Bab 3
Tuan Gideon menepuk bahuku, "Gak apa-apa, sayang. Besok kan masih ada hari. Ambil libur aja, saya yang tanggung. Sana nikmatin hidupmu."
"Gak banyak yang bisa dinikmatin jam 11:00 pagi."
"Pulang aja ke anak-anakmu. Omong-omong, Macy sama saya masih mau adopsi satu kalau mereka udah agak gedean." Macy itu istri Tuan Gideon selama tiga puluh tahun. Macy itu baiknya sama kayak suaminya.
Aku ketawa terus ngangguk. "Oke, saya pulang."
"Mantap! Nikmatin sisa harimu ya." Ucapnya sambil jalan ke pintu kantorku.
"Kamu juga, Paman Gideon. Salam buat Tante Macy ya."
"Siap." Katanya sebelum keluar.
Aku senyum terus minum sampanye yang dibawa Tuan Gideon ke kantorku. Aku gak nyangka bakal menang kasus ini, apalagi aku tahu dia emang nyolong duitnya, tapi aku cuma minta juri percaya saksi dan bukti-bukti yang aku punya. Pekerjaan pengacara gak bakal gampang buat orang yang hidupnya lurus, banyak banget yang dipertaruhkan. Katanya kan, "Sejujur-jujurnya pengacara." Aku bangga bilang aku bohong di pengadilan, tapi mau gimana lagi; tujuan aku kan buat menangin kasus. Bantu klienku keluar dari masalah. Dulu waktu baru mulai, hati nuraniku keganggu, tapi makin ke sini makin biasa. Kalau aku gak lakuin, ya orang lain yang bakal lakuin.
Aku ambil kunci dan tas, terus keluar dari kantorku. "Kosongin jadwal saya hari ini. Kirim informasi yang kamu dapat tentang Tuan Jeff ke saya ya." Aku senyum ke Claire, paralegalku. "Nikmatin sisa harimu ya, sampai jumpa besok."
"Makasih, Kari. Semoga kamu juga nikmatin harimu."
"Aku usahain yang terbaik." Aku ngedipin mata terus jalan ke lift.
Pas buka pintu, anjingku, Rojo, udah nungguin di sana. Dia loncat ke aku, aku senyum. Aku taruh kunci di meja terus nunduk buat gendong dia.
"Kok kamu tahu sih aku pulang cepet hari ini?" dia menggonggong.
Aku elus kepalanya, "Gak apa-apa. Aku tahu, aku tahu. Gimana anak-anakku?" dia menggonggong, terus aku ketawa.
Aku suka banget sama binatang, sejak Ayah beliin aku Golden Retriever waktu umur delapan tahun, gak ada yang bisa bikin aku bahagia selain itu.
Aku taruh Rojo ke lantai terus dia lari ke kasurnya tempat anak-anaknya. Mereka nyerbu ibunya pas dia tiduran.
Aku senyum, aku jalan ke sofa terus duduk. Aku ambil telepon rumah, terus pencet nomor Iris.
"Halo, Kari. Ada apa?"
"Aku gak apa-apa, bosen. Aku mikir kita bisa keluar malam ini."
Dia gak langsung jawab. "Aduh, sayang. Gak bisa, malam kencan."
Aku menghela napas terus ketawa. "Harusnya aku tahu. Setiap malam kan malam kencan buat kalian berdua."
"Enggak, cuma karena tadi malam dia pulang telat, terus dia mau ngebalesnya dengan ngajak aku keluar."
"Brandon emang baik banget."
"Iya, dia emang. Kamu harus cari Brandon juga." Dia jeda, "Bukan Brandon, kamu butuh Seth."
Aku ketawa. "Gak, aku gak butuh Seth."
"Kamu harus berhenti menyangkal chemistry yang ada."
"Lebih tepatnya ketegangan."
"Gak, gak. Cuma ada ketegangan di pihakmu doang. Kamu gak lihat cara dia mandangin kamu?"
"Gak, aku sibuk ngucapin selamat ke kamu sampai gak sadar."
"Apa yang terjadi waktu kita SMA dulu?"
Aku ragu-ragu sebelum cerita ke dia. "Pas hari terakhir sekolah, sepupunya dia bikin pesta terus aku datang, intinya sih, aku akhirnya di kamarnya selama lima belas menit ciuman sama dia, setelah itu, aku lihat dia pas wisuda dan gak pernah lagi sampai kemarin."
"Wah, aku dengar lonceng pernikahan."
"Masa sih? Brandon udah ngelamar?" Aku bercanda.
"Sayang, kamu tahu kan aku gak ngomongin aku. Aku mau kamu kasih kesempatan ke Seth, dia kan cowok baik."
"Kita kan gak dari kalangan yang sama."
"Yang beda itu menarik."
"Iya dan itu juga yang bikin patah hati."
"Jangan bahas itu lagi deh. Richard kan brengsek. Kamu juga gak pantes buat dia."
"Bukan cuma soal Richard juga." Aku udah selesai dari Richard sejak putus sama dia. Aku gak akan pernah bisa cinta sama cowok setelah dia selingkuh depan mata. Aku juga gak cinta sama dia. Aku cuma suka banget sama dia dan jujur, aku tahu hubungan itu gak akan bertahan lama.
"Terus apa dong?" Dia mikir.
"Mungkin, aku emang gak cocok sama semua hal percintaan itu. Aku gak pernah jatuh cinta. Aku sayang tapi gak pernah jatuh cinta, kalau kamu ngerti maksudku."
"Kamu umur dua puluh lima dan kamu udah ketemu cinta sejatimu."
"Iya, cinta kan datangnya butuh waktu."
"Mungkin belahan jiwa aku lagi naik kura-kura atau siput atau mungkin kesasar."
Iris ketawa, "Iya, tapi selagi dia lama datangnya, have some fun dulu deh."
"Have some fun" Aku mengulang. Aku emang beneran harus have some fun.
"Iya, dan kamu bisa mulai dari Seth."
Aku ketawa, "Gak, aku gak mau ke sana."
"Kamu mungkin suka sama yang kamu dapat."
"Atau mungkin enggak." Aku terkekeh.
"Gak dicoba, gak tahu."
Aku mengangkat bahu, "Pokoknya, aku mau ninggalin kamu, biar kamu kerja lagi. Nikmatin malam kencanmu ya, love you, Bye."
"Love you too, bye."
Aku matiin telepon terus lihat ke langit-langit rumahku.
Bosen.
Cuma itu yang gak aku suka dari jadi single, aku gak punya siapa-siapa. Aku selalu sendiri atau sama anjingku.
Aku noleh ke kasur anjing, Rojo lagi tidur sambil anak-anaknya nyusu. Aku mungkin ajak dia jalan-jalan nanti. Tapi untuk sekarang, aku mau tidur dulu.
................
"Hai, cantik." Aku berbalik siap buat komentar pedes, tapi wajah yang aku lihat bikin aku berhenti.
"Jadi, sekarang kamu nguntit aku?" Kesal, aku memutar mata ke arah dia.