Bab 24
Ada enam anak anjing. Satu udah ada yang punya, jadi sisa lima buat gue. Gue gak bakal sanggup ngurus lima anak anjing sendirian. Gue percaya sama Seth, jadi gue mau kasih dia satu anak anjing gue. "Oke, nanti gue kasih satu kalau mereka udah sehat."
Senyum muncul di wajahnya, pertama kali sejak malam itu. "Keren." Dia liatin anak-anak anjing itu. "Yang mana?"
Gue ikutin tatapannya ke lantai, "Lo bisa pilih yang mana aja yang lo suka." Gue gak tau kenapa gue kasih dia pilihan. "Kenapa lo gak duduk aja di sofa, biar gue cariin sandal lo?" Gak banyak nyari sih, soalnya gue udah pake sepatu dia di apartemen gue kayak punya sendiri.
Dia jalan lebih jauh ke dalam apartemen sambil celingak-celinguk. "Gak sesuai ekspektasi gue."
"Ekspektasi lo apa emang?" tanya gue. Gue pengen tau, dia mikir gue cewek kayak gimana.
"Gak ada warna pink atau apa pun yang cewek banget." Kata dia sambil liat-liat sekeliling.
"Gue emang bukan cewek yang girly dan gue benci warna pink." Waktu beli perabotan, gue pengen apartemen gue keliatan senetral mungkin. Gue emang punya beberapa bunga di sana-sini, tapi itu cuma buat dekorasi.
"Ada banyak hal yang belum gue tau tentang lo," kata dia sambil nyentuh kulit sofa gue.
"Sayang banget, lo gak bakal dapet kesempatan buat tau."
"Oh, gue bakal dapet." Dia buka rompinya dan naruh di pinggir sofa terus duduk.
Gue gak peduliin komentarnya, "Gue balik lagi ya." Ninggalin dia di ruang tamu gue. Gue jalan ke kamar gue, di mana sandal dia ada di samping pintu. Gue buka sepatu hak gue dan naruh di samping sandal itu. Ngambil sandalnya, gue keluar dari kamar dengan sandalnya di tangan.
"Nih, sandal Nike lo yang udah gak sabar mau lo pake." Gue dorong sandalnya ke arah dia.
Dia cemberut, "Gak bisa lo masukin ke tas buat gue gitu?" Matanya yang hijau berkilauan, "Masa gue harus jalan gitu aja sih?"
Gue menghela napas, gue jalan ke lemari dan ngambil kantong plastik. Gue masukin sandal ke kantong plastik, terus jalan ke dia, "Gimana?"
Dia senyum, "Jauh lebih baik."
Dia pelan-pelan berdiri dari kursinya dan jalan ke arah gue. Dia berdiri deket banget sampe gue bisa ngerasain napasnya di wajah gue. Gue liat ke wajahnya. Rambut pirang gelapnya tertata rapi, mata hijaunya keliatan lebih hijau dari biasanya dan dia pasang tampang sok gantengnya itu.
Dia meraih kantong plastik dan ngambil dari tangan gue pelan-pelan. "Makasih udah dipaketin buat gue." Waktu kantongnya udah di tangan dia, dia jatohin ke lantai, "tapi kita berdua tau kan, gue gak cuma dateng buat sepatu 200 dolar ini."
Gue nelen ludah, "Maksud lo?"
Dia cekikikan terus ngangkat tangan kirinya ke pinggang gue, "Kari, lo gak polos. Lo tau persis kenapa gue ke sini."
"Lo dateng buat sepatu lo." Dia gerakin tangannya pelan naik turun di sisi gue. Butuh seluruh tenaga gue buat tetep bisa ngontrol diri.
Dia ketawa, "Karishma, kita berdua tau gue bisa dapet sandal gue kapan aja yang gue mau." Denger dia manggil gue pake nama lengkap, gue merinding.
Gue geleng-geleng, "Gue gak tau maksud lo."
Dia ngangkat tangan satunya ke leher gue, "Lo tau persis apa maksud gue."
"Gak." Gue nolak.
"Iya,"
"Gak."
"Iya, Kari. Lo secara gak sadar mau gue, makanya lo nyuruh gue naik tangga buat ambil sandal. Lo mau gue di sini." Kata dia sambil nyengir. Dia masih ngusap-ngusap tangan di pinggang gue.
"Gak. Gue gak mau turun lagi. Gue capek."
"Gak, karena lo mau gue di sini."
"Gue gak mau lo."
"Oh ya?" dia deketin kepalanya ke gue dan nyentuh bibirnya dengan bibir gue. "Beneran?" gumamnya. Dia nempelin bibirnya ke bibir gue dan mulai nyium gue. Awalnya gue coba nolak, tapi gue ngerasa mulut gue kebuka nerima ciumannya.
Gue desah dan ngangkat tangan gue ke lehernya, narik dia lebih deket.
Ini salah.
Ciuman sama Seth itu salah. Gue gak seharusnya nyium dia, dan gue juga gak seharusnya desah, tapi rasanya enak banget. Dia jago banget nyium.
Dia menjauh, ngejeda ciumannya, natap mata gue, dia bilang. "Lo mau gue, dan gue mau lo. Jangan buang waktu lagi."
Dia nundukin kepalanya dan ngecup bibir gue untuk kedua kalinya. Tangannya lepas dari pinggang dan wajah gue, sekarang mau ngangkat gaun gue. Dia lepasin mulut gue, "Angkat tangan lo." Gue lakuin apa yang dia suruh, dan dia ngelepas gaun gue, ninggalin gue cuma pake bra dan celana dalem. Dia nundukin kepalanya ke leher gue dan mulai nyium dan gigit di kulit. Gue tau bakal ada tanda merah di sana besok pagi.
Kami denger suara geraman yang bikin kami berhenti. Kami liat ke bawah dan dua anak anjing lagi berantem.
Gue pegang tangan dia, "Jangan di depan anak anjing." Gue tarik dia ke kamar gue.
Gak ada balik lagi dari sini, Kari.
Dia dorong gue ke dinding di samping pintu kamar gue, "Gak sabar," katanya sebelum dia nunduk dan ngecup bibir gue. Dia mulai ninggalin jejak-jejak ciuman di leher gue. Menjauh dari gue, dia narik celananya turun, tapi gak sebelum dia ngambil kondom dari dompetnya. Gue pegang tangan dia dan ngambil lateks dari tangannya. Dia dorong kami balik ke dinding dan terus nyium leher gue. Dia gerakin tangannya ke pinggang gue dan mulai nurunin celana dalam. Dia ngejeda ciuman terus nunduk buat ngelepas celana dalam. Dia cium bagian depan gue terus mulai pelan-pelan nyium ke atas. Dia raih punggung gue dan buka bra, terus lepas dari bahu gue. Kami bawa tangannya ke pinggul gue dan dorong gue naik terus ngalungin kaki gue ke pinggangnya. Dia ngambil kondom dari tangan gue terus robek bungkusnya pake giginya. Dia cepet-cepet masang kondom di batang yang udah berdiri terus mulai nyium gue lagi. Dia narik gue lebih deket.