Bab 41
Kari nelpon gue pagi ini, bilang kita harus keluar. Dia bilang Brandon udah nelpon Seth juga, jadi kita berempat deh. Karena Seth nginep semalem, kita mutusin buat pergi bareng, toh, baik Iris sama Brandon tahu kita tidur bareng.
Gue ngangguk, "Kurang lebih gitu sih."
"Hmm... Menarik." Iris bilang. "Gue inget banget sebulan lalu lo bilang Seks itu gak penting."
Gue ngangkat bahu. "Iya, gue emang bilang gitu, tapi gue gak bilang gue gak butuh,"
"Hmm..." Iris bergumam.
Gue muter mata, "Iris, jangan deh. Lo kan yang bilang Seth itu ganteng dan seksi banget."
Brandon noleh ngeliatin pacarnya sambil naikin alis.
Gue ketawa, dan Iris muter mata. "Itu bukan bohong, dan lo tahu gue cinta sama lo, cuma lo."
Seth mulai ketawa, kenceng.
"Dia sepupu gue, Iris."
Iris ngangguk ke Brandon, "Tepatnya, bukan cowok sembarangan."
Brandon geleng-geleng kepala. "Gue cinta sama orang gila."
"Awwweee..." Gak nyangka itu keluar dari mulut gue.
Seth ketawa. "Kalian berdua lucu."
"Kita emang selalu lucu, kalian yang lucu. Gue liat cara kalian saling pandang."
Gue naikin alis ke dia.
Cara apa yang kita saling pandang?
"Gue liat dia sama kayak gue liat lo. Matanya sama."
Brandon ketawa, sambil geleng-geleng kepala.
"Nggak, bodoh, lo liat dia pake mata genit."
Gue ketawa dan noleh ke Seth, "Emang gue liatin lo pake mata genit?"
"Gak tau. Emang gue liatin lo pake mata genit?"
"Ya semua orang liatin gue pake mata genit, jadi lo bukan yang pertama," kata gue, berusaha sok.
"Egois banget sih?" Brandon bergumam.
Gue nyengir, "Yup, belajar dari yang terbaik." Gue bilang sambil nunjuk Iris.
Iris muter mata.
Gue liat sekeliling ruangan yang gelap, gak serame Sabtu lainnya, tapi juga belum terlalu malem.
Udara enak, dan gue ngerasa enak. Gue lagi nyembunyiin fakta kalau gue tidur sama Seth.
Gue gak pernah mikirin kasus yang kita ada di tim yang berlawanan. Kita bilang kita bakal jaga hubungan kita secara pribadi. Gak peduli apa, kerjaan gak boleh disebut.
Sejauh ini semuanya oke.
Seth itu hebat, dan gue suka banget ngabisin waktu luang gue sama dia.
Gue ngerasa ada yang nepuk bahu gue, jadi gue noleh dan liat mata hijau Seth yang lagi natap gue, "Lo lagi mikirin apa?"
"Gak ada sih, cuma gimana enaknya gue ngerasa."
Dia senyum, "Bagus. Gue seneng lo seneng."
Gue senyum, "Lo bikin gue seneng."
Apa bener kata-kata itu keluar dari mulut gue?
Iya, beneran, dan gue seneng soal itu. Gak perlu bohong sama dia.
Dia kasih gue senyum setengah, "Lo juga bikin gue seneng."
Iris sama Brandon yang tadi asik ngobrol sendiri sekarang malah ngeliatin kita. "Tuh kan, mereka saling pandang pake mata genit."
Seth dan gue mulai ketawa tapi diem aja.
Gak ada yang perlu diomongin.
Dia bener.
Cuma ngeliatin dia aja udah bikin gue ngerasa damai.
Apa ini yang terjadi kalau lo ngabisin banyak waktu sama seseorang?
"Woy, bro, kita ke bar lagi yuk, pesen minum lagi," Brandon teriak dari belakang Seth. Seth ngangguk dan mulai menjauh dari gue sambil senyum tipis. Gue bales senyumnya. Gak lama kemudian, mereka berdua jalan balik ke bar.
Gue liat gelas minuman keras gue yang setengah isi dan gelas Seth yang penuh, terus cemberut. Gak perlu ke bar kalau kita udah punya minuman keras.
Gue noleh ke Iris yang lagi ngeliatin cowok-cowok jalan.
Dia menghela napas pas mereka udah jauh, "Syukur deh, gue udah pengen ngobrol berdua dari tadi."
Oh, jadi ini maunya dia.
Dia mulai nyengir tiba-tiba. "Seseorang lagi jatuh cinta nih."
Gue naikin alis dan cemberut, "Serius, siapa?"
"Lo, bodoh. Lo pikir gue gak liat apa yang terjadi antara kalian berdua. Kalian berdua lagi jatuh cinta."
Gue geleng-geleng kepala, gak mau mengakui klaimnya. Gue suka dia. Banget. Tapi itu gak berarti gue jatuh cinta.
"Gue gak jatuh cinta." Gue gak bisa jatuh cinta.
"'Lo bikin gue seneng', itu kayak orang yang lagi jatuh cinta." Sial! Apa dia beneran dengerin percakapan gue sama Seth dari tadi? Brandon, mereka kelihatan lagi ngobrol serius, ternyata nggak. Mereka cuma berusaha nyembunyiin fakta kalau mereka ngintipin kita.
"Iris!"
"Kari!" Gue cemberut pas disebut nama lengkap gue.
"Gue suka dia, dan dia emang bikin gue seneng." Gak cuma seneng doang, ada sesuatu yang lain yang gak bisa gue jelasin.
"Beberapa bulan lalu lo bilang lo udah seneng, dan lo gak butuh cowok buat itu," Gue inget banget percakapan itu, sejelas hari itu kita ngobrol, tapi ada yang beda. Gue beda. Dulu gue punya pandangan yang buruk tentang nerima cowok dalam hidup gue.
"Dia bikin gue lebih seneng dari sebelumnya. Dia itu cowok lucu. Jago masak juga." Dia jago di banyak hal lainnya juga.
"Dia masak buat lo?"
Gue ngangguk. "Yup. Enak banget."
"Masak apa?" dia nanya penasaran.
"Makaroni keju." Dia muter mata pas gue jawab.
"Semua orang bisa masak itu, bahkan ikan gue."
Gue geleng-geleng kepala, "Tapi itu gak bener, kan? Cara dia bikinnya itu..." Gue merem dan menikmati memorinya. "Luar biasa banget."
"Hmm..." dia bergumam, masih belum yakin. "Ngomong-ngomong, gue kira kita belum siap buat hubungan apapun."
"Gue gak lagi berhubungan."
"Kalian lagi seks, itu udah hubungan, seberapa pun kalian gak mau ngakuinnya."
"Kita temenan." Temen baik.
Ada sesuatu tentang Seth yang bikin dia jadi temen yang baik banget. Dia perhatian dan baik, dan entah gimana gue malah cerita semuanya ke dia, gak ada satu pun dalam hidup gue yang dia gak tahu.