Bab 4
Seth menaruh tangannya di konter, "Gue, nggak pernah. Gue cuma suka klub ini."
"Atau lo emang suka datang ke klub di malam Kamis."
"Yah, terakhir kali gue cek klub buka tiap malam dan nggak cuma buat lo doang." Balasan yang keren, bangsat.
Gue senyum, "Selamat malam." Gue membalikkan badan di bangku, membelakangi dia.
Gue menyesap minuman gue, lalu ngerasa ada yang berdiri di samping gue, gue noleh. "Lo nggak nyerah ya," kata gue.
"Nggak, gue nggak nyerah. Kayaknya lo butuh teman," ejek dia.
"Yah, gue nggak butuh." Gue meraih dompet gue di tas dan ngeluarin $35 dolar. "Hei, Steve, ini tagihan gue. Ambil aja kembaliannya." Gue senyum sambil menaruh uang di konter, biar si bartender ambil. Gue balik lagi ke penguntit yang nggak gue inginkan ini. "Gue mau pulang."
"Ke kasur yang kosong?"
"Nggak, ke anjing gue sama anak-anaknya."
"Jauh lebih asik daripada ngobrol sama gue, kayaknya."
"Oh, iya. Jauh lebih asik."
Dia geleng-geleng kepala.
"Selamat malam," kata gue sambil berdiri dari bangku.
"Gimana bisa selamat kalau lo nggak pulang sama gue?" dia menyeringai.
"Kalau lo lihat sekeliling, ada banyak cewek jomblo, putus asa, yang siap menerima tawaran lo." Klub ini salah satu klub lokal tempat orang-orang jomblo ketemu, atau bahkan orang-orang yang sudah menikah buat cari kenalan. Gue nggak datang ke klub ini buat cari kenalan, gue cuma beneran suka pelayanan pelanggannya dan aman.
"Gue nggak mau cewek jomblo, putus asa."
"Yah untungnya, ada cewek yang sudah menikah di sini juga."
Dia tertawa, "Lo lucu. Gue suka lo."
"Itu menyedihkan karena gue nggak suka lo."
Dia berdiri dari bangkunya dan nyentuh bahu gue. "Oh, tapi lo bakal suka."
Gue tertawa sinis, "Oh ya, bener banget."
"Nikmati malam lo, sayang." Katanya sambil pergi.
Gue geleng-geleng kepala dan ngambil tas gue. Gue buru-buru jalan ke pintu keluar.
Tapi lo bakal
Gue tertawa saat mengingat kata-katanya. Sok banget sih dia!
Waktu SMA kita nggak pernah temenan, malah nggak pernah ngobrol satu sama lain. Dia terlalu populer buat circle gue dan kedua jalan itu nggak pernah ketemu sampai malam terakhir. Gue ingat hari itu seperti kemarin.
"Kari, giliran lo putar botolnya," kata Mitch.
Semua mata tertuju pada gue saat gue ngambil botolnya buat Anna, cewek yang duduk di samping gue. Gue ngangkat kepala dan melihat sekeliling lingkaran, gue lihat Ethan dan gue mulai senyum dalam hati. Ethan Dove adalah cowok yang gue mau, cowok yang gue taksir berat. Ethan adalah kapten tim Matematika dan editor koran sekolah. Dia pintar, ganteng, kutu buku dan gue suka dia. Gue suka dia sejak kita jadi partner lab Bio. Dia nggak pernah nangkap semua kode dari gue, tapi gue nggak berharap lebih dari seorang kutu buku.
Gue nunjuk ujung botolnya ke Ethan lalu buru-buru muter sebelum ada yang sadar.
Waktu botolnya muter, semua orang teriak, "Kari, Kari, Kari." Tapi yang gue pikirin cuma Ethan.
Dalam hati gue berdoa supaya botolnya mendarat di dia, bahkan jari-jari gue disilangin.
Waktu botolnya mulai melambat, semua orang diam supaya bisa fokus ke botolnya.
Awalnya, gue pikir berhenti di Harvey, tapi gue menghela napas lega saat terus berputar. Gue berputar beberapa kali sampai berhenti di arah Ethan. Gue mulai loncat-loncat dalam hati, tapi kemudian semua orang mulai meneriakkan nama Seth. Gue melihat ke arah botolnya. Itu memang berhenti di arah Ethan, tapi nggak berhenti di dia, itu berhenti di orang di sampingnya. Seth sialan Parker.
Sialan lo semua, kata gue dalam hati.
Butuh sedikit angin lagi dan boom, gue ciuman sama Ethan tapi nggak, gue cuma harus dapat orang di sampingnya.
Gue melihat ke Seth saat gue melihat dia berdiri, itu juga kode buat gue berdiri. Gue berdiri dan memamerkan senyum palsu ke orang-orang yang menonton.
"Jadi, lo tahu aturannya, lima belas menit di lemari. Harus ada bukti ciuman."
Gue mengangguk dan melihat ke Seth. Dia mengulurkan tangannya supaya gue pegang dan gue terima.
"Gue punya kamar di sini, jadi kita bisa ke sana aja, lemari nggak terlalu nyaman."
Hal berikutnya yang gue tahu, gue ngikutin dia naik tangga.
"Masuk." Pintu gue terbuka, dan gue mengangkat kepala untuk melihat Gary Shepard, bos kedua gue. "Selamat siang, ada yang bisa saya bantu, Tuan Shepard?" Gary memakai setelan jas dan dasi seperti biasanya dan sepatu mewah.
"Selamat siang, Kari." Dia berbicara dengan aksen Inggrisnya yang kental. "Saya baru saja mendapat telepon dari Departemen Kepolisian South-Central, apakah Anda pernah mendengar tentang Matthew Benjamin?" Gue tahu arahnya kemana sebelum dimulai. Tuan Shepard hanya datang ke pintu gue saat dia butuh bantuan atau butuh gue dalam kasus.
"Ya, saya tahu dia. Dia pemilik Benjamin's Shipping."
"Ya, betul. Pagi ini dia ditangkap karena pembunuhan Harrison Samuel yang adalah rekannya. Saya meminta Anda untuk mengambil alih kasus ini."
"Yah, saya sangat sibuk sekarang, Tuan Shepard." Gue ragu-ragu.
"Saya tahu Anda sibuk, tapi kasus ini akan menjadi besar dan saya tahu Anda bisa mengelolanya, Anda hanya perlu bekerja sedikit lebih banyak jam tambahan tetapi kemudian, pada akhirnya, Anda akan melihat bahwa Anda melakukan hal yang benar dengan mengambilnya." Gue mendengar pidato ini seratus kali, Tuan Shepard selalu melemparkan kasus semacam ini kepada gue. Dia tahu gue jomblo jadi buat dia, gue selalu ada waktu untuk kasus tambahan. Sekarang, meja gue penuh. Gue punya enam kasus berbeda yang sedang dikerjakan saat ini dan ini akan menjadi yang ketujuh.