
Rojo dan anak-anaknya lagi tidur, berarti, satu masalah berkurang. Dapur bersih, kamar tidur bersih, kamar mandi bersih.
Oke, Kari. Kamu aman.
Aku ngambil berkas-berkas kasus dan masukin ke tas kerjaku terus aku taruh di kantor, nutup pintu di belakangku.
Ketukan di pintu bikin aku buru-buru ke sana. Aku nggak mau Seth datang dan ngeliat salah satu tetanggaku di pintu. Malam ini tentang aku bersenang-senang, bukan tentang aku pinjemin gula.
Aku buka pintu dengan senyum palsu yang lebar, tapi berubah jadi senyum beneran pas aku nyadar siapa yang berdiri di sana.
"Kok bisa naik ke sini?"
Dia mengangkat bahu, "Ada orang mau pergi. Kamu mau biarin aku masuk nggak?"
Aku menjauh dari pintu, ngebuka lebih lebar buat dia masuk. Dia make setelan jas yang bikin aku cemberut. "Kenapa pake jas?"
"Aku lagi dalam perjalanan pulang dari kerja pas kamu nelpon." Aku nutup pintu dan jalan ke arahnya.
"Sepi banget?" Udah hampir jam sepuluh.
Dia ngangguk, "Iya. Aku lagi ngerjain kasus gede. Dia bunuh istrinya dan anak perempuan mereka yang umur enam tahun. Kejam banget. Kamu harusnya lihat betapa berharganya anak kecil itu dan sekarang dia udah nggak ada." Aku bisa lihat emosi di mata dan ekspresinya. Aku denger tentang pembunuhan itu karena semua orang lagi ngebahas. Katanya, nggak ada kantor hukum atau pengacara yang mau ngambil kasus orang itu, jadi mereka nunjuk pembela umum dan pembela yang mereka tunjuk, ironisnya, punya anak umur enam tahun.
"Itu parah banget."
Dia noleh dan ngeliat aku dengan senyum, kesedihan sebelumnya hilang. "Sekarang kamu bilang mau bersenang-senang."
Aku senyum sambil ngangguk, "Aku emang mau bersenang-senang."
Dia meraihku dan narik aku ke pelukannya. Dia nundukin kepalanya dan nangkep bibirku buat ciuman.