Bab 59
Iris tertawa, "Gue gak bakal biarin dia nunggu semenit pun."
"Bagus," kata Seth sambil tersenyum padanya. Senyum yang sama yang dulu dia kasih ke gue.
Sakit sih, tapi gue harus *move on*.
"Ayo makan kue!" teriak Brandon.
Semua orang tertawa dan mulai berjalan ke arah kue. Iris dan Brandon memotong irisan pertama bersama, lalu Brandon mulai memotong kue menjadi potongan-potongan kecil dan membagikannya ke semua orang. Pas semua orang udah dapet, gue nyamperin.
"Pastikan gue dapet yang paling gede, ya."
Dia senyum, "Tentu saja." Dia memotong irisan besar dan meletakkannya di piring gue. "Makasih banyak atas semuanya."
"Sama-sama, saudara." dia tersenyum ke julukan barunya.
Semua orang duduk melingkar, makan kue dan sampanye, dan ngobrol satu sama lain. Ethan, sekretaris Iris, berdiri dari sudutnya, "Perhatian, perhatian. Saatnya pasangan ini cerita gimana mereka ketemu!"
Semua orang berhenti ngobrol dan mengalihkan perhatian mereka ke pasangan itu, nunggu mereka mulai.
Iris natap Brandon, minta bantuan. Walaupun dia jago banget *public speaking*, dia benci bagi-bagi cerita pribadi.
Brandon tertawa, "Oke, gue aja yang cerita." Dia menaruh minumannya di tanah dan mulai, "Kita ketemu di maraton 5k, dia nabrak gue."
"Enggak!" Iris berteriak, "Bukan gitu caranya kita ketemu, kita ketemu di konferensi."
Gue bikin suara *buzzer* pake suara gue, "Kalian berdua salah. Kalian ketemu di pesta asrama. Gue yang ngajak lo dateng bareng gue dan pas kita masuk pesta, Brandon nabrak. Brandon, lo udah deket, dua minggu kemudian lo nabrak lagi dan baru deh lo resmi di konferensi."
Iris tertawa, "Iya, lo bener. Gak nyangka lo masih inget."
"Gue tetep menang, gue lebih deket ke jawaban yang bener," canda Brandon.
Pasangan itu mulai tertawa dan cerita tentang pengalaman mereka sejak pacaran, sementara semua orang duduk dan dengerin. Gue mulai agak tersentuh sama cinta yang mereka tunjukin.
Gue gak cemburu, cuma sedih aja.
Gue bisa aja punya cinta kayak mereka dan gue ngerusak semuanya.
Gue pelan-pelan berdiri, berusaha setenang mungkin dengan sedikit gangguan. Gue berhasil pergi tanpa suara atau ada yang nyadar gue pergi. Gue jalan ke air mancur kecil dan duduk di pinggirnya. Gue ngeliat bayangan diri gue di air yang kena cahaya bulan.
Mungkin kehidupan cinta Karishma Jones gak ditulis di bintang-bintang.
Mungkin lo ditakdirkan patah hati beberapa kali sebelum lo beneran nemuin 'the one'
Mungkin gak ada yang namanya 'the one'
Gue ngapus air mata yang netes dari mata gue.
Semua terjadi karena suatu alasan, mungkin gue gak tau alasan kesedihan dan hidup tanpa cinta ini sekarang, tapi di masa depan, sesuatu akan menebusnya, atau seseorang.
"Hei," gue ngangkat mata buat ngeliat Iris ngeliatin gue. Dia duduk di sebelah gue. "Kenapa lo mau ke Bahama?"
Gue ngapus air mata dan ngendus, "Sakit." Lebih parah dari rasa sakit fisik apapun yang pernah gue rasain, bahkan sakit pas datang bulan yang parah itu.
"Apa yang sakit?" Gue tau dia tau jawaban pertanyaan sebelum dia nanya. Ini cara terapinya, berusaha bikin gue cerita.
"Dia cuma diem aja di sana dan bersikap seolah semuanya baik-baik aja."
Semuanya emang gak baik-baik aja. Gak ada yang baik-baik aja.
Setidaknya gak buat gue.
"Itukah kenapa lo mau pergi?"
"Gue butuh udara segar."
"Udara segar?" tanyanya.
"Dia benci gue." Gue nundukin kepala dan mulai nangis. Dia meluk gue, "Gak apa-apa."
"Enggak, dia ngeblok gue. Dia gak mau ngomong sama gue atau bahkan ngeliat gue. Sakit banget," kata gue di sela isakan sambil hati gue perlahan hancur.
Dia ngejauhin gue dari pelukan dan natap mata gue, "Lo cinta sama dia?"
Gue ngangguk, "Banget."
Dia ngasih gue senyum kecil, "Karishma Jones jatuh cinta. Gak nyangka gue bakal ngeliat hari itu."
Gue ngasih dia senyum kecil, "Gak ada gunanya juga sih, dia benci gue."
"Dia gak benci lo."
Gue ketawa denger kata-katanya, "Dia ngeblok gue, dia bersikap seolah gue orang asing, ngehirauin gue."
"Itu gak berarti dia benci lo."
"Dia benci, gue gak bales pas dia bilang cinta sama gue dan menurut Ayah gue, itu hal terburuk yang bisa terjadi sama seorang pria."
"Dia gak benci lo, Kari."
Gue ngegeleng ke kata-katanya, "Dia benci gue."
Dia ngeliat ke belakang gue, "Daripada berasumsi dia benci lo, kenapa lo gak tanya sendiri aja?"
Gue noleh ke belakang buat ngeliat ke mana dia natap dan jantung gue loncat begitu ngeliatnya.
*Recap*
"Dia gak benci lo, Kari."
Dia ngeliat ke belakang gue, "Daripada berasumsi dia benci lo, kenapa lo gak tanya sendiri aja"
Gue noleh ke belakang buat ngeliat ke mana dia natap dan jantung gue loncat begitu ngeliatnya.
Seth Immanuel Parker, berdiri sekitar delapan kaki dari gue. Dia pake setelan mewah dengan dasi yang serasi. Dia keliatan ganteng banget. Gue gak bisa ngeliat matanya karena pencahayaan yang buruk di area taman ini, tapi gue bisa ngeliat ekspresi datar di wajahnya.
Gue nelen ludah, ini hal terakhir yang gue harapkan.
Setelah beberapa detik gue diem, Iris berdiri dari samping gue dan naruh tangannya di bahu gue. Mata gue berpaling dari Seth ke sahabat terbaik gue. Dia ngasih gue senyum kecil.
"Tumpahin semua isi hati lo," bisiknya, lalu ninggalin gue buat merhatiin dia. Gue berhasil menggerakkan kaki gue ke arahnya. Pas gue sekitar tiga kaki dari dia, gue berhenti.
Gue bisa ngeliat wajahnya lebih jelas, wajahnya masih tanpa ekspresi. Gue gak bisa nebak apa yang dia pikirin. Gue gak bisa nebak apa yang dia rasain. Dia ada di sini.
Yang berarti dia mau ngomong sama gue. Mungkin dia mau gue ngomong duluan.